Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 173 SEPENGGAL KISAH CINTA NYONYA BRIANNA


__ADS_3

Sungguh Nyonya Brianna Faranisa, istri Jenderal Lyman tidak menyangkan kalau cinta sucinya di masa mudanya telah ternoda oleh pengkhianatan seorang yang amat dia cintai.


Ya, dia memang amat mencintai pria itu. Namanya Emrick Daim, seorang bangsawan tampan dan terpelajar.


Bahkan saking cintanya kepada Emrick Daim, dia telah menyerahkan bunga sucinya kepada pria itu. Dia telah menyerahkan kegadisannya kepada Emrick Daim.


Karena dia termakan bujuk rayu lelaki pengkhianat itu. Karena dia terbuai janji-janji palsu Emrick Daim kalau pria itu akan menikahinya.


Akan tetapi, janji tinggallah janji. Setelah puas mereguk kenikmatan cinta sesaat darinya, Emrick Daim pergi meninggalkannya begitu saja. Lalu menghilang bagai ditelan bumi.


Sakit..., rasanya hati ini begitu sakit sekali. Lebih sakit daripada disayat sembilu. Sakitnya lebih perih lagi mengetahui kalau dia mengandung benih cinta sesaatnya dengan lelaki bejat itu.


Hhh..., nasibnya kenapa begitu malang? Emrick Daim telah memanfaatkannya sebagai seorang wanita yang lugu dan naif. Setelah berhasil mengambil kesuciannya, lalu dia pergi dan mencampakkan cinta sucinya.


Tapi dasarnya memang dia wanita yang berhati mulia. Dia biarkan benih itu besar dalam rahimnya dengan harapan Emrick Daim akan datang dan menikahinya, tapi teryata tidak pernah.


Dia rela mengandung benih di luar nikah itu selama hampir 10 bulan, meski sebagian besar keluarganya menyuruhnya menggugurkan.


Dia rela hidup terpencil di sebuah kampung demi agar janin dalam kandungannya itu tetap selamat. Dan kandungannya ternyata selamat, dia melahirkan bayi laki-laki yang tampan dan lucu, di sebuah kampung kecil. Dan dia telah memberi nama Gibson Kyler.


Setelah melahirkan Gibson Kyler, dia harus berpisah dengan bayi malangnya itu. Karena sebelumnya memang dia sudah mengadakan perjanjian dengan keluarganya, setelah dia melahirkan dia harus meninggalkan bayi itu.


Untuk menutup aib dalam keluarga bangsawannya tentunya.


Dengan amat terpaksa dia menaruh bayi itu di sebuah kampung tidak jauh dari kotaraja Kerajaan Amerta. Tepatnya menaruh di depan rumah pasangan suami istri yang miskin yang belum mempunyai anak.


Tidak lupa dia menaruh sapu tangan bersulam dan bertuliskan nama sang bayi malang itu.


Setelah itu dia harus terpaksa melupakan putranya itu. Melupakan kepahitannya karena cintanya telah dinodai oleh lelaki biadab yang bernama Emrick Daim.


Sebab, kalau melihat bayi itu akan selalu mengingatkan kepada lelaki yang telah mengkhianatinya.


Ada baiknya juga dia menuruti kehendak keluarganya, membuang bayi itu agar dia bisa melupakan Emrick Daim. Agar bisa melupakan kepahitan dan kebenciannya kepada lelaki tidak bertanggung jawab itu.


Meski harus mengorbankan perasaannya sebagai seorang ibu. Meski harus menanggalkan kasih sayangnya terhadap bayinya.


Enam tahun kemudian, setelah dia berhasil melupakan Emrick Daim, setelah dia menikah dengan Jenderal Lyman, seorang pria bangsawan dan perwira tinggi kerajaan.


Setelah dia mempunyai 2 anak; Dareen Ardiaz dan Grania Friska, tanpa sengaja dia bertemu kembali putranya itu hidup sebagai gelandangan pengemis di Kota Pendar. Betapa menyedihkan!


Betapa menyedihkan hidupnya melihat putranya hidup terlantar di jalanan tanpa dia bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa melihat dengan miris.


Dia mengetahui bocah 6 tahun itu adalah putranya karena ketika itu dia melihatnya memegang sapu tangan warna merah bersulamkan benang warna keemasan. Dan di tengah sapu tangan itu tertulis nama bocah itu.


