
Sosok serba hitam terus berlari cepat melintasi atap rumah penduduk. Setiap kakinya menyentuh atap, tidak ada satupun yang bergeser atau bergerak. Menandakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah tinggi.
Agak jauh di belakangnya Putri Eveline dan Zelyne yang masih terus mengejar. Mereka juga dengan lincah melintasi atap rumah-rumah penduduk.
Ternyata ilmu meringankan tubuh kedua gadis cantik itu tidak kalah jauh dengan sosok serba hitam itu. Setiap kaki mereka menyentuh atap nyaris tak bergerak.
Sementara sosok serba hitam terus saja berlari cepat. Dan begitu melintasi rumah terakhir dia langsung melenting ke udara. Lalu hinggap dengan ringan dan manis di tanah.
Tanpa menghentikan gerakan sosok misterius itu terus berlari cepat menuju hutan yang cukup lebat.
Tidak lama Putri Eveline dan Zelyne juga melintasi rumah terakhir yang dilintasi sosok serba hitam. Terus dengan gerakan indah mereka melenting turun ke tanah.
Begitu sepasang kaki mereka sudah sampai ke tanah, lalu mereka terus mengejar sosok serba hitam yang sudah memasuki hutan.
Kejar-kejaran terus saja berlangsung. Demikian cepatnya kelebatan tubuh masing-masing mereka, tanpa terasa sudah cukup jauh memasuki hutan.
Sekuat tenaga Putri Eveline maupun Zelyne mengerahkan ilmu lari cepat mereka, namun mereka tidak dapat mengejar sosok serba hitam itu. Bahkan menambah jarak menjadi dekat pun tidak bisa.
Jarak antara mereka dengan orang serba hitam itu masih saja tetap stabil. Seolah orang serba hitam itu yang mengendalikan jarak.
Begitu sudah dalam memasuki hutan, seketika sosok serba hitam merandek. Tidak lama setelah itu Putri Eveline dan Zelyne sampai. Terus berhenti 3 tombak dari tempat sosok serba hitam berdiri dengan posisi membelakangi.
Untuk sejenak baik Putri Eveline maupun Zelyne belum menegur sosok yang masih misterius di depan mereka itu. Mereka cuma menatap tajam sosok serba hitam dengan penuh selidik.
Tak lama Zelyne tiba-tiba memindai keadaan sekitarnya. Begitu menyadari kalau mereka berada di tengah hutan lebat dia langsung terkejut. Nalurinya segera memberi tahu kalau mereka berada di tempat berbahaya.
"Nona, sepertinya kita dijebak oleh orang itu," bisik Zelyne setelah kembali menatap sosok serba hitam. "Sepertinya dia sengaja menggiring kita untuk masuk ke dalam jebakannya."
Putri Eveline lantas melayangkan pandangannya ke sekelilingnya. Dan segera menyadari kalau apa yang dikatakan pengawal cantiknya itu ada benarnya.
Mereka benar-benar berada di tengah hutan yang sunyi. Kalau terjadi apa-apa dengan mereka di sini, tidak ada seorang pun yang mengetahui, apalagi prajurit istana.
Putri Eveline kembali menatap sosok serba hitam yang masih berdiri membelakangi. Terus berkata dengan suara agak keras membentak.
"Siapa kamu, orang serba hitam? Kenapa mencuri pedangku?"
Sosok serba hitam tidak menjawab pertanyaan Putri Eveline. Dia segera berbalik menghadap ke arah kedua gadis di depannya. Menatap sejenak kedua gadis itu dengan sorotan mata datar.
Lalu sosok misterius itu melemparkan pedang Putri Eveline yang ada di genggaman tangan kirinya ke pemiliknya. Lemparan yang cukup kuat tapi tidak berbahaya.
★☆★☆
Zelyne dengan gesit maju ke depan, lalu dengan cepat dan sigap menangkap pedang itu. Setelah itu memberikan pedang itu kepada Putri Eveline.
Setelah menerima pedangnya dari Zelyne, bibir legit Putri Eveline bergerak hendak berkata. Namun sudah terdengar orang serba hitam bertanya bernada datar.
"Apa maksud Tuan Putri mencari Pangeran Pusat?"
__ADS_1
Dari suaranya yang agak besar dan berat bisa dipastikan kalau orang bertudung kain hitam itu adalah seorang lelaki. Tapi tua atau muda belum jelas.
