
Setelah peristiwa hilangnya Putri Agung Aurellia yang juga belum kunjung ketemu, terjadi pula peristiwa hilangnya 100 lebih anak di kotaraja secara misterius. Dan anak yang hilang itu terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Setelah di telusuri ternyata anak-anak yang hilang itu dari kalangan anak-anak pendekar dan kalangan rakyat biasa. Tidak ada anak yang hilang itu dari kalangan bangsawan selain Putri Aurellia, Ariesha dan Grania.
Termasuk anak-anak yang hilang itu yaitu 10 anak teman Brian di kotaraja dan Gibson Kyler serta belasan teman beladirinya dari kalangan rakyat biasa.
Peristiwa hilangnya anak-anak secara misterius bukan saja terjadi di kotaraja. Ternyata terjadi juga di Kota Pendar, Kota Denver, dan beberapa kota lainnya di Kerajaan Amerta.
Kalau di kotaraja cuma 3 anak bangsawan yang hilang. Tapi di luar kotaraja anak-anak bangsawan bahkan ikut hilang pula, di samping anak-anak pendekar dan rakyat biasa.
Adapun di Kota Pendar, Kota Denver, dan Kota Manda anak-anak gelandangan dan pengemis juga ikut hilang, bahkan semuanya.
Peristiwa hilangnya anak-anak secara misterius berlangsung selama 3 bulan lebih. Setelah itu tidak ada lagi peristiwa kehilangan. Dan hingga sekarang pihak istana belum dapat mengetahui siapa dalang penculikan.
Begitu didata mengenai anak-anak yang hilang itu jumlahnya sekitar 2000 lebih laki-laki dan perempuan. Dan termasuk anak-anak yang hilang itu separuh lebih dari anak-anak yang ikut turnamen.
Sementara Yang Mulia hingga sekarang masih juga bersedih hati akan kehilangan putrinya. Sedihnya makin bertambah mana kala mengetahui banyak anak-anak dari kerajaannya juga ikut hilang.
"Pertanda apakah ini sebenarnya, Pendeta?" tanya Yang Mulia saat berdua saja dengan Pendeta Noman di taman istana pada suatu pagi.
"Ampun, Yang Mulia," kata Pendeta Noman dengan penuh takzim. "Hamba tidak bisa memastikan apakah peristiwa ini pertanda baik atau pertanda buruk bagi kerajaan."
"Apakah kamu menduga ini ulah Putri Rayna?"
"Hamba tidak berpikir ke arah situ, Yang Mulia," sahut Pendeta Noman. "Malah Putri Rayna hendak membunuh Tuan Putri Agung karena dianggap menghalangi niat jahatnya."
Apa yang dikatakan Pendeta Noman Yang Mulia telah mengerti. Menurut firasat Dhafin bahwa ada 2 anak keturunan Yang Mulia yang punya peran penting bagi keberlangsungan Kerajaan Amerta di masa mendatang. Yaitu Pangeran Brian dan Putri Agung.
Dan Dhafin menduga kalau Putri Rayna telah mengetahui akan hal itu. Makanya dia hendak membunuh kedua anak itu dengan meracuni mereka agar niatnya merebut kukuasaan berjalan mulus. Namun tidak berhasil.
"Berarti ada pihak lain yang menculik Putri Aurellia," duga Yang Mulia.
"Tapi firasat hamba mengatakan kalau Tuan Putri Agung dijemput bukan diculik," ungkap Pendeta Noman.
"Dijemput!? Maksudmu?"
"Ya, Putri Agung dijemput oleh suatu kelompok tertentu untuk dijadikan pimpinan. Setelah itu mereka menculik sekian banyak anak-anak untuk dijadikan pasukan yang akan mendampingi kekuasaan sang pimpinan, yaitu Tuan Putri Agung."
Yang Mulia terdiam memikirkan firasat Pendeta Noman itu. Belum masuk di akalnya apa yang dikatakan Pejabat Penasehat itu. Namun dari semua yang terjadi selama ini, firasat itu bisa dikatakan benar.
Apalagi Pendeta Noman menduga kuat kalau proses penculikan semua anak-anak itu dilakukan dengan menggunakan kekuatan ghaib. Itulah makanya tidak bisa dilacak.
