Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 183 PENYERANGAN PERGURUAN TAPAK SAKTI Part. 3


__ADS_3

Siang itu begitu cerah, langit nyaris tanpa awan menggantung.


Sementara matahari bersinar begitu terik seakan hendak memanggang seantero mayapada. Membuat orang-orang lebih tahan di bawah naungan atau di tempat masing-masing.


Namun pertempuran di markas Perguruan Tapak Sakti seolah tidak menghiraukan cuaca panas, terus saja berlangsung tanpa jeda walau sedikit. Seakan-akan cuaca panas menjadi energi penyemangat tempur bagi mereka.


Pertempuran terus saja berlangsung semakin sengit. Semakin terlihat jelas kalau Pasukan Gabungan Istana Centauri lebih unggul daripada murid-murid perguruan. Baik dari segi kehebatan, jumlah maupun taktik.


Sehingga murid-murid Perguruan Tapak Sakti terus saja bertumbangan satu demi satu seakan tidak mau berhenti. Darah-darah segar semakin banyak mengucur membasahi bumi markas perguruan.


Sementara itu, ketika pertempuran tengah berlangsung, 8 wanita cantik ahli sihir Istana Centauri tengah melakukan sebuah ritual di atas wuwungan di 4 bangunan asrama perguruan yang masih tersegel oleh mantra ghaib.


Yang mana masing-masing 2 orang di antara mereka menempati 1 bangunan di tiap bangunan asrama.


Tampak 8 penyihir cantik itu duduk di atas wuwungan saling berhadapan dengan rekannya berjarak cukup berjauhan.


Kedua telapak tangan mereka melakukan gerakan tertentu dan aneh di depan dada. Tidak lama kedua telapak tangan mereka telah terbungkus kabut cahaya bening berwarna kuning. Kabut bening itu berhawa dingin lembut dan menyejukkan.


Kemudian 8 penyair cantik itu menurunkan kedua telapak tangan mereka perlahan-lahan ke depan agak ke samping kiri kanan, sementara telapak tangan mereka menghadap ke bawah.


Begitu kedua telapak tangan mereka sudah sejajar dengan duduk mereka, kedua telapak tangan itu berhenti. Lalu tak lama, keluar dari situ kabut bening bercahaya kuning dan langsung merambat cukup cepat ke seantero atap bangunan asrama.


Begitu kabut bening sudah rata membungkus atap bangunan, secara ajaib kabut bening berhawa sejuk itu merasuk ke dalam atap. Dan kabut bening itu terus turun tanpa hambatan, menembus langit-langit ruangan.


Kabut bening itu terus saja bergerak cukup cepat merasuk ke dalam kepala semua murid perguruan yang terkurung di dalam bangunan tanpa ada yang terlewatkan.


Murid-murid perguruan yang ada di lantai 3 itu, selagi mereka masih bingung karena terkurung, begitu kabut bening merasuk ke dalam kepala mereka, tidak lama mereka langsung pusing, lalu ambruk tidak sadarkan diri.


Sementara kabut bening berhawa sejuk itu terus bergerak merasuk ke dalam bangunan asrama tingkat ke 2hingga ke tingkat dasar.


Dan tidak ada satu pun murid-murid perguruan yang terkurung dalam asrama perguruan melainkan terasuki kabut bening berhawa sejuk itu.


Dan belum lama mereka merasakan pusing, kejap berikut mereka ambruk hampir bersamaan dengan tidak sadarkan diri.


★☆★☆


Sementara itu, pertempuran masih saja terus berlangsung. Namun murid-murid perguruan yang masih hidup tersisa sedikit. Itupun tinggal menunggu waktunya saja mereka akan binasa semuanya.


Sementara 20 Guru Pendamping sudah didesak hebat oleh ksatria-ksatria elit Istana Centauri.


Brian yang kalau bertarung hampir tidak pernah lepas dengan pedang, terus mengayunkan pedangnya dengan kuat dan cepat menghantam tombak lawannya yang terbuat dari besi.


Pemuda berbusana serba hitam itu melenting ke udara sambil mengangkat pedangnya ke atas. Lalu dengan cepat dan kuat pedang bermata tunggal itu di ayunkan hendak membelah pundak sebelah kanan lawannya.


