Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 103 PERTEMUAN KEDUA: PERTEMUAN DHAFIN DENGAN PUTRI LAVINA ANESKA


__ADS_3

Setelah memakamkan jenazah Paman Killian dan anak istrinya tidak jauh di belakang rumah sederhananya, Dhafin merapikan rumah itu yang sedikit berantakan.


Termasuk membersihkan darah yang menggenang di tengah ruangan tamu. Juga memperbaiki kembali dinding ruangan depan itu yang sempat jebol.


Meskipun Dhafin tidak ahli dalam pertukangan, tapi untuk memperbaiki kerusakan yang tidak terlalu rumit begitu dia bisa juga. Tidak perlu memanggil tukang.


Sebenarnya pada sore hari menjelang senja, Dhafin sudah selesai membereskan rumah Paman Killian, dan sudah bersiap-siap hendak meninggalkan rumah sederhana namun nyaman itu.


Namun seorang lelaki umur 50-an yang ternyata kepala kampung datang menghampirinya. Dengan terpaksa Dhafin batalkan niat. Dan Dhafin tidak bisa menolak pula ajakan kepala kampung yang mengundang ke rumahnya.


Dhafin jelas tidak menerangkan siapa dia sebenarnya ketika kepala kampung bertanya. Dia memberitahukan nama samarannya dan berasal dari Kerajaan Amerta. Dia mengaku kawan jauhnya Paman Killian.


Beruntungnya kepala kampung cuma percaya saja dan tidak terlalu mempermasalahkan.


Malah kepala kampung menghanturkan permintaan maafnya karena tidak bisa membantu Paman Killian. Soalnya yang berurusan dengan Paman Killian adalah Pejabat Kepala, Pejabat Choman.


Kalau berurusan dengan orang pemerintahan, mereka rakyat kecil tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya bisa menyaksikan. Menyaksikan kebiadaban pejabat istana yang semena-mena kepada rakyat kecil.


Setelah itu kepala kampung banyak cerita tentang keadaan negeri ini yang membuat hati tidak tentram, serta keadaan rakyatnya yang di bawah tekanan pemerintah.


Dhafin saling ngobrol ini itu dengan kepala kampung hingga hampir larut malam. Dan dengan terpaksa Dhafin harus bermalam di rumah pamannya itu.


Keesokan paginya Dhafin sudah bersiap-siap lagi hendak meninggalkan rumah Paman Killian. Namun ada saja halangan yang membuat niatnya tertunda lagi.


Anak gadis kepala kampung yang berusia 18 tahun datang ke rumah Paman Killian.


Gadis manis yang bernama Ginela bukan sekedar datang saja. Dia membawa sarapan serta camilan untuk Dhafin lengkap dengan minumannya.


Memang dasarnya Dhafin adalah pemuda yang baik hati, santun, serta tidak sombong, tidak tega menolak kebaikan hati Ginela. Dia menerima pemberian istimewa itu dengan senang hati.


Dhafin menyebutnya sebagai pemberian istimewa karena semua hidangan lezat dan nikmat itu hasil olahan gadis berkulit kuning langsat itu.


"Kenapa kamu begitu baik padaku, Nona Ginela?" tanya Dhafin jelas heran karena ujuk-ujuk Ginela memberinya sarapan. "Kita 'kan belum saling kenal."


"Anggap saja pemberian kecil ini sebagai salam perkenalan, Kak Dhafin," sahut Ginela enteng sambil tersenyum manis.


Ketika tersenyum gadis itu makin cantik saja karena dihiasi oleh lesung pipit di pipi kiri kanannya.


Dhafin tidak menanggapi ucapan Ginela. Dia terus melangkah masuk yang diikuti oleh Ginela. Begitu Dhafin sudah berada di ruangan depan dan duduk di kursi, Ginela meketakkan nampan hidangan yang dia bawa. Lalu duduk di depan Dhafin setelah mempersilahkan makan.


Menikmati hidangan lezat adalah hal biasa bagi Dhafin. Tapi makan di depan gadis yang masih asing baginya merupakan hal yang belum biasa. Hingga Dhafin merasa risih dibuatnya.


"Kenapa kamu tidak ikut makan, Nona Ginela?" tanya Dhafin berusaha mengalihkan rasa risihnya.


