Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 153 PEMAAFAN


__ADS_3

Wajah-wajah pasrah 10 Guru Besar masih tertunduk dalam. Tertunduk penuh penyesalan atas dosa dan kesalahan yang mereka perbuat. Pasrah akan hukuman yang diberikan oleh Selir Heliana.


Sementara ruangan balairung istana langsung disergap sepi. Wajah orang-orang yang ada di situ begitu tegang. Sepasang mata mereka masing-masing menyorotkan berbagai ekspresi dalam menyaksikan pelaksanaan hukuman terhadap 10 Guru Besar itu.


"Bersiaplah!"


Hati mereka terkejut mendengar seruan bernada perintah dari Yang Mulia Ratu. Saking tegangnya suasana yang mereka hadapi sekarang.


Sedangkan 10 Guru Besar itu berusaha tetap tenang mendengar seruan itu. Gagang pedang di tangan kanan making kencang dipegang. Mata pedang makin ditekan ke kulit leher mereka masing-masing.


"Laksanakan...!" titah Yang Mulia Ratu akhirnya dengan suara agak keras, tapi sukses mengejutkan kembali sebagian penghuni ruangan balairung istana itu.


10 Guru Besar memejamkan mata rapat-rapat. Lalu tangan kanan masing-masing yang menggenggam gagang pedang ditarik dengan kuat dan kencang. Namun belum juga mata pedang sempat menggorok leher....


Praaasss!


Craaang...!


Seketika saja 10 batang pedang di leher 10 Guru Besar secara bersamaan langsung hancur berantakan menjadi potongan-potongan kecil. Lalu potongan-potongan pedang yang hancur itu meluruh jatuh ke lantai marmer di dekat lutut 10 Guru Besar.


Seketika saja peristiwa itu membuat seluruh penghuni ruangan balairung istana benar-benar terkejut bukan main. Suasana yang tadi masih tegang, kini bertambah tegang.


Tampak sepasang mata mereka membelalak kaget atas peristiwa aneh yang mereka saksikan itu. Benar-benar sukar dipercaya.


Kalau Selir Heliana dan ketiga anaknya beserta orang-orang yang ada di panggung singgasana cuma terkejut saja menyaksikan peristiwa aneh itu.


Sedangkan Yang Mulia Ratu mengalami 2 keterkejutan sekaligus. Terkejut karena peristiwa itu terjadi secara aneh. Dan terkejut karena senang 10 pedang yang tiba-tiba hancur itu tidak jadi menggorok leher 10 Guru Besar.


Setidaknya untuk sementara waktu pelaksanaan hukuman 10 Guru Besar tertunda atas peristiwa ini. Dia yakin setelah ini bakal ada kejadian yang lebih mengejutkan lagi.


Semoga saja peristiwa yang akan terjadi setelahnya itu menjadi sebab batalnya hukuman 10 orang tua itu.


Biar bagaimanapun besarnya dosa akibat perbuatan mereka di masa lalu, tapi mereka sudah benar-benar bertobat. Dan mereka telah memberikan sumbangsih besar terhadap kekokohan kekuatan pasukan yang akan melawan kekuatan yang ada pada Bunda Suri Hellen.


Sementara 10 Guru Besar itu lebih terkejut lagi. Pedang yang sedianya menggorok leher mereka sendiri tiba-tiba hancur menjadi potongan-potongan kecil. Sungguh sukar dipercaya. Sampai-sampai mereka saling berpandangan dengan ekspresi kaget dan rasa tidak mengerti.


Apakah yang terjadi sebenarnya?


Ekor mata indah Ratu Agung Aurellia yang masih menatap 10 Guru Besar yang tampak kebingungan tanpa sengaja menangkap adanya gerakan di ujung jalan yang menuju ke depan panggung singgasana ini.


Begitu Ratu Aurellia melihat lebih jelas ke arah yang dilihat oleh ekor matanya itu, maka tampak jelas olehnya seorang pemuda berpakaian panjang warna biru tengah melangkah ringan menuju ke depan panggung singgasana.


Senyum manis terkembang begitu tahu siapa pemuda yang datang itu.


"Kanda...."