Namun sang lawan yang sudah kepayahan dengan nekad mengangkat batang tombaknya ke atas menahan laju pedang Brian. Akibatnya batang tombaknya langsung putus. Sedangkan pedang Brian terus meluncur turun.


Namun sang lawan tidak pasrah begitu saja. Dia berusaha mundur ke belakang walau dengan susah payah. Akan tetapi ujung pedang Brian masih dapat mengenainya.


Bahkan ujung pedang itu merobek dalam dada kanan sampai ke rusuk kiri. Hingga tulang dada dan rusuknya putus, saking kuatnya tenaga dalam Brian dalam menebaskan pedangnya itu.


Terang saja Guru Pendamping itu menjerit keras. Tapi jeritannya tidak berlangsung lama, karena Brian kembali mengayunkan pedangnya dengan cepat menebas leher sang lawan hingga putus.


Beberapa helaan napas Guru Pendamping itu terdiam. Tak lama tubuhnya ambruk dengan kepala menggelinding tak jauh di dekatnya.


Hampir bersamaan beberapa ksatria elit Istana Centauri juga telah mengakhiri pertarungan mereka.


Zafer berputar bagai kitiran sambil melayangkan pedangnya. Putaran pertama dan ke 2 ujung pedangnya merobek perut berikut dada Guru Pendamping. Lalu putaran terakhir unjung pedangnya menggorok leher hingga hampir putus.


Si Guru Pendamping itu hanya bisa menjerit menerima kemalangannya. Lalu ambruk dengan nyawa melayang.


Sedikit jauh sebelah kiri Pangeran Revan mengayunkan Pedang Naga Langit-nya menghantam dengan kuat dan keras pedang lawannya hingga hancur patah-patah. Membuat lawannya memekik tertahan.


Kemudian pedang bersinar merah menyala itu terangkat ke atas. Lalu mengayun dengan cepat ke bawah dengan menyilang menebas pundak kiri lawannya hingga ke pinggang kanan.


Layaknya Pangeran Revan seperti menebas batang pisang hingga putus.

__ADS_1


Sang lawan cuma sempat menjerit tertahan. Lalu tubuh bagian atasnya meluncur jatuh, terus menyusul tubuh bagian bawahnya rebah ke belakang.


Darah-darah segar kembali mengucur dengan deras, makin menggenangi areal pertempuran. Bau anyir darah semakin santer menyebar ke segala arah, membuat perut hendak mengeluarkan semua isinya.


Kini murid-murid Perguruan Tapak Sakti tidak ada lagi yang tegak di atas bumi. Semua sudah terkapar bergelimpangan tak tentu arah dengan masih bermandikan darah.


Sedangkan beberapa Guru Pendamping yang masih bertahan hidup tinggal menunggu waktu saja nyawa mereka melayang. Sementara mereka sudah amat kepayahan.


Sementara pertarungan antara Pangeran Pusat melawan Tapak Maut masih terus berlangsung dan semakin seru. Sedangkan masing-masing mereka belum ditahu kalah menangnya karena masih berimbang.


★☆★☆


Tampak Kelvin melancarkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi kepada lawannya. Dan tendangan terakhir dengan telak menyodok dada lawannya. Sehingga sang lawan terlempar cukup jauh seraya menjerit tertahan.


Begitu jatuh ke tanah berdebu menimbulkan bunyi yang gedebuk.


Beberapa saat lamanya Guru Pendamping itu terdiam. Sedangkan pedangnya masih tergenggam di tangan kanannya.


Sementara Kelvin tidak melancarkan serangan lagi. Pemuda urakan itu berdiri di tempatnya sambil menatap lawannya yang masih terbaring. Dia tahu lawannya masih hidup meski sudah kepayahan.


"Hei, bangun!" seru Kelvin dengan tingkah jenakanya. "Aku tahu kamu belum mati. Sekarang kamu bangun dan lawan aku! Aku tidak akan melawan lagi. Bangun!"


Tampak lelaki setengah baya itu bergerak bangun. Bukan karena mendengar ocehan Kelvin, tapi memang saatnya dia bangun.


Perlahan meski dengan susah payah lelaki itu bangkit berdiri dengan dibantu oleh pedangnya. Begitu sudah berdiri di atas kakinya tubuhnya tampak sempoyongan.


