
"Coba kamu bicara yang jelas, Kak Gibson," kata Kayshila sudah mulai meremang hatinya, jantungnya semakin berdegup kencang. "Apa sebenarnya yang terjadi?"
"Kami; aku dan Tuan Muda dikepung oleh Raja Adrian dan ribuan pasukannya saat keluar dari penjara bawah tanah," kata Gibson menuturkan masih dengan kepiluannya. "Kamu bisa bayangkan bagaimana ribuan tombak dan pedang yang semuanya menyasar ke tubuh kami...."
"Kami bisa menghalau 10 tombak dan pedang, tapi tidak bisa menghalau ratusan tombak dan pedang yang menusuk dan menyayat tubuh kami...."
"Kamu bisa bayangkan apa yang terjadi setelah itu, Nona Kayshila...."
Nada suara Gibson semakin pilu. Tangis dukanya semakin menguasai perasaannya, hingga tanpa malu keluar mengaung di seantero kamar itu.
Fariza semakin erat memeluk sang pujaan hati itu. Air matanya sedari tadi sudah mengguyur di wajah cantiknya. Kesedihan yang dialami oleh Gibson seakan telah menyatu dengan perasaannya hingga membuatnya ikut bersedih pula.
Sedangkan Kayshila, kalau tidak cepat ditangkap dan dipeluk oleh Jovita dia akan jatuh begitu saja. Seluruh persendian dan tulang-tulang di tubuhnya serasa hilang entah ke mana. Sekujur tubuhnya seketika lemas.
Sehingga Jovita harus perlahan-lahan turun duduk ke lantai sambil terus memeluk Kayshila yang semakin lemas.
Apa hubungan Dhafin dengan Kayshila dia belum mengerti. Namun dia melihat kesedihan langsung menyelimuti wajah cantiknya. Kedukaan yang mendalam segera terpancar dari binar matanya. Dan mata indah itu sudah mengeluarkan air mata tanpa dapat dibendung.
Sedangkan Yang Mulia Ratu hampir juga jatuh lemas kalau tidak cepat dipeluk dari belakang oleh Keysha. Itupun dia harus perlahan-lahan mengantarnya untuk duduk di kursi.
Sementara perasaan sang ratu sendiri sudah hancur remuk redam. Sudah 8 tahun dia tidak melihat apalagi mendengar berita tentang pemuda yang dicintainya itu.
Sekarang dia sudah mendengar kabar tentang Dhafin. Namun kenapa kabar yang pertama kali dia dengar merupakan kabar duka yang begitu menyakitkan?
Ratusan tombak dan pedang pasukan istana menusuk dan menyayat hampir seluruh tubuh Dhafin. Kalau begitu peluang untuk hidup amat kecil sekali. Itupun kalau masih sempat ditolong.
Namun siapakah yang bisa menolong dengan segera kalau Dhafin masih berada dalam kepungan pasukannya Raja Darian?
Membayangkan peristiwa tersebut sudah membuat Yang Mulia Ratu maupun Kayshila hampir mati lemas.
Bagaimana kalau mereka melihat langsung kejadian itu? Bagaimana kalau mereka melihat Dhafin sudah terkapar sekarat di atas mayat-mayat pasukan istana?
Tidak ada yang bisa kedua wanita cantik bak bidadari itu lakukan selain hanya menangis dan berduka.
Duka bertahun-tahun yang masih bersemayam di dalam hati Yang Mulia Ratu belum juga hilang. Kini ditambah lagi duka yang amat menyakitkan akibat mendengar kabar naas yang menimpa sang sandaran hati.
Sementara Kayshila, kedukaan akibat kehilangan ibu angkatnya masih juga belum hilang. Kini kedukaan makin berlapis dirasakan akibat peristiwa mengerikan yang dialami sang kekasih yang amat dicintainya itu.
Sekali dia mendapat seorang pemuda yang amat baik dan mencintainya sepenuh hati, kenapa tiba-tiba harus hilang dari genggamannya sebelum hatinya rela untuk melepaskan?
Sementara itu, Ratu Agung Aurellia belum menyadari kenapa Kayshila amat berduka atas musibah yang menimpa Dhafin.