Sapu tangan itulah yang dia tinggalkan bersama putranya itu 6 tahun yang lalu sewaktu dia menaruhnya di depan rumah pasangan suami istri.


Kala itu dia melihat putranya sedang membujuk seorang bocah perempuan berusia 5 tahun yang sedang menangis karena lapar. Gibson kecil menyeka air mata gadis kecil dengan sapu tangan itu.


★☆★☆


Refleks Nyonya Brianna merebut sapu tangan itu. Dengan jantung yang berdebar kencang dia menatap sapu tangan itu lekat-lekat. Membaca nama yang tertera di situ dalam hatinya yang perih.


Sementara Gibson kecil langsung memeluk gadis kecil di sampingnya itu dengan erat karena gadis kecil itu terkejut ketakutan. Dan sukses membuat tangisnya terhenti tapi wajah lugunya pucat.


"Nyonya, jangan ambil sapu tangan itu!" kata Gibson kecil dengan nada memelas. "Itu milik saya, Nyonya."


Sontak dia terkejut mendengar suara kecil yang penuh ketakutan itu. Kenapa dia tidak bisa menguasai perasaannya, sehingga membuat putranya dan gadis kecil itu ketakutan.


Kemudian dia mengembalikan sapu tangan itu dengan penuh kasih. Dan diterima oleh sang bocah dengan rasa hormat, masih terselip rasa takut.


"Saya minta maaf kalau perbuatan saya tadi membuat kalian merasa takut," katanya bernada lembut penuh kasih. "Tapi kalian tenang saja, saya tidak bermaksud jahat kepada kalian."


Gibson kecil tidak menanggapi apa-apa atas permintaan maafnya. Sikapnya masih ketakutan sambil terus memeluk gadis kecil itu.


"Sapu tangan itu benar-benar milikmu?" tanyanya seolah ingin kepastian. Padahal dia sudah yakin.


"Benar, Nyonya," sahut Gibson kecil bernada pelan penuh rasa hormat.


"Pemberian ibumu?" kejarnya.

__ADS_1


"Bukan, Nyonya," kata Gibson jujur. "Kata ibu sapu tangan ini pemberian seseorang saat saya lahir dulu."


Lalu Gibson kecil memberi keterangan lagi kalau dia selalu membawa sapu tangan itu. Dia sendiri tidak mengerti kenapa harus membawanya selalu. Dia hanya menuruti pesan ibunya sebelum meninggal.


Kata ibunya lagi siapa tahu dengan sapu tangan itu orang tua aslinya. Tapi Gibson kecil belum mengerti apa maksud ucapan ibunya.


Sementara Nyonya Brianna semakin bersedih mendengar cerita Gibson kecil itu. Kini dia sudah menemukan putranya, tapi dia tidak bisa mengambilnya. Sungguh menyedihkan.


Diketahui gadis kecil itu adalah adik Gibson dan bernama Lavanya. Dia menangis karena sudah 3 hari belum makan. Membuat hati Nyonya Brianna semakin teriris.


Orang tua yang merawat Gibson ternyata sudah meninggal. Kini dia dan adiknya itu hidup terlantar. Pantas saja mereka hidup dalam kekurangan dan kelaparan. Sungguh menyedihkan!


Mulai saat itu dia mencukupi kebutuhan makan Gibson dan adik angkatnya itu dan memberikan pakaian yang baru untuk mereka. Dan membuatkan Lavanya sapu tangan yang sama dengan Gibson.


Tapi saat mengukir nama di sapu tangan itu, dia menambahkan nama di depan nama Lavanya, yaitu Kaluna Lavanya.


Dalam keadaan Nyonya Brianna belum memberi tahu kalau dia adalah ibu kandung dari Gibson kecil itu. Dan Gibson maupun adiknya juga tidak bertanya kenapa sang nyonya bangsawan berbuat baik kepada mereka.


Namun kebahagiaannya merawat putranya dan adik angkat putranya dengan caranya sendiri cuma bertahan 3 bulan saja. Karena baik Gibson maupun Kaluna telah menghilang bagai ditelan bumi.


Kemana dia harus mencari dia tidak tahu. Sementara kesedihannya kembali bertengger di dalam hatinya yang pedih. Bersama kebingungan melanda karena tidak tahu harus berbuat apa.


