
Di kamar pribadi Selir Ashana cuma ada dia sendiri, Jenderal Eleina, Pelayan Galina, serta Putri Lavina.
Dan yang tidak kalah penting yang harus ada adalah Dhafin. Dialah yang akan mengobati Selir Ashana sebagaimana menurut pemberitahuan Putri Lavina.
Tidak ada yang menyadari kalau Dhafin alias Ghavin Aldebaran sebenarnya mirip dengan Pangeran Ghazam Aldari.
Selir Ashana sama sekali tidak punya gambaran bagaimana bentuk wajah Pangeran Ghazam Aldari.
Jenderal Eleina yang ikut memberontak bersama suaminya, Jenderal Kenzie tidak terlalu mengenal wajah Pangeran Ghazam.
Sedangkan Pelayan Galina juga tidak mengenal Pangeran Ghazam. Karena pelayan berhati baik itu selalu mengikuti majikannya, Selir Ashana.
Kebetulan sebelum pemberontakan Raja Ghanim belum menikah dengan majikannya. Barulah beberapa bulan pasca pemberontakan Raja Ghanim menikah dengan Selir Ashana, majikannya.
Namun Pelayan Galina amat senang sekali dapat bertemu kembali dengan Dhafin. Begitu melihat Dhafin, Pelayan Galina tidak membutuhkan waktu lama untuk mengenal kembali. Karena wajah Dhafin tidak terlalu banyak perubahan dari kecil hingga sekarang.
Saat Putri Lavina mengatakan bahwa dia membawa seorang tabib, Selir Ashana awalnya tidak percaya. Begitu juga dengan Jenderal Eleina.
Soalnya Dhafin masih muda sekali kalau dibilang tabib handal untuk menangani penyakit seperti yang diidap oleh Selir Ashana.
Karena tabib yang menangani penyakit Selir Ashana semuanya tabib handal istana. Tapi mereka belum mampu menyembuhkan penyakit kulit yang diderita Selir Ashana.
Namun begitu Putri Lavina mengatakan bahwa Dhafin yang telah menyembuhkan penyakitnya waktu kecil dulu dan didukung dan dibenarkan oleh Pelayan Galina, barulah Selir Ashana percaya.
Sewaktu masih kecil saja pemuda itu sudah bisa menyembuhkan penyakit putrinya yang aneh, apalagi sudah dewasa seperti ini tentu dia lebih bisa lagi batin Selir Ashana.
"Sekarang aku percaya kalau kamu bisa menyembuhkan aku, Nak Dhafin," kata Selir Ashana mengakui. "Bisa jadi kamulah orangnya yang disebut-sebut oleh Guru Zeroun."
Jenderal Eleina dan Pelayan Galina juga beranggapan yang sama seperti Selir Ashana. Mungkin Dhafin lah yang dimaksud oleh Guru Zeroun yang berfirasat kalau kelak ada orang yang dapat menyembuhkan sang selir.
Sedangkan Dhafin, mendengar kalimat terakhir Selir Ashana cuma diam saja, tidak berkomentar apa-apa.
"Kapan kamu akan memulai?" tanya Selir Ashana kemudian.
"Maaf, Yang Mulia," kata Dhafin penuh hormat. "Sebelum hamba melakukan proses pengobatan, perkenankan hamba hendak bertanya."
"Silahkan!" kata Selir Ashana. "Kamu mau tanya apa, Nak Dhafin?"
"Hamba bukan termaksud Tabib Istana, apalagi seorang pendatang," kata Dhafin mengutarakan kekhawatirannya. "Apakah tidak mengapa seorang pendatang seperti hamba langsung mengobati Yang Mulia tanpa ada persetujuan dari istana?"
Wanita yang seluruh tubuhnya terbungkus kain kecuali matanya itu tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Dia memandang sejenak pada Jenderal Eleina yang juga memandangnya.
Keduanya tampak mengerti akan kekhawatiran Dhafin dari pertanyaannya itu.
"Kamu tidak perlu khawatir, Dhafin," kata Selir Ashana kemudian. "Pihak istana tidak lagi memperhatikan keadaan diriku, apakah masih hidup atau sudah mati."
Saat mengucapkan kalimat itu Selir Ashana sedikit menekan suaranya, mengekspresikan kemarahan sekaligus kekecewaannya terhadap pihak istana.
"Jadi, tidak perlu ada persetujuan dari pihak istana bagi siapa saja yang ingin menyembuhkanku," lanjutnya.