"Aku sengaja membuatnya hanya untukmu," kata Ginela seolah menggombal, "bukan untuk orang lain, sampai pun pada diriku sendiri."


Dhafin hanya tersenyum mendengar ucapan gadis itu dan terus melanjutkan makannya. Hingga akhirnya sambil makan, Dhafin terlibat obrolan ringan dengan Ginela.


★☆★☆


Selagi Dhafin dan Ginela asyik-asyik ngobrol, tiba-tiba datang adik laki-laki Ginela yang berumur 15 tahun. Pemuda tanggung itu memberitahukan kalau ada rombongan istana datang ke mari.


"Siapa?" tanya Ginela mulai meremang kuduknya.


"Kalau tidak salah Tuan Putri Lavina Aneska beserta para pengawal beliau," tutur pemuda tanggung itu dengan suara gemetar ketakutan.


Ginela berdiri dengan cepat, lalu berkata pada Dhafin yang tampak tenang saja. Padahal dia tengah tercenung memikirkan nama orang yang datang ke mari.


"Kak Dhafin, aku pulang dulu. Bisa celaka kalau berada di sini terus."


"Kenapa kalian seperti begitu ketakutan terhadap orang itu?" tanya Dhafin heran. "Apa dia itu orang yang kejam?"


"Nantilah aku ceritakan siapa dia, Kak," kata Ginela cepat. "Aku pulang dulu ya. Hati-hati jika berhadapan dengannya. Jangan sampai membuatnya tersinggung."

__ADS_1


Lalu Ginela keluar sambil memegang adiknya. Meninggalkan Dhafin yang masih dilingkupi keheranan sambil memikirkan akan nama Putri Lavina Aneska yang sepertinya pernah bertemu.


Ginela terus saja berlari kecil menuju pulang sambil terus memegang adiknya. Gerakannya begitu tergesah-gesah seolah takut ketahuan orang yang akan datang itu. Sedangkan adiknya terus saja mengikutinya tanpa mempersulit.


Sementara Dhafin masih tampak tenang-tenang saja sambil menghabiskan sarapannya. Meneguk hingga setengah gelas minuman sirup yang dituangkan Ginela tadi. Lalu mengambil sekeping camilan kering, terus memakannya dengan santai.


Tidak lama kemudian, kurang lebih sepenanakan nasi Dhafin menanti dengan tenang dan sabar siapa yang akan datang ke mari, akhirnya telinganya mendengar tapal-tapal kuda terdengar riuh rendah mendekat ke rumah ini.


Sementara itu sekitar 50 lebih rombongan berkuda terus saja bergerak cepat semakin mendekati rumah sederhana Paman Killian.


Begitu rombongan berkuda itu sudah sampai di halaman rumah, salah seorang gadis yang berkuda sebelah kiri mengangkat tangannya ke atas sambil berseru.


"Hooop...!"


Kejap berikut semua rombongan berkuda itu berhenti dengan serempak.


Dari seragam yang dikenakan jelas mereka adalah pasukan khusus istana. Atau lebih tepatnya Pengawal Khusus Keluarga Istana yang berjumlah 50 orang. Mereka semuanya adalah perempuan muda.


Sedangkan 2 orang gadis cantik yang berkuda di kiri dan kanan, seragamnya sedikit berbeda dan pangkatnya setingkat lebih tinggi. Mereka bersenjatakan pedang yang tercantel di sabuk dari logam sebelah kiri. Mereka itu tidak lain adalah 2 Pengawal Pribadi.


Sementara gadis yang lebih cantik lagi yang berkuda paling tengah berpakaian mewah dan indah berwarna putih bersih. Rambutnya panjang sepinggang dengan sebagian ditata rapi dan indah di atas kepalanya.


Pinggangnya yang ramping terlilit sabuk terbuat dari plat logam berwarna kuning keemasan. Di situ di sebelah kiri tercantel pedangnya.


Wajah gadis berpenampilan mewah itu memang cantik. Namun menguar keangkuhan bercampur kejudesan dari balik kecantikannya itu. Dialah Putri Lavina Aneska.


Selepas menghentikan kudanya, Putri Lavina segera turun dengan gerakan indah dan cukup ringan yang diikuti oleh kedua pengawalnya. Terus menyusul semua pasukan Pengawal Khusus.


