
"Nona Grania, saya harap nona tenang saja dulu sejenak," kata Dhafin bernada kalem. "Biar Saudara Gibson ataupun Nyonya Brianna yang akan mengungkap faktanya."
"Tapi...."
"Grania! Diam dulu kenapa sih?!" tegur Ariesha bernada pelan tapi suaranya agak ditekan.
Akhirnya Grania bisa diam meski hatinya makin penasaran akan permasalahan ini.
Sedangkan Kaluna juga, setelah mendengar peringatan Dhafin barusan tidak berani lagi meminta Gibson untuk menjelaskan pertanyaan Grania.
Dia sudah mengetahui Dhafin itu siapa. Dan junjungannya, Putri Athalia begitu menghormatinya. Tentu dia sebagai bawahan harus lebih menghormati lagi. Makanya dia harus diam juga, menunggu kejelasan akan masalah ini.
Sementara Ratu Aurellia, begitu mendengar suara Dhafin berucap, langsung menatap beberapa helaan napas sang pemuda. Sudah cukup lama mereka tidak berbincang secara pribadi setelah pertemuan malam itu.
Dia berencana, setelah acara ini dia akan merencanakan pertemuan secara pribadi.
"Para hadirin semua!" kata Ratu Aurellia sepertinya segera memulai acara ini. "Kemarin Kak Gibson telah menemuiku secara pribadi. Dia meminta kepadaku ingin dipertemukan dengan Bibi Brianna."
"Maka aku adakanlah pertemuan keluarga semacam ini dan mengundang kalian semua," lanjutnya, "karena aku pikir sepertinya pertemuan ini merupakan momen yang baik untuk kita semua...."
"Kak Gibson, sebagaimana permintaanmu kepadaku ingin dipertemukan dengan Bibi Brianna," Ratu Aurellia lantas menoleh pada Gibson. "Sekarang Bibi Brianna sudah hadir di tempat ini...."
"Sebagaimana pengakuanmu kalau Bibi Brianna adalah orang yang melahirkan kamu," lanjutnya. "Apakah kamu hendak mengumumkan kepada kita semua bahwa Bibi Brianna adalah ibu kandungmu?"
Inilah yang ditunggu-tunggu oleh Nyonya Brianna, pengakuan Gibson kalau dia adalah ibu kandungnya. Dan dia sudah siap untuk menceritakan semua rahasia yang selama ini dia sembunyikan, meskipun aib baginya.
Sementara para hadirin, setelah mendengar penuturan Ratu Aurellia barusan, maka jelaslah bagi mereka akan maksud pertemuan ini sebenarnya.
Namun mereka tentu masih bertanya-tanya, bagaimana ceritanya bahwa Nyonya Brianna mempunyai anak lain selain Dareen Ardiaz dan Grania Frisaka?
Mungkin dalam pertemuan ini akan terungkap. Sepertinya mereka masih sabar menunggu.
Sedangkan Ariesha maupun Putri Raisha tidak perlu diperjelas lagi mereka sudah sangat yakin kalau Gibson adalah putra Nyonya Brianna dari lelaki lain. Kalau begitu siapa lelaki itu?
Sementara Putri Kayshila bukan tidak memikirkan akan permasalahan ini. Tapi ketika kembali melihat kakaknya, dia selalu memikirkan, kapan kakaknya memberitahukan kepada neneknya dan kepada keluarga lainnya kalau dia adalah Pangeran Agung Ghavin Aldebaran.
Sedangkan Jenderal Lyman tetap tenang dan bersabar menghadapi permasalahan. Dia tidak ingin berbicara apa-apa dulu kalau tidak diminta untuk berbicara.
Lain halnya dengan Grania yang jelas amat terpukul begitu mengetahui kenyataan menyakitkan seperti ini. Ibunya punya anak dari lelaki lain selain dari ayahnya. Yang lebih menyakitkan lagi ibunya merahasiakan kenyataan itu selama ini.
Dia masih bisa menahan agar tidak menghakimi ibunya lebih cepat. Tapi dia tidak bisa menahan air matanya yang sudah jatuh dalam perlukan Ariesha.
Sementara Kaluna Lavanya tentu saja terkejut bukan main mengetahui kalau Gibson mempunyai ibu lain selain ibu mereka. Yang dia tahu selama ini ibu kandung Gibson adalah ibunya yang telah melahirkannya. Tapi nyatanya Gibson mempunyai ibu kandung lain.
Kenyataan macam apakah ini?