Yang terlihat di bagian wajahnya cuma sepasang matanya yang menyorot tajam. Kening atasnya sedikit tertutup tudungnya. Sedangkan sebagian besar wajahnya tertutup kain hitam.
Lelaki bertudung hitam itu menyebutnya Tuan Putri tentu saja Putri Eveline terkejut. Hal itu menandakan bahwa orang itu mengenalnya, tepatnya mengenal wajahnya.
Pasalnya dia sudah menanggalkan atribut istana pada dirinya dan berpakaian layaknya pendekar pengembara.
Pula tidak banyak orang yang tahu akan dirinya sebagai putri istana, karena dia tidak terlalu mengekspos dirinya di kotaraja. Lebih-lebih lagi di luar kotaraja.
Sedangkan lelaki misterius itu mengenal dirinya. Siapa sebenarnya dia?
"Siapa sebenarnya kamu?" tanya Putri Eveline jelas amat penasaran, tidak menggubris pertanyaan lelaki itu. "Sepertinya kamu mengenal diriku."
"Siapa diri saya itu tidak penting, Tuan Putri," kata lelaki bertudung masih bernada datar. "Saya harap Tuan Putri menjawab saja pertanyaan saya."
"Kamu sudah tahu berhadapan dengan Tuan Putri, Lelaki Bertudung," kata Zelyne bernada ketus bercampur sinis. "Mengapa kamu masih berlaku tidak sopan begitu? Jawab saja pertanyaan Tuan Putri siapa kamu sebenarnya?"
"Seharusnya kamu bisa membujuk junjunganmu agar tidak berkeliaran, Nona Zelyne," kata lelaki bertudung bernada dingin seraya menatap Zelyne. "Kamu malah membantunya melakukan hal yang tidak ada gunanya."
Zelyne tidak kaget lelaki itu mengenal dirinya. Kalau dia sudah mengenal Putri Eveline, pasti mengenal dirinya pula. Hanya saja dia ikut-ikutan penasaran tentang lelaki itu yang juga mengenal dirinya.
"Siapa kamu sebenarnya hah?" bentak Putri Eveline dengan amarah yang sudah naik ke ubun-ubun. "Apa perlu aku memaksamu dengan pedangku supaya kamu buka mulut?"
"Jangan coba-coba bertingkah kalau tidak ingin nyawa Tuan Putri cepat melayang," kata lelaki itu bernada datar bercampur dingin seakan mengancam.
"Keparat...!"
Namun dengan cepat Zelyne mencegatnya. Dia yang mengerti situasi meski juga sudah emosi tidak ingin Putri Eveline bertindak gegabah.
"Tahan amarahmu, Nona!" kata Zelyne mengingatkan. "Jangan terpancing ucapannya."
"Huh!"
Putri Eveline hanya bisa mendengus geram. Dia memang tidak boleh gegabah dalam situasi seperti ini. Bisa saja lelaki itu sengaja memancing amarahnya agar melakukan kesalahan.
Belum lama Zelyne mencegat Putri Eveline yang hendak menyerang, tiba-tiba berkelebat dengan cepat 2 sosok bayangan dari arah belakang lelaki bertudung.
Berjumpalitan di udara beberapa kali, lalu mendarat dengan manis di samping kiri kanan lelaki itu.
Dua sosok yang baru datang itu ternyata adalah 2 orang pemuda tampan. Yang satu berpakaian panjang warna biru gelap. Berambut panjang sebagian dikuncir rapi.
Sedangkan yang satu berbaju sebatas pertengahan paha warna coklat. Pinggangnya terlilit sabuk dari kain panjang warna merah. Rambutnya tidak terlalu panjang. Kepalanya dilingkari ikat kepala dari kain tebal warna coklat pula.
★☆★☆
Baik Putri Eveline maupun Zelyne berusaha untuk tidak kaget menyaksikan kedatangan teman lelaki bertudung hitam. Hanya saja mereka lebih meningkatkan kewaspadaan sambil mengamati 2 pemuda tampan yang baru datang.
__ADS_1
"Apa orang-orang yang bersembunyi di nun jauh di sana itu adalah para pengawal Putri Eveline, Zafer?" tanya pemuda berbaju coklat sambil mengamati pepohonan yang cukup jauh di belakang Putri Eveline dan Zelyne.