Sedangkan 3 orang yang paling depan, begitu sudah turun dari kudanya mereka langsung mengambil alih memegang tali kekang kuda Putri Lavina dan 2 Pengawal Pribadi.


Sementara Putri Lavina dan 2 pengawalnya mengamati keadaan sekitar yang sunyi. Setelah puas mereka lantas menatap pintu masuk yang terbuka lebar. Lalu melangkah menuju pintu masuk itu.


Tapi sekitar 3 tombak lagi mencapai pintu masuk, seketika muncul seorang pemuda amat tampan berpakaian biru langit dari balik pintu itu. Dia tidak lain adalah Dhafin.


★☆★☆


Wajah tampan itu tampak dingin namun penuh ketenangan. Tidak ada ekspresi kebencian maupun permusuhan di wajah tampan itu maupun rasa terpesona ataupun kekaguman akan kecantikan mereka.


Sepasang matanya menyorot tajam namum membinarkan keteduhan dan ketenangan sikap. Melihat semua pemandangan itu Putri Lavina langsung teringat akan seseorang yang pernah dijumpainya 10 tahun lalu. Tabib Kecil!


Mana mungkin dia melupakan pemuda yang pernah mengobati penyakit parahnya itu, sementara hampir tiap saat dia mengingatnya. Dan sekarang berjumpa lagi betapa hatinya amat senang minta ampun.


Kalau tidak mengingat dia bersama para pengawalnya, maunya dia langsung menghambur ke Dhafin dan memeluknya dengan erat, melepaskan rasa rindu yang menjeratnya selama 10 tahun lebih.


Namun dia masih bisa mengontrol sikapnya. Keanggunan yang berbalut keangkuhan serta kejudesan sikapnya masih menghias wajahnya.


"Kamukah itu, Tabib Kecil?" tanyanya dengan sikap elegan bercampur angkuh. Tapi siapa sangka terselubung kegembiraan yang sangat dari nada bicaranya itu.


Dia tidak mau memanggil Dhafin dengan sebutan Tikus Kecil meski dia masih ingat. Dia langsung memanggil dengan sebutan Tabib Kecil, sesuai nama yang diberikan orang-orang waktu itu kepadanya. Karena hingga sekarang dia belum tahu juga nama aslinya.


Sekarang dia tidak mau lagi berbuat kesalahan dengan bertindak semena-mena lagi terhadap Dhafin. Dia akan memulai hubungan yang sekarang ini dengan hubungan yang baik dengan Dhafin.


Sementara Dhafin tidak lantas menjawab pertanyaan itu. Dia memandang sejenak pada ketiga gadis cantik 3 tombak di depannya itu.


Dia semakin yakin kalau Putri Lavina ini adalah gadis angkuh yang pernah diobatinya 20 tahun yang lalu setelah melihatnya. Makin bertambah yakin setelah mendengar pertanyaan gadis angkuh itu.


"Maaf, ada urusan apakah Tuan Putri hingga datang ke mari?" tanya Dhafin seolah tidak menggubris pertanyaan Putri Lavina.


Pengawal Pribadi yang bernama Fanny Cassia masih terpesona akan ketampanan dan sikap tenang Dhafin. Jadi belum sadar kalau Dhafin tidak menunjukkan sikap takzim di depan junjungannya.


Beda halnya dengan Pengawal Pribadi yang bernama Anggie Bellen. Dia segera menyadari sikap Dhafin terbilang tidak sopan terhadap Putri Lavina. Lantas dia segera menegurnya dengan galak dan judes.


"Hay, Pemuda Rendah! Bersikap hormat di depan Tuan Putri! Jawab pertanyaan beliau dan jangan bertanya kalau tidak disuruh!"

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu bicara, Anggie?" kata Putri Lavina agak membentak bernada ketus.


"Tapi pemuda itu tidak sopan di depan Tuan Putri," kilah Anggie masih membela diri.


"Diam!" bentak Putri Lavina lagi bernada tajam. "Jangan bicara apapun sebelum aku suruh! Kamu juga, Fanny!"


"Hamba, Tuan Putri," ucap Anggie dan Fanny penuh hormat.


Sedangkan Dhafin tidak menanggapi apa-apa atau tidak berekspresi apa-apa atas adegan barusan. Dia cuma memandang sekilas.


