Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 137 AKHIRNYA YANG MULIA RATU TAHU SIAPA DHAFIN SEBENARNYA


__ADS_3

Setelah berhasil diselamatkan dari penjara bawah tanah Kerajaan Amerta dan dibawa ke Istana Centauri di Negeri Tabir Ghaib, semenjak itu Dhafin belum bertemu dengan Raja Darian, Pendeta Noman, Jenderal Myles, Jenderal Felix, dan Jenderal Lyman.


Barulah dia ada kesempatan bertemu secara khusus dengan Raja Darian beserta 4 orang kepercayaannya ketika dia masih di Istana Centauri, lebih tepatnya setelah rapat besar selesai.


Pada pertemuan itu Dhafin ditemani oleh Pangeran Revan dan Brian.


Banyak hal yang mereka bicarakan dalam pertemuan itu. Tentang sebab terjadinya peristiwa penggulingan kekuasaan Raja Darian yang dilakoni oleh kakaknya, Putri Rayna Cathrine dan putranya sendiri Raja Ardian.


Banyak pejabat pemerintahan dan perwira militer yang terbunuh dalam peristiwa itu. Termasuk pejabat kepercayaan sang raja; Pejabat Kesejahteraan Kerajaan dan Pejabat Ketertiban Umum Kerajaan.


Sebagian besar pasukan Raja Darian tewas dalam tragedi itu. Sebagiannya takluk dan tunduk kepada kekuasaan Putri Rayna.


Salah satu sebab juga kenapa pasukan Raja Darian kalah yaitu pasukan Putri Rayna diperkuat oleh Gerombolan Pedang Tengkorak dan pasukan elit dari Kerajaan Lengkara.


Raja Darian memberitahukan juga sebelumnya bahwa Raja Adrian waktu kecil diculik oleh Putri Rayna.


Begitu sudah dewasa tahu-tahu dia membantu Putri Rayna menggulingkan kekuasaan ayahandanya yang sebenarnya dia yang menjadi ahli waris kekuasaan itu.


Akan tetapi Raja Adrian tidak percaya kalau ayahandanya bakal memberikan kekuasaannya kepadanya dikarenakan citranya sudah buruk di mata ayahandanya.


Tapi Raja Darian membantah anggapan putranya itu. Dia tetap akan mewariskan Kerajaan Amerta kepada Raja Adrian, apapun keadaan putranya, meskipun Permaisuri Chalinda tidak setuju.


Akan tetapi Raja Adrian tetap beranggapan demikian. Hingga akhirnya dia menjadi raja juga meskipun di bawah bayang-bayang Putri Rayna.


Setelah puas membicarakan tentang tragedi penggulingan kekuasaan Raja Darian, mereka beralih membicarakan nasib Kerajaan Amerta selanjutnya.


Baik Dhafin maupun Brian tetap akan berdaya upaya agar Kerajaan Amerta kembali tentram seperti sebelumnya. Mereka sudah memikirkan mengenai rencana merebut kembali kerajaan itu dari tangan Putri Rayna.


Dan juga Pangeran Revan menyatakan kesediaannya membantu perjuangan mereka.


Akan tetapi rencana besar tersebut ditangguhkan dahulu. Saat ini mereka berkonsentrasi terlebih dahulu dalam melaksanakan proyek besar, rencana perebutan kekuasaan.


★☆★☆


Sebenarnya Yang Mulia Ratu ingin pula menyertai Dhafin yang mengadakan pertemuan dengan 5 orang penting Kerajaan Amerta. Tapi Putri Kayshila menahannya dan memberitahukan ingin berbicara dengannya.


"Aku ingin berbicara denganmu, Kanda. Penting."


"Apa kamu sengaja menahanku yang ingin bersama Kak Dhafin karena cemburu?" kata Yang Mulia Ratu sambil tersenyum menggoda.


"Bukan karena itu, Kanda," bantah Putri Kayshila. "Kumohon percayalah!"


Setelah dibujuk akhirnya Yang Mulia Ratu membatalkan keikutsertaannya bersama Dhafin dan mengikuti Putri Kayshila yang mengajaknya ke kediamannya.


Sepertinya hal yang akan dibicarakan Putri Kayshila memang benar-benar penting. Sampai-sampai pembicaraan dilakukan di dalam kamar pribadi Kayshila.


"Kamu mau bicara apa, Kayshila?" tanya Yang Mulia Ratu seolah tidak sabar.


"Aku ingin membicarakan soal hubungan kalian," sahut Kayshila," Kamu dan Kanda Dhafin."


"Hubungan kami?" tanya Yang Mulia Ratu bernada heran sambil mengernyitkan alisnya. "Apa maksudmu?"


"Apakah kamu benar-benar mencintai Kanda Dhafin?" Putri Kayshila malah bertanya.