Kalau dalam keadaan normal tentu dia akan merasa heran, dan pastinya akan cemburu. Bagaimana jika dia tahu kalau ada hubungan spesial antara Dhafin dengan Kayshila?
Entah rasa cemburunya akan berubah menjadi apa nanti?
★☆★☆
Mundur sejenak sewaktu masih di halaman bangunan penjara bawah tanah. Waktu itu dini hari menjelang subuh....
Ratusan mayat berseragam pasukan Kerajaan Amerta berserakan di halaman bangunan penjara bagai sampah. Sementara pasukan yang masih hidup masih mengelilingi tempat itu. Sedangkan puluhan jawara istana yang sudah menghunus senjata mengepung sesosok tubuh.
Sesosok tubuh sempoyongan yang berada di tengah mayat-mayat yang berserakan. Dia tidak lain adalah Dhafin.
Kondisinya sungguh amat mengenaskan. Hampir di sekujur tubuhnya dipenuhi luka tusukan dan sayatan. Darah segar masih terus mengalir di tubuhnya.
__ADS_1
Hingga akhirnya, karena tidak bisa lagi menahan beban tubuhnya, dia jatuh terkapar di atas mayat. Pedangnya yang memancarkan cahaya biru cukup terang terlepas dari genggamannya dan jatuh tergeletak di lantai halaman.
Sementara itu Dhafin tidak bergerak-gerak lagi setelah belum lama jatuh terkapar. Entah mati entah masih hidup. Dadanya juga tidak terlihat adanya gerakan turun naik.
Tampak Raja Adrian dan Bunda Suri Rayna serta seluruh orang yang ada di situ menatap sosok tubuh Dhafin yang diam tanpa berkedip. Seakan mereka semua masih ingin memastikan kalau Dhafin benar-benar sudah mati.
Sepeminum teh berlalu Raja Adrian memerintahkan jawara yang masih mengepung itu untuk maju lebih mendekati Dhafin. Dan tanpa membantah mereka langsung maju perlahan-lahan sambil senjata terus bersiaga.
Namun baru 5 langkah mereka bergerak seketika Pedang Akhirat yang tergeletak tak jauh di sisi kanan Dhafin terangkat naik ke atas setinggi 1 tombak lebih. Posisinya gagang pedang berada di atas dan ujung pedang menghadap ke bawah tepat ke dada Dhafin.
"Berhenti!" seru Bunda Suri ketika melihat para jawara itu tidak berhenti melangkah.
"Jangan berhenti!" bentak Raja Adrian menentang instruksi Putri Rayna dengan berang. "Serang!"
Semua jawara itu adalah orangnya Raja Adrian. Jelas mereka lebih mendengar perintah rajanya ketimbang Putri Rayna. Belasan orang di antara mereka langsung melompat ke arah Dhafin seraya melayangkan senjata masing-masing.
Sementara itu Pedang Akhirat yang tadi terangkat seketika meluncur turun dengan cepat. Begitu pedang bercahaya biru itu sampai ke dada Dhafin, langsung masuk ke dalam hingga amblas.
Kejap berikut sekujur tubuh Dhafin dari kepala hingga kaki terselubung sinar biru terang. Kemudian kejap berikut sinar itu berubah menjadi bentuk kapsul bening. Seolah-olah Dhafin berada di dalam kapsul bening warna biru.
Satu helaan napas berikut 4 tombak, 3 parang, 8 pedang langsung menusuk dan membabat 15 tempat di tubuh Dhafin. Tapi semua serangan mematikan itu cuma mengenai cahaya yang berbentuk kapsul bening itu. Tidak mengenai tubuh Dhafin secara langsung.
Maka akibat yang terjadi setelah itu cukup mengerikan. Semua senjata 15 jawara itu seketika hancur berkeping-keping.
Sedangkan semua jawara itu langsung terlempar ke belakang cukup jauh, karena terhantam semacam gelombang kekuatan yang berasal dari cahaya biru itu.
Tampak darah segar muncrat dari mulut mereka yang menjerit keras. Sedangkan dada mereka hancur berlubang. Begitu jatuh ke atas mayat prajurit mereka tidak bergerak-gerak lagi alias mati.
