Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 124 DHAFIN KE KOTARAJA BERSAMA PUTRI LAVINA ANESKA


__ADS_3

Putri Lavina Aneska masih saja terperangah tidak percaya melihat semua pasukannya mati dengan begitu mudah. Hanya dengan sekali gebrak 2 pemuda tampan itu mampu membunuh semua prajurit militer itu tanpa ada sisa.


"Perintahkan pada kedua pengawal Tuan Putri untuk pulang duluan, Tuan Putri!"


Permintaan Dhafin yang mengandung perintah itu segera membangunkan keterperangahannya. Buru-buru dia menormalkan keadaannya yang seperti orang dungu. Lalu dia segera memasang wajah angkuhnya.


Sedangkan kedua pengawal cantiknya tambah bersikap waspada. Pedang yang sudah terhunus sudah bersiaga di depan dada. Kini tidak ada lagi yang menjaga Putri Lavina selain mereka. Semua prajurit sudah mati.


"Aku bisa saja menuruti permintaanmu," kata Putri Lavina dengan gaya angkuhnya bercampur sinis. "Tapi yang ikut denganku cuma kamu, tidak dengan temanmu itu."


"Tuan Putri! Jangan gampang menyetujui permintaan orang begitu saja," protes Anggie dengan berani. "Ini amat berbahaya. Apakah Tuan Putri tidak lihat keganasan pemuda itu dan temannya?"


"Aku jamin dia tidak berani mencelakaiku," kata Putri Lavina seolah meyakinkan.


"Tapi, Tuan Putri...."


"Sudah, kamu tidak usah banyak bicara!" kata Putri Lavina setengah membentak. "Ini urusanku."


Anggie langsung diam mendengar bentakan Putri Lavina. Dia tidak berani mendebat majikannya lagi meski hatinya masih belum puas atas keputusan Putri Lavina.


"Bagaimana, Kak Dhafin? Apa kamu menyetujuinya?" tanya Putri Lavina yang juga mengajukan syarat.


"Tidak jadi masalah," sahut Dhafin tampak tidak keberatan. "Malah hal itu lebih baik."


Gibson hendak memprotes keputusan Dhafin. Namun Dhafin cepat memberi isyarat agar jangan berkomentar. Terpaksa Gibson diam saja.


Yang Mulia Ratu yang jadi gemes sendiri mendengar keputusan Dhafin. Dia berniat pergi ke tempat Dhafin untuk mencegahnya agar jangan ke kotaraja. Karena pasti ada bahaya yang lebih besar kalau dia sampai ke kotaraja.


Namun Jovita dan Ariesha menasehatinya agar jangan gegabah. Pasti Dhafin mempunyai suatu rencana pergi ke kotaraja. Dan yang pasti Dhafin sudah memikirkan segala sesuatu yang akan terjadi dan bisa mengatasinya.


"Sekarang kalian pulang duluan!" perintah Putri Lavina kepada kedua pengawalnya dengan nada datar sekaligus judes. "Biarkan aku dan Kak Dhafin yang ke kotaraja sendirian."


"Apa Tuan Putri sudah mantap dengan keputusan Tuan Putri?" Anggie masih ingin mendebat.


"Apakah aku harus bicara 2x, Anggie?" kata Putri Lavina bernada dingin dan sinis.


"Baik, baik, Tuan Putri, kami menuruti," kata Fanny cepat.


Lalu dia menyarungkan pedangnya, terus menarik Anggie hendak meninggalkan tempat ini. Tapi baru selangkah kali mereka bergerak cepat dicegat oleh Dhafin.


"Tunggu!"


Fanny menatap heran pada Dhafin sedangkan Anggie menatap tidak senang. Sementara Putri Lavina menatap tajam penuh selidik. Apa lagi yang dimaukan pemuda ini?


"Ada apa lagi, Kak Dhafin?" tanya Putri Lavina bernada sinis.


"Serahkan pedang Tuan Putri kepada kedua pengawal Tuan Putri!" perintah Dhafin meski kalem tapi tegas.


"Kamu sudah keterlaluan, Pemuda Sialan!" bentak Anggie yang tidak bisa lagi menahan emosinya.


