Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 78 PERTEMPURAN 2: PERTEMPURAN DI HUTAN KAMPUNG CARAYA


__ADS_3

Begitu mengetahui seluruh pasukannya terbunuh oleh pasukan pemberontak, 2 Komandan Perang murka bukan main. Benar-benar para pemberontak itu sudah menyatakan penentangannya kepada pihak kerajaan.


Mereka tidak habis pikir jumlah pemberontak yang menurut laporan katanya sedikit dapat mengalahkan pasukan istana yang jumlahnya lebih banyak. Hal itu menandakan kalau para pemberontak itu bukan pemberontak biasa.


Maka pada saat itu juga seluruh pasukan istana yang berjumlah 300 lebih itu diberangkatkan untuk menyerang 4 kampung yang sudah mereka nyatakan sebagai sarang pemberontak.


Mereka sampai di hutan cukup luas dan cukup lebat ketika matahari sudah tergelincir sedikit ke ufuk barat. Namun tanpa berhenti barang sejenak pasukan itu terus saja bergerak memasuki hutan.


Namun begitu pasukan sudah berada di pertengahan hutan, tiba-tiba saja....


"Aaa...!!!"


"Aaakh...!!!"


Tiba-tiba saja terdengar jeritan-jeritan kematian pasukan paling belakang saling sahut-sahutan. Kontan saja semuanya terkejut bukan main.


Seketika saja 2 Komandan Perang melihat apa yang terjadi. Rupanya puluhan pasukan gabungan, Pasukan Jubah Merah dan Passus Mawar Kuning, tengah membantai pasukan mereka dari belakang.


Tanpa banyak pikir kedua komandan itu langsung berteriak menyuruh seluruh pasukannya menyerang.


"Seraaang...!!!"


"Bunuh pemberontak itu...!"


Tapi belum hilang gema suara teriakan kedua komandan itu, tiba-tiba dari samping kanan pasukan istana muncul dari atas dan dari balik pepohonan sekitar puluhan pasukan gabungan. Dan dengan gerakan cepat langsung menyerang dengan cepat pasukan istana dari kanan.


Pada waktu yang bersamaan dari samping kiri muncul pula dari tempat yang sama sekitar puluhan pasukan gabungan dan langsung menyerang pasukan istana dengan tidak kalah cepatnya.


Karena mendapat serangan kejutan yang begitu tiba-tiba, tentu saja semua pasukan istana tidak waspada secara penuh dan tidak bisa melakukan antisipasi dengan cepat. Sehingga mereka tertebas oleh pedang-pedang tajam para pasukan gabungan tanpa ada perlawanan yang berarti.


Jeritan-jeritan kematian yang memilukan hati semakin sering terdengar memenuhi hutan itu laksana longlongan arwah penasaran yang telah bangkit dari penderitaan.


Lalu tubuh-tubuh berseragam prajurit yang bersimbah darah bertumbangan saling susul menyusul seakan berlomba ingin cepat terbaring di tanah berumput.


Darah-darah segar telah mengucur membasahi bumi hutan itu tanpa dapat dicegah lagi.


Sehingga dalam waktu yang singkat hampir separuh pasukan istana telah terbantai dengan percuma. Ya, percuma, karena mereka belum sempat melakukan perlawanan.


Melihat kenyataan yang ada membuat 2 komandan dan beberapa jawara istana terkejut tidak tanggung-tanggung. Kemarahan dan kekesalan beraduk jadi satu di dalam hati mereka yang kalut.


Akan tetapi dengan cepat 2 orang jawara segera bangkit dari kekalutan dan memerintahkan rekan-rekannya untuk menyerang pasukan gabungan itu.


Namun belum juga mereka bergerak, tiba-tiba terdengar teriakan menggelegar dari arah depan pasukan istana.


"Seraaang...!!!"


Hampir bersamaan waktunya dari arah depan berkelebat dengan cepat Pangeran Revan dan seluruh petinggi pasukan beserta jawara gabungan dari atas dan dari balik pepohonan serta dari balik semak-semak. Ikut di belakang mereka sisa pasukan yang belum menyerang.