★☆★☆
Pagi itu langit tampak cerah, nyaris tak ada awan yang menggantung. Matahari sudah mendaki cakrawala setinggi 1 tombak. Sinarnya masih terasa lembut.
Di hutan itu keadaan tampak baik-baik saja. Burung-burung berkicau riang saling bersahutan. Suasananya begitu tenang dan damai.
Namun keadaan alam yang bersahabat itu tidak berarti apa-apa bagi Dhafin, Brian, Aziel, Keenan dan Kelvin. Mereka tampak seperti tidak baik-baik saja. Karena mereka saat ini terkepung oleh orang-orang berpakaian serba merah.
"Siapa mereka, Keenan?" tanya Brian tak pernah lepas menatap orang-orang berjubah dan bertudung merah itu.
"Aku tidak tahu siapa mereka, Pangeran," tutur Keenan mengaku. "Baru kali ini aku melihat mereka."
"Kamu bisa menduga mereka ada pada golongan lurus atau golongan sesat, Dhafin?" tanyanya lagi pada Dhafin.
"Sulit menebak siapa mereka kalau memakai penutup muka begitu," aku Dhafin yang juga tidak pernah lepas mengamati orang-orang yang memang penutup muka berwarna merah itu.
Brian tidak bertanya lagi karena sepasang matanya menangkap seorang serba merah maju 3 langkah ke depan. Lalu orang serba merah itu menjurah hormat, terus berkata.
"Terimalah hormat dari kami, Tuan Pangeran. Kami adalah Pasukan Jubah Merah yang diutus untuk menjemput Tuan Pangeran."
__ADS_1
"Menjemput atau menangkap?" sindir Brian bernada sinis sekaligus datar.
"Jangan salah paham, Tuan Pangeran," kata orang serba mereka itu mencoba meyakinkan kalau mereka tidak bermaksud jahat. "Percayalah, kami bermaksud baik. Kami hanyalah menjemput Tuan Pangeran."
"Dengan kalian mengepung begini kamu katakan bermaksud baik?" sarkas Brian makin sinis. "Apa kamu pikir kami anak kecil yang gampang kamu bodohi?"
"Percayalah, Tuan Pangeran, kami bermaksud baik," kata orang itu lagi terus meyakinkan. "Kami melakukan ini hanya untuk melancarkan tugas kami menjemput Tuan Pangeran."
Brian tidak menanggapi lagi ucapan orang serba merah itu. Dia meminta pendapat 4 kawannya apa yang harus mereka lakukan. Maka Dhafin mengusulkan untuk kabur saja melalui kekuatan ghaib.
Keenan mengerti dan mendukung usulan Dhafin. Dan tanpa banyak komentar yang lain setuju saja. Maka tak lama Dhafin dan Keenan segera melakukan gerakan telapak tangan dengan cara tertentu. Lalu merapal mantra agar mereka bisa menghilang.
Siapa sangka orang serba merah yang diduga pimpinan orang-orang serba merah yang berjumlah hampir 30 itu juga melakukan gerakan telapak tangan tertentu. Diteruskan dengan merapalkan mantra.
Tak lama tangan kanan Dhafin memegang tangan kiri Kelvin dan tangan kanan kelvin memegang tangan kiri Brian. Sedangkan tangan kiri Keenan memegang tangan kanan Aziel dan Aziel memegang tangan kanan Brian.
Zlaaab! Zlaaab! Zlaaab!
Dhafin, Keenan, dan Aziel langsung lenyap bersamaan. Sedangkan Brian dan Kelvin masih tinggal di tempat berpijaknya. Tentu saja mereka terkejut bukan main. Rupanya tindakan pimpinan orang-orang jubah merah itu menyegel tubuh mereka agar tidak bisa kabur.
Entah lelaki bermasker merah itu menyegel gerakan semua bocah itu. Yang jelas 3 anak sudah hilang dan yang tinggal cuma 2 anak.
Belum sempat Brian maupun Kelvin berbuat sesuatu untuk memusnahkan mantra penyegel tubuh mereka, sang pimpinan berkelebat cepat mendekat ke tempat Brian dan Kelvin berdiri. Lalu menotok titik tidur kedua anak itu.