"Kenapa kamu tanya soal itu?" Ratu Aurellia makin heran akan pertanyaan Putri Kayshila. "Apakah kamu meragukan kalau aku benar-benar mencintai Kak Dhafin?"


"Apa kamu saja yang benar-benar tulus mencintainya," lanjutnya, "sehingga dia lebih memilih kamu ketimbang aku?"

__ADS_1


Putri Kayshila tidak lantas menjawab ocehan Yang Mulia Ratu. Dia menjulurkan tangannya ke wajah Yang Mulia Ratu, lalu membuka cadar bidadari Istana Centauri itu. Sedangkan Ratu Agung Aurellia dia saja. Matanya tetap menatap Kayshila yang terus tersenyum.


"Cantik..., kamu memang cantik sekali, Kanda," gumam Putri Kayshila sambil terus menatap wajah bidadari di depannya itu. "Kecantikanmu melebihi bidadari-bidadari yang ada di Istana Centauri...."


Ucapan Putri Kayshila bukanlah sekedar pujian belaka. Kecantikan Yang Mulia Ratu memang melebihi kecantikan gadis-gadis yang ada di Istana Centauri. Dan hal itu memang diakui oleh semua penghuni istana itu.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Kayshila," kata Yang Mulia Ratu seolah tidak menggubris pujian Kayshila terhadap kecantikannya. "Kamu malah ngomong melantur seperti itu."


"Kamu memang benar-benar cantik, Kanda, cantik sekali," kata Kayshila terus memuji, pujian yang memang tulus. "Memang pantas Kanda Ghavin mendapatkanmu."


"Apa artinya kecantikaku ini kalau Kak Dhafin lebih memilih kamu...."


"Eh!"


Seketika Yang Mulia Ratu tersadar ketika Putri Kayshila sempat menyebut sebuah nama barusan.


"Kamu tadi menyebut apa?" tanya Yang Mulia Ratu penasaran.


"Kanda Ghavin," sahut Kayshila seraya tersenyum.


"Ghavin...," ulang Ratu Aurellia seraya mengingat-ingat nama itu.


"Apakah maksudmu Ghavin, lengkapnya Pangeran Ghavin Aldebaran alias Pangeran Agung, putra Pangeran Ghazam Aldari, ayahandamu?" ucapnya terkejut setelah mengingat sesuatu.


Dia memang pernah mendengar Selir Heliana bercerita tentang keluarga besar mendiang Raja Neshfal Abraham. Salah satunya cerita tentang Pangeran Agung Ghavin Aldebaran.


"Kamu benar, Kanda, Kanda Dhafin yang aku maksud adalah itu, Pangeran Agung Ghavin, kakakku seayah."


Ratu Agung Aurellia terdiam beberapa saat lamanya. Dia tidak bereaksi apa-apa selain terkejut hingga sepasang mata indahnya membulat menatap Putri Kayshila yang juga menatapnya.


Jelas dia terkejut karena sama sekali tidak menyangka kalau Dhafin ternyata bernama asli Pangeran Agung Ghavin Aldebaran, putra Pangeran Ghazam Aldari.


"Kamu bersaudara dengan Kak Dhafin?" tanya Yang Mulia Ratu seakan ingin meyakinkan dirinya.


"Iya, Kanda, aku bersaudara dengan Kanda Dhafin," sahut Putri Kayshila meyakinkan.


Sekali lagi Yang Mulia Ratu menatap dalam-dalam bola mata Putri Kayshila. Dan memang dia dapati kejujuran dari binaran mata indah itu.


"Tapi kenapa Kak Dhafin tidak mengakuinya saat ditanya oleh keluarga yang lain?" tanya Ratu Aurellia heran. "Sedangkan dia sendiri pasti sudah tahu."


"Aku belum tahu pasti tentang hal itu," aku Putri Kayshila terus terang. "Kemungkinan dia punya maksud dan tujuan tersendiri."


"Yang terpenting sekarang aku bukan lagi sainganmu dalam merebut cinta Kanda Dhafin," kata Putri Kayshila seraya tersenyum penuh arti. "Karena aku adalah adiknya."


Sesaat Yang Mulia Ratu tersenyum. Tapi tak lama wajah cantiknya seketika mengguratkan kesedihan.


"Loh, kamu kok sedih, Kanda?" tanya Putri Kayshila heran bercampur bingung. "Seharusnya senang lah."


"Aku senang tidak bersaing cinta denganmu lagi," ungkap Yang Mulia Ratu bernada sedih. "Karena kamu ternyata adiknya Kak Dhafin...."


"Tapi...," lanjutnya, "masih ada gadis lain yang juga mencintai Kak Dhafin. Dia juga orang sendiri."


"Siapa?" tanya Putri Kayshila ingin tahu.


"Jenderal Jessica...."