Tampak Jenderal Abila langsung melesat ke arah salah satu komandan yang masih berada di atas kuda. Pedangnya yang sudah terhunus diayunkan dengan sebat hendak menebas leher komandan itu.


Awalnya sang komandan terkejut. Namun dengan refleks pedangnya yang sudah terhunus diayunkan menangkis serangan maut Jenderal Abiela.


Setelah itu dia melompat turun dari atas kudanya, lalu meladeni serangan Jenderal Abiela yang kembali menyerang.


Sedangkan Jenderal Ariesha menyerang komandan yang satunya. Dan komandan yang memang telah waspada sejak tadi melenting dari atas kudanya, lalu menyongsong serangan Jenderal Ariesha.


Sementara Jenderal Jessica dan Pangeran Revan menyerang jawara istana yang menurut mereka paling hebat. Sedangkan para jawara gabungan langsung menyerang para jawara istana yang lain.


Sementara itu pula sisa pasukan gabungan, sebagian menyerang kepala regu dan sebagian menyerang prajurit militer.


Sehingga tak butuh waktu lama perang campuh langsung tercipta di tengah hutan itu tanpa dapat dicegah. Denting suara senjata logam beradu terdengar menggiriskan nyali. Ditingkahi dengan suara-suara teriakan kemarahan yang berbaur jadi satu.


★☆★☆

__ADS_1


Memang harus diakui kalau siasat dan strategi perang yang dilakukan oleh Pangeran Revan dan seluruh pasukannya amatlah jitu.


Mereka memilih berperang di dalam hutan amatlah tepat. Karena kenyataannya mereka memang lebih menguasai medang perang ketimbang lawan dan lebih siap.


Sedangkan pasukan istana tidak memperkirakan kalau mereka akan berperang di dalam hutan. Di samping mereka tidak punya pengalaman berperang di medan seperti itu, ditambah lagi mereka tidak siap.


Apalagi strategi penyerangan dengan model menjepit yang dilakukan oleh pasukan gabungan benar-benar akurat. Sehingga seluruh prajurit militer istana tidak bisa bergerak leluasa dalam menyerang. Mereka cuma berputar-putar dalam lingkaran jepitan pasukan gabungan.


Satu kesalahan besar yang dilakukan oleh pasukan istana adalah mereka tidak tahu siapa yang mereka lawan. Sedangkan pasukan Pangeran Revan amat mengetahui siapa yang mereka lawan.


Jadi tidak heran kalau pertempuran baru memakan waktu sepenanakan nasi sudah banyak pasukan istana yang jatuh berguguran dengan bersimbah darah.


Jeritan-jeritan kematian yang melengking tinggi semakin sering terdengar seakan saling berlomba-lomba. Membuat suasana hutan yang tidak jauh dari batas Kampung Caraya semakin mencekam, semakin menakutkan.


Darah-darah yang mengucur dari tubuh-tubuh berseragam semakin banyak menetes membasahi tanah berumput dan berceceran ke mana-mana. Sehingga bau amis darah sebentar saja sudah mengotori udara membuat perut mual dan hidung seakan mau copot.


Di tengah jeritan-jeritan kematian itu terdengar jeritan salah seorang komandan lawan Jenderal Ariesha. Tampak tangan kanannya yang memegang pedang putus tertebas pedang Jenderal Ariesha.


Tangan yang masih menggenggam pedang lantas terjatuh ke tanah. Sedangkan kutungan tangannya langsung mengucurkan darah dengan deras. Membuat komandan itu terus menjerit-jerit.


Sementara pedang Jenderal Ariesha tidak berhenti mengayun. Selepas menebas tangan lawan, pedangnya terus diputar dan mengayun dengan sebat menyasar ke arah leher.


Dengan panik sang komandan mengangkat tangan kirinya, dipakai menangkis laju tebasan pedang Jenderal Ariesha sambil mencoba mundur ke belakang. Namun dia sedikit terlambat karena laju pedang Jenderal Ariesha amat capat. Sehingga....


Traaasss!!!


Craaasss...!!!


"Akhgh....!!!"


