Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 106 PERTEMUAN YANG ASING


__ADS_3

Seperti yang sudah direncanakan bahwa rombongan Brian singgah dulu di Kampung Naraya. Sebabnya, karena tidak ada satu pun yang tahu mantra untuk memunculkan Gerbang Cahaya dari keenam pemuda itu.


Apalagi Dhafin yang belum tahu sama sekali di mana Istana Centauri.


Yang tahu cuma orang-orang elite Istana Centauri. Sedangkan dari Markas Centaurus cuma Pangeran Nelson dan Pangeran Revan yang bisa.


Ketika memandang suasana Kampung Naraya, Dhafin kembali teringat masa-masa dia tinggal dulu selama 5 tahun di kampung ini.


Namun tidak ada seorang pun yang mengingat kalau dia pernah tinggal di kampung ini, termasuk kepala kampungnya. Tapi Dhafin masih ingat akan Tetua Darius, Kepala Kampung Naraya.


Akan tetapi Dhafin jelas tidak mengumbar-umbar kalau dia pernah tinggal di kampung ini. Bisa ketahuan bahwa siapa dia sebenarnya.


Dan kebetulan warga kampung tidak ada yang tahu akan dirinya. Bukan tidak mengingat kalau dia pernah tinggal di kampung ini dan peristiwa yang terjadi padanya dan pada bibinya. Melainkan tidak ada yang mengenal kalau Dhafin sebenarnya adalah bocah yang dulunya tinggal di sini.


Di samping itu juga Dhafin belum mau memberitahukan tentang siapa dirinya sebenarnya kepada siapa pun. Termasuk Pangeran Revan yang berada di kampung ini.


Sedangkan Pangeran Revan sempat curiga begitu Brian memperkenalkan Dhafin padanya.


Dia langsung menduga kalau Dhafin adalah Pangeran Agung yang selama ini mereka cari-cari. Soalnya wajah Dhafin hampir mirip dengan wajahnya.


Namun sedari kecil Dhafin memang pandai berakting. Dengan sikap tenang dan pandainya mengolah kata-kata dia bisa mengelak dari serangan Pangeran Revan yang tanpa basa-basi itu.


Di sisi lain, Pangeran Revan terkesan akan sikap tenang dan santun yang ada pada Dhafin. Meskipun penampilan Dhafin tampak sederhana dan biasa saja, tapi Pangeran Revan merasakan aura wibawa menguar pada diri Dhafin. Sehingga membuatnya agak sungkan kepadanya.


Tidak lama kemudian, setelah berbasa-basi sebentar akhirnya Dhafin berangkat ke Istana Centauri dengan diantar oleh Jenderal Abiela yang ternyata masih berada di Kampung Naraya bersama puluhan pasukannya.


Yang ikut bersama Dhafin cuma Brian, Keenan dan Gibson. Hal itu berdasarkan pilihan Dhafin saat Pangeran Revan menanyakan siapa yang ikut dengannya. Yang lain menemani Pangeran Revan berjaga-jaga di kampung itu.


Bukan tanpa alasan Dhafin memilih 3 pemuda itu. Ketiga pemuda tampan itu memiliki energi batin yang sudah mencapai tingkat sempurna. Di samping itu juga mereka memiliki energi sakti yang istimewa.


Dengan bantuan mereka bertiga Dhafin mengharapkan bisa menyempurnakan ilmu Panah Cakra Langit milik Putri Aurellia. Karena dia menduga Panah Cakra Langit belum sempurna terbentuk dalam energi sakti Putri Aurellia.


Dengan kata lain, tujuan Pangeran Ghavin Aldebaran alias Dhafin pergi ke Istana Centauri, di samping hendak menyembuhkan penyakit Putri Faniza, juga bertujuan hendak menyempurnakan ilmu Panah Cakra Langit dalam energi sakti Putri Aurellia.


Senjata energi sakti itu merupakan jalan alternatif untuk meretas Segel Jaring Langit yang menyegel kamar penjara Yang Mulia Raja Darian.


Ketimbang Dhafin harus memusnahkan buhul segel itu yang ada pada Bunda Suri Rayna. Itu artinya dia harus melawan dulu wanita itu yang kemungkinan menangnya belum pasti.


★☆★☆


Ketika sudah sampai di Istana Centauri Dhafin sebenarnya meminta Abiela untuk segera mengantarnya ke tempat di mana Putri Faniza dirawat. Tapi dia harus mengikuti aturan, karena Abiela menyuruh mereka untuk menghadap Yang Mulia Ratu dulu.


Namun di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan Ariesha dan Jovita. Sepertinya mereka hendak pergi ke suatu tempat. Begitu mereka melihat 4 pemuda yang mereka kenal itu, mereka segera menghampiri.


Tentu saja Dhafin kaget bukan main melihat adiknya ternyata berada di istana ini juga. Dia lantas menatap Brian dengan tajam. Tapi belum juga sempat berkata Ariesha langsung memeluknya.


Rentetan ocehannya langsung keluar dari bibir legitnya, memuntahkan semua rasa kangennya terhadap kandanya tersayang. Air mata haru bercampur bahagia langsung tertumpah begitu saja bagai tanggul jebol.