Lalu Yang Mulia Ratu menceritakan apa yang dia lihat dan dengar dari perjumpaan Dhafin dengan Jessica di Kota Arthia.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu khawatir terhadap Jessica, Kanda," kata Putri Kayshila setelah mendengar cerita Yang Mulia Ratu. "Yang terpenting Kanda Dhafin tidak memberi peluang bagi Jessica untuk mencintainya."


Ratu Agung Aurellia menjadi tenang mendengar ucapan Putri Kayshila barusan. Apalagi Putri Kayshila terus membesarkan hatinya agar tetap semangat untuk mendapatkan cinta Dhafin.


Adapun Jenderal Jessica, tak perlu mengkhawatirkannya. Dia gadis yang baik, tidak mungkin berbuat jahat hanya karena ingin memperoleh cinta Dhafin.


Kini Yang Mulia Ratu mengetahui siapa Dhafin sebenarnya.


Satu sisi dia merasa senang mengetahui bahwa ternyata Dhafin alias Ghavin adalah Pangeran Agung, pewaris tahta yang sah Kerajaan Bentala yang sudah dalam rencana perebutan.


Namun di sisi lain dia malah menjadi gunda kalau-kalau Dhafin malah menjauh darinya dan tambah tidak berani mencintainya.


Dia jadi bingung saat ini.


★☆★☆


Yang Mulia Ratu terus berlari kecil memasuki istana pribadinya. Penjaga istananya yang menyembah hormat kepadanya seakan tidak digubris.


Ariesha dan Keysha disuruh pergi terserah mereka mau pergi ke mana.


Dia terus saja berlari menuju taman indah di belakang istananya seolah tidak sabaran ingin cepat sampai.


Ariesha dan Keysha memberitahukan kepadanya kalau Dhafin datang ke istananya dan ingin bertemu dengannya.


Karena dia tidak ada di tempat, maka kedua pengawalnya itu menyuruh Dhafin menunggu di taman belakang istananya. Sementara mereka pergi memanggilnya di kediaman Putri Kayshila.


Yang Mulia Ratu berhenti berlari begitu sampai di taman belakang istananya. Sejenak dilayangkan pandangannya mencari di mana Dhafin duduk.


Ternyata sang pujaan hati tengah duduk di kursi yang ada teduhannya tak jauh di samping kirinya. Posisi duduk Dhafin agak membelakangi Yang Mulia Ratu. Tapi masih tampak kalau pemuda itu tengah asyik membaca.


Setelah menbuka cadarnya dia melangkah agak cepat menghampiri Dhafin. Begitu sampai dia langsung duduk di seberang kursi di hadapan Dhafin.


Sementara si pemuda tetap tenang membaca seolah tidak tahu kalau Yang Mulia Ratu sudah datang.


Yang Mulia Ratu ingin menegur tapi tidak jadi. Dia diam saja dulu menatap Dhafin sambil bertopang dagu. Menatap pemuda itu lekat-lekat seolah ingin mendalami ketenangan jiwa sang pemilik wajah teduh itu. Terus bibir merahnya mengulum senyum mempesona.


Sedangkan Dhafin masih saja terdiam tenang seolah membiarkan wajah tampannya dilahap oleh sepasang mata indah di depannya.


"Ada apa kamu mencariku, Kak?" sapanya setelah puas menatap Dhafin, tapi masih bertopang dagu. "Kangen ya?"


Sikapnya begitu santai kepada Dhafin. Nada suaranya juga dibuat sedikit mendayu-manja. Seolah tidak menyadari kalau dia adalah seorang ratu yang masih berbusana kebesaran.


Dhafin menutup buku yang dia baca. Lalu memandang Yang Mulia Ratu beberapa helaan napas, terus berkata.


"Apakah saya berhadapan dengan Yang Mulia Ratu atau Tuan Putri Aurellia?" tanya Dhafin seolah bercanda. Tapi nada suaranya tetap tenang.


Terang saja Yang Mulia Ratu terkejut bukan main hingga dia duduk dengan tegak. Lalu memandang dirinya yang ternyata masih berbusana kebesaran ratu.


Pikirnya tadi dia memakai busana ala Putri Aurellia. Juga saking senangnya kalau Dhafin ingin bertemu dengannya hingga tidak menyadari keadaan dirinya dan berada di mana.


Menyadari hal itu dia tidak berani lagi memandang Dhafin. Sekarang sikapnya agak kaku bercampur bingung.


Mau bersikap anggun sebagaimana dia seorang ratu, Dhafin pasti sudah tahu kalau dia adalah Aurellia. Mau bersikap santai sebagaimana dia Putri Aurellia, dia masih berbusana seorang ratu.


Sedangkan Dhafin, melihat sikap Yang Mulia Ratu yang menurutnya lucu itu lantas tersenyum.


Untuk sejenak dia memandang bidadari cantik di depannya yang duduk dengan gelisah. Seolah melihat Yang Mulia Ratu dalam keadaan seperti itu menarik untuk ditonton.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2