Batang pedang Ariesha menebas putus tangan kiri sang komandan dan ujung pedangnya menggores dalam kerongkongan komandan itu. Sehingga sang komandan menjerit mengerikan bagai setan yang digorok.


Hampir bersamaan Ariesha menyudahi lawannya, tak jauh dari situ Jenderal Abila mengayunkan pedangnya menghantam batang pedang komandan lawannya dengan keras. Membuat sang komandan meringis kecil.


Sedangkan pedang berikut tangannya terlontar ke samping. Lalu pedang itu lepas dari genggaman dan terlempar jauh.


Sementara Jenderal Abiela terus mengayunkan pedangnya menyilang ke bawah dengan amat cepat.


Craaasss...!!!


"Aaakh...!!!"


Sang komandan tak bisa lagi menghindar. Ujung pedang Jenderal Abiela merobek dadanya cukup dalam dan panjang. Membuatnya menjerit sekeras-kerasnya.


Namun pedang Abiela belum berhenti bergerak. Sambil diputar sedikit pedang diayunkan ke atas, lalu ditebaskan secara mendatar dan amat cepat.


Sang komandan lagi-lagi tak bisa mengelak. Sehingga lehernya tertebas putus. Dia hanya bisa melotot. Mulutnya hanya bisa mendesah pelan. Lalu dia rebah ke samping dengan kepala menggelinding.


★☆★☆


Pasukan militer terus bertumbangan satu demi satu secara perlahan-lahan tapi pasti seakan-akan tidak mau berhenti. Kini tinggal segelintir saja yang masih bertahan. Itupun tinggal menunggu waktu saja akan menyusul teman-temannya.


Sementara para jawara tinggal belasan orang yang masih bertahan. Yang sebagian besarnya sudah terkapar jadi mayat di atas tanah berumput.


Darah semakin banyak tertumpah membasahi tanah berumput seakan hendak menggenangi hutan itu. Bau amis darah semakin terasa menyengat membuat udara semakin pengap.


Tidak lama kemudian, seluruh prajurit militer telah binasa. Tak ada lagi yang tersisa. Termasuk semua kepala regu, termasuk 2 Komandan Perang-nya.


Belum lama berselang, terdengar jeritan kematian 5 orang jawara istana akibat terkena tebasan pedang. Kemudian mereka tumbang dengan bersimbah darah.


Di suatu tempat di areal pertempuran tampak Brian menebaskan pedang bermata tunggalnya 2x secara bersambung ke tubuh lawannya. Pertama menebas pundak kiri hingga ke rusuk kanan. Lalu tebasan ke dua menebas pinggang lawannya.


Tebasan itu begitu rapi sehingga membentuk garis lurus. Tak lama mengucur darah dari bekas tebasan itu. Lalu menyusul tubuh jawara itu terbelah menjadi 3 bagian.

__ADS_1


Kemudian jatuh menggelosor ke bawah bersamaan dengan Brian menyarungkan pedangnya dengan agak perlahan.


Tidak jauh dari lokasi Brian bertarung, tampak Kelvin melancarkan pukulan dan tendangan pada jawara lawannya yang sudah kepayahan secara beruntun.


Sang jawara, sambil mengaduh-aduh, tubuhnya terjajar ke belakang beberapa langkah. Sedangkan Kelvin terus mengejarnya dengan cepat sambil mengayunkan telapak tangan kanannya yang memerah bagai bara.


Begitu sudah dalam jangkauan serangan telapak tangan yang berisi tenaga sakti itu langsung menghantam dada si jawara dengan telak dan keras. Hingga membuat jawara itu terlempar ke belakang sambil menjerit setinggi langit.


Selagi di udara sekujur tubuhnya seketika memerah bagai bara dan megeluarkan hawa panas. Begitu tubuhnya menghantam pohon, seketika hancur berkeping-keping.


Sementara di sebuah sudut di lokasi pertempuran tampak seorang gadis jawara Istana Centauri memainkan dengan lincah sepasang pedang pendeknya mencecar jawara istana yang sudah kepayahan.


Sedangkan di beberapa tempat di tubuh jawara istana itu sudah terdapat luka sayatan pedang cukup panjang dan agak lebar.


