Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 108 DUA TELAPAK TANGAN YANG SALING BERSENTUHAN


__ADS_3

Memang Putri Faniza tampak tenang, karena dia telah meminum pil obat anti nyeri dan sakit. Tapi sebenarnya sakit di kepala dan dada masih tetap berlanjut. Hal itu terlihat dari denyut di kening sebelah kiri dan kanannya.


Juga tampak dadanya masih tetap naik turun karena berdegup agak cepat. Itu juga terasa sakit sebenarnya. Cuma Putri Faniza tidak merasakan.


Sejak tadi kedua tangannya masih tetap menggenggam erat telapak tangan kiri Dhafin dan diletakkan di atas dadanya. Telapak tangan itu di dekap erat di situ seolah ingin menenangkan dirinya, menentramkan perasaannya.


Sementara sepasang matanya tetap menatap Dhafin tanpa berkedip. Membinarkan rasa cinta yang mendalam yang terpendam di palung hatinya yang terdalam. Sepasang bibirnya yang pucat menyunggingkan senyum kegembiraan lantaran telah bertemu sang pujaan hati.


Sedangkan Dhafin mau tidak mau juga memandang Putri Faniza dengan lembut sambil tersenyum. Tujuannya untuk menenangkan hati Putri Faniza.


Sementara semua orang yang ada di ruangan itu tampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Tapi pandangan mata mereka seakan hampir tak lepas menatap ke arah pembaringan.


Sedangkan Selir Heliana seperti memikirkan sesuatu tatkala memperhatikan keadaan Putri Faniza. Tampak dari wajahnya yang sedikit serius. Lalu tampak kepalanya mengangguk-angguk pelan.


Sementara Yang Mulia Ratu demi melihat adegan yang bermain di depannya dia semakin yakin kalau adiknya, Putri Faniza juga mencintai Dhafin.


Entah kapan rasa cinta itu tumbuh dalam diri adiknya itu, dia tidak tahu menahu. Soalnya Dhafin tidak pernah bilang kalau dia pernah bertemu dengan adiknya itu kecuali hanya sekali.


Meskipun Ariesha, Jovita, dan Keysha memberitahukan kalau semua yang diucapkan Putri Faniza itu di luar kesadarannya, tapi Yang Mulia Ratu menganggap semua ucapan itu bukan ucapan bohong. Itu adalah ungkapan kejujuran Putri Faniza yang terpendam.


"Tuan Putri, saya hendak memeriksa kedua mata dan bibir Tuan Putri," kata Dhafin dengan lembut tapi bernada sopan penuh hormat, tapi sukses memecah kebisuan yang cukup lama. "Apakah Tuan Putri mengijinkan?"


"Ya, silahkan, Kak! Asal kamu tidak meninggalkan aku, kamu boleh berbuat apa saja, Kak."


Ucapan Putri Faniza itu sukses membuat Kayshila kaget bukan main. Tidak terkecuali Ariesha, Jovita, Grania maupun Keysha.


Sungguh mereka tidak menyangka kalau pengaruh racun yang diderita Putri Faniza sudah begitu parah. Seorang gadis pemalu dengan lancar mengungkapkan perasaannya tanpa sungkan.


Padahal kalau dalam keadaan sadar Putri Faniza mana berani berkata seperti itu.


Dan ucapan Putri Faniza ini sukses membuat hati Yang Mulia Ratu makin teraduk-aduk. Bagaimana kalau nanti Putri Faniza meskipun sudah sadar tetap tidak mau Dhafin meninggalkannya?


Jelas dia tidak mungkin menyakiti perasaan adiknya. Kalau begitu jelas dia harus.... Apakah dia sanggup mengalah?


Sementara Dhafin, melihat kedua mata Putri Faniza masih sedikit tergenang air mata jelas sedikit banyak akan menghalangi pemeriksaannya terhadap mata gadis itu.


Maka dia meminta sapu tangan atau kain kepada Kayshila. Kebetulan Kayshila tidak membawa apa yang diminta Dhafin itu. Begitu dia hendak mengusahakan apa yang diminta Dhafin, seketika Yang Mulia Ratu berkata.


"Pakai sapu tangan saya saja, Tuan Dhafin. Bagaimana?"