Tentu saja kejadian yang tak terduga itu membuat semua orang terkejut bukan main, tak terkecuali Raja Adrian. Mereka tidak menyangka kalau cahaya biru yang menyelimuti tubuh Dhafin itu bisa membahayakan.
Dan kejadian itu pula membuat sisa jawara yang belum menyerang seketika merandek. Kuduk mereka langsung meremang melihat kejadian mengerikan yang menimpa 15 rekan mereka.
★☆★☆
"Tapi, Bibi...."
"Suruh mundur tikus-tikusmu itu sebelum aku bunuh mereka semua!"
Ucapan bernada dingin bercampur sinis itu membuat semua yang mendengarnya amat ketakutan. Mereka semua tahu siapa itu Putri Rayna. Di balik keanggunan sikapnya tersembunyi sifat kejam yang amat sadis.
Sampai-sampai Raja Adrian yang terkenal kejam tidak berkutik kalau Putri Rayna sudah murka begitu. Sedangkan 2 pengawal cantik sang raja hanya bisa bungkam, tak bisa berbuat apa-apa.
Sementara puluhan jawara yang tidak jadi ikut menyerang, mendengar ucapan Bunda Suri yang mengandung horor itu membuat nyawa mereka serasa sudah melayang. Namun mereka kembali lega saat Raja Adrian memerintahkan mereka untuk mundur.
"Ingat kalian semua! Jangan ada lagi yang membangkang kalau tidak ingin mati dengan cepat!"
Siapakah orangnya yang ingin mati di tangan wanita kejam itu? Tidak dia ucapkan kalimat horor itu pun tidak ada yang berani membangkang terhadap kekuasaannya. Apalagi dia ucapkan, makin membuat mereka semua tidak berkutik.
Sementara Bunda Suri sedang melontarkan intimidasinya, terjadi kejadian aneh pada diri Dhafin.
Sebagian tubuhnya tiba-tiba bergerak; kedua telapak tangannya seketika bergerak merapat di atas dadanya, bersamaan sepasang kakinya bergerak merapat. Sepasang matanya masih terpejam rapat.
Sementara sinar biru berbentuk kapsul bening masih menyelubungi sekujur tubuhnya.
Belum lama Dhafin merapatkan kedua telapak tangannya, seketika sinar kuning bening bercampur putih merembet keluar dari kedua telapak tangannya. Sinar paduan itu menjalar cepat membungkus kedua tangan Dhafin.
__ADS_1
Lalu sinar itu terus merambat yang hingga akhirnya membungkus sekujur tubuh Dhafin. Sementara sinar biru berbentuk kapsul bening cahayanya semakin terang.
Semua orang hanya bisa menyaksikan kejadian aneh yang terjadi pada Dhafin. Tidak ada yang berani bertindak gegabah.
Sedangkan Bunda Suri pun tidak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menyaksikan kejadian aneh di depan matanya. Dia juga tidak berani mengambil resiko untuk berbuat sesuatu.
Dia tidak tahu sampai di mana kehebatan seorang Dhafin. Dia juga tidak bisa melacak siapa Dhafin sebenarnya. Dia hanya bisa menunggu peristiwa aneh itu usai.
"Bibi! Kenapa kamu diam saja?" tanya Raja Adrian memberanikan diri di tengah keheranannya menyaksikan kejadian itu. "Lakukan sesuatu!"
"Tidak ada yang bisa kita lakukan selain hanya menunggu keanehan yang terjadi pada pemuda itu selesai," kata Putri Rayna bernada dingin sambil terus menatap ke arah Dhafin. "Siapkan saja pasukan panahmu!"
Sementara itu, sinar paduan masih membungkus sekujur Dhafin. Rupanya sinar paduan itu merupakan sinar penyembuh. Buktinya seluruh luka tusuk dan sayatan di tubuh perlahan-lahan mulai menutup dan mengering.
Lebih dari 2x penanakan nasi tidak ada lagi luka di sekujur tubuh Dhafin. Bekasnya sekalipun tidak ada. Seolah-olah Dhafin tidak pernah mengalami luka sedikitpun. Tapi pakaiannya yang sudah sobek sana-sini masih melekat di badannya.