Tapi dia tidak perduli. Pandangannya yang telah nanar menatap Kelvin dengan penuh amarah.


"Ayo! Jangan bengong di situ!" tegur Kelvin dengan lagak konyolnya. "Serang aku! Aku tidak akan melawan lagi. Tenang saja."


"Phuih!"


Lelaki itu langsung menyemburkan ludahnya yang bercampur darah dengan geram.


Kemudian, setelah mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, dia melesat menyerang Kelvin seraya mengangsurkan pedangnya ke depan dengan mode menusuk. Sasarannya adalah organ mematikan, yaitu jantung.


Tak lama serangan si lelaki sampai ke sasaran yang tepat. Ujung pedangnya telah menusuk dada kiri Kelvin dengan kuat. Tapi ujung pedang itu malah tidak tembus dan Kelvin tidak menjerit. Tapi malah....


"Hugk!"


Lelaki itu malah yang mengeluh tertahan sambil memelototkan matanya. Tampak dada kirinya dan belakang punggungnya berlubang seperti tertusuk pedang hingga mengeluarkan darah.


Beberapa helaan napas lelaki itu masih berdiri mematung sambil terus bermode menusukkan pedangnya ke dada Kelvin. Kemudian dia ambruk dengan nyawa melayang.


"Cih! Baru sekali tusuk saja kamu sudah mati!" omel Kelvin dengan gaya konyolnya. "Payah kamu!"


Sementara yang terjadi pada Keenan tidak kalah anehnya dengan Kelvin. Pedang lawannya jelas-jelas menebas batang lehernya hingga tembus dari leher kiri hingga leher kanan. Bahkan tak lama sekujur tubuhnya langsung hancur menjadi pernik-pernik kecil.


Sedangkan sang lawan antara merasa senang dengan merasa heran. Dia senang lawannya sudah mati, tapi cara matinya tidak sesuai yang ada di benaknya.


Tapi selagi Guru Pendamping itu bengong di tempatnya, tahu-tahu Keenan seketika muncul di belakangnya. Dan belum juga sang lawan menyadari, kedua telapak tangan Keenan yang sudah berisi tenaga sakti berhawa dingin langsung menghantam punggung sang lawan.


Demikian keras dan kuatnya hantaman kedua telapak tangan Keenan, membuat sang lawan yang adalah wanita paro baya langsung terlontar ke depan sambil menjerit.


Selagi masih melayang di udara seketika sekujur tubuhnya langsung membeku menjadi es batu. Begitu jatuh ke tanah langsung hancur berantakan.


★☆★☆


Tidak ada lagi pertempuran yang berlangsung di markas Perguruan Tapak Sakti kecuali pertarungan antara Tapak Maut melawan Pangeran Pusat.


Entah sudah berapa jurus yang mereka kerahkan, belum juga ada yang ketahuan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Seolah-olah masing-masing mereka amat susah menumbangkan lawannya.


Apakah seperti itu?


Ternyata tidak. Dari awal pertarungan hingga sekarang Dhafin lebih banyak menangkis dan menghindari serangan. Hampir tidak pernah balas menyerang.

__ADS_1


Namun siapa sangka itu cuma permainan Dhafin saja. Dan dia membuat sedemikian rupa agar Tapak Maut tidak tahu. Dan memang benar lelaki 60-an tahun itu tak tahu.


Tujuan Dhafin sebenarnya mengulur waktu agar rekan-rekannya membereskan dulu semua murid perguruan berikut guru mereka.


Begitu pekerjaan rekan-rekannya telah beres, dia langsung memutar haluan. Dengan seketika Dhafin langsung membalas serangan.


Tentu saja perubahan yang mendadak itu amat mengejutkan si Tapak Maut. Karena keterkejutannya itu dia sempat lalai sedikit. Tapi cukup fatal akibatnya.


Tapak Maut terus melancarkan serangan tanpa henti. Seperti tidak menghiraukan sebagian areal pertahanannya terbuka.


Dhafin menangkis pukulan dan tendangan Tapak Maut yang datang beruntun. Begitu pukulan terkahir berupa hantaman telapak tangan kanan mengarah ke dada, Dhafin tidak menangkis yang biasanya menangkis.