"Oh, tidak apa-apa kalau tidak merepotkan Yang Mulia," kata Dhafin seraya sedikit menoleh dan melirik ke belakang.


"Sama sekali tidak, Tuan," kata Yang Mulia Ratu masih bersikap tenang dan anggun. Tapi hati dan perasaannya masih teraduk-aduk.


Dhafin jelas tidak mungkin untuk mengambil sendiri sapu tangan itu karena tangan kirinya masih di dekap oleh Putri Faniza. Maka Kayshila tanpa disuruh hendak mengambil sapu tangan itu.


"Biar saya yang ke situ," kata Yang Mulia cepat mencegat tindakan Kayshila.


Selesai berucap demikian Yang Mulia Ratu melangkah anggun menghampiri pembaringan. Begitu sudah sampai di tepi pembaringan Yang Mulia Ratu mengangsurkan telapak tangan kanannya yang memegang sapu tangan ke samping kanan Dhafin.


Dhafin tidak bisa secara penuh menoleh menghadap ke Yang Mulia Ratu yang ada di belakangnya. Dia cuma bisa setengah menoleh sambil mengangkat telapak tangannya.


Dia tidak bisa memandang wajah Yang Mulia Yang masih tertutup cadar. Dia cuma bisa memandang telapak tangan yang putih mulus itu sambil telapak tangannya bersiap menerima sapu tangan kuning muda itu.


Cuma 3 kejapan dia memandang telapak tangan yang cukup dekat dengan matanya itu, sudah sukses membuat hatinya terkejut. Karena telapak tangan itu langsung mengingatkannya pada seorang gadis kecil temannya dulu.


Dan begitu telapak tangannya telah memegang telapak tangan itu, hatinya semakin didera keterkejutan. Betapa tidak?


★☆★☆


Ingatannya pada Putri Aurellia kecil semakin mendominasi pikirannya mana kala telah menyentuh telapak tangan yang halus bagai sutra itu.

__ADS_1


Ya, telapak tangan itu dialah yang membuatnya sehalus dan selembut bagai sutra.


Dulu, sekitar 9 tahun yang lalu dia telah berhasil menyembuhkan seorang gadis yang bernama Putri Aurellia yang terkena 'Racun Bunga Duka'.


Karena pengaruh racun aneh dan langka itu, hampir seluruh permukaan kulit dan wajahnya dipenuhi oleh luka yang menjijikkan sekaligus mengerikan. Termasuk telapak tangan yang dia pegang itu.


Setelah dia berhasil menyembuhkan Putri Aurellia, dia telah berhasil pula memperbaharui kembali seluruh kulit sang putri jelita yang sel-selnya telah rusak.


Berkat ramuan ajaib yang dia ciptakan, dia telah berhasil membuat Putri Aurellia yang baru, yang kecantikannya melebihi kecantikannya sebelum terkena racun.


Itulah hasil karya pertamanya dalam dunia ketabiban di bidang pengoplasan.


Sementara Yang Mulia Ratu benar-benar meresapi sentuhan Dhafin pada telapak tangannya itu hingga matanya terpejam.


Tapi adegan pegangan tangan itu cuma berlangsung 5 helaan napas saja. Setelah itu dia langsung menarik tangannya. Meninggalkan sapu tangannya yang terkulai di telapak tangan Dhafin yang masih terangkat.


Lalu dia berbalik terus meninggalkan Dhafin menuju kursinya.


Sementara Selir Heliana, Putri Clarabelle, Putri Richelle, dan 2 Tetua Istana sepertinya tidak menaruh curiga akan adegan tadi, karena ekspresi mereka tampak biasa saja.


Sedangkan Permaisuri Chalinda juga tidak menaruh curiga dengan adegan itu karena tidak tahu dan belum diberi tahu kalau Yang Mulia Ratu adalah termasuk putrinya.


Sementara Nyonya Carissa, 4 Pengawal Pribadi dan Kayshila tersenyum penuh arti melihat adegan itu. Malah Kayshila tampak begitu senang.


Sebenarnya Yang Mulia Ratu hampir tidak dapat membendung air matanya. Namun sebisa mungkin dia tidak mengeluarkan air mata.


Sedangkan Dhafin masih memandang telapak tangannya yang sudah tergenggam sapu tangan di situ. Namun kejadian itu cuma 3 helaan napas. Karena kesadaran cepat membangunkan lamunannya.