__ADS_1


"Kanda Dhafin...."


Hampir bersamaan Kayshila dan Ariesha mendesah pelan menyebut nama itu dengan nada gembira. Ternyata mereka juga telah melihat kedatangan pemuda itu.


★☆★☆


Seorang pemuda tampan yang teryata memang Dhafin terus melangkah menuju depan panggung singgasana. Langkahnya begitu ringan tapi mantap.


Semua orang yang ada di ruangan balairung istana terus memandangnya tanpa berkedip. Tidak terkecuali Pangeran Nelson, istrinya serta kedua adiknya. Tampak mereka tersenyum seolah menyambut kedatangan pemuda tersebut.


Sedangkan Selir Heliana juga tampak tersenyum kecil saat melihat kedatangan Dhafin. Menandakan kegembiraan hatinya.


Dia yakin Dhafin-lah yang telah menghancurkan semua pedang yang tadi hampir menggorok leher 10 Guru Besar itu. Meskipun dia tidak tahu bagaimana cara pemuda itu melakukannya.


Sementara 10 Guru Besar, menyaksikan orang-orang yang ada di atas panggung memandang ke arah belakang mereka, maka mereka lantas menengok ke belakang. Dan mereka langsung melihat seorang pemuda berpakaian biru yang sudah dekat dengan mereka.


Mereka tahu pemuda itu adalah Dhafin karena sudah bertemu di Kota Nehan sebelum ke sini. Tapi mereka belum mengenalnya lebih jauh karena pertemuan mereka dengan amat singkat.


Tapi mereka kuat menduga kalau Dhafin-lah yang telah menghancurkan pedang yang sedianya untuk menggorok leher mereka.


Sementara itu Dhafin terus saja melangkah tanpa henti. Begitu telah berada dekat dengan 10 Guru Besar itu, dia segera menjurah hormat kepada mereka.


Terus melangkah lagi tanpa menunggu balasan dari 10 Guru Besar itu hingga dia berhenti 3 tombak di depan panggung. Lalu berlutut menyembah hormat kepada Ratu Aurellia, terus berkata.


"Keselamatan dan kesejahteraan terlimpah kepada Yang Mulia Ratu...."


"Siapa yang menggantikanmu menjaga Kota Nehan, Kak?"


"Brian, Aziel, Gibson, dan Keenan serta beberapa jawara istana, Yang Mulia," sahut Dhafin penuh hormat.


Sejak tadi Ratu Aurellia memang tidak melihat Brian dan Keenan. Tak tahunya mereka pergi ke Kota Nehan. Entah Dhafin yang ke sini dahulu atau mereka berdua langsung ke sana dia tidak mau memusingkan.


Dia harus konsentrasi dulu pada kasus ini yang belum rampung karena 10 Guru Besar telah digagalkan pelaksanaan hukumannya.


Baru saja dia hendak bertanya apakah masud kedatangan Dhafin bertujuan untuk menggagalkan hukuman mati 10 Guru Besar, Selir Heliana bertanya duluan bernada begitu lembut tapi penuh bijak.


"Apakah kamu yang menggagalkan pelaksanaan hukuman mati, Nak Dhafin?"


"Maafkan atas kelancangan hamba, Yang Mulia Selir," sahut Dhafin penuh hormat dan santun.


Sikapnya pun tetap tenang hingga mendapat pujian dalam hati dari 10 Guru Besar. Dan tak lama seketika mereka seakan baru tersadar kalau wajah Dhafin mirip dengan mendiang Pangeran Ghazam.


"Kenapa kamu melakukan hal itu, Nak Dhafin?" tanya Selir Heliana ingin tahu alasan Dhafin berbuat demikian.


"Mereka termasuk orang-orang terhebat di antara barisan kita, Yang Mulia," sahut Dhafin menjelaskan. "Jika mereka mati, maka berkurang pula kekuatan yang ada pada kita."

__ADS_1


"Sementara kita belum begitu tahu seberapa besar kekuatan musuh-musuh kita," lanjutnya.


"Aku rasa kekuatan yang kita miliki sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan Selir Hellen, Dhafin," kata Pangeran Nelson seakan mengadu argumen. "Belum lagi orang-orang kependekaran yang mau bergabung dengan perjuangan kita."