★☆★☆
Begitu sinar paduan sedikit demi sedikit mulai lenyap di tubuh Dhafin, Putri Rayna melakukan gerakan telapak tangan tertentu yang aneh di depan dadanya. Setelah itu kedua telapak tangannya disatukan di depan dadanya.
Belum lama kedua telapak tangannya merapat di depan dadanya, sinar kuning bening bercampur putih yang membungkus tubuh Dhafin hilang.
Beberapa kejap berikutnya tubuh Dhafin yang masih terbungkus sinar biru berbentuk kapsul bening terangkat setinggi 3 hasta. Keanehan itu akibat kekuatan sihir yang dilakukan oleh Putri Rayna.
Tak lama di sekitar tubuh Dhafin yang mengambang di udara seketika muncul garis-garis sinar berwarna hitam. Lama kelamaan garis-garis itu semakin banyak dan membesar hingga sebesar batang tombak. Terus membentuk sebuah kotak seperti kerangkeng.
Hingga akhirnya Dhafin terkurung di dalam kerangkeng cahaya berwarna hitam.
Sementara cahaya biru berbentuk kapsul yang membungkus tubuh Dhafin lama kelamaan semakin redup. Hingga akhirnya kapsul bening warna biru lenyap. Yang tinggal hanyalah sebuah kerangkeng cahaya berwarna hitam.
Melihat hasil kerjanya yang berhasil membuat Putri Rayna tersenyum puas. Tapi belum lama dia menikmati senyum kepuasannya, seketika senyum itu lenyap bagai dicabut setan.
Tiba-tiba kedua telapak tangan Dhafin yang masih merapat terbungkus sinar putih berhawa amat dingin. Lalu sinar berhawa amat dingin menebar bagai selendang kabut dan menempel pada kerangkeng cahaya hitam buatan Putri Rayna.
Ketika cahaya putih berhawa dingin itu menempel pada batang-batang kerangkeng cahaya terdengar bunyi seperti benda panas dicelup di air.
Melihat Dhafin rupanya mengerahkan lagi kesaktiannya yang lain, Bunda Suri semakin meningkatkan tenaga kesaktian pada kerangkeng cahaya buatannya itu.
Kira-kira 2x penanakan nasi Dhafin mengadu kesaktian dengan Putri Rayna, akhirnya perlahan-lahan batang-batang kerangkeng cahaya berubah menjadi beku. Yang mulanya berwarna kelabu berubah menjadi putih bagai batang es.
Dan tanpa Putri Rayna sangka-sangka Dhafin dengan tiba-tiba menyentak kedua telapak tangannya ke samping, menghantam dengan kuat kerangkeng yang sudah berubah menjadi beku itu.
Langsung saja terdengar seperti kaca yang pecah berantakan. Bersamaan dengan hancurnya berkeping-keping kerangkeng buatan Putri Rayna.
Sedangkan Putri Rayna tampak terjajar kaget ke belakang beberapa langkah.
Sementara Dhafin, begitu berhasil menghancurkan kekuatan sihir yang dilakukan oleh Putri Rayna, segera mengerahkan ilmu teleportasi.
Melihat hal itu Raja Adrian langsung mendorong kedua telapak tangannya ke arah Dhafin yang terbungkus sinar putih.
Namun tindakannya terlambat. Dhafin sudah lenyap dari pandangan semua orang. Sedangkan dua sinar merah yang keluar dari telapak tangannya hanya menyasar angin.
Sementara 2 sinar merah itu terus meluncur dan menghantam dinding bangunan penjara hingga hancur.
Betapa murkanya Raja Adrian mana kala menyadari Dhafin sudah tidak ada lagi di tempat ini. Wajahnya yang bengis semakin bengis ketika menampakkan kemarahannya yang amat sangat.
__ADS_1
Sedangkan Putri Rayna cuma bisa memandang udara kosong di mana tadi Dhafin masih berada. Berbagai macam perasaan bercampur aduk di dalam hatinya saat menyadari kekuatan sihirnya dapat dikalahkan oleh pemuda tampan itu.
★☆★☆★