Terang saja kedua anak itu langsung pingsan. Namun belum sempat jatuh ke tanah, sang pimpinan langsung menangkap tubuh mereka, terus memanggul ke pundaknya.
"Kalian semua kembali ke markas!" perintah sang pimpinan bernada tegas. "Aku akan membawa kedua pangeran ini melalui jalur ghaib."
Setelah berucap demikian sang pimpinan terus merapal mantra yang menjadikan dirinya hilang seketika bersama Brian dan Kelvin.
Sementara orang-orang berjubah dan bertudung merah segera berkelebat ke satu arah meninggalkan tempat itu. Tidak lama kemudian, tubuh mereka lenyap ditelan kerimbunan pepohonan.
★☆★☆
Mungkin karena ada pengaruh dari mantra penyegel orang berjubah merah tadi sehingga Keenan dan Aziel mucul tidak satu tempat.
Aziel seketika muncul di tepi pantai di sebuah pulau kecil terpencil yang dirimbuni pepohonan. Sejenak dia memandang laut yang terhampar dengan luas. Lalu dia balikkan badan terus memandang hamparan hutan di pulau terpencil ini.
"Di mana aku ini?" gumamnya sambil melangkah menuju hutan. "Kenapa aku bisa sampai di tempat seperti ini?"
"Di mana yang lain?" gumamnya lagi terkejut saat sadar kalau cuma sendirian.
Lalu kembali memandang sekitarnya. Namun sampai lelah matanya berkeliling belum juga dia melihat Brian, Dhafin, Keenan, dan Kelvin. Lalu dia berteriak sekeras-kerasnya memanggil, tapi tak ada sahutan.
Maka dia memutuskan mengelilingi pulau ini untuk mencari keempat bocah tadi. Namun sampai jauh dia mengelilingi tempat ini, jangankan menemukan 4 bocah tadi, bahkan manusia atau hewan tak ada satupun yang dijumpai. Bahkan rumah saja tidak ada.
Akhirnya dia menyadari kalau hanya seorang diri di pulau terpencil ini. Lantas dia duduk di bawah pohon rindang sambil merenungi nasibnya di pulau tak berpenghuni ini.
Setelah lama dia merenung, akhirnya dia memutuskan untuk tinggal di pulau terpencil ini untuk memperdalam ilmu beladiri dan kesaktian.
Sementara Keenan seketika muncul di sebuah lembah yang cukup luas dan dalam. Kebetulan dia muncul pas di tengah-tengah hutan pepohonan yang besar dan kecil.
"Di mana aku?" gumamnya sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
Namun yang dilihatnya semuanya asing. Artinya dia belum pernah berkunjung ke tempat yang seperti ini.
Setelah puas mengamati keadaan sekitar yang cuma pohon saja yang ada, dia mulai melangkah sekehendak kakinya melangkah.
"Di mana 4 kawan yang lain?" tiba-tiba dia teringat 4 sahabatnya yang tadi menghilang bersamanya. "Kenapa mereka tidak muncul di tempat yang sama denganku?"
"Apakah karena pengaruh kekuatan ghaib orang berjubah merah tadi sehingga mereka tidak muncul bersama denganku?"
__ADS_1
"Atau malahan kami muncul terpisah-pisah?"
Sambil menyusuri tempat ini dia terus memikirkan apa sebenarnya yang terjadi. Dia hendak memanggil keempat kawannya tapi diurungkan. Takutnya mengundang hewan buas atau orang jahat. Dia juga mengelilingi tempat ini dengan hati-hati dan waspada.
Namun akhirnya dia lelah juga melangkah. Terus duduk di bawah pohon besar sambil memikirkan nasibnya. Kalau dia tidak juga menemukan 4 kawannya, dia memutuskan tinggal di lembah ini untuk memperdalam ilmunya.
★☆★☆
Sementara Dhafin muncul di sebuah tempat yang agak lapang. Belum juga menyadari dia berada dimana, secara kebetulan pas dari arah depannya ada anak perempuan bercadar tengah berlari kencang.
Dhafin tidak sempat lagi berbuat apa-apa. Gadis bercadar sudah amat dekat dengannya. Apalagi gadis itu tengah menoleh ke belakang saat dia baru muncul. Apalagi gadis itu tengah berlari kencang.