"Musuh kita bukan cuma Selir Hellen di Kerajaan Bentala, Yang Mulia Pangeran," kata Dhafin seakan mengingatkan. "Kita masih punya 2 musuh besar; Putri Rayna di Kerajaan Amerta dan Raja Bastian di Kerajaan Lengkara."


Pangeran Nelson mengangguk-angguk pelan mendengar penjelasan Dhafin yang logis itu. Dia memuji kecerdasan berpikir dan berbicara pemuda itu.


★☆★☆


"Tapi 10 orang itu pernah berkhianat kepada Yang Mulia Raja Neshfal," kata Selir Heliana yang masih memikirkan dosa 10 Guru Besar itu di masa lalu. "Mereka ikut andil membantu Selir Hellen yang menggulingkan kekuasaan Yang Mulia Raja Neshfal...."


"Bahkan andil mereka cukup besar," lanjutnya.


Saat Selir Heliana kembali menyinggung soal pengkhianatan 10 Guru Besar itu kembali menundukkan kepala penuh penyesalan. Sebenarnya mereka sudah rela dihukum mati. Berharap dosa mereka benar-benar diampuni.


"Itu dulu, Yang Mulia," kata Dhafin masih menyanggah. "Sekarang mereka sudah bertobat. Dan berhasil membina sekitar 20000 lebih pasukan yang sekarang sudah bergabung dengan kita."


Selir Heliana terdiam sejenak seakan tengah memikirkan semua apa yang dikatakan Dhafin. Dan dia harus akui kalau perkataan Dhafin itu adalah benar. Mereka sudah bertobat. Bahkan mereka rela untuk mati demi menebus kesalahan mereka.


Akan tetapi kalau dia memaafkan kesalahan mereka....


"Tapi kalau aku memaafkan kesalahan mereka," kata Selir Heliana bernada pilu, "bagaimana nantinya aku mempertanggung jawabkan perbuatanku itu di hadapan suamiku kalau aku menyusulnya kelak."


"Segala peristiwa yang terjadi di masa lalu merupakan rentetan takdir yang sudah digariskan oleh Penguasa Langit, Yang Mulia," kata Dhafin bernada bijak.


"Dan segala apa yang diperbuat oleh manusia," lanjutnya, "dia sendiri yang akan menanggung akibatnya. Kita tidak punya tanggung jawab sedikitpun terhadap apa yang dilakukannya."


"Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana kita berlapang dada menerima semua takdir yang telah terjadi. Dan berusaha sekuat tenaga memaafkan semua kesalahan."


"Hamba yakin jika Yang Mulia Selir memaafkan, mendiang Yang Mulia Raja Neshfal pasti akan menerima keputusan Yang Mulia tersebut. Karena memaafkan merupakan perbuatan yang mulia."


"Hamba tidak terlalu mengenal Yang Mulia Raja Neshfal," kata Dhafin panjang lebar. "Yang lebih mengenalnya adalah Yang Mulia Selir sendiri...."


"Tapi satu hal yang bisa hamba pahami dari Yang Mulia Raja Neshfal adalah beliau pasti sudah punya firasat kalau bakal terjadi penggulingan kekuasaannya. Dan tahu benar siap-siap saja yang akan berkhianat kepadanya...."


"Tapi coba kita cermati apa yang beliau lakukan disaat beliau tahu adanya orang-orang yang berkhianat di dekatnya...."


"Beliau membiarkan alur takdir terjadi sebagaimana terjadi, merelakan dirinya sebagai tumbal takdir. Demi satu hikmah mulia yang akan dilakukan oleh orang-orang setelahnya...."


"Apakah Yang Mulia Selir tahu hikmah mulia apa yang dimaukan oleh mendiang Yang Mulia Raja Neshfal?" tanya Dhafin kepada Selir Heliana.


"Pemaafan?"


"Tepat, Yang Mulia, pemaafan. Bagaimana orang-orang setelah beliau bisa memaafkan kesalahan orang-orang yang pernah berkhianat kepadanya...."

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2