Tapi dia hanya bisa diam menunduk, tanpa bisa mengungkapkan perasaannya yang terkejut sekaligus bersedih. Namun tentunya air mata kesedihan dan ketakutan sudah bergulir di pipinya.
★☆★☆
Sejenak Gibson memegang tangan Kaluna sambil menatap gadis itu sebagai isyarat agar Kaluna tetap tegar menerima kenyataan ini.
__ADS_1
Setelah itu dia menjawab pertanyaan Yang Mulia Ratu dengan penuh hormat.
"Ampun, Yang Mulia. Sebenarnya bukan dengan maksud demikian hamba ingin bertemu dengan Nyonya Brianna."
Tentu saja ucapan Gibson itu membuat kaget sebagian besar hadirin; Raja Darian, Pangeran Nelson, Pendeta Noman, Jenderal Myles serta Jenderal Felix yang sedari tadi diam saja menyimak jalannya alur acara.
Tidak terkecuali Ratu Aurellia, Selir Heliana, Selir Grizelle, Nyonya Carissa, Putri Kayshila, Putri Raisha, Ariesha dan Kaluna. Sampai-sampai mereka menatap Gibson dengan sorot keheranan dan rasa tidak percaya.
Lain halnya dengan Jenderal Lyman, Pangeran Revan dan Dhafin. Mereka tetap tenang saja seakan tak terpengaruh dengan ucapan Gibson tersebut. Dan tetap menanti apa yang akan diucapkan Gibson selanjutnya.
Sementara Nyonya Brianna tidak bisa lagi menahan air matanya. Ucapan Gibson itu jelas masih menolak kalau dia adalah ibunya. Hatinya sungguh sakit, tapi dia harus menerima hasil perbuatannya sendiri.
Sedangkan Grania jelas tidak tahan akan ucapan Gibson yang aneh itu. Sambil masih berderai air mata dia berkata dengan nada agak keras sebagai teguran terhadap Gibson.
"Kak Gibson! Apa maksudmu berkata begitu? Apakah kamu hendak memungkiri kalau bundaku adalah ibumu? Padahal kamu sudah mengakuinya di hadapan Yang Mulia Ratu!"
Ditegur demikian, Gibson yang hendak melanjutkan ucapannya, langsung berhenti. Lantas menatap Grania dengan sorotan kesedihan.
"Grania!" tegur Jenderal Lyman. "Tidak bisakah kamu menahan diri untuk tidak bertanya macam-macam dulu? Tunggulah Gibson menyelesaikan ucapannya!"
Grania hendak menyanggah ucapan ayahnya, tapi segera diperingatkan oleh Ariesha untuk tetap diam dulu. Terpaksa dia diam meski dia makin penasaran.
"Silahkan lanjutkan ucapanmu, Kak Gibson!" perintah Ratu Aurellia setelah Grania bisa tenang.
"Sebenarnya maksud hamba hendak bertemu dengan Nyonya Brianna," sahut Gibson, "yaitu ingin menunjukkan seseorang kepada beliau yang telah melakukan pengkhianatan kepadanya."
"Silahkan!" perintah Ratu Aurellia.
Sementara sebagian hadirin merasa heran akan perbuatan Gibson itu. Mereka berpikir Gibson akan menuju ke suatu tempat untuk memanggil seseorang yang dimaksud. Tapi kenapa dia malah maju ke depan?
Lantas orang yang dimaksud mana kalau begitu?
Tapi mereka diam saja sambil terus memperhatikan apa yang telah dilakukan Gibson.
Tampak Gibson merentangkan tangan kanannya ke samping agak ke bawah dengan telapak tangan terbuka dan menghadap bawah.
Sedangkan tangan kirinya disilangkan di depan dadanya. Sambil matanya terpejam sepasang bibirnya sedikit bergerak-gerak seakan membaca mantra.
Tak lama kemudian, telapak tangan kanannya seketika menyemburatkan cahaya putih. Lalu dari telapak tangan kanannya itu keluar sebentuk cahaya berwarna putih dan jatuh ke lantai marmer.
Kemudian cahaya putih itu membesar dengan proses agak cepat dan membentuk seperti orang. Lalu cahaya putih tadi hilang, maka muncullah lelaki bejat yang tidak lain adalah Penyair Putih alias Emrick Daim.
Lelaki malang itu sudah tampak mengenaskan terkapar di atas lantai marmer. Rambutnya dibiarkan tergerai lepas begitu saja.
Pakaiannya sudah kotor oleh darah. Hampir sekujur tubuhnya di penuhi luka goresan dan sayatan, baik kecil maupun besar.