Maka begitu gadis bercadar itu kembali menoleh ke depan, langsung saja dia terkejut. Namun dia tidak sempat lagi menghindar. Akhirnya dia menabrak Dhafin.
"Aaah...!"
Bughk!
Bruuk!
Karena tabrakan itu cukup keras, pun kedua bocah itu tak sempat mengendalikan keseimbangan badan, akhirnya mereka jatuh cukup cantik di tanah dalam keadaan si gadis memeluk Dhafin dengan erat. Mungkin karena kagetnya.
Posisi mereka cukup aduhai. Dhafin terbaring terlentang dengan kedua tangan hampir memeluk si gadis. Tapi wajah tampannya melengos ke kiri. Sedangkan gadis bercadar putih itu berada di atasnya dengan posisi tengkurap. Tampak matanya terpejam rapat.
Dhafin merasakan seperti ada yang menekan di 2 tempat pada dirinya. Di dadanya dan di pipinya. Di dadanya jelas yang menekan adalah bukit kembar si gadis yang masih sedang tumbuh. Sedangkan di pipinya tentunya bibir gadis itu yang berada di balik cadar.
"Maaf, Nona, tolong bangunlah segera!" kata Dhafin dengan suara agak gugup karena malu dan risih. "Nona menindisku."
Gadis bercadar segera membuka matanya. Begitu tersadar kalau dia berada pada posisi yang memalukan, dengan cepat bergulir ke kanan dan terus bangun dengan cepat pula.
Dhafin juga melakukan hal yang sama. Bergulir ke arah yang berlawanan dan terus bangkit dengan cepat. Dan begitu sudah berdiri tegak, Dhafin menatap gadis bercadar yang juga menatapnya. Sehingga sejenak mereka saling menatap.
Tapi tak lama gadis berpakaian panjang warna putih bermotif itu langsung menghampiri Dhafin dengan cepat. Lalu sambil menggenggam kedua tangan Dhafin dia berkata bernada memohon setengah merengek.
"Tolong aku, Kak Dhafin! Aku sedang dikejar-kejar oleh orang-orang bertopeng hitam."
"No... Nona siapa?" kata Dhafin masih gugup karena tangannya dipegang dan juga terkejut orang mengenalnya. "Dari mana Nona tahu namaku?"
Gadis bercadar tidak segera menjawab. Dia menoleh ke arah mana tadi dia datang. Ternyata nun jauh di sana sekitar 20-an orang bertopeng tengah berlari kencang menuju ke arah mereka sambil mengacungkan pedang.
"Itu mereka, Kak Dhafin," kata gadis bercadar panik. "Apa yang harus kita lakukan?"
Tanpa banyak pikir Dhafin menggenggam tangan gadis bercadar, lalu mengajaknya berlari kencang. Dan si gadis manut saja.
Sementara orang-orang bertopeng hitam makin lama makin dekat jaraknya dengan kedua anak itu. Sedangkan kedua anak itu terus saja berlari kencang.
Saking asyiknya berlari mereka tidak sadar kalau mereka tengah menuju jurang. Begitu tersadar sudah terlambat karena orang-orang bertopeng sudah cukup dekat dan langsung mengepung mereka.
Namun kedua bocah itu terus saja berlari menuju jurang. Dan begitu 1 tombak lagi dari mulut jurang mereka berhenti. Sementara orang-orang bertopeng semakin rapat mengepung.
"Peluk aku, Nona! Cepat!" perintah Dhafin tiba-tiba.
"Kamu mau apa?" tanya gadis bercadar bingung.
"Tidak ada waktu menjelaskan, cepat!"
Meski masih bingung gadis bercadar manut saja. Dengan erat dia memeluk Dhafin sambil memejamkan mata. Lalu seketika Dhafin melenting cukup tinggi ke belakang.
Begitu tubuh mereka meluruk ke bawah, maka tanpa ampun mereka langsung masuk ke dalam jurang maha dalam.
Orang-orang bertopeng terkejut dibuatnya. Lalu segera menengok ke bawah jurang yang dilihatnya kedua bocah itu semakin kecil.
__ADS_1
Merasa tidak ada harapan menangkap kedua bocah itu, akhirnya mereka meninggalkan tempat itu.
★☆★☆★