Sepertinya dia melamun terlalu jauh. Semenjak dari rumah Chafik hingga datang ke Istana Centauri benaknya kerap memikirkan Putri Aurellia.


Mungkin karena memikirkan Putri Aurellia, tangan orang lain dianggapnya tangan Putri Aurellia.


Makanya dia berusaha menepis pikirannya yang menganggap telapak tangan yang dia pegang tadi adalah milik Putri Aurellia. Karena pemilik telapak tangan tadi adalah Yang Mulia Ratu.


Tapi sepertinya Putri Faniza tidak terpengaruh dengan adegan tadi. Terbukti binaran matanya tetap saja seperti tadi, memancarkan rasa cintanya yang mendalam dengan dihiasi oleh senyuman bahagia.


Itu akibat dari racun yang sudah begitu parah bersemayam di dalam dirinya sehingga telah mempengaruhi pikirannya. Sekarang dia tidak perduli lagi terhadap orang lain yang ada di sekitarnya. Yang ada dalam pikirannya adalah hanya orang yang dicintainya, Dhafin.


★☆★☆


Setelah meminta ijin kepada Putri Faniza, Dhafin lalu menyeka sisa-sisa air mata yang masih menggenang di mata dan di sekitar mata sang putri. Sementara Putri Faniza diam saja sambil terus tersenyum.


Setelah Dhafin merasa cukup menyeka sisa air mata Putri Faniza, lalu sapu tangan Yang Mulia Ratu disimpan di balik bajunya. Setelah itu memulai pemeriksaan.


Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Putri Faniza berjarak kurang dari 2 jengkal. Lalu menatap matanya beberapa saat, lebih tepatnya mengamati keadaan mata gadis itu. Setelah itu Dhafin beralih mengamati kedua bibir pucatnya.


Sementara itu, tidak ada seorang pun yang bersuara di ruangan itu. Seakan mereka lebih senang menyaksikan proses pengobatan yang dilakukan Dhafin tanpa bersuara.


Sedangkan Yang Mulia Ratu, melihat Dhafin melakukan pemeriksaan seperti itu dia kembali terkenang waktu Dhafin menyembuhkannya dulu.


"Putri Faniza terkena racun apa, Kanda?" tanya Kayshila penasaran setelah melihat Dhafin selesai melakukan pemeriksaan.


"Racun Candu Kala," sahut Dhafin setengah mendesah. Tapi suaranya bernada yakin.


Meski Dhafin berkata agak pelan, tapi karena ruangan ini dikurung kesunyian, suaranya terdengar jelas. Sehingga semua orang mendengarnya.


Kayshila tidak terkejut mendengar nama racun itu karena dia belum sampai belajar tentang racun itu kepala Dhafin. Dia malah merasa aneh. Sama seperti ekspresi beberapa orang yang ada di ruangan itu.


Yang terkejut adalah Selir Heliana. Sebenarnya dia sudah curiga kalau Putri Faniza terkena racun aneh. Hanya saja dia cuma mengetahui sedikit ciri-ciri orang yang terkena racun langka itu. Tapi di benaknya sudah menduga-duga tentang nama racun itu.


Makanya dia terkejut saat Dhafin menyebut nama racun itu dengan yakin. Sebab kalau dia tidak salah ada 2 jenis racun dengan ciri-ciri seperti yang dialami Putri Faniza.

__ADS_1


Namun dia masih bisa menahan untuk bertanya. Dia mau lihat dulu sampai di mana kehebatan pemuda itu dalam mengatasi masalah ini.


"Racun Candu Kala?!" kata Permaisuri Chalinda merasa heran sekaligus aneh. "Racun apa itu, Dhafin?"


"Maaf, Bibi Permaisuri," kata Dhafin bernada sopan dan tetap bersikap hormat, "ijinkan saya untuk menangguhkan dulu jawabannya."


"Chalinda, biarkan anak itu menyelesaikan pekerjaannya," kata Selir Heliana menegur. "Jangan dulu kamu bertanya macam-macam selain dia bertanya padamu."


"Baiklah. Tapi kamu bisa menyembuhkan putriku 'kan, Dhafin?"


"Dengan ijin Penguasa Langit saya akan berusaha menyembuhkan Tuan Putri," sahut Dhafin meyakinkan.