★☆★☆
Tentu saja semua hadirin terkejut menyaksikan Gibson memunculkan seorang lelaki paro baya, kecuali Pangeran Revan dan Dhafin. Tapi belum ada yang bersuara, tetap menyaksikan aksi Gibson.
Lalu dengan kekuatan ghaibnya, Gibson membangunkan Penyair Putih hingga Penyair Putih berdiri melutut.
__ADS_1
Perlu diketahui
Sementara mata Penyair Putih tertutup rapat, kepalanya terkulai bagai orang mati. Namun dia belum mati melainkan cuma pingsang saja.
Sebagai orang Amerta tentu Raja Darian, Pendeta Noman, Jenderal Myles, Jenderal Felix dan Jenderal Lyman mengetahui Emrick Daim, meski tidak begitu mengenal.
Sedangkan Selir Grizelle dan Nyonya Carissa juga tahu siapa lelaki bejat itu, yaitu kekasih Nyonya Brianna waktu muda dulu.
Sementara Nyonya Brianna tentu saja dia masih ingat wajah mesum lelaki brengsek itu meski sudah lama tidak melihatnya.
Sepasang matanya langsung menyorot tajam menatap Emrick Daim dengan penuh dendam berpadu kebencian dan kekecewaan kepada lelaki itu. Nafsu untuk membunuh lelaki itu langsung menggodanya.
"Emrick...," desis Nyonya Brianna penuh kegeraman.
Hampir bersamaan Nyonya Carissa dan Selir Grizelle menoleh pada Nyonya Brianna. Mereka telah tahu kisah pahit wanita itu yang ditinggal hamil oleh Emrick Daim itu. Mereka tahu betapa sakitnya perasaan sang nyonya akibat perbuatan lelaki itu.
"Itulah orang yang kamu maksud, Kak Gibson?" tanya Ratu Aurellia ingin kepastian.
"Benar, Yang Mulia."
"Coba kamu terangkan orang itu siapa?"
"Lelaki ini bernama Emrick Daim, seorang bangsawan yang berasal dari kotaraja Kerajaan Amerta," sahut Gibson menuturkan. "Di dunia kependekaran dijuluki Penyair Putih."
"Hampir seluruh hidupnya dilumuri oleh dosa," lanjutnya. "Salah satu dosa terbesarnya adalah berkhianat kepada negaranya...."
"Dia dan kedua muridnya ikut andil dalam pemberontakan terhadap kekuasaan Yang Mulia Raja Darian yang dipimpin oleh Putri Rayna Cathrine...."
"Dan dosa paling besarnya adalah mengkhianati seorang wanita bangsawan yang bernama Brianna Faranisa, sehingga mengakibatkan lahirnya seorang anak haram.... Yaitu... hamba...."
Ketika mengucapkan kalimat terakhir itu, kesedihan Gibson yang sudah datang sejak tadi, tambah semakin sedih, berduka sekaligus kecewa.
Sedangkan ketika hadirin mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Gibson, mereka amat memahaminya. Sehingga hati mereka ikut merasakan sedih pula.
Lebih bersedih lagi keadaan Grania yang masih saja menangis sesenggukan yang terus dihibur oleh Ariesha agar tetap tegar menerima kenyataan yang tidak disangka-sangka ini.
Lebih bersedih lagi perasaan Kaluna, bahkan hatinya ikut teriris mengetahui kenyataan kalau Gibson bukan kakak kandungnya. Mengetahui kenyataan kalau Gibson lahir diluar pernikahan yang sah.
Kepalanya terus tertunduk sehingga air matanya menitik jatuh ke bawah. Tangisnya tidak terdengar, cuma diredam dalam hatinya yang bersedih.
Putri Kayshila yang melihat gadis yang malang itu segera menghampiri. Duduk di sampingnya, lalu merangkulnya dalam pelukannya. Turut larut merasakan kesedihan yang dirasakan Kaluna sehingga menerbitkan air matanya pula.
"Brianna, Anakku," akhirnya Selir Heliana angkat bicara pula setelah terdiam cukup lama. "Apakah yang dikatakan Gibson itu benar, bahwa dia merupakan hasil hubungan terlarang antara lelaki yang bernama Emrick itu dengan kamu?"
"Benar, Yang Mulia," sahut Nyonya Brianna tanpa ragu.
"Apa kamu tidak keberatan menceritakan kenapa bisa hal itu terjadi?" tanya Selir Heliana dengan penuh kelemah lembutan.
"Tidak, Yang Mulia," sahut Nyonya Brianna bernada mantap meski di tengah derai air matanya.
★☆★☆★
__ADS_1