Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 44 SEPENGGAL KISAH PANGERAN KEENAN DAN PUTRI CHERYL AURORA


__ADS_3

Kita ikuti sejenak kejadian saat Keenan menemui Putri Cheryl Aurora di sebuah penginapan di luar kotaraja....


Sebelumnya, sebenarnya yang hendak menemui Putri Cheryl adalah Aziel. Bahkan bukan saja hendak menemui, tapi juga hendak menghabisi nyawa putri cantik itu.


Kenapakah si Aziel ini yang dalam kepalanya hanyalah membunuh saja? Apakah dia tidak mempertimbangkan baik buruknya kalau membunuh Putri Raja Bastian itu?


Jelas keinginannya itu tidak disetujui oleh 4 bocah sakti lainnya. Karena mereka sudah tahu apa yang akan terjadi kalau Aziel yang menemuinya.


Setelah melalui perdebatan sedikit dengan Aziel, akhirnya Keenan yang akan menemuinya. Yang lain setuju kecuali Aziel. Tapi opininya tidak ada yang menggubris.


Singkat cerita Keenan langsung datang ke penginapan Putri Cheryl Aurora setelah peristiwa terbunuhnya Jenderal Rainer, Pengawal Pribadi sang putri.


Sementara itu Putri Cheryl yang berada di dalam penginapan cukup luas bersama dua pelayannya menunggu kedatangan Jenderal Rainer dengan harap-harap cemas.


Tidak ada dalam pikirannya kalau pengawalnya itu dan 10 Pasukan Rahasia bakal dikalahkan oleh 5 bocah sakti, apalagi mereka sampai terbunuh.


Yang dia cemaskan jangan sampai mereka gagal menangkap 5 bocah sakti itu. Karena di antara 5 bocah sakti itu ada Dhafin si penyihir kecil.


Dan begitu dia cermati kelima anak muda itu dan Jenderal Rainer telah memberitahukan nama-nama mereka, ada di antara mereka yang ternyata dia kenal. Yaitu....


Begitu Keenan sampai di depan pintu kamar Putri Cheryl, dia langsung mengetuknya. Dan membuat lamunan Putri Cheryl buyar, berganti dengan keterkejutan yang sangat.


Tok! Tok! Tok!


Putri Cheryl yang kini duduk di kursi di samping tempat tidurnya lantas menatap pintu kamar. Dua pelayannya yang duduk melutut di lantai kamar ikut menatap pintu.


Siapa yang masih pagi-pagi begini sudah mengetuk pintunya? Pikir mereka.


"Siapa?" tanya Putri Cheryl bersuara datar.


"Aku, utusan Jenderal Rainer," sahut Keenan.


Utusan pengawalnya? Tapi kok suaranya seperti anak kecil pikir Cheryl. Atau mungkin Jenderal Rainer mengutus seorang anak kecil untuk memberitahukan kabarnya dan 10 Pasukan Rahasia.


Setelah mempertimbangkan pikirannya, dia menyuruh salah seorang pelayannya membuka pintu.


Namun begitu pintu kamar telah terbuka dan tampak Keenan berdiri sambil bersedekap di depan pintu, Putri Cheryl yang seharusnya senang tapi terkejut sehingga dia langsung berdiri.


Kenapa anak kecil yang dia sudah kenal tiba-tiba ada di sini? Darimana Keenan tahu penginapannya? Apa yang terjadi dengan Jenderal Rainer dan 10 Pasukan Rahasia?


"Apa maksudmu mengaku utusan pengawalku?" tanya Putri Cheryl bernada datar sedikit membentak, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Berusaha menyembunyikan rasa senangnya karena bertemu lagi.


Keenan tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Sejenak ditatapnya Putri Cheryl dengan tajam. Kemudian beralih menatap dua pelayan muda di kamar ini. Sikapnya begitu kaku dan datar.


Lalu dia melangkah masuk tanpa menunggu diijinkan. Setelah masuk, terus menutup pintu kamar sekaligus menguncinya. Lalu kembali menatap Cheryl dengan tajam.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Kanda Keenan," kata Putri Cheryl masih datar, masih sedikit membentak.


Putri Cheryl masih memanggil Keenan dengan panggilan waktu mereka biasa bersama dulu.


★☆★☆


Keenan belum bersuara. Namun tatapannya tidak lagi tajam, melainkan lembut. Sikapnya berubah kalem dan santun. Terus dia berkata dengan lembut.