★☆★☆


Tapi setelah 3 tahun berlalu, dia bertemu kembali dengan Gibson di kotaraja, tanpa bersama Kaluna Lavanya. Namun suasananya telah berbeda, karena Gibson telah membencinya. Membuat hatinya terkejut bukan main.


Apakah Gibson menuduhnya sebagai penyebab hilangnya dia dan adiknya? Sehingga Gibson membencinya?


Maka dia menjelaskan kalau dia tidak tahu apa-apa tentang hilangnya mereka. Namun Gibson seakan tidak mau mendengar penjelasannya dan tetap membencinya. Menyuruhnya pergi dan melarangnya menemuinya lagi.


"Kenapa kamu membenciku, Gibson?" tanyanya dengan penuh kesedihan sambil berderai air mata. "Apa salahku?"


"Masih juga kamu bertanya apa salahmu, Nyonya?" kata Gibson dengan marah tapi air matanya juga berderai.


"Jelaskan apa salahku?"


"Kenapa... kenapa... kenapa kamu membuangku 9 tahun yang lalu? Apakah karena aku ini anak haram...?"


Sungguh kesedihan ini tiada terkirakan. Gibson telah tahu kalau dia adalah ibu kandungnya. Bukannya bahagia malah membencinya.


"Maafkan aku, anakku.... Ibu terpaksa melakukannya...."


"Pergi! Aku bukan anakmu dan kamu bukanlah ibuku! Kamu adalah wanita kejam! Pergi...!"


"Maafkan aku, anakku...."


Dia berusaha merangkul Gibson sambil terus menangis penuh penyesalan. Tapi Gibson malah menolaknya dan menghindar.


Berusaha lagi hendak merangkul Gibson. Tapi Gibson tetap menolak, bahkan mendorongnya hingga terjatuh.


Dia jatuh tidaklah dia merasakan sakitnya. Tapi sakit yang amat sakit dia rasakan disebabkan Gibson menolaknya sebagai ibu kandungnya. Betapa perih hati ini!


Bersamaan dengan itu kebenciannya terhadap Emrick Daim timbul kembali. Karena perbuatan lelaki bejat itulah sehingga dia mengalami penderitaan tiada tara.


Mulai saat itu dia tidak pernah lagi bertemu secara langsung putranya itu. Dia cuma memantaunya dari jauh.


Hal yang menggembirakan hatinya ternyata Gibson bergaul dengan Pangeran Nevan dan putra bangsawan baik hati lainnya, termasuk Dareen Ardiaz, putra keduanya. Sehingga Gibson bisa aman dari gangguan.


Hal yang menggembirakan hatinya lagi putranya bisa ikut Turnamen Beladiri Anak Bangsawan, buah dari bergaul dengan anak bangsawan. Tambah gembira lagi menyaksikan putranya sebagai juara 2 peserta terbaik.


Namun kembali dia harus bersedih karena Gibson dikabarkan diculik. Bukan dia tidak bersedih atas hilangnya putra keduanya. Dia juga tetap bersedih. Tapi lebih bersedih atas hilangnya Gibson.


Akan tetapi setelah 8 tahun lebih berlalu ternyata dia masih diberi kesempatan melihat putranya. Bahkan pertama kali melihat disaat momen yang tepat. Gadis dan rekan-rekannya menyelamatkannya bersama yang lain keluar dari penjara bawah tanah.


Rasanya waktu itu dia ingin memeluk putranya, seperti halnya sahabatnya, Nyonya Carissa memeluk Dhafin, putranya. Namun dia masih bisa menahan.


Bahkan hampir saja dia menengoknya ketika mendengar dia terluka parah akibat berperang dengan pasukan Raja Adrian. Namun dia masih bisa menahan diri. Karena kalau dia memaksakan, takutnya Gibson akan menolaknya lagi.


Dia akan tetap bersabar dan terus berdoa agar suatu saat Gibson mau menerimanya sebagai ibu kandungnya. Ya, cuma itu yang bisa dia lakukan sekarang, bersabar.

__ADS_1


★☆★☆


Tok! Tok! Tok!


"Istriku!"


Seketika Nyonya Brianna terbangun dari lamunan panjangnya. Buru-buru diseka air matanya yang telah membanjir di pipinya. Lalu menengok ke pintu kamar pribadinya yang tertutup rapat.


"Suamiku...," katanya mendesah lirih.