"Urusan keamanan dirimu," kata Jenderal Eleina menyambung, "kamu tidak perlu khawatir. Aku yang akan menjamin keamananmu."
"Baiklah," kata Dhafin merasa lega. "Kalau begitu hamba akan memulai melakukan penyembuhan."
"Silahkan!"
★☆★☆
Terlebih dahulu Dhafin memeriksa denyut nadi Selir Ashana. Tapi saat Dhafin hendak menyentuh tangannya yang hampir dipenuhi luka seperti koreng dan bau, Selir Ashana langsung menariknya dan berkata bernada heran.
"Apakah kamu tidak merasa jijik dengan lukaku ini?"
"Hamba seorang tabib, Yang Mulia," kata Dhafin seolah memberi tahu tentang seorang tabib yang sebenarnya. "Tidak boleh bagi hamba merasa jijik atau risih jika memeriksa seorang pasien, apapun keadaannya."
Selir Ashana merasa kagum akan profesionalitas Dhafin sebagai seorang tabib. Pribadi seperti ini jarang didapat dari seorang tabib meskipun katanya dia dikatakan tabib handal.
Selir Ashana menyodorkan kembali tangannya. Lalu Dhafin memegangnya tanpa memakai alas tangan, lalu mengamati dari dekat sekaligus mengendusnya beberapa helaan napas. Kemudian beralih memeriksa kedua mata Selir Ashana.
Dhafin melakukan pemeriksaan tapi Selir Ashana yang merasa risih. Tanpa ada rasa ragu Dhafin memegang tangannya seolah sudah terbiasa. Bahkan mengendus luka yang amat busuk itu tanpa merasa jijik.
__ADS_1
Putrinya saja tidak mau melakukan hal seperti itu.
Jenderal Elaina dan Putri Lavina juga merasa risih sendiri melihat proses pemeriksaan Dhafin. Sedangkan Pelayan Galina cuma tersenyum melihat ekspresi majikannya yang sedang diperiksa.
Tidak lama kemudian, Dhafin telah selesai melakukan pemeriksaan. Kemudian dia duduk di kursi dekat pinggir pembaringan Selir Ashana.
"Penyakit apakah yang aku idap ini, Dhafin?" tanya Selir Ashana seakan tidak sabar.
"Seperti yang hamba sudah katakan," kata Dhafin menerangkan, "bahwa Yang Mulia terkena racun."
"Kapan kamu katan padaku kalau aku terkena racun?" tanya Selir Ashana keheranan.
"Bukankah Tuan Putri Lavina sudah mengatakannya kepada Yang Mulia tentang penyakit Yang Mulia?" Dhafin malah heran juga mendengar Selir Ashana bertanya seperti itu.
Namun dia segera sadar bahwa pasti Putri Lavina belum memberi tahu tentang pertemuannya dengan Putri Lavina di kampung Paman Killian.
Sedangkan Selir Ashana segera menatap tajam pada putrinya, lalu berkata.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sudah bertemu dengan Dhafin sebelumnya dan member tahu kepadamu tentang penyakit bunda?"
"Habisnya... aku kesal sama Kak Dhafin," sungut Putri Lavina memberengut seolah membela diri. "Aku ajak ke kotaraja waktu itu tidak mau. Dia lebih mementingkan urusannya daripada ikut aku ke kotaraja."
"Kamu tidak boleh begitu kepada Nak Dhafin," tegur Selir Ashana meski bernada lembut tapi tegas.
"Aku minta maaf atas perlakuan putriku yang tidak pantas kepadamu, Nak Dhafin," Selir Ashana beralih kembali pada Dhafin. "Usianya sudah terbilang dewasa, tapi sifatnya masih seperti anak kecil. Aku harap kamu bisa memakluminya."
"Ah tidak mengapa, Yang Mulia," kata Dhafin berlapang dada. "Hamba sudah memakluminya."
Putri Lavina hanya bisa bersungut-sungut kesal saja mendengar bundanya berkata. Ditambah lagi mendengar Dhafin berkata seperti itu yang seakan mengejeknya.
"Kamu tadi bilang kalau penyakitku ini disebabkan oleh racun," kata Selir Ashana tidak mau terlalu jauh membahas sifat buruk putrinya. "Racun apa?"
"Yang Mulia terkena Racun Bunga Duka," sahut Dhafin.
