
Rainer dan Tuan Putri terus jatuh dari pohon tempat mereka mengintai dengan deras. Sebelumnya Rainer masih dalam pengaruh kekuatan ghaib Dhafin. Sehingga seluruh tubuhnya selain kepala tidak bisa digerakkan.
Sedangkan Tuan Putri sebenarnya memiliki ilmu bela diri dan ilmu meringankan tubuh yang lumayan. Tapi karena dahan pohon yang mereka pijak patah secara aneh dan tiba-tiba, maka dia jatuh tanpa sempat menguasai keseimbangan tubuhnya.
Yang lebih sialnya lagi dia maupun Rainer sudah tiga kali terhantam dahan pohon. Sehingga membuatnya menjerit-jerit kesakitan.
Kemarahan, kekesalan serta rasa sakit bercampur aduk dalam dirinya sehingga membuatnya jengkel serta sakit hati kepada Dhafin.
Namun begitu kurang dari dua tombak lagi mereka bakal mendarat di tanah, dan kebetulan pengaruh kekuatan ghaib Dhafin sudah hilang, Rainer yang berada paling bawah cepat-cepat menguasai keseimbangan tubuhnya.
Kemudian tangan kirinya dengan cepat meraih pinggang Tuan Putri yang berada dalam jangkauannya. Sedangkan tangan kanannya yang telapaknya terbuka dengan cepat disentak ke bawah. Tepatnya ke arah lima bocah yang ternyata tinggal empat tombak lagi jaraknya.
Maka dari telapak tangannya itu keluar serangkum angin padat berhawa panas dan melesat ke arah lima bocah itu dengan cepat.
Namun karena kelima bocah itu sepertinya menyadari akan adanya serangan tanpa wujud, seakan ada yang komando mereka langsung melenting ke udara setinggi satu tombak.
Sehingga serangan jarak jauh itu cuma lewat di bawah kaki mereka. Dan karena tidak mengena sasaran utama, serangkum angin padat berhawa panas itu terus meluncur kebelakang.
Maka tanpa ampun langsung menghantam pohon cukup besar di belakang sana. Dan pohon yang malang itu seketika hancur berantakan menimbulkan ledakan yang keras.
Sedangkan Brian, Keenan, Aziel dan Kelvin, seakan telah bersepakat sebelumnya mereka balas melakukan serangan jarak jauh pula.
Dengan melenting di udara Keenan menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya di dengan dada dengan gerakan aneh. Kemudian jari telunjuk dan jempol kiri kanan disatukan di tengah. Jeriji lainnya ditekuk.
Maka dari jeriji yang membentuk segi empat itu seketika muncul sinar putih bertabur kuning berhawa panas. Lalu jerijinya yang ujungnya menyatu itu di dorong ke depan dengan kuat.
Maka sinar putih kuning tadi langsung melesat ke arah Rainer dan Tuan Putri dengan cepat.
Sedangkan Brian dan Aziel mendorong telapak tangan kirinya ke depan dengan kuat. Maka keluar dari telapak tangan Brian sinar merah dan langsung melesat ke arah dua pengintai itu.
Dan dari telapak tangan Aziel keluar sinar bulat sebesar kepalan berwarna putih dan langsung melesat ke arah Rainer dan Tuan Putri dengan cepat.
Sementara Kelvin menyentak tangan kanannya ke depan seolah melemparkan sesuatu. Maka keluar dari telapak tangannya sinar biru panjang berbentuk petir dan langsung melesat ke arah Rainer dan majikannya pula.
Empat serangan jarak jauh berhawa panas itu terus meluncur ke arah Rainer dan Tuan Putri yang baru mendarat di tanah dengan tidak terlalu mulus.
Saking panasnya empat serangan itu membuat rumput yang menjadi jalur lintasan mereka langsung mengering.
Sedangkan Tuan Putri yang menyaksikan empat serangan ganas yang semakin dekat itu cuma bisa membelalakkan mata indahnya. Sama sekali tak pernah dia bayangkan kalau bakalan mati muda dan sekonyol ini.
★☆★☆
Sementara Rainer tidak punya kesempatan untuk banyak berpikir. Dengan mengerahkan seluruh ilmu peringan tubuhnya dia yang masih merangkul Tuan Putri melesat ke belakang agak ke samping kiri.
Hampir bersamaan empat serangan jarak jauh itu tiba di tempat Rainer dan Tuan Putri tadi. Namun karena sasaran sudah merat, keempat sinar itu terus meluncur ke belakang.