Putri Eveline tidak kaget mendengar pemuda berbaju coklat menyebut nama lelaki bertudung. Dia hanya sedikit terkejut pemuda itu memberi tahu kalau di belakangnya ternyata masih ada orang-orang yang bersembunyi di balik pepohonan.
Sedangkan lelaki bertudung yang dipanggil Zafer cuma melirik pada temannya itu sambil mendelik kecil. Lalu kembali menatap datar ke depan, ke arah belakang Putri Eveline dan Zelyne.
Yang kaget adalah Zelyne. Bahkan amat terkejut.
Nama Zafer tidak asing lagi baginya. Dia adalah teman Zelyne sewaktu masih kecil dulu. Akan tetapi entah apa yang terjadi pada Zafer, tiba-tiba saja Zelyne kehilangan teman baiknya itu.
Setelah mencari tahu keberadaan Zafer kecil, dia mendapat kabar kalau Zafer kecil dulu di culik oleh orang-orang berjubah merah. Kejadiannya pada 8 tahun lebih yang lalu.
Sekarang, setelah 8 tahun lebih berlalu dia baru lagi mendengar nama Zafer disebut. Dan orang yang bernama Zafer itu adalah lelaki bertudung itu.
Apakah Zafer di depannya itu adalah Zafer kecilnya dulu masih belum jelas. Karena yang di depannya itu bertudung dan bermasker kain.
"Aih, kamu ini, Veron," dengus pemuda berbaju biru seolah menegur pemuda bernama Veron itu. "Si Tudung Hitam ini sengaja berpenampilan begini agar tidak dikenal oleh orang-orang masa lalunya. Malah kamu menyebut namanya."
Mendengar ucapan pemuda berbaju biru itu Zelyne hampir yakin kalau Zafer di depannya itu adalah Zafer kecil-nya dulu. Tinggal dia melihat wajahnya saja. Dan dia masih hapal wajahnya meski sudah dewasa.
"Kak Zafer!" panggil Zelyne bernada haru. "Kamukah itu?"
Dia hendak maju menghampiri Zafer. Tapi Putri Eveline cepat menangkap tangannya dan menariknya kembali ke posisinya.
"Apa yang hendak kamu lakukan, Kak Zelyne?" tanya Putri Eveline bernada tajam.
"Aku hendak memastikan apakah lelaki bertudung itu adalah Kak Zafer-ku yang dulu yang selama ini aku cari," kata Zelyne bernada memohon.
"Kamu tenang dulu, jangan terbawa perasaan dulu," kata Putri Eveline mengingatkan. "Apakah kamu tidak dengar pemuda berbaju coklat itu mengatakan kalau masih ada orang bersembunyi di belakang kita."
"Kita belum tahu apakah orang-orang di belakang itu kawan atau lawan," lanjutnya. "Hati-hatilah dan selalu waspada."
Zelyne terdiam sejenak sambil menatap Putri Eveline. Namun setelah itu kembali menatap Zafer lekat-lekat.
"Kak Zafer! Kamukah itu, Kak Zafer-ku yang dulu?" kata Zelyne kembali memanggil nama Zafer. "Jawablah!"
"Zafer! Gadis berbaju hijau itu memanggilmu," kata Veron seolah menggoda. "Sepertinya dia kenalan lamamu."
"Bukan saatnya bercanda, Veron," kata Zafer bernada dingin. "Orang-orang yang bersembunyi di sana itu bukan pengawal Putri Eveline. Tapi Pangeran Marvin, kakak Putri Eveline dan jawara-jawaranya."
Bukan main terkejutnya Putri Eveline mendengar ucapan Zafer barusan. Ternyata orang-orang yang bersembunyi di belakangnya adalah saudaranya dan orang-orangnya.
Dia menoleh ke belakang ingin memastikan apakah memang ada yang bersembunyi di belakang.
Namun belum lama dia memandang ke belakang, seketika berkelebat puluhan sosok bayangan dari balik pohon dan atas pohon di belakangnya itu berjarak 7-8 tombak.
Demikian cepatnya sosok-sosok bayangan itu berkelebat, tahu-tahu Pangeran Marvin sudah berdiri di samping Zelyne. Sedangkan pengawal Pangeran Marvin berdiri di samping Putri Eveline.
__ADS_1
Sementara sekitar 30-an para jawara elit berdiri di belakang mereka.
★☆★☆★