Kemudian Dhafin menjelaskan tentang racun itu saat Jenderal Elaina menanyakannya.
Semua orang membenarkan perkataan Dhafin yang menjelaskan tentang ciri-ciri orang yang terkena Racun Bunga Duka. Ciri-ciri itu memang ada pada Selir Ashana.
Dan mereka tahu apa yang menyebabkan Selir Ashana bisa bersedih dan berduka sebelum terkena Racun Bunga Duka.
Sehingga ketika terkena Racun Bunga Duka, racun itu langsung bereaksi karena suasana hati Selir Ashana sedang bersedih bercampur duka.
★☆★☆
Dhafin tidak mau memikirkan apa yang menyebabkan Selir Ashana menjadi sedih. Juga tidak ingin menanyakannya.
Yang di dalam benaknya bagaimana cepat-cepat menyembuhkan Selir Ashana. Setelah itu pergi dari sini.
Sebelum melakukan proses penyembuhan, Dhafin menyegel dulu seluruh kediaman Selir Ashana. Tujuannya agar selama proses penyembuhan bisa berjalan lancar.
Setelah itu Dhafin menjelaskan dahulu tentang metode yang akan dia tempuh dalam menyembuhkan.
Setelah memberikan 2 butir pil obat penahan rasa sakit dan nyeri, lalu Dhafin duduk di depan Selir Ashana, siap melakukan penyembuhan.
Perlu diketahui, saat ini Selir Ashana hampir menanggalkan semua pakaian yang membungkus tubuhnya yang nyaris penuh korengan. Cadarnya pun dibuka pula.
Dia kina cuma memakai pakaian dalam yang agak tipis sehingga menampakkan lekuk tubuhnya yang sebenarnya aduhai kalau tidak dipenuhi luka bernanah.
Untuk mengatasi agar Selir Ashana tidak terlalu merasa malu, Dhafin menutup matanya dengan kain hitam.
"Sekali lagi hamba ingatkan," kata Dhafin mengingatkan, "bahwa pada awal proses penyembuhan Yang Mulia akan merasa sakit pada sekujur kulit dan sekujur tubuh akan terasa panas...."
"Tapi rasa sakit itu tidak terlalu karena terbantu oleh pil yang sudah Yang Mulia minum. Adapun rasa panas pada tubuh Yang Mulia juga tidak berlangsung lama. Paling 2x penanakan nasi Yang Mulia merasakan panas pada sekujur tubuh. Apa Yang Mulia bisa bertahan?"
"Aku sudah menahan penderitaan selama 3 tahun," kata Selir Ashana. "Kalau cuma rasa panas seperti itu aku rasa aku masih sanggup menahannya."
"Baiklah, Yang Mulia, hamba akan memulai mengobati."
"Tolong rentangkan kedua tangan ke depan, Yang Mulia!"
__ADS_1
Tanpa membandel Selir Ashana segera merentangkan kedua tangannya lurus ke depan. Lalu Dhafin menempelkan kedua telapak tangannya pada telapak tangan Selir Ashana.
Belum lama mereka saling menempelkan tangan, sinar kuning bening yang berbalut dengan sinar putih bening yang keluar dari telapak tangan Dhafin seketika menjalar ke kedua tangan Selir Ashana.
Kemudian dengan agak cepat kedua sinar itu menjalar ke seluruh tubuh Selir Ashana. Sehingga tak lama kemudian seluruh tubuhnya terselubung sinar kuning bening yang berbalut sinar putih bening.
Seperti perkataan Dhafin tadi Selir Ashana merasakan sakit pada kulitnya, lebih tepatnya pada lukanya. Tapi tidak terlalu sakit.
Sekujur tubuhnya juga terasa panas. Awalnya cuma panas biasa. Lama kelamaan terasa panas sekali laksana berada dibawah terik matahari di siang bolong.
Tapi Selir Ashana memang masih mampu menahan rasa panas itu. Dan prosesnya memang selama 2x penanakan nasi.
Selama itu tampak seluruh luka nanah pada tubuhnya mengering dan berubah menjadi warna hitam kecoklatan.
Kemudian 2x penanakan nasi selanjutnya proses penyembuhan luka sekaligus pengelupasan kulit luka yang sudah kering.
Semua orang yang ada di kamar pribadi Selir Ashana menyaksikan proses penyembuhan itu tanpa berkedip.