Dia segera menyentak tangan Fanny yang memegang tangannya hingga terlepas. Pedang yang masih terhunus di tangannya hendak diayunkan bersamaan dengan tubuhnya hendak bergerak menyerang.


Namun baru 1 langkah tubuhnya bergerak, seketika dia langsung berhenti. Tiba-tiba lehernya dirasakan seperti ada tangan besar yang mencekiknya. Sakitnya bukan main dan seketika dia sesak napas.


Pedang di tangannya dilepas begitu saja. Lalu dengan cepat kedua tangannya memegang kencang lehernya. Tapi usahanya itu tidak ada artinya karena lehernya masih saja tercekik dengan kencang.


★☆★☆


Terang saja Putri Lavina dan Fanny terkejut bukan main melihat kejadian yang menimpa Anggie. Mereka melihat tak ada yang mencekik Anggie, tapi kenapa Anggie seperti orang tercekik.


Wajahnya yang cantik sudah memerah dan menegang. Mulutnya megap-megap karena sulit bernapas.


Putri Lavina langsung menatap Dhafin dengan tajam. Dilihatnya tangan pemuda itu sedikit terangkat ke depan dengan jeriji terbuka dan agak menekuk ke dalam.


Tapi dia masih belum mengerti apa yang dilakukan Dhafin. Namun dia curiga Dhafin berbuat sesuatu sehingga Anggie tersiksa seperti itu.


"Apa yang terjadi pada Anggie, Kak Dhafin?" tanyanya jelas menuduh. "Apa yang kamu lakukan padanya?"

__ADS_1


"Saya bisa saja membunuh kalian tanpa menyentuh," kata Dhafin bernada dingin. "Jadi saya harap kalian jangan macam-macam."


Mengetahui hal itu Fanny segera memohon-mohon agar Dhafin melepaskan Anggie dari siksaannya. Putri Lavina juga meminta agar melepaskan Anggie meski bukan memohon.


Akhirnya Dhafin menurunkan tangan kanannya yang tadi agak terangkat. Hampir bersamaan Anggie sudah tidak seperti tercekik lagi.


Namun kini wajah cantiknya berubah pias. Bagaimana kalau Dhafin tadi benar-benar membunuhnya? Sungguh dia tidak bisa membayangkan kalau dia mati muda. Seketika hatinya langsung ciut, tidak berani lagi menentang Dhafin.


Sementara Putri Lavina segera melepas pedangnya yang tercantel di pinggang kirinya, lalu diserahkan pada Fanny yang langsung menerimanya.


Sebelum kedua pengawal itu meninggalkan Putri Lavina, Dhafin memperingatkan mereka seolah mengancam.


"Ingat! Keselamatan Tuan Putri tergantung pada apa yang kalian lakukan saat sampai di kotaraja nanti."


Fanny dan Anggie hanya bisa mendengar saja ultimatum itu tanpa berani menyanggah. Setelah itu mereka dengan cepat meninggalkan tempat itu.


Sementara itu Dhafin sedikit ngobrol dengan Gibson. Putri Lavina mendengar mereka cuma ngobrol biasa. Tapi siapa sangka kalau mereka berbicara dengan kata sandi. Tak lama Gibson meninggalkan tempat itu dengan cepat.


Sepeninggal Gibson, Putri Lavina berkata kepada Dhafin seakan mengkritik perbuatan Dhafin membunuh pasukannya dan mengusir 2 pengawalnya.


"Sekarang aku tidak punya lagi pasukan dan Pengawal Pribadi. Jadi, sekarang keselamatanku tergantung dari kesungguhanmu dalam menjagaku."


"Saya hanya seorang tabib, Tuan Putri," kata Dhafin menangkis kritikan sekaligus peringatan Putri Lavina. "Bukan pengawal Tuan Putri atau bawahan Tuan Putri."


"Kalau kamu berkata seperti itu seolah berlepas diri," kata Putri Lavina makin ketus dan jengkel, "siapa yang akan menjamin keselamatanku?"


"Kapan kita akan ke kotaraja, Tuan Putri?" tanya Dhafin tanpa menggubris kejengkelan Putri Lavina.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku?" sentak Putri Lavina makin jengkel.


