
Raja Adrian makin dibuat geram aksi yang ditunjukkan Brian. Dengan seorang diri mampu membunuh 1000 lebih pasukannya dalam 2x gebrakan.
Namun dalam penjara mantra Keenan apa yang bisa dia lakukan. Kedua pengawalnya pun tidak bisa membantu banyak. Sedangkan keduanya hanya bisa melongo melihat aksi yang ditunjukkan Brian.
Akan tetapi aksi memukau yang ditunjukkan Brian itu tidak menyurutkan semangat pasukan yang masih hidup untuk menyerang. Mereka terus saja maju tanpa kenal takut.
Dan mereka langsung disambut berbagai kesaktian yang memukau tapi mengerikan yang ditunjukkan oleh Aziel, Gibson, Kelvin, dan 5 jawara Markas Centaurus. Sehingga para pasukan itu hanya bisa menyerahkan nyawa mereka tanpa melakukan perlawanan berarti.
Sementara itu 2 Pengawal Pribadi Putri Rayna masih agak bengong melihat majikan mereka terkurung dalam tabung aneh. Namun salah seorang seolah telah tersadar seketika menghantamkan kedua telapak tangannya ke tabung silinder itu dengan amat kuat berisi tenaga dalam tinggi.
Namun apa lacur tindakannya itu berakibat amat fatal bagi dirinya sendiri. Tabung bening itu jangankan hancur, retak pun tidak. Seolah menghantam benda amat keras. Malah kedua tulang tangannya seketika itu juga remuk.
Tidak hanya sampai di situ. Dia langsung terlempar dengan deras ke belakang sambil menjerit setinggi langit. Tampak dadanya hancur berlubang.
Perlu diketahui bahwa penjara mantra itu terkandung 2 tenaga sakti milik Dhafin dan Putri Rayna. Sehingga siapa saja yang mencoba menghancurkan penjara mantra itu, dia akan melawan 2 kekuatan itu.
Sementara pengawal yang satunya hanya bisa melongo melihat kejadian mengerikan itu. Tapi dia tidak bisa terlalu lama menikmati kelongoannya. Karena di belakangnya tiba-tiba terdengar suara menegurnya. Suara itu bernada kalem tapi berhasil mengejutkannya.
"Apakah kamu tidak mau mencoba seperti kawanmu yang tadi itu?"
Dengan cepat dia berbalik menghadap ke belakang. Dan kembali sang pengawal terkejut tidak percaya begitu tahu siapa yang menegurnya. Seakan muncul dari dalam tanah, tahu-tahu Dhafin sudah berada berjarak 2 tombak dari tempatnya berdiri.
Dhafin tampak tenang saja di tempatnya sambil tersenyum dan menatap santai sang pengawal.
Namun sikap Dhafin itu diartikan lain oleh pengawal itu. Seolah-olah Dhafin telah melecehkan dan meremehkannya. Itulah yang membangkitkan nyalinya untuk berani melawan Dhafin.
Seolah dia lupa kalau majikannya bisa bernasib sial seperti itu akibat kesaktian Dhafin.
Sreeet...! Criiing!
"Jangan dulu merasa bangga akibat mempertontonkan kehebatanmu yang cuma sampah itu," lecehnya sambil menghunus pedangnya. "Kamu belum merasakan kehebatanku."
"Kalau begitu aku ingin merasakan kehebatanmu," kata Dhafin masih tetap tenang. "Apakah manis seperti gula atau asin seperti garam?"
"Keparat!"
Pengawal Pribadi itu tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dengan cepat dia langsung menyerang Dhafin dengan jurus-jurus yang mematikan. Di awal gebrakannya dia langsung mengerahkan jurus terhebatnya yang dia miliki. Karena dia tahu dengan siapa dia berhadapan.
Namun Dhafin masih mampu menghadapi semua serangan pedang sang pengawal. Tanpa mengalami kesulitan yang berati. Dan tanpa perlu menggunakan Pedang Akhirat.
Dalam hati Dhafin mengakui kehebatan pengawal itu. Tapi sayang kehebatannya itu dipakai untuk membantu wanita jahat seperti Putri Rayna itu.
★☆★☆
Sementara itu, hampir bersamaan Dhafin menghampiri Pengawal Pribadi Putri Rayna, Keenan juga menghampiri Raja Adrian yang masih terkurung dalam penjara mantra.