Pandangan mata mereka mulai takjub saat melihat luka-luka di sekujur tubuh Selir Ashana mulai mengering. Makin takjub lagi ketika melihat kulit-kulit luka pada tubuh sang selir mulai terkelupas dan berjatuhan.
Dan sekarang mereka melihat fenomena yang lebih menakjubkan. Tidak ada luka koreng di tubuh Selir Ashana. Kulit tubuh dan wajah yang asli yang berwarna putih sudah tampak. Namun bekas luka itu meninggalkan belang-belang putih.
★☆★☆
Selanjutnya sinar putih keluar dari telapak tangan Dhafin, terus sinar putih tebal itu dengan cepat bergulung-gulung di sekujur tubuh Selir Ashana.
Tak lama kemudian, sekujur tubuh Selir Ashana terbungkus sinar putih tebal. Sehingga tubuhnya tidak terlihat sama sekali.
Baik Jenderal Elaina, Putri Lavina maupun Pelayan Galina, meski merasa amat takjub namun terkejut heran juga melihat fenomena aneh seperti itu.
Namun mereka tidak ada yang bersuara seorang pun. Sepasang mata mereka tetap melihat proses penyembuhan.
Tanpa terasa proses penyembuhan hingga memasuki senja hari. Sinar putri yang tadinya tebal, kini perlahan demi perlahan berubah tipis. Hingga akhirnya sinar itu sirna sama sekali dari tubuh Selir Ashana.
Tak lama kedua sinar yang saling berbalut tadi ikut sirna juga. Maka tampaklah suatu fenomena yang amat menakjubkan sekaligus mempesona dari Selir Ashana.
Seolah-olah sekarang Selir Ashana membentuk kulit wajah dan kulit tubuh yang baru. Wajah Selir Ashana amat cantik bak bidadari. Kulitnya putih mulus dan halus.
Dan setelah mandi ramuan ajaib yang dibuat oleh Dhafin selama sehari lebih, atau lebih tepatnya sebanyak 4x, kecantikan dan kemulusan kulit Selir Ashana semakin sempurna.
Ditambah lagi tubuhnya kini bukan lagi berbau busuk, malah menguarkan aroma yang begitu wangi.
Sekarang Selir Ashana benar-benar telah sembuh dari Racun Bunga Duka. Dan kecantikannya yang selama 3 tahun lebih sempat hilang, kini telah kembali.
Bahkan kini dia seperti tampil dengan wujud Selir Ashana yang baru. Dan seakan umurnya terpangkas, karena rupanya sekarang laksana wanita yang berumur 30 tahun.
Bukan saja Putri Lavina, Jenderal Elaina, maupun Pelayan Galina yang amat terpukau akan kecantikan Selir Ashana, buka saja sang selir sendiri yang merasa takjub akan perubahan yang terjadi pada dirinya....
Bahkan Dhafin sendiri amat terpukau akan penampilan Selir Ashana. Bukan dia terpikat pada selir cantik itu, melainkan dia merasa takjub akan hasil karyanya yang ke dua itu.
Dia tidak menyangka kalau karyanya sekarang ini begitu sempurna.
"Kenapa kamu memandangku seperti itu, Dhafin?" tanya Selir Ashana seraya tersenyum menggoda. "Apa kamu terpikat padaku setelah berhasil menyembuhkanku?"
"Hei, kamu jangan terpikat padaku," lanjutnya masih menggoda. "Aku ini seperti ibumu juga. Ingatlah itu!"
Dhafin langsung berlutut menyembah hormat mendengar ucapan Selir Ashana yang bagai menegurnya.
"Maafkan atas kelancangan hamba, Yang Mulia," kata Dhafin penuh takzim. "Hamba tidak bermaksud demikian. Hamba hanya takjub terhadap hasil karya hamba."
Setelah mendengar penjelasan Dhafin, Selir Ashana hanya tersenyum tapi memakluminya.
Sedangkan Jenderal Elaina dan Pelayan Galina, hanya saling berpandangan. Dhafin saja bisa terpukau akan hasil karyanya sendiri, apalagi orang lain pikir mereka.
Sementara Putri Lavina yang tadi sempat cemburu kepada bundanya, karena melihat Dhafin seperti terpesona kepada bundanya, sekarang sudah merasa tenang.
Ternyata Dhafin cuma takjub akan hasil karyanya sendiri. Dan bundanya juga memposisikan dirinya sebagaimana mestinya kepada Dhafin.
★☆★☆★
__ADS_1