"Kita cuma jalan berdua ke kotaraja, Tuan Putri," sahut Dhafin. "Keselamatan Tuan Putri tergantung kerja sama Tuan Putri selama perjalanan."


"Dari dulu kamu kalau berbicara selalu berbelit-belit dan tidak cepat dimengerti," kata Putri Lavina geram-geram ketus. "Ngomong biasa saja kenapa?"


Yang Mulia Ratu dan 4 pengawalnya tampak asyik mendengar percakapan Putri Lavina dengan Dhafin. Bahakan mereka hampir tertawa karena merasa geli melihat tingkah Putri Lavina.


Dua orang di antaranya berwajah cantik. Sedangkan yang berdiri paling tengah tidak ditahu cantik tidaknya karena dia memakai cadar.


Dilihat dari model pakaian dan senjata pedang yang mereka sandang bisa diketahui kalau mereka orang kependekaran.


Perlu diketahui, mereka berada di situ semenjak Jessica datang menghampiri Dhafin. Jadi, mereka menyaksikan aksi Dhafin dan Gibson yang melumpuhkan pasukan istana dengan mudah dan cepat.


Tampak mereka juga tengah ngobrol dengan suara yang agak pelan, seolah percakapan mereka tidak boleh ada yang mendengar kecuali mereka. Sehingga tidak ditahu apa yang mereka obrolkan. Tapi mata mereka tak pernah lepas memandang Dhafin dan Putri Lavina.


Tidak lama kemudian, Putri Lavina meninggalkan kedai terbuka itu. Dhafin mengikutinya setelah membayar makannya tadi bersama Gibson.


Dhafin sebenarnya hendak berjalan di belakang. Tapi segera ditarik oleh Putri Lavina agar berjalan di sisinya.


Sementara Yang Mulia Ratu berembuk sebentar bersama 4 pengawalnya untuk menentukan apakah mereka ikut Dhafin ke kotaraja atau kembali ke Kampung Naraya. Tak lama kemudian, mereka masuk ke kamar penginapan.


Sedangkan 3 gadis cantik yang tadi juga tampak sedang berembuk dengan masih bisik-bisik.


"Kaluna, Malinka, bagaimana sekarang?" tanya gadis bercadar meminta pendapat kedua temannya.


"Kita tidak boleh lepas dari pemuda yang bernama Dhafin itu," kata gadis yang berdiri di sebelah kiri yang bernama Kaluna. "Dia mengaku seorang tabib. Siapa tahu dia bisa menyembuhkan wajahmu, Athalia."


"Benar, Nona," dukung gadis yang satu yang bersama Malinka. "Setelah dia menyembuhkan Yang Mulia Selir Ishana, kita harus cepat menemuinya."


"Apa kalian yakin dia bisa menyembuhkan wajahku yang sudah lama rusak ini?" kata Nona Athalia meragu.


"Kita lihat saja, Athalia," kata Kaluna, "kalau dia bisa menyembuhkan penyakit aneh Yang Mulia Selir Ishana, berarti dia juga bisa menyembuhkan wajahmu."


"Yakinlah, Nona, kalau dia bisa menyembuhkan wajahmu," dukung Malinka tetap memberi semangat.


"Tapi kita pasti berhadapan dengan Putri Lavina," kata Nona Athalia masih meragu.


Mereka terus saja berembuk kecil-kecilan di balkon itu. Setelah merasa cukup mereka berembuk, tak lama kemudian mereka masuk ke kamar penginapan.

__ADS_1


Mereka segera bersiap-siap pergi ke kotaraja. Mereka mengusahakan sampai ke kotaraja lebih dulu dari Dhafin dan Putri Lavina.


★☆★☆


Sementara itu di Kampung Naraya....


Begitu tiba di Kampung Naraya, Yang Mulia Ratu mengadakan pertemuan dengan Pangeran Revan dan petinggi-petinggi Markas Centaurus dan Istana Centauri untuk membahas kepergian Dhafin ke kotaraja.


Sebelumnya Jessica melaporkan pesan Dhafin untuk Pangeran Revan agar mengirimkan untuk menyusul Dhafin


ke kotaraja jika terjadi apa-apa.


Sedangkan Gibson menambahkan sebuah laporan penting bahwa Dhafin ke kotaraja bukan sekedar menyembuhkan pasien, melainkan ingin bertemu dengan Pejabat Kepala Raja Ghanim Altezza.