Ya, yang mengetuk itu adalah Jenderal Lyman, suaminya. Beberapa tahun ini dia hampir sering mengabaikan suaminya karena kehilangan putranya.


Mengingat itu sungguh dia merasa berdosa kepada lelaki gagah itu. Lelaki yang amat mencintainya sepenuh hati. Lelaki yang rela menerimanya dan mau menikahinya walau dia bukan perawan lagi.


Sungguh lelaki sempurna yang pernah dia temui. Rela mencintai tanpa mengharap cintanya dibalas.


Dia menikah dengan suaminya itu karena dijodohkan oleh keluarga. Mau tidak mau dia harus menerima, meski dia tidak mencintai lelaki itu. Lagipula cuma lelaki itu yang rela menerima dirinya yang sudah ada apa-apanya.


Selama menikah dengan Jenderal Lyman dia cuma melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Tapi hatinya dia tidak ikut sertakan kalau dia wajib mencintai suaminya yang baik hati itu.


Meski dia tidak pernah menuntut haknya sebagai seorang istri karena dia tahu diri juga, namun Jenderal Lyman tetap memenuhi semua haknya.


Sungguh dia merasa berdosa terhadap suaminya itu.


Menyadari hal itu, dia mencoba mencintai suaminya itu semenjak mereka tinggal di Istana Centauri di Negeri Tabir Ghaib. Ternyata mencintai suaminya benar-benar menggembirakan dan cukup menenangkan hatinya.


"Masuklah, Kanda!" pintanya setelah membenahi dirinya yang agak kusut.


Terdengar pintu kamar terbuka. Lalu masuklah Jenderal Lyman dengan disambut senyum manis dan pelukan hangat oleh istrinya tercinta.


"Kanda, aku selama ini mengabaikanmu, kenapa kamu tidak marah?" katanya merajuk manja.


"Kalau aku marah, tentu akan membuatmu tambah bersedih," kata Jenderal Lyman lembut seraya tersenyum.


Nyonya Brianna hanya tersenyum. Lalu didengar lagi suaminya berbicara dengan lembut sambil membelai mesra rambutnya.


"Apa kamu sudah siap?"


Nyonya Brianna melepas pelukannya. Lalu menatap mesra suaminya sambil mengelayutkan kedua tangannya di tengkuk suaminya. Sambil tersenyum manis dia berkata dengan nada yang mendayu-dayu.


"Aku sudah siap, Kanda...."


Lalu dia mendekatkan bibirnya ke bibir suaminya hendak memagutnya. Tapi Jenderal Lyman langsung bertanya heran.


"Kamu mau melakukan apa?"


"Tadi 'kan kamu tanya apakah aku sudah siap?" Nyonya Brianna makin mendayu-dayu suaranya. "Ya aku sudah siap berkencan denganmu...."


"Bukan itu maksudku," kata suaminya memperjelas. "Apa kamu sudah siap bertemu putramu? Dia tengah menunggumu."


"Dareen Ardiaz ada di sini juga?"


Bukan main gembiranya tiada terkira putra keduanya telah ada di Istana Centauri. Dia bergegas hendak menemui. Tapi dia seketika berhenti mana kala mendengar Jenderal Lyman berkata lain.


"Bukan dia, tapi putramu yang pertama."


Dia bukan lagi gembira mendengar ucapan suaminya yang walau pelan tapi sukses mengagetkannya. Seketika wajahnya langsung pucat. Suaminya ternyata....


"Aku sudah tahu kalau kamu mempunyai putra yang lain selain dariku," kata suaminya dengan nada lembut.


"Jangan berkata lagi!" kata Jenderal Lyman mencegat istrinya berkata. "Siapkan dirimu! Tenanglah setenang mungkin! Dan ingat! Apapun keputusan putramu itu terhadapmu, kamu harus terima...."


Nyonya Brianna menatap suaminya lekat-lekat. Wajahnya tidak pucat lagi, tapi penuh penyesalan.


"Kenapa wanita jahat ini telah bertemu lelaki baik hati sepertimu?" ucapannya dan kembali air matanya menetes.


"Takdir.... Sudah, jangan menangis lagi! Ayo kita sambut putra pertama kita...."


Sebelum keluar kamar, Nyonya Brianna menyempatkan mengecup mesra pipi suami tercintanya itu. Setelah itu dia menyeka air matanya, merapikan dirinya, menyiapkan hatinya, lalu mereka keluar kamar.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2