"Aku memang utusan Jenderal Rainer," kata Keenan seolah tidak menggubris panggilan Putri Cheryl.


"Di mana pengawalku? Apa maksudnya mengutusmu kemari?" tanya Putri Cheryl masih datar. Kali ini bernada heran dan curiga.


"Kami sudah mengantarnya ke neraka bersama 10 anak buahnya," sahut Keenan bernada kalem dan santai. "Tidak perlu lagi kamu cari."


"Apa maksudmu, Kanda?" tanya Cheryl terkejut heran.


"Kami sudah membunuhnya."


"Apa?"


Putri Cheryl terkejut tidak percaya. Dua pelayannya ikut terkejut pula. Mereka langsung bergegas ke tempat majikannya. Ketakutan langsung menyemburat di wajah mereka.


Putri Cheryl tidak percaya kalau Keenan dan keempat temannya dapat mengalahkan Jenderal Rainer dan 10 Pasukan Rahasia yang kehebatannya tidak diragukan lagi. Ini tidak masuk akal pikirnya. Keenan pasti berbohong hanya untuk menakut-nakutinya.


"Kamu tidak percaya kalau kami mampu membunuh mereka?" kata Keenan masih bernada kalem sambil tersenyum kecil. "Bahkan membunuhmu sekarang semudah membalikkan telapak tangan."

__ADS_1


Putri Cheryl tambah terkejut mendengar ucapan Keenan tersebut. Seketika tangan kanannya refleks mengibas ke depan. Maka melesatlah 3 buah belati warna perak ke arah Keenan.


Sementara Keenan tetap diam di tempatnya sambil menatap Cheryl seraya tersenyum kecil. Sikapnya itu seakan pasrah menerima serangan maut dari Putri Cheryl.


Karena lesatan 3 belati perak itu cukup cepat, lagipula jaraknya cukup dekat, maka tanpa ampun 3 belati perak itu mengenai tubuh Keenan; satu di jidat, satu di dada kiri, dan satunya di rusuk kanan.


Begitu 3 belati perak itu menembus di tubuh Keenan, seketika tubuh Keenan langsung pecah berantakan menjadi puing-puing kabut warna biru keputihan.


Membulatlah sepasang mata indah sang putri. Tidak menyangka dia membunuh teman bermainnya semasa dia berusia 5 tahun dengan tangannya sendiri.


Dia terpisah dengan Keenan sudah 5 tahun lamanya, sejak ayahnya menyerang kerajaan ayah Keenan lalu menguasainya.


Dalam peristiwa itu banyak keluarga Keenan yang terbunuh, termasuk ayah serta ibu Keenan. Namum dia mendengar kabar kalau Keenan dapat selamat dalam peristiwa itu.


Saat menyadari kalau di antara bocah sakti yang diburu ayahnya itu ternyata ada Keenan, sebenarnya hatinya senang bukan main. Namun bersamaan dengan itu hatinya berubah menjadi benci.


Mungkin karena faktor kebenciannya kepada Keenan, dan tidak menyangka kalau Keenan hendak membunuhnya juga setelah membunuh pengawalnya, sehingga dia refleks melontarkan 3 belatinya yang menyebabkan Keenan terbunuh dengan mudah.


Puing-puing kabut biru putih sudah sirna, tapi Cheryl masih saja menatap tempat di mana Keenan tadi berdiri. Sinar matanya memendarkan penyesalan.


Saat melihat 3 belatinya tertancap di pintu, dia baru bangun dari keterperangahan. Dan rasa penyesalan semakin mendera hatinya.


Kenapa saat bertemu lagi, saat berikut harus terpisah lagi?


Dulu, saat mendengar kalau dia dijodohkan dengan Pangeran Keenan, hatinya senang bukan main, meskipun waktu itu dia belum paham dijodohkan itu maksudnya apa. Nanti belakangan baru dia tahu.


Tapi apa artinya dia tahu kalau ternyata Keenan menolak dijodohkan dengannya, sehingga menyebabkan ayahnya murka dan menghancurkan kerajaan ayah Keenan.


Entah sadar atau tidak, Putri Cheryl tampak mundur. Tapi begitu kakinya mentok dengan kursi, dia langsung terduduk begitu saja. Penyesalan masih membayang di wajahnya yang cantik.