Lalu bersandar di gawang pintu sebelah kanan sambil bersedekap dan kepala sedikit tertunduk. Mata cuma memandang tanah. Seolah tanah lebih menarik untuk dipandang ketimbang wajah cantik Putri Lavina.


★☆★☆


Sebenarnya hati Putri Lavina menggeram melihat sikap acuh Dhafin terhadapnya. Tapi sedapat mungkin dia berusaha untuk bersabar. Jangan dia mulai pertemuan kembali ini dengan pertengkaran hanya karena persoalan sepele.


Setelah dia melangkah lebih mendekat kira-kira 5 langkah di depan Dhafin, dia baru menjawab pertanyaan dengan anggun penuh sikap elegan. Masih terselip sikap angkuh judesnya.


"Aku biasa datang berkunjung ke rumah Paman Killian. Apa kamu juga mengenalnya, Kak...."


"Tuan Putri bisa memanggil saya Dhafin," kata Dhafin seakan mengerti arti ucapan Putri Lavina yang terputus.


"Apa kamu juga mengenalnya, Kak Dhafin?" Putri Lavina mengulang pertanyaannya. Hatinya senang sekali akhirnya pemuda yang sering diingat-ingat ini sekarang mau menyebut namanya.


"Tidak terlalu," sahut Dhafin dengan nada biasa.


"Di mana paman dan bibi sekarang?" tanya Putri Lavina seolah ingin tahu. "Apa masih di ladang?"


"Paman dan bibi sudah terbaring dengan tenang di belakang rumahnya bersama putri mereka."


"Maksudmu?" tanya Putri Lavina terkejut heran antara mengerti dan tidak.


"Mereka semua sudah meninggal karena terbunuh," kata Dhafin menerangkan masih dengan sikap tenangnya. "Saya memakamkan mereka di belakang rumah."


Kali ini Putri Lavina benar-benar terkejut. Wajah cantiknya mengekspresikan ketidak sangkaan atas kabar yang dia dengar barusan. Beberapa kejap kemudian wajah itu berubah menjadi sedih dan berduka.


Anggie dan Fanny juga ikut terkejut seakan tidak percaya akan berita itu. Belum lama ini mereka datang ke mari. Tapi hari ini mereka malah mendengar kabar kematian Paman Killian sekeluarga. Siapa yang tidak kaget?


"Siapa yang membunuh mereka?" tanya Putri Lavina bernada sedih. Pertanyaan itu sama sekali tidak bermaksud menuduh Dhafin.


"Tentu Tuan Putri pasti mengenal Pejabat Choman," kata Dhafin seolah sebagai jawaban.


"Apa orang tua cabul itu yang membunuhnya?" tanya Putri Lavina bernada bagai tercekat di tenggorokan saking kagetnya.


"Sebelum meninggal Paman Killian memberitahukan kalau Pejabat Choman dan 4 pengawalnya yang membunuh paman serta anak istrinya," kata Dhafin berbohong.


Dia mengetahui siapa yang membunuh Paman Killian sekeluarga dari kepala kampung. Dia sengaja berbohong agar penduduk kampung aman. Dan sepertinya Putri Lavina maupun kedua pengawalnya percaya.


Mereka tahu betul akan sifat buruk Pejabat Choman yang bukan cuma berhati jahat, melainkan juga berhati culas dan cabul. Tidak perduli istri orang, kalau dia berselera disikat juga.


Dan yang lebih menjijikkan dari sifat cabulnya itu, biar wanita yang masih terhitung keluarganya disikat juga. Benar-benar menjijikkan.


Putri Lavina dan kedua pengawalnya mengkhawatirkan hal itu terjadi pada istri dan putri Paman Killian. Tapi baru saja pikiran itu terlintas di benak mereka Dhafin sudah berbicara.


"Yang lebih sadis dari itu, sebelum membunuh istri dan putri Paman Killian, mereka memperkosa mereka terlebih dahulu."


"Biadab kamu, Pejabat Cabul!" desis Putri Lavina menggeram marah sambil mengkeretakkan giginya.


Memang benar-benar biadab perbuatan Pejabat Choman itu. Perbuatan memperkosa itu sudah merupakan sifat biadab. Apalagi memperkosa istri keponakannya serta putri keponakannya yang masih terhitung cucunya.


Perbuatan ini benar-benar merupakan kebiadaban yang amat menjijikkan dan amat biadab.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2