Maka tanpa ampun empat sinar ganas secara berjamaah menghantam pohon besar yang tidak berdosa di belakang Rainer dan Tuan Putri tadi.
Duaaarrr!!!
Blaaarrr!!!
Terdengar dua ledakan yang amat keras berturut-turut seolah hendak meruntuhkan langit. Tampak bunga-bunga api menyebar ke segala arah.
Sedangkan pohon yang malang itu bukan saja hancur berantakan, melainkan langsung gosong bagai arang.
Sementara itu Rainer yang masih merangkul Tuan Putri terus berlari dengan amat cepat lebih menjauh dari tempat kejadian.
Meski tempat kejadian sudah tak terlihat lagi dan semakin jauh, Rainer terus saja berlari membawa majikannya ke tempat yang benar-benar aman.
Tampak Tuan Putri menoleh ke belakang. Dia sudah tak melihat lagi tempat kejadian tadi dan mereka semakin jauh.
Manakala dia mengingat perbuatan Dhafin yang hampir membuat dia dan Rainer hampir gosong seperti pohon tadi, seketika wajah cantiknya kelam membesi berikut sepasang matanya menyipit.
Kemarahan dan kebenciannya kepada Dhafin langsung menyatu di dalam dirinya sehingga melahirkan dendam.
"Paman Rainer! Kenapa kamu melarikan diri?" tanya Tuan Putri protes di sela Rainer membawanya lari. "Kenapa kamu tidak melawan mereka saja?"
"Apa kamu mau kita gosong seperti pohon tempat kita mengintai tadi?" dengus Rainer mendelik kesal.
__ADS_1
"Alasan!" leceh Tuan Putri. "Bilang saja kalau kamu takut!"
"Melarikan diri bukan berarti takut atau kalah, Tuan Putri," jelas Rainer. "Tapi melarikan diri untuk menyusun strategi baru."
"Kalau kamu melawan mereka kamu pasti menang, Paman Rainer," Tuan Putri masih ngotot.
"Kalau mereka bergabung melawan kita sekaligus, tidak ada jaminan kita bakalan menang, Tuan Putri," kata Rainer mengakui. "Apa lagi di antar mereka ada yang menguasai kekuatan ghaib...."
"Kamu sudah lihat sendiri 'kan dia bisa mengirimkan kekuatan ghaibnya tanpa melihat sasaran," lanjutnya.
Setelah merenungi ucapan Rainer, Tuan Putri lantas berkata seolah memberi titah.
"Kalau begitu jadikan mereka semua sebagai target penangkapan. Terutama bocah penyihir sialan itu."
Saat kalimat terakhir diucapkan, suaranya agak ditekan. Pertanda bencinya kepada Dhafin.
"Akhirnya kamu setuju juga dengan usulanku," kata Rainer seraya tersenyum kucing.
Sifat liciknya langsung terpancar dari sorot mata dan tarikan wajahnya. Kelicikan tentang bagaimana strateginya nanti menangkap kelima bocah sakti itu.
Setelah berhasil menangkap mereka dan mempersembahkannya kepada Yang Mulia, tentu hadiah besar dan penghargaan akan dia peroleh.
Sementara Tuan Putri, semenjak Dhafin terus hadir dalam ingatannya, semakin membuatnya benci dan sakit hati kepada Dhafin dan dendamnya semakin menjadi-jadi.
★☆★☆
Sementara itu, kelima bocah sakti masih berada di tempat kejadian....
Karena terpengaruh oleh suara ledakan dan pandangan terhalangi oleh percikan bunga api yang menyebar ke segala arah, mereka kehilangan jejak Rainer dan Tuan Putri.
"Sialan!" umpat Kelvin bernada kesal. "Mereka berhasil meloloskan diri."
"Eh, sebentar," kata Dhafin setelah menyadari sesuatu. "Sepertinya kalian hendak membunuh dua orang tadi."
"Kamu belum tahu siapa mereka, Saudara Dhafin?" tanya Keenan bernada heran tapi dengan sikap santun.
"Maaf, pengalamanku masih sedikit," ungkap Dhafin. "Jadi belum banyak tahu tentang dunia luar."
"Kalian jangan menatapku seperti itu," kata Brian santai saja. "Aku berkenalan dengan bocah aneh ini belum genap 2 bulan. Jadi, belum banyak yang aku tahu aku sampaikan kepadanya...."