Dengan cepat dia melenting ke udara sebelum serangan Tapak Maut datang. Sambil melenting kaki kanannya melayang hendak menendang kepala Tapak Maut. Sedangkan kaki kirinya lurus ke belakang.


Tentu saja serangan yang tak terduga itu membuat Tapak Maut terkejut bukan main. Amat sulit untuk membatalkan serangan dan menangkisnya. Karena serangannya itu begitu keras melaju ke depan.


Akhirnya tendangan melayang kaki kanan Dhafin mampir di kepala Tapak Maut dengan cukup keras. Membuat kepalanya miring ke kiri berikut badannya.


Sehingga Tapak Maut sedikit sempoyongan ke kiri satu langkah sambil mengeluh tertahan.


Begitu kedua kaki Dhafin telah mendarat kembali di tanah, dengan cepat dia memutar tubuhnya sambil melenting sedikit. Sedangkan kaki kirinya menyodok lurus ke lambung Tapak Maut.


Sementara Tapak Maut yang baru saja sempoyongan dan belum sempat mengatur keadaan kepalanya yang sedikit pusing dan cukup sakit, jelas tak sempat lagi menghindari tendangan yang keras itu.


Dughk!


"Akh...!"


Demikian keras tendangan itu menyodok lambungnya, membuat Tapak Maut terdorong ke belakang 4 langkah sambil mengeluh tertahan.


Tapi Dhafin tidak berhenti sampai di situ. Dikejarnya Tapak Maut sambil melancarkan tendangan dan pukulan beruntun ke tubuh dan kepala si Tapak Maut.


Akan tetapi cuma 4 serangan yang berhasil ditangkis oleh Tapak Maut. Sebuah serangan berupa hantaman telapak tangan kanan Dhafin tidak berhasil dia tangkis.


Bughk!


"Aaakh...!"


Telapak tangan kanan yang dilambari kesaktian berhawa amat dingin itu dengan telak dan keras menghantam dada Tapak Maut. Membuatnya terlempar ke belakang cukup jauh sambil menjerit cukup keras.


Empat tombak Tapak Maut terlempar ke belakang, lalu jatuh ke tanah dengan menimbulkan bunyi gedebuk.


Kalau bukan Tapak Maut, tentu sekujur tubuhnya sudah berubah menjadi es batu. Namun tak urung sekujur tubuhnya langsung kaku tak bisa digerakkan untuk beberapa saat lamanya.


Maka dengan segera dia mengerahkan hawa panas ke sekujur tubuhnya untuk mengusir hawa amat dingin yang membuat tubuhnya kaku.


Tapi Dhafin tidak membiarkan Tapak Maut cepat pulih. Dia segera melenting ke ke udara cukup tinggi. Lalu menukik ke ke bawah dengan kaki kanan menuju ke dada Tapak Maut.


Sedangkan Tapak Maut yang masih sibuk memulihkan kondisi, jelas tidak sempat menghindari serangan. Sehingga....


Kraaak...!


"Aaa...!"


Telapak kaki kanan Dhafin dengan telak menghujam ke dada Tapak Maut hingga dadanya remuk dan melesak masuk. Mulutnya menganga lebar memuntahkan darah kental sambil menjerit setinggi langit. Sementara kedua matanya melotot liar.


Belum lama Dhafin melompat turun dari atas tubuh Tapak Maut, Guru Kepala Perguruan Tapak Sakti langsung menghembuskan napasnya yang terakhir.


Dengan demikian tamat sudah riwayat Perguruan Tapak Sakti di hari menjelang sore itu.


Sementara murid-murid perguruan yang berhasil diamankan oleh Pasukan Istana Centauri, segera di bawa ke Istana Centauri setelah matra segelnya dibuka. Bahkan 6 bangunan asrama perguruan ikut dibawa sekalian.


Pemindahan bangunan semacam itu tidak terlalu sulit bagi para ahli sihir Istana Centauri yang sudah menguasai ilmu Ghaib.


Markas Centaurus saja yang lebih luas dari Perguruan Tapak Sakti berhasil mereka pindahkan.

__ADS_1


Pengambilan bangunan perguruan itu memang sudah direncanakan. Karena bangunan asrama itu cukup bagus. Sayang kalau harus dimusnahkan.


★☆★☆★


__ADS_2