Permaisuri Chalinda tampak lega. Wajahnya pun juga mulai sedikit ceria. Masih ada harapan untuk putrinya sembuh.


Sementara Dhafin kembali beralih memandang Putri Faniza, terus berkata.


"Maaf, Tuan Putri, terpaksa saya membuat Tuan Putri tidak sadarkan diri agar saat penyembuhan Tuan Putri tidak merasakan sakit."


"Silahkan kamu melakukan apa saja, Kak," kata Putri Faniza manut saja. "Aku menurut saja."


"Maaf, bisakah Tuan Putri melepaskan tangan saya?" tanya Dhafin meminta dengan santun.


"Tapi kamu tidak pergi meninggalkanku 'kan?" kata Putri Faniza sempat terkejut sambil mendekap makin erat tangan Dhafin.


"Tidak," sahut Dhafin lembut. "Saya akan tetap di samping Tuan Putri."


Sejenak Putri Faniza menatap Dhafin lekat-lekat. Lalu perlahan dia melepas kedua tangannya yang mendekap tangan kiri Dhafin.


★☆★☆


Dhafin melakukan totokan di pertengahan kening, di kedua pelipis atas kiri kanan. Kemudian pangkal leher kiri kanan serta depan.


Totokan itu bukan totokan sembarang, melainkan teraliri energi ghaib. Sehingga membuat Putri Faniza langsung tidak sadarkan diri.


Sedangkan Dhafin masih melanjutkan totokannya beberapa kali di sekitar dada. Setelah itu dia menyuruh Kayshila untuk berposisi di sebelah kanan Putri Faniza.


"Buka sedikit pakaian luarnya, Kayshila!" pinta Dhafin setelah Kayshila berposisi di samping kanan Putri Faniza. "Aku akan membuka dulu segel yang menghalangi Racun Candu Kala keluar dari tubuh Tuan Putri."


Kayshila langsung melaksanakan perintah dengan senang hati. Melepas sabuk kain yang melilit pinggang gadis itu. Lalu membuka baju luarnya agak lebar.


"Saya hendak menyentuh dada Tuan Putri, Bibi Permaisuri, apakah diijinkan?" kata Dhafin sambil menoleh pada Permaisuri Chalinda.


"Silahkan, Anakku!"


Setelah mendapat ijin Dhafin melakukan beberapa gerakan tertentu telapak tangan di depan dada. Setelah itu kedua tangannya dirapatkan di depan dada. Lalu tampak mulutnya bergerak pelan merapal sebuah mantra.


Tak lama kemudian kedua telapak tangannya seketika mengeluarkan sinar biru bening. Lalu telapak tangan kanan ditempelkan di dada Putri Faniza. Sedangkan telapak tangan kirinya tetap bersilang di depan dadanya.


Sekitar sepeminum teh lamanya, telapak tangan Dhafin yang menempel di dada diangkat ke atas. Tampak dari telapak tangannya menempel sesuatu seperti serat-serat cahaya memanjang berwarna hitam yang keluar dari dalam tubuh Putri Faniza.


Begitu ujung serat-serat sepanjang 2 jengkal itu sudah keluar secara utuh dari tubuh Putri Faniza, telapak tangan kiri Dhafin segera ditempelkan di ujung serat-serat cahaya hitam yang baru keluar itu.


Kemudian perlahan-lahan kedua telapak tangan Dhafin menekan serat-serat cahaya itu. Hingga akhirnya serat-serat cahaya hitam itu lenyap di balik kedua telapak tangan Dhafin.


Sedangkan Putri Faniza, begitu segel itu telah keluar secara utuh dari dalam dadanya, tubuh bagian atasnya sempat tersentak sebentar. Setelah itu dia diam lagi bagai tidur pulas.


Semua orang di ruangan itu tampak asyik memperhatikan apa yang dilakukan Dhafin barusan.


Mencabut segel yang ditanam di dalam tubuh seseorang bukan pekerjaan yang mudah dan tidak sembarang orang bisa melakukan. Dan Dhafin tampak melakukannya seperti begitu mudahnya.


Sementara Selir Heliana yang melihat aksi Dhafin itu tampak tersenyum kecil seolah memuji kehebatan pemuda itu.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2