"...Lagi pula belakangan ini," lanjutnya, "kami disibukan oleh pihak istana untuk membatu memberantas pengkhianat yang merencanakan pemberontakan."
Tentu saja berita besar ini membuat ketiga bocah itu terkejut bukan main. Sampai-sampai mereka menatap Brian dan Dhafin bergantian. Seolah menagih untuk menceritakannya.
"Kalian jangan salah," ungkap Brian, "bukan aku yang punya andil besar dalam kasus ini. Yang punya andil besar adalah Dhafin. Aku cuma membantu sedikit."
"Apa yang dikatakan pangeran aneh ini tidak sepenuhnya benar," sanggah Dhafin sekaligus seolah meralat. "Ibarat masakan, aku hanyalah sebagai penambah sedikit garam dari masakan yang hampir lengkap."
Keenan tampak hendak mengomentari ucapan bijak Dhafin itu Tapi keburu Brian sudah berkata.
"Sudahlah. Nanti aku ceritakan. Kita bahas dulu tentang kemunculan dua penghuni Kerajaan Lengkara disini."
Keenan kembali menatap Dhafin dengan penuh selidik. Dia mengamati sorot mata dan raut wajah anak mudah itu yang tampak begitu teduh dan tenang.
Firasatnya mengatakan kalau Dhafin seperti menyembunyikan banyak hal yang dia ketahui. Dia masih curiga akan pengakuan Dhafin yang tidak tahu menahu tentang dua pengintai tadi.
"Dari pada kamu menebak-nebak," kata Kelvin menegur, "lebih baik kamu jelaskan saja kepada Dhafin siapa dua orang tadi."
Sejenak Keenan mendehem seolah menormalkan pita suaranya karena dia akan berbicara banyak.
"Dua orang tadi dari Kerajaan Lengkara. Yang perempuan atau gadis kecil adalah Tuan Putri Raja Bastian Lamont, penguasa tidak sah Kerajaan Lengkara. Dia bernama Putri Cheryl Aurora...."
"Sedangkan yang pria dewasa adalah Pejabat Rahasia Istana Kerajaan Lengkara, juga merangkap sebagai Pengawal Pribadi Putri Raja kalau Putri Cheryl bepergian. Namanya Jenderal Rainer."
"Apa Pejabat Rahasia Istana sama dengan Pejabat Penyelidik Rahasia Istana?" tanya Dhafin teringat akan jabatan ayah angkatnya.
"Beda," Brian yang menjawab. "Pejabat Penyelidik Rahasia cuma mengerjakan tugas pada kasus tertentu saja sesuai aturan tugas jabatan dari istana. Untuk lebih jelasnya silahkan tanya ayahmu selaku Pejabat Penyelidik Rahasia...."
Keenan, Aziel maupun Kelvin memandang Dhafin secara bersamaan. Mereka baru tahu kalau Dhafin ternyata anak bangsawan.
__ADS_1
"...Sedangkan Pejabat Rahasia Istana lebih tinggi lagi. Dia melaksanakan tugas sesuai titah langsung dari raja, tanpa ada perantara. Apa yang dititahkan raja kepadanya itulah tugasnya. Apapun...!"
"Kalau begitu Jenderal Rainer sampai nyasar kesini tentu dalam rangka tugas," kata Dhafin menduga.
"Aku rasa begitu," kata Keenan seperti kurang yakin.
"Kamu sepertinya ragu, Saudara Keenan," kata Dhafin seolah menegur.
"Aku memang belum bisa memastikan apa tugas orang itu dan majikannya sampai datang ke sini," kata Keenan mengakui.
"Hanya saja," lanjutnya, "sudah dua tahun ini Raja Bastian lagi gencar-gencarnya mencari bocah-bocah sakti untuk dijadikan Pasukan Khusus. Dan salah seorang sahabat kita yang bernama Jarvis sudah tertangkap oleh orang-orangnya...."
"...Kemungkinan besar Jenderal Rainer datang kemari dalam rangka tugas untuk mencari dan menangkap kita."
"Dan tentu yang memberi tahu tempat kita dan waktu pertemuan kita adalah si Jarvis itu," kata Kelvin seolah menyambung ucapan Keenan.
Semua anak yang ada disitu memandang pada Kelvin. Pikiran mereka juga menduga seperti yang diucapkan Kelvin barusan.