Sementara Dhafin membiarkan saja adiknya meluapkan rasa rindunya itu. Sedangkan pikirannya masih heran kenapa Ariesha dan juga Jovita bisa ada di sini.


Sementara Jovita merasa bahagia melihat Ariesha dapat bertemu lagi dengan kakaknya. Senyum haru segera terkembang di bibir merahnya. Sedangkan sepasang matanya tampak berkaca-kaca saking terharunya.


Sedangkan Abiela sempat heran melihat Ariesha tiba-tiba memeluk seorang pemuda. Namun Jovita segera menerangkan kalau pemuda itu adalah kakak Ariesha.


"Nona Ariesha, kandamu itu datang ke sini untuk mengobati orang," kata Brian seakan menegur, "bukan untuk melihat orang menangis."


Ariesha tampak terkejut mendengar teguran Brian. Dia baru sadar kalau bukan cuma dia dan Dhafin yang ada di sini. Rupanya rasa gembiranya membuatnya bagai hilang kesadaran.

__ADS_1


Lantas dia melepaskan pelukannya pada Dhafin. Menyeka air matanya dengan lengan bajunya. Lalu berkata dengan nada sedikit panik.


"Cepat, Kanda! Penyakit Tuan Putri Faniza semakin parah. Belum ada yang bisa menyembuhkannya."


"Tapi, Jenderal Ariesha, saya harus menghadapkan mereka dulu kepada Yang Mulia Ratu," kata Abiela mengingatkan.


"Tidak usah," kata Ariesha membatalkan. "Semua sudah ada di kamar perawatan Tuan Putri Faniza."


"Saya bagaimana?" tanya Abiela ingin kejelasan.


"Kamu kembali ke tempatmu bertugas!" kata Jovita menginstruksikan.


"Baik."


Abiela langsung kembali ke tempat di mana Gerbang Cahaya Induk berada. Sedangkan Ariesha dan Jovita langsung mengajak rombongan Dhafin ke tempat di mana Putri Faniza dirawat.


Sementara itu, di ruangan cukup luas di mana Putri Faniza dirawat hanya terdapat orang-orang besarnya Istana Centauri. Yaitu Yang Mulia Ratu yang memakai cadar serta kedua pengawalnya, Putri Clarabelle, Putri Richelle, Putri Kayshila, dan 2 Tetua Istana Centauri.


Termasuk yang ada yaitu Selir Heliana Arawinda yang kini tengah menyalurkan energi saktinya guna menyadarkan Putri Faniza yang tengah pingsan.


Di ruangan itu juga ada Permaisuri Chalinda yang pastinya dan Nyonya Carissa.


Begitu rombongan Dhafin sampai di ruangan itu, yang masuk ruangan itu cuma Ariesha-Jovita dan Dhafin. Sedangkan Brian, Keenan dan Gibson menunggu di luar ruangan.


Begitu Dhafin baru masuk ke ruangan jelas semua orang seketika langsung memandangnya. Termasuk Selir Heliana yang langsung menghentikan pekerjaannya demi melihat Dhafin memasuki ruangan.


★☆★☆


Berbagai macam ekspresi yang mereka lukiskan di wajah mereka mana kala melihat Dhafin. Ada yang tampak takjub. Ada yang tampak terkejut heran. Tapi kebanyakan yang mengekspresikan kegembiraan.


Sementara perasaan Yang Mulia Ratu sudah tidak usah lagi disebut. Betapa amat sangat bahagianya ketika dapat melihat kembali sang pujaan hati.


Setelah sekian lama pemuda itu cuma tersimpan dalam angannya, kini dia bisa wujud Dhafin sudah ada di depan matanya.


Setelah sekian lama rasa rindunya terpenjara dalam batinnya yang sudah menyesaki dadanya, kini semuanya bebas terlepas, terbayar tuntas dengan kehadiran Dhafin.


Kalaulah tidak mengingat akan membuat Putri Kayshila terrsakiti, ingin rasanya dia memeluk Dhafin. Menumpahkan kerinduannya yang sudah sekian tahun dipendam.


Dia hanya bisa menatap Dhafin lekat-lekat. Tapi itu sudah cukup untuk sementara.


Sedangkan Kayshila berbagai macam persaan; bahagia, sedih, berduka, haru, sekaligus kecewa berkecamuk di dalam hatinya.


Namun dia harus belajar menerima takdir. Dia harus puas dengan bahagia bahwa Dhafin adalah kakaknya, bukan kekasihnya. Karena itu tidak mungkin dan tidak boleh.


Sementara Dhafin tidak terlalu terkejut melihat beberapa orang yang dikenalnya. Termasuk melihat Grania dan Keysha. Karena dia sudah punya firasat kalau mereka juga ada di istana ini saat melihat Ariesha dan Jovita.


Sedangkan dia tidak terlalu menggubris saat melihat Yang Mulia Ratu. Karena dia tidak mengenal teman masa kecilnya itu dengan penampilan mewah dan anggun seperti itu.


Apalagi warna rambut Yang Mulia Ratu sudah berubah. Ditambah lagi memakai cadar yang berbeda dengan teman masa kecilnya dulu.