"Kanda, seandainya waktu itu kamu tidak menolak perjodohan kita," ucapnya mendesah lirih, "tentu semua ini tidak akan terjadi...."


"Perjodohan itu hanya kedok belaka. Kenapa kamu begitu naif menganggapnya sungguhan?"


★☆★☆


Seketika terdengar suara anak kecil yang beranjak remaja yang amat mengejutkan seakan menanggapi keluh kesahnya. Dan suara itu amat dikenalnya. Lantas dia menoleh ke samping kirinya dengan cepat.


Beberapa saat lamanya Putri Cheryl terdiam menatap tidak percaya pada Keenan yang juga menatapnya. Kenapa Keenan masih hidup dan tiba-tiba duduk di kursi dekat jendela?


Tapi saat dia pikir-pikir lagi cara kematian Keenan tadi itu aneh. Padahal belatinya tidak sampai begitu kalau mengenai orang. Paling cuma tertancap saja. Keenan pasti menggunakan ilmu sihirnya lagi.


Menyadari kalau Keenan seolah mempermainkannya, dia langsung melengos ke arah lain. Wajahnya kembali datar campur judes campur cemberut. Lalu terdengar suara kecilnya yang ketus berucap.


"Kenapa kamu dari dulu selalu mempermainkanku?"


"Aku tidak pernah mempermainkanmu, Tuan Putri," kata Keenan bernada kalem.


"Dulu, saat kita masih main bersama, kamu sering memperlihatkan padaku suatu pertunjukan yang kamu bilang itu sulap," ungkap Putri Cheryl masih ketus, "dengan maksud ingin menghiburku."


Tanpa sadar dia kembali mengenang saat-saat waktu dia masih bermain bersama Pangeran Keenan.


"Belakangan aku baru tahu ternyata kamu sudah lama mempelajari ilmu sihir," lanjutnya.


"Dan barusan tadi kamu menggunakan ilmu sihir lagi hingga membuatku terkejut. Sampai-sampai aku merasa...."


Putri Cheryl langsung berhenti berbicara seakan gengsi untuk melanjutkannya. Tapi malah Keenan yang melanjutkannya.


"Sampai-sampai kamu merasa bersalah dan menyesal karena mengira aku telah mati. Begitu 'kan?"


Putri Cheryl tanpa sadar menoleh pada Keenan karena terkejut tebakan Keenan betul sekali. Tapi itu cuma 3 helaan napas. Setelah itu dia buang muka lagi.


"Aku berharap kamu tidak usah lagi mengingat-ingat akan diriku," kata Keenan meminta. Nada suaranya seakan ada ganjalan.


"Siapa yang mengingat-ingat kamu?" kata Putri Cheryl berkilah. "Memangnya kamu siapa harus diingat-ingat? Nyatanya sekarang aku amat membencimu!"


"Tidakkah kamu menyadari kalau membenci itu bagian dari selalu mengingat-ingat?" gumam Keenan, tapi cuma dalam hati.


"Bersiap-siaplah! Aku akan mengantarmu pulang," kata Keenan setelah terdiam agak lama. "Berbahaya kalau kamu terlalu lama tinggal di Kerajaan Amerta ini."


"Kenapa kamu memutuskan perjodohan kita waktu itu?" tanya Putri Cheryl tiba-tiba tanpa menggubris ucapan Keenan. "Bukankah sebelumnya pertemanan kita baik-baik saja?"

__ADS_1


"Kenapa kamu masih tidak mengerti kalau perjodohan itu hanyalah kedok?"


"Kedok apa maksudmu?" tanya Putri Cheryl memang tidak tahu.


"Ayahmu sebenarnya sudah lama mengincar kerajaan ayahku," ungkap Keenan. "Untuk merebutnya secara langsung tanpa ada sebab ayahmu masih berpikir panjang...."


"...Karena orang-orang mengetahui," lanjutnya, "kalau ayahku dan ayahmu bersahabat. Orang-orang pasti akan menghujat ayahmu karena telah merebut kerajaan sahabatnya...."


"...Makanya, untuk menjalankan niat jahatnya, ayahmu membuat sandiwara perjodohan aku dengan kamu. Lalu setelah itu dia membuat rekayasa seolah-olah ayahku dan aku menolak perjodohan itu...."


"...Setelah itu kamu sudah tahu apa yang terjadi...."


"Apakah Ayahanda sehina itu perbuatannya?" kata Putri Cheryl seolah berbicara sendiri. "Padahal ayahanda...."


