
Putri Rayna Cathrine dan 2 Pengawal Pribadi-nya telah tiba di penjara bawah tanah. Mereka muncul secara tiba-tiba di halaman depan di tengah-tengah mayat-mayat pasukan penjaga yang bergelimpangan tak tentu arah.
Sejenak Putri Rayna mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Begitupun juga kedua pengawalnya. Tidaklah mereka lihat kecuali ratusan mayat pasukan istana yang tergeletak bersimbah darah di halaman depan dan samping kiri kanan bangunan penjara.
Bukan main geramnya Putri Rayna melihat kenyataan ini. Dia yakin semua pasukan penjaga pasti sudah menemui ajalnya tanpa ada sisa. Begitu juga dengan pasukan pengintai yang bersembunyi cukup jauh di area bangunan penjara.
"Apa ini pekerjaan Dhafin dan kawan-kawannya, Yang Mulia?" tanya salah seorang Pengawal Pribadi sambil memandang sekitarnya.
"Siapa lagi kalau bukan mereka," sahut Putri Rayna sambil mengkretekkan giginya menahan geram.
Kini wajahnya yang cantik menampakkan kebuasan tabiatnya. Sepasang mata indahnya yang menyorot tajam menampakkan kejahatan sifatnya.
"Yang Mulia kecolongan lagi," kata pengawal yang satu yang berkumis tipis. "Seharusnya kebiasaan bercinta Yang Mulia ditahan dulu sampai orang itu tertangkap."
"Diam kamu!" kata Putri Rayna setengah membentak. "Kamu tidak usah mengajariku!"
Dibentak begitu pengawal itu langsung bungkam. Berani menyanggah ucapan wanita kejam itu akan berakibat fatal. Diam adalah jalan selamat.
Sedangkan pengawal yang pertama tadi sebenarnya hendak berkata seperti itu juga. Tapi dia kedahuluan pengawal ke dua. Akhirnya dia ganti dengan bertanya dengan memberanikan diri.
"Apa tindakan selanjutnya, Yang Mulia?"
"Tunggu saja perintahku!" kata Putri Rayna bernada ketus karena masih menggeram marah. "Bocah Bagus itu tidak bisa dihadapi dengan sembarang tindakan."
Pengawal pertama itu juga langsung bungkam. Kalau wanita itu sudah dalam mode seperti ini alamat amarahnya kapan saja siap meledak.
Tampak Putri Rayna mengangkat tangan kanannya, lalu meletakkan telapak tangannya di depan dadanya yang membusung kencang dengan posisi tegak. Bersamaan dengan kepalanya tertunduk sambil mata terpejam.
Beberapa saat hal itu dilakukan. Lalu seketika dia membuka mata terus menatap pintu penjara yang daunnya sudah hancur berantakan.
"Keparat!" dampratnya kemudian sambil melotot tajam ke pintu penjara.
"Apa yang terjadi, Yang Mulia?" tanya pengawal pertama memberanikan diri.
"Mereka telah menyegel bangunan penjara," sahut Putri Rayna dengan suara rahang, "sehingga kita tidak bisa masuk ke dalam."
"Tapi kalian tenang saja, aku bisa mengatasinya," ucapnya seolah ingin menenangkan kedua pengawalnya itu.
Sejenak dia menatap pintu masuk penjara itu. Lalu dia tersenyum sinis seraya berkata.
"Kalian coba-coba bermain denganku...."
Kemudian dia melakukan gerakan telapak tangan tertentu dan aneh. Setelah itu kedua tangannya seketika terangkat ke atas agak ke depan dengan telapak terkembang. Sedangkan mulutnya tampak komat-kamit membaca mantra dengan lirih.
Beberapa saat kemudian, seketika kedua tangan Putri Rayna yang tadi terangkat disentak turun dengan kuat dan cepat. Maka keanehan terjadi di atas bangunan penjara.
Seolah muncul dari langit, sebuah jaring cahaya warna hitam yang amat besar tahu-tahu sudah terbentang di atas bangunan penjara.
Kemudian jaring itu langsung turun dengan cepat dan membungkus utuh seluruh permukaan bangunan penjara hingga ke dasar bangunan. Bersamaan dengan itu pula segel mantra sekaligus tirai pelindung yang dipasang Keenan dan Keysha langsung punah.
Itulah Segel Jaring Langit.
Putri Rayna tak tanggung-tanggung mengerahkan mantra penyegel itu, langsung tingkat tinggi sekalian.
Dia yakin Dhafin dan kawan-kawannya pasti tidak akan bisa mengeluarkan Raja Darian meskipun dengan ilmu teleportasi. Dan mereka juga tidak akan bisa keluar.