Sejenak Keenan memandang Raja Adrian yang amarahnya sudah tak terbendungkan. Terus memandang kedua pengawal cantik yang berdiri siaga di depan majikannya.
Wajah kedua pengawal itu amat cantik. Tapi menguarkan kebencian dan amarah terhadap Keenan. Sepasang mata indah mereka juga menyorot tajam seakan hendak menelan Keenan hidup-hidup.
"Bagaimana rasanya dalam kurunganku, Yang Mulia Raja?" tanya Keenan bernada kalem tapi jelas mengejek.
"Keenan!" sebut Raja Adrian di tengah amarahnya.
"Oh, rupanya kamu masih mengenalku, Yang Mulia Raja," kata Keenan bersikap seolah tersanjung. "Terima kasih, terima kasih."
"Keluarkan aku dari kurungan sialanmu ini, Keparat!" berang Raja Adrian sambil menggedor-gedor dinding kurungan ghaib itu dengan kuat. "Biarkan aku mengadu nyawa denganmu dan pasti aku akan membunuhmu!"
"Mengeluarkanmu dari kurunganku itu wewenang Pangeran Pusat, Yang Mulia Raja," kata Keenan masih tenang dan santai. "Silahkan kamu memohon sendiri padanya."
Raja Adrian makin murka mendengar ucapan Keenan itu. Dia tidak tahu siapa itu Pangeran Pusat dan tidak mau memikirkannya. Yang dia pikir ucapan Keenan itu seakan terus melecehkannya.
__ADS_1
Sedangkan Keenan, melihat Raja Adrian makin murka, terus berkata yang jelas mengejeknya.
"Oh, aku melihat kamu semakin marah, Yang Mulia Raja. Apa karena di dalam situ udaranya terlalu panas? Tunggu, aku akan membuatmu adem."
Lalu dia menempelkan kedua telapak tangannya di dinding kotak kurungan itu. Melihat hal itu, Raja Adrian dan kedua pengawalnya langsung bersiaga untuk mengantisipasi sesuatu yang dilakukan Keenan.
Tak berapa lama Keenan menempelkan kedua telapak tangannya, muncul uap bening warna putih berhawa dingin. Lalu uap itu menyebar dan langsung melingkupi Raja Adrian dan kedua pengawal cantiknya.
Mulanya mereka cuma merasakan dingin biasa. Tapi tak berapa lama mereka langsung merasakan dingin yang amat sangat. Tentu saja mereka terkejut bukan main. Tapi mereka bisa apa terhadap Keenan kalau masih dalam penjara mantra.
Dengan segera mereka duduk bersila. Lalu melakukan beberapa gerakan telapak tangan. Kemudian telapak tangan mereka disatukan di depan dada. Maka tak lama kemudian, sinar merah berhawa panas seketika membungkus sekujur tubuh mereka.
Sementara uap bening berhawa amat dingin itu masih saja melingkupi tubuh mereka, bahkan kini sudah merata.
Sedangkan Keenan, dirasa pekerjaannya sudah cukup, kedua telapak tangannya ditarik kembali, terus berkata.
"Selamat menikmati hawa sejuk, Yang Mulia Raja. Semoga amarahmu bisa mereda."
Lalu Keenan melesat ke arah pasukan istana membantu kawan-kawannya membantai mereka. Entah bagaimana caranya, tahu-tahu di tangannya sudah tergenggam Pedang Naga Es-nya.
Sedangkan Raja Adrian dan kedua pengawal cantiknya masih berusaha keras mengusir hawa yang amat dingin dengan kesaktian yang mereka miliki.
Sementara Putri Rayna yang masih terkurung dalam penjara mantra masih berusaha menghancurkan penjara mantra itu dengan kesaktiannya. Dan tabung kurungannya kini sudah dipenuhi oleh sinar berwarna hijau miliknya.
★☆★☆
Sementara itu, pertarungan antara Dhafin melawan Pengawal Pribadi Putri Rayna masih berlangsung. Bahkan pengawal itu dibantu 11 orang jawara istana. Jadi kini Dhafin dikeroyok oleh 12 orang istana.