Yang dia kenal ayahnya memiliki wibawa dan kemuliaan yang tinggi. Sangat jauh dari sifat-sifat licik dan hina.


★☆★☆


"Sudahlah. Mungkin saat ini kamu belum bisa memahami watak ayahmu yang sebenarnya," kata Keenan memberi pengertian. "Siapa tahu saat kamu dewasa nanti kamu bisa memahaminya."


"Yang jelas... aku tidak pernah membatalkan perjodohan kita, karena kita memang belum pernah dijodohkan."


Putri Cheryl kembali menatap Keenan setelah mendengar ucapan itu. Wajah cantiknya tidak lagi menunjukkan kejudesan. Malah sekarang menerbitkan kesedihan seolah langit yang diselimuti mendung.


"Kanda, boleh aku bertanya padamu?" kata Putri Cheryl setelah agak lama terdiam. "Tapi kamu harus menjawab jujur."


"Kamu mau bertanya apa?" tanya Keenan. Tapi dia sudah bisa menebak apa yang akan ditanyakan Putri Cheryl.


"Kalau seandainya perjodohan itu bukan sandiwara, apakah kamu menerimanya?"


Tebakannya benar, Putri Cheryl pasti menanyakan hal itu. Maka dia jawab dengan bijak.


"Tuan Putri, untuk saat sekarang ini persoalan itu tidak usah kita bicarakan dulu. Perjalanan masihlah panjang. Tentu banyak peristiwa yang akan terjadi."


"Apakah sekarang kamu membenciku karena Ayahanda telah membunuh seluruh keluargamu dan merebut kerajaannya?"


"Kalau kamu berpihak pada ayahmu mungkin aku akan membencimu," kata Keenan terus terang.


"Apakah itu artinya suatu saat kamu akan membunuhku?"


"Tuan Putri! Aku harap kamu tidak berkata yang tidak-tidak. Sebaiknya kamu dan 2 pelayanmu bersiap-siap. Aku akan mengantar kalian pulang."


"Kenapa kamu masih perduli akan diriku, padahal kamu membenciku?"


"Untuk saat ini mungkin kamu belum bisa memahami kenapa aku bersikap begini. Aku harap kamu tidak terburu-buru untuk menilai."


Putri Cheryl terdiam, tidak bertanya atau berkata lagi. Setelah itu dia memerintahkan kepada kedua pelayannya untuk mengemas barang-barang mereka yang tidak terlalu banyak dan tidak terlalu ribet.


"Apakah keretanya sudah siap, Kanda?" tanya Putri Cheryl setelah barang bawaannya siap dibawa.


"Aku akan mengantar kalian melalui sihirku, biar cepat," sahut Keenan sambil meletakkan barang bawaan Putri Cheryl ke tengah ruangan.


Sejenak Putri Cheryl terkejut bingung mendengar ucapan Keenan. Seolah dia masih ragu, apakah Keenan bisa berbuat demikian. Tapi Keenan seolah tidak perduli, dia terus saja menata barang bawaan Putri Cheryl ke tengah ruangan sampai selesai.


"Kamu dan 2 pelayanmu duduk di dekat barang-barang itu!" pinta Keenan.


Putri Cheryl masih bingung, tapi dia turuti juga. Diikuti oleh 2 pelayannya. Setelah itu Keenan berdiri tegak di dekat Putri Cheryl dan dua pelayannya.


"Ke mana kamu akan membawaku?" tanya Putri Cheryl.


"Ke taman belakang istanamu yang dulu biasa kita bermain."


Putri Cheryl tersenyum manis mendengar ucapan Keenan barusan. Tapi Keenan tidak sempat melihat karena dia sudah sibuk dengan ritualnya.


Sejurus dia menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya di depan dadanya. Tak lama kemudian, kedua tangannya direntangkan ke depan dengan telapak terbuka cukup lebar.


Kemudian keluar dari telapak tangannya sinar putih kekuningan yang melebar dan langsung menerpa ketiga orang di depannya. Tak lama sinar itu membungkus sempurna Putri dan 2 pelayannya serta barang-barangnya.


Kejap berikut keanehan terjadi. Putri Cheryl, 2 pelayannya serta barang-barangnya langsung lenyap. Hampir bersamaan sinar melebar warna putih kekuningan seketika ikut lenyap pula.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2