Ketika memandang Kayshila, dia berusaha bersikap tenang. Sedapat mungkin dia tidak boleh menimbulkan kecurigaan kepada orang-orang akan hubungannya dengan gadis cantik itu.


Sekarang Dhafin merasa yakin kalau Kayshila sudah tahu siapa dia sebenarnya. Dan pastinya sudah tahu kalau Dhafin adalah kakaknya seayah.


Dilihatnya gadis itu seperti tengah menahan gejolak yang berkecamuk dalam dirinya. Dia hanya bisa tersenyum melihat gadis itu berusaha menerima takdir.


Saat melihat 3 pencetus Istana Centauri, dia langsung berkesan. Benaknya langsung menduga-duga siapa mereka.

__ADS_1


Dia teringat kembali akan penjelasan Paman Killian tentang keluarganya yang masih hidup yang hilang entah ke mana. Dan benaknya langsung menduga kalau mereka inilah keluarganya yang menghilang itu.


Sementara itu, Putri Faniza masih terbaring diam bagai mati. Jelas dia tidak tahu akan kehadiran Dhafin sang pujaannya. Bagaimana kalau dia tersadar dan mengetahui kehadiran Dhafin?


Setelah beberapa saat dia memandang semua orang yang ada di ruangan itu, Dhafin kembali beralih memandang Yang Mulia Ratu.


Benaknya belum bisa menerka siapa orang itu. Tapi saat melihat ada mahkota di kepala orang itu, maka dia segera tahu kalau itulah Yang Mulia Ratu.


Maka segeralah dia menyembah hormat dengan berlutut di lantai sebagaimana layaknya memberi hormat kepada penguasa di Kerajaan Amerta.


Dia tidak tahu kalau penghormatan yang dilakukan di sini sedikit berbeda dengan negeri atau kerajaan lain.


"Kesejahteraan dan keselamatan terlimpah kepada Yang Mulia Ratu. Terimalah salam hormat hamba!"


Hampir saja Yang Mulia Ratu menangis melihat Dhafin melakukan penghormatan padanya dengan begitu rupa. Hal itu menandakan kalau Dhafin tidak mengenalnya. Hatinya terasa amat sakit.


"Bangunlah, Tuan!" titahnya berusaha sedapat mungkin nadanya tampak anggun berwibawa.


Dhafin segera bangun. Lalu matanya melihat Selir Heliana yang melangkah menghampirinya. Wanita tua namun masih tampak cantik itu tak pernah lepas menatap Dhafin.


"Aku sepertinya tidak asing melihatmu, Anak Muda," kata Selir Heliana seolah menyapa sambil tersenyum.


Dari perkataan Selir Heliana barusan, Dhafin dapat menduga kalau Kayshila belum memberitahukan kepada siap-siapa tentang siapa dia sebenarnya, termasuk kepada Selir Heliana.


Itu artinya Kayshila masih tetap menjaga perjanjian di antara mereka sewaktu masih berada di jurang pada 8 tahun yang lalu.


"Yang Mulia adalah orang tua yang berbudi luhur dan penuh kasih sayang," kata Dhafin bersikap setenang mungkin dan tidak boleh terbawa perasaan.


"Maka wajar saat melihat hamba," lanjutnya, "Yang Mulia merasa seperti tidak asing lagi."


★☆★☆


Selir Heliana hendak berkata lagi. Tapi Kayshila yang cepat datang menghampiri, langsung menyerobot berkata.


"Aih, Nenenda, jangan dulu ajak bicara Kanda Dhafin. Biar dia mengurus Tuan Putri Faniza dulu."


"O, rupanya kamu yang bernama Dhafin," gumam Selir Heliana sambil tersenyum penuh arti.


Dhafin diam saja Selir Heliana menyebut namanya. Wajah tampannya dibuat sebiasa mungkin. Wajah yang tenang penuh santun dengan senyum ramah.


"Silahkan, Anak Muda! Coba kamu periksa cucuku itu, dia sakit apa!"


Dhafin tidak langsung melaksanakan permintaan Selir Heliana. Dia menoleh sejenak pada Yang Mulia Ratu seakan meminta perijinan.


"Silahkan, Tuan Dhafin!" kata Yang Mulia Ratu mengerti arti pandangan Dhafin. Dia tetap menjaga intonasi nada suaranya. Dia akan bicara sesuai kebutuhan.


"Terima kasih."


Lalu Dhafin melangkah menghampiri pembaringan Putri Faniza. Terus duduk di kursi yang diambilkan oleh Ariesha dekat dengan pinggir pembaringan.


Sedangkan Selir Heliana melangkah menghampiri sebuah kursi yang ditemani oleh Kayshila.


Sementara itu baik Putri Clarabelle maupun Putri Richelle juga tak pernah lepas menatap Dhafin. Dalam bayangan mereka melihat Dhafin seperti melihat Pangeran Ghazam Aldari.


Tapi untuk saat ini lebih penting menyembuhkan Putri Faniza dahulu. Adapun masalah yang mereka pikirkan itu, nanti diurus setelah Putri Faniza diurus.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2