Dikeroyok 12 jago istana terpaksa Dhafin menggunakan Pedang Akhirat. Dan terpaksa pula Dhafin menyudahi pertarungan dengan cepat kalau tidak ingin dikeroyok lebih banyak lagi jago-jago istana.
Pedang Akhirat yang bercahaya biru terayun dengan cepat dan sebat menghantam semua senjata lawan yang mengarah padanya. Hingga semua senjata itu hancur patah-patah tak beraturan.
Begitu pedang Dhafin kembali terayun beberapa kali, 3 leher hampir putus, 2 dada dan lambung robek panjang. Kejap berikut 5 jawara langsung tumbang seraya menjerit keras setinggi langit.
Maka baru beberapa gebrak saja 3 jawara telah tumbang lagi. Menyusul beberapa saat kemudian 3 jawara lagi. Sehingga yang kini tersisa tinggal sang pengawal. Itupun tinggal menunggu saat saja dia akan menyusul yang lain.
Dhafin mengayunkan pedangnya 3x berturut-turut menyerang sang pengawal. Namun masih dapat ditangkis oleh pengawal itu meski dengan meringis kesakitan karena tangannya kesemutan.
Begitu ayunan ke 4 pengawal itu masih bisa menangkis. Tapi pedangnya seketika hancur menjadi beberapa keping. Sedangkan tangannya bukan lagi kesemutan, melainkan langsung kaku tak bisa digerakkan.
Sedangkan Pedang Akhirat kembali terayun mendatar dengan amat cepat menebas leher.
Craaasss!
"Ah...."
Sang pengawal langsung terdiam kaku. Matanya melotot nyalang. Dia cuma mendesah pendek. Tak lama tubuh tegapnya seketika rubuh ke belakang dengan kepala menggelinding jatuh, lalu terguling mengerikan.
Lagi-lagi Dhafin tak menghiraukan nasib sang pengawal yang sudah mengucurkan darah di kutungan lehernya. Karena perhatiannya beralih pada 300 lebih pasukan yang menyerang ke arahnya.
Dilepas Pedang Akhirat begitu saja. Maka seketika pedang itu langsung lenyap tanpa bekas. Lalu kedua tangannya digerakkan setengah merentang ke samping.
Seketika di kedua telapak tangannya yang terbuka menyemburat lidah-lidah petir kecil berwarna biru-putih. Lalu kedua tangannya itu diangkat perlahan ke atas.
Kemudian tanpa menunggu ratusan pasukan yang menyerangnya itu tiba, seketika kedua telapak tangannya disentak ke bawah dengan cepat dan kuat.
Maka beberapa kejap berikut keanehan yang mengerikan terjadi. Seketika muncul dari atas ratusan anak petir dan langsung menghujani 300 lebih pasukan yang menyerangnya.
Suara ledakan-ledakan yang bercampur dengan suara jeritan-jeritan kematian berbaur jadi satu. Sehingga tak butuh waktu lama 300 lebih pasukan istana telah tumbang semua dengan tubuh setengah gosong tanpa ada sisa.
Kemudian Dhafin menyentak lagi kedua telapak tangannya ke depan dengan cepat. Maka seketika ratusan anak petir berhamburan keluar dari kedua telapak tangannya dan langsung menghantam ratusan pasukan istana yang kembali menyerangnya.
__ADS_1
Maka kembali terdengar suara ledakan-ledakan yang berbaur dengan suara jeritan-jeritan kematian. Tampak tubuh-tubuh setengah gosong terlempar ke belakang, terus terjatuh saling tumpang tindih.
Sementara itu suara-suara jeritan kematian di halaman penjara bawah tanah terus saja terdengar saling susul menyusul seakan tiada hentinya.
Sebelas pemuda tampan itu terus saja mengamuk bagai banteng terluka. Mengayunkan pedang angkernya dengan sebat, membantai sisa-sisa pasukan istana yang tinggal 500 lebih personil itu.
Sementara ribuan mayat yang bersimbah darah sudah hampir memenuhi seluruh pelataran penjara. Mereka bergelimpangan di mana-mana tak tentu arah.
Darah segar mereka sudah menggenang membasahi lantai pelataran penjara. Bau amisnya telah mengotori udara malam dan telah menebar ke segala arah.
Benar-benar malam ini merupakan malam pembantaian besar-besaran.