Rupanya wanita itu belum mengetahui kalau tawanannya bisa keluar melalui Gerbang Cahaya. Jadi, Segel Jaring Langit-nya tidak bermanfaat bagi pintu ghaib itu.
__ADS_1
★☆★☆
Sudah sepeminum teh Putri Rayna berdiri di tengah halaman bersama kedua pengawalnya, namun Raja Adrian belum juga datang ke mari. Bahkan dia sudah menyegel bangunan penjara.
Hal itu terang saja membuat Putri Rayna semakin menggeram marah. Membuat wajah cantiknya semakin seram.
"Keparat! Apa saja yang dibikin anak itu?" damprat Putri Rayna tak bisa lagi menahan geram sambil menoleh ke belakang sebentar. "Kenapa dia lama sekali datang ke mari?"
Namun tidak lama kemudian, Raja Adrian dan kedua pengawal cantiknya seketika muncul di belakang Putri Rayna bersama sekitar 50-an jawara istana. Tentu dengan menggunakan ilmu teleportasi.
Begitu tiba Raja Adrian langsung menghampiri Putri Rayna bersama 2 pengawal cantiknya. Sedangkan 50-an jawara istana mengikuti di belakang.
Belum juga Raja Adrian bertanya hal hebat apa yang terjadi di penjara ini, Putri Rayna sudah mendampratnya.
"Kenapa begitu lama kamu ke mari, Adrian?"
"Ah, Bibi, seperti tidak tahu saja," sahut Adrian dengan santai.
"Apa yang terjadi di sini, Bibi?" tanyanya tanpa perduli kemarahan Putri Rayna. "Apa Dhafin membawa pasukan yang begitu banyak sehingga mampu mengalahkan semua prajurit penjaga?"
"Mana pasukanmu, Adrian?" tanya Putri Rayna bernada dingin tanpa menggubris pertanyaan Raja Adrian. "Kenapa lama sekali datang?"
"Sebentar lagi, Bibi," sahut Raja Adrian agak kesal karena pertanyaannya tidak dijawab. "Kamu belum menjawab pertanyaanku, Bibi."
"Dia tidak membawa pasukan yang banyak," tutur Putri Rayna menjelaskan. "Tapi aku menduga sebelumnya pasukan penjaga dibuat tidak sadar sehingga mudah dibantai pasukan yang cuma sedikit itu."
Raja Adrian mengangguk-angguk mendengar penjelasan Putri Rayna. Keterangan itu menunjukkan kalau Dhafin dan kawan-kawannya itu memiliki kehebatan yang sukar diukur.
"Ke mana mereka, Bibi?" tanya Raja Adrian. "Apa sudah masuk ke dalam penjara?"
"Hehehe...," Raja Adrian langsung terkekeh kesenangan mendengar ucapan bibinya. "Kerjamu bagus sekali, Bibi. Mereka akan busuk di dalam penjara bersama lelaki tolol itu karena tidak bisa keluar."
Yang Raja Adrian maksud 'lelaki tolol' tidak lain adalah Raja Darian, ayah kandungnya sendiri.
Dia memang amat dendam dan sakit hati kepada ayahnya sendiri. Dia menganggap ayahnya menjadikannya Putra Mahkota dulu hanya formalitas saja, tidak sepenuh hati.
Dia juga masih ingat Raja Darian tidak melakukan apa-apa saat dia hampir mati akibat terkena kesaktian Dhafin 9 tahun yang lalu. Bahkan ayahnya malah menyalahkannya.
Mengetahui Putri Rayna telah menyegel bangunan penjara dengan Segera Jaring Langit senangnya minta ampun. Karena dia tahu segel mantra itu amat sakti sekali, sukar untuk diretas oleh ilmu apapun. Menurut dia.
Sedangkan Putri Rayna hanya tersenyum sinis mendengar pujian keponakannya itu.
"Mereka akan keluar, Adrian," kata Putri Rayna seolah memberi tahu, "tidak mungkin bertahan di dalam penjara. Tapi mereka cuma bisa keluar dari pintu itu saja."
Putri Rayna menunjuk pintu masuk penjara. Terus melanjutkan ucapannya.
"Tidak bisa keluar dari pintu manapun."
"Apa kamu yakin mereka akan keluar, Bibi?" tanya Raja Adrian kurang percaya.
"Ya, pasti mereka akan keluar untuk menyelamatkan Darian Tolol itu," sahut Putri Rayna seraya tersenyum penuh kemenangan."
"Bagaimana cara mereka keluar?" tanya Raja Adrian heran. "Bukankah kamu sudah menyegel seluruh bangunan penjara itu?"
"Aku akan membuka sedikit segel mantraku di pintu penjara itu. Nanti kamu siapkan saja pasukanmu untuk mengepung halaman penjara ini."