Untuk kesekian kalinya si gadis berpakaian kelabu muda itu mengayunkan pedang di kanannya menyerang lawan. Tapi dengan kesusahan lawan masih menangkis.


Namun hampir bersamaan pedang di tangan kiri mengayun menebas tangan kanan lawan yang tak bisa dihindari atau ditangkis. Hingga tangan itu putus dan pemiliknya menjerit sejadi-jadinya.


Pedang di tangan kanan si gadis berbaju kelabu kembali terayun ke bawah, lalu menebas mendatar. Dan tahu-tahu perut lawan robek besar. Dan kembali si lawan menjerit.


Hampir bersamaan pedang di tangan kiri si gadis seketika menusuk leher jawara malang itu hingga tembus. Dan tentu saja dia menjerit yang berubah mengerikan.


Tak lama si gadis menarik pedang pendeknya dari leher lawan, jawara itu langsung tumbang.


★☆★☆


Belum lama si gadis berbaju kelabu menumbangkan lawannya, menyusul lagi 4 jawara istana ditumbangkan oleh 2 jawara Istana Centauri dan jawara Markas Centaurus.


Bersisa seorang jawara lawan Pangeran Revan. Namun lawannya itu tampak sudah kepayahan juga terkena serangan bertubi-tubi dari Pangeran Revan.


Sejak awal bertarung Pangeran Revan tidak menggunakan senjata apapun. Karena memang dia tampak seperti tidak memiliki senjata pedang atau apalah. Sementara senjata lawan yang berupa tombak sudah dihancurkan.


Tampak sang jawara terjajar ke belakang akibat terkena tendangan beruntun dari Pangeran Revan. Kemudian Pangeran Revan terus mengejarnya dengan cepat. Lalu kedua telapak tangannya yang berisi tenaga sakti menghantam dengan keras dada jawara malang itu.


Bughk! Bughk!


"Aaakh...!!!"


Kontan saja jawara itu terlontar deras ke belakang sambil menjerit keras. Namun seketika tubuhnya kaku laksana patung berwarna perak. Lalu seketika hancur berkeping-keping tanpa tersentuh apapun.


Dengan binasanya lawan Pangeran Revan, berarti habis sudah pasukan istana secara keseluruhan. Tak ada yang masih hidup barang seorang pun, semuanya terkapar jadi mayat di hutan ini.


Tidak lama kemudian, seluruh pasukan Pangeran Revan meninggalkan tempat yang mengerikan itu, kembali ke Kampung Naraya.


Tinggallah tempat itu menjadi sunyi kembali. Tidak ada lagi teriakan-teriakan pertempuran. Tidak ada lagi suara goresan pedang yang merobek kulit. Tidak ada lagi suara jeritan-jeritan yang menyayat hati. Tak ada lagi suara denting logam yang saling beradu.


Semuanya telah telah sirna.


Namun kengerian masih tetap mendekam di tempat itu. Mayat-mayat bergelimpangan di segala arah. Darah-darah segar masih basah sehingga membuat tempat itu becek.


Angin tampak berhembus menghantar aroma darah yang sungguh memualkan.


Untuk sementara waktu daerah utara dikatakan aman. Sehingga para penduduk yang mengungsi dibolehkan pulang ke rumah masing-masing.


Namun penjagaan tetap dilakukan secara ketat. Kini areal penjagaan mereka hingga di sekitar batas Kampung Caraya.


Sementara kini, seluruh penduduk 4 kampung itu telah percaya akan penjagaan dan pertolongan pasukan Pangeran Revan. Dan mempercayakan keamanan kampung kepada mereka secara utuh.


Adapun Pangeran Revan dan rekan-rekannya terus saja berunding membicarakan tentang langkah-langkah selanjutnya. Karena masalah ini akan berkepanjangan.


Sedangkan memantau keadaan kotaraja tetap dipercayakan kepada Hendry. Dia sudah dikirim oleh Pangeran Revan sebelum perang di 3 kampung.


Sedangkan para petinggi Istana dan seluruh pasukannya untuk sementara kembali ke Istana Centauri. Juga guna membicarakan langkah-langkah selanjutnya di hadapan para petinggi Istana Centauri yang lain.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2