"Untuk apa Kak Dhafin mau bertemu 2 orang itu?" tanya Yang Mulia Ratu penasaran.


"Tuan Muda ingin berunding kepada kedua orang itu," sahut Gibson.


"Yang Mulia, memang ada rencana kalau kita akan bertemu dengan kedua orang itu," sambung Pangeran Revan "atau salah satu dari keduanya."


"Apa kamu mengutus Kak Dhafin seorang diri untuk berunding, Pangeran?" tanya Yang Mulia Ratu penuh kritik.


"Sebenarnya hamba belum mengutus orang untuk ke istana," kata Pangeran Revan mengaku. "Apalagi menentukan orangnya."


"Kalau begitu Kak Dhafin hendak ke istana atas inisiatif sendiri?" kejar Yang Mulia Ratu.


"Bisa dikatakan begitu, Yang Mulia," sahut Pangeran Revan.


"Maaf, Tuan Pangeran," kata Jovita penuh hormat. "Tentu Kak Dhafin berinisiatif begitu pasti ada latar belakangnya."


"Nona benar," kata Pangeran Revan. "Beberapa hari yang lalu sewaktu Pangeran Pusat berada di sini, kami sempat membicarakan tentang rencana-rencana penyerangan terhadap Kerajaan Bentala."


"Termasuk dalam pembicaraan kami yaitu rencana pertemuan dengan penguasa Kerajaan Bentala," lanjutnya.


"Berunding soal apa?" tanya Yang Mulia Ratu.


Pangeran Revan tidak langsung menjawab. Dia melirik Brian yang duduk di samping kanannya.


Seakan tahu arti lirikan Pangeran Revan, dia menjawab pertanyaan adiknya itu.


"Ampun Yang Mulia, kami belum membicarakan berunding soal apa."


Meskipun adiknya, dalam pertemuan-pertemuan resmi Brian tidak lupa akan posisinya sebagai bawahan adiknya sendiri.


"Lantas Kak Dhafin hendak berunding dengan penguasa Kerajaan Bentala dengan inisiatif sendiri mau berunding soal apa?"


"Ampun Yang Mulia," kata Gibson menyembah hormat. "Tuan Muda memberi tahu kalau dia akan meminta Raja Ghanim untuk turun tahta dengan cara baik-baik. Kalau tidak mau Dhafin memberi ancaman untuk menggulingkan kekuasaan Raja Ghanim secara paksa."


"Apakah menurut kalian kita sudah pantas menyerang secara terang-terangan terhadap pasukan istana yang memiliki kekuatan militer sekitar 50.000 lebih personil?"


"Secara jumlah kita memang cukup kalah jauh, Yang Mulia," kata Pangeran Revan berargumen. "Tapi secara kualitas bisa dikatakan kita lebih unggul dari pasukan istana."


"Pasukan yang patut kita waspadai cuma jawara istana, Yang Mulia," sambung Aziel. "Pasukan itu yang bisa dikatakan hampir sepada dengan kemampuan kita."


Rapat masih saja berlangsung cukup seru.


Ada beberapa poin-poin hasil rapat ditangguhkan dulu. Menunggu hasil perundingan Dhafin di istana.


Dan pasukan yang akan menyusul Dhafin ke kotaraja telah rampung dibicarakan. Mereka antara lain yaitu pasukan yang berperang di halaman penjara bawah tanah Kerajaan Amerta.


Sebenarnya Yang Mulia Ratu ingin menambahkan personil Istana Centauri. Namun Pangeran Revan dan orang-orang jeniusnya belum menyepakati permintaan Yang Mulia itu.


Dalam rapat itu juga membicarakan hal-hal lain yang terjadi selama beberapa hari ini. Termasuk membicarakan tentang berhentinya pihak istana mengirimkan pasukan ke wilayah utara ini. Setelah terakhir terjadi pertempuran di luar batas Kota Arthia.


Membahas juga mengenai mata-mata istana yang disusupkan di berbagai kota untuk melacak pergerakan pasukan Markas Centaurus dan pasukan Istana Centauri.


Rapat baru berakhir saat malam telah tiba.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2