★☆★☆
Sementara itu, tabung kurungan Putri Rayna sudah mulai retak di beberapa tempat.
Rupanya semangat wanita itu untuk menghancurkan penjara mantra Dhafin tak pernah kendur. Dan usahanya itu sudah terlihat hasilnya. Tinggal menunggu waktu saja tabung silinder itu akan hancur.
Akan tetapi ribuan pasukannya sudah pada mati. Yang masih bertahan hidup tinggal segelintir saja. Itupun sebenarnya mereka cuma menunggu antrian akan menyusul kawan-kawannya yang sudah tewas duluan.
Malam terus merangkak semakin larut, mengisahkan peristiwa mengerikan yang terjadi di halaman penjara. Tanpa terasa waktu sudah berada di ambang subuh.
Dan tanpa terasa pula seluruh pasukan istana habis terbantai, tak ada sisa walau seorang pun. Kira-kira jumlah mereka sekitar 5000 lebih. Ditambah 1500 lebih yang telah mati sebelumnya.
Pelataran penjara nyaris tidak terlihat lantainya. Karena di atasnya telah terbujur ribuan mayat pasukan istana yang bergelimpangan tak tentu arah.
Sementara kesebelas pemuda itu sejenak memulihkan tenaga. Namun baru saja mereka selesai menetralkan kondisi seketika tabung kurungan Putri Rayna hancur berantakan.
Bersamaan dengan itu sinar hijau dari tubuhnya langsung menyebar ke segala arah bagai kabut yang terhempas angin.
Melihat itu Dhafin langsung melesat ke arah wanita itu. Begitu sudah sampai di depan wanita itu, telapak tangan kanannya yang bersinar merah langsung mengarah ke dada wanita itu.
Jelas Putri Rayna tidak siapa karena dia baru saja selesai menghancurkan penjara mantra. Lagi pula konsentrasinya masih kacau. Tenaganya nyaris terkuras habis. Maka dengan telak telapak tangan Dhafin menggedor dada yang kencang membusung itu.
Dughk!
"Aaakh...!"
Tanpa ayal wanita itu langsung terlempar deras ke belakang sambil menjerit keras setinggi langit. Mulutnya yang menganga cukup lebar memucratkan darah yang menciprat ke udara. Lalu dia jatuh di atas tumpukan mayat pasukan istana.
Sejenak wanita itu terdiam. Lalu berusaha melonggarkan napasnya yang terasa sesak. Tapi dadanya amat sakit bukan main ketika menhela napas. Saat ini dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Tapi tidak sampai semaput.
Seketika matanya yang indah melotot tegang begitu melihat Dhafin sudah berdiri di samping kirinya. Kengerian tergambar di wajahnya melihat pemuda itu. Padahal Dhafin tetap dalam mode kalem dan tenang.
"Sebenarnya aku bisa saja membunuhmu saat ini juga, Tuan Putri," kata Dhafin dengan tenang. "Tapi nyawamu bukan menjadi hakku...."
"Ada yang lebih berhak atas nyawamu," lanjutnya. "Dan aku rasa kamu pasti tahu siapa yang aku maksud."
"Semoga berjumpa lagi di lain waktu, Tuan Putri."
Setelah berkata begitu, Dhafin menempelkan telapak tangan kanannya di dadanya. Maka sinar putih seketika membungkus sekujur tubuhnya. Kejap berikut sinar putih itu hilang bersama tubuh Dhafin ikut lenyap.
Hampir bersamaan 10 pemuda lainnya juga ikut menghilang.
Tinggallah Putri Rayna yang hanya bisa terbaring diam. Matanya yang menatap langit kelam membersitkan amarah dan dendam yang amat sangat.
Sementara Raja Adrian dan kedua pengawal cantiknya yang sudah terbebas dari penjara mantra Keenan, hanya bisa meringkuk diam. Karena rasa dingin di tubuh mereka belum juga reda.
Rupanya kesaktian mereka tidak mampu mengusir rasa dingin dari uap bening yang diberikan Keenan.
Tubuh Raja Adrian memang masih beku. Namun amarah, kebencian dan dendam terhadap Dhafin dan kawan-kawannya tidak akan pernah beku di dalam dirinya.
__ADS_1
★☆★☆★