"Tenang saja, Bibi, hal itu sudah aku pikirkan," kata Raja Adrian seraya tersenyum angkuh.
__ADS_1
★☆★☆
Sementara itu di dalam penjara....
Rombongan Raja Darian sudah berhasil dibawa keluar menuju Istana Centauri bersama Yang Mulia Ratu berserta pasukannya. Juga sebagian besar pasukan Markas Centaurus telah kembali ke Kampung Naraya.
Yang masih tinggal di dalam penjara yaitu Dhafin, Brian, Gibson, Aziel, Keenan, Kelvin serta 5 orang jawara. Di antara kelima jawara itu ada Wilson.
Saat ini mereka tengah berada di depan ruangan penjara pertama tengah merundingkan rencana selanjutnya.
Keenan mengabarkan bahwa sekarang bangunan penjara telah diganti segelnya. Artinya ada orang lain yang menyegel bangunan penjara selain dia dan Keysha tadi, sekaligus memunahkan segel mereka. Bahkan segel mantra kali ini lebih hebat lagi.
Informasi yang disampaikan Keenan itu dikuatkan oleh pengakuan Dhafin pula.
Akhirnya mereka berunding apakah meninggalkan tempat ini melalui Gerbang Cahaya? Atau melihat sebentar reaksi Putri Rayna dan Raja Adrian setelah tahu Raja Darian dapat diselamatkan.
"Aku lebih senang kita melihat dulu reaksi si angkuh itu dan Putri Rayna," kata Kelvin seolah bicara seenaknya, "ketika mereka tahu kalau Yang Mulia Raja Darian berhasil kita selamatkan."
"Tapi 'kan percuma saja," kata Wilson seakan menyanggah ucapan Kelvin. "Kita juga tidak bisa berbuat apa-apa karena penjara ini telah diganti segelnya."
"Sebaiknya kita kembali saja ke Kampung Naraya," sambung seorang jawara.
"Tapi aku menduga Putri Rayna dan Raja Adrian pasti menunggu kita keluar," kata Dhafin seolah mengabarkan.
Terus saja mereka berunding mempertimbangkan apakah mereka pulang saja atau meladeni sebentar apa yang akan dilakukan Putri Rayna dan Raja Adrian setelah tahu kalau tahanannya sudah selamat.
Setelah cukup lama mereka berunding, akhirnya diputuskan mereka akan keluar melihat reaksi Putri Rayna dan Raja Adrian. Karena Dhafin menduga kalau Putri Rayna pasti akan membuka sedikit segelnya untuk mereka keluar.
Selanjutnya mereka merundingkan tindakan apa yang akan mereka perbuat saat dibiarkan keluar oleh Putri Rayna. Pastinya pasukan istana sudah jelas mengepung bangunan penjara.
Setelah mereka selesai berunding, akhirnya mereka naik ke atas menuju pintu keluar. Tampak mereka waspada penuh saat menyusuri lorong menuju pintu keluar.
Begitu kira-kira 3 tombak lagi sampai di ambang pintu, Keenan meminta agar mereka berhenti sejenak. Dan semuanya mengikuti permintaan Keenan itu.
Dari tempat mereka berdiri sudah terlihat kalau di halaman penjara telah dibeludaki pasukan istana. Dari situ juga mereka dapat melihat Putri Rayna dan Raja Adrian yang tengah berdiri di tengah-tengah pasukan istana sambil terus memandang pintu penjara.
"Dugaanmu benar, Pangeran Pusat," kata Keenan. "Pintu itu seperti tak ada lagi penghalangnya."
"Maksudmu segel mantra dibuka di pintu itu?" tanya Brian seakan menebak.
"Ya, kamu benar, Pangeran," sahut Keenan. "Mereka membiarkan kita keluar dari pintu itu."
"Kalau begitu mereka sudah pasti menyiapkan penyambutan," kata Gibson.
"Ya, seperti yang sudah kita duga sebelumnya," kata Dhafin. "Aku harap kalian bertindak sesuai dengan yang sudah kita sepakati tadi."
Tampak mereka semua paham apa yang diberitahukan Dhafin barusan.
Sebelum mereka melanjutkan perjalanan, Dhafin dan Keenan mengaktifkan suatu mantra ghaib untuk mencegah sihir Putri Rayna yang bisa mempengaruhi mereka.
Keenan maupun Dhafin merasa yakin kalau Putri Rayna pasti menguasai sihir yang bisa mempengaruhi pikiran mereka. Terutama pada tatapan matanya dan suaranya.
Makanya nanti yang akan menjadi juru bicara adalah Dhafin.
Setelah Dhafin dan Keenan selesai mengaktifkan mantra pelindung agar mereka tidak terpengaruh sihir Putri Rayna, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
★☆★☆★
__ADS_1