★☆★☆
"Apakah Saudara Jarvis berkhianat?" tanya Dhafin hati-hati, tanpa bermaksud menuduh.
Namun ternyata tidak ada yang merasa tersinggung dari keempat bocah itu. Karena mereka menganggap ucapan Dhafin itu logis, tidak ada unsur menuduh.
"Aku menduga Jarvis tidak sengaja mengkhianati persahabatan kita," kata Keenan bergumam.
"Maksudmu?" Brian yang bertanya pertanda terkejut heran.
Setahun yang lalu Jarvis tertangkap setelah dia melakukan pertemuan yang terakhir. Pada pertemuan setelahnya Jarvis sudah tak datang lagi karena Keenan mengabarkan kalau dia tertangkap oleh orang-orangnya Raja Bastian.
Sama sekali mereka tidak pernah berpikir kalau Jarvis bakalan berkhianat. Karena mereka yakin dan percaya Jarvis pasti masih menjunjung tinggi persahabatan di antara mereka.
Namun sekarang Keenan menduga bahwa Jarvis tidak sengaja berkhianat. Apa maksud ucapannya itu?
"Tiga bulan yang lalu aku mendapat keterangan kalau Raja Bastian telah mempunyai penyihir jahat perempuan dan tabib sesat sekaligus ahli racun...," ungkap Keenan.
"...Aku menduga penyihir jahat atau tabib sesat telah melakukan sesuatu terhadap Jarvis...."
"...Penyihir jahat menggunakan kekuatan ghaibnya untuk mempengaruhi pikiran Jarvis. Atau tabib sesat meminumkan racun yang juga bisa mempengaruhi pikiran Jarvis...."
"...Sehingga apapun yang ditanyakan kepada Jarvis tentang semua yang diketahuinya, dia akan menjawabnya dengan jujur."
Brian tersenyum mendengar penjelasan Keenan seraya melirik Dhafin. Dia pernah melihat Dhafin menggunakan kekuatan ghaibnya seperti yang dikatakan Keenan terhadap empat gembong pengkhianat.
Sehingga muntahlah semua rencana pemberontakan mereka dari mulut mereka.
"Bagaimana dengan Hendry?" Kelvin seketika teringat akan nasib Hendry. "Apa ada kemungkinan dia juga sudah tertangkap?"
"Kita tunggu saja sampai Turnamen Beladiri Anak Bangsawan digelar," kata Brian memberi harapan. "Mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa dengannya."
"Kemunculan dua orang Kerajaan Lengkara harus segera dibahas, Pangeran," kata Aziel seakan mengingatkan.
"Kamu benar, Aziel," Brian menyetujui. "Tapi bukan disini tempatnya. Mereka sudah mengetahui tempat kita disini."
"Kemunculan Pejabat Rahasia Lengkara itu memang harus segera dibahas," sambung Keenan. "Karena tidak menutup kemungkinan mereka berkeliaran di pusat kotaraja tanpa ada yang mengetahui."
"Eh, kalau tidak salah kamu tadi mengatakan Raja Bastian bukan penguasa yang sah Kerajaan Lengkara," Dhafin menoleh pada Keenan. "Bisa kamu jelaskan kenapa demikian, Saudara Keenan?"
"Nanti kamu tanyakan sendiri kepada Aziel, Saudara Dhafin," kata Keenan seraya melirik Aziel. "Dia yang lebih tahu tentang latar belakang kenapa terjadi demikian."
Dhafin segera melirik pada Aziel. Namun Aziel seolah acuh berkata kepada Brian mengajukan usulan.
"Sebaiknya kita segera tinggalkan tempat ini, Pangeran."
Begitu Brian menyetujui, akhirnya mereka semua meninggalkan perbatasan kotaraja sebelah barat ini. Sebelumnya mereka mengambil kuda mereka dahulu di penambatan kuda di samping rumah pertemuan.
Sementara Dhafin memang ingin tahu hal ikhwal mengapa Kerajaan Lengkara dipimpin oleh penguasa yang tidak sah. Tapi dia menangguhkan dulu, belum berminat menanyakannya kepada Aziel sekarang.
Tapi dia sudah bisa menduga kalau Raja Bastian pastinya telah merebut tahta dari penguasa yang sah. Seperti halnya yang terjadi pada Kerajaan Bentala yang juga dipimpin oleh penguasa yang tidak sah.
__ADS_1
★☆★☆★