Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 217 WILSON VERSUS ARSENIO


__ADS_3

Traaangngng...!


Traaangngng...!


Traaangngng...!


Denting suara-suara senjata logam saling beradu, disertai percikan bunga-bunga api yang memercik ke udara menyemaraki suasana yang masih tergolong pagi ini.


Tampak 2 orang ksatria elit, Wilson dan Arsenio saling bertarung, saling menghantamkan senjata pedang masing-masing dengan kuat, saling menangkis serangan.


Pertarungan yang terjadi antara mereka merupakan pertarungan yang begitu dahsyat, sengit, dan seru. Jurus-jurus pedang yang masing-masing mereka kerahkan adalah jurus-jurus pedang yang hebat. Mereka memainkan jurus-jurus itu dengan begitu lincah dan cepat.


Sementara ritme pertarungan berlangsung dengan begitu cepat. Orang biasa susah untuk mengikuti jalannya pertarungan mereka karena saking cepatnya.


Sementara itu Tim Brian lainnya berada cukup jauh di luar arena pertarungan. Mereka masih setia menyaksikan jalannya pertarungan.


Sebagian di antara mereka ada yang saling berbincang. Sepertinya tengah memperbincangkan tentang jalannya pertarungan.


"Menurutmu apa Wilson dapat mengalahkan Arsenio, Keenan?" tanya Kelvin bernada pelan.


"Aku belum bisa menentukan siapa yang bakalan menang," sahut Keenan tak lepas menyaksikan pertarungan. "Keduanya sama-sama hebat. Lagipula pertarungan belum berlangsung lama."


Setelah itu Kelvin menyikut pelan Aziel yang ada di samping kirinya. Sikutan itu sebagai isyarat kalau dia bertanya dengan pertanyaan yang sama kepada Aziel.


"Siapa yang bertarung dengan tenang dan tidak dikuasai oleh amarah," kata Aziel mengetahui isyarat Kelvin, "dialah yang bakalan menang."


Perkataan Aziel itu memang benar. Baik Wilson maupun Arsenio mempunyai kehebatan yang bisa dikatakan seimbang.


Wilson termasuk jajaran ksatria elit Istana Centauri yang handal. Dan dia termasuk ksatria pilihan di antara para ksatria elit lainnya. Apalagi dia termasuk andalan Raja Revan dalam pertempuran.


Begitu halnya pula dengan Arsenio, termasuk ksatria elit Ketua Anthoniel. Kehebatannya dalam ilmu bela diri dan kesaktian sudah tidak diragukan lagi.


Hanya saja saat ini Arsenio telah dikuasai oleh dendam dan amarah terhadap Wilson. Dia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengalahkan Wilson.


Dia ingin menyingkirkan pemuda itu dari kehidupan Sheila selamanya.


Makanya tidak heran kalau setiap serangan yang dilancarkannya mengandung kematian. Sepertinya dia hendak melenyapkan Wilson dari muka bumi.


Namun Wilson menghadapi semua serangan Arsenio dengan tenang. Dia tidak terburu-buru menjatuhkan Arsenio. Bukan berarti dia tidak meningkatkan kehebatan dalam menghadapi Arsenio.


Di samping itu pula tidak ada niat dalam dirinya hendak membunuh Arsenio. Dia hanya berniat mengalahkannya.


Sedangkan Jarrel jelas khawatir terhadap model bertarung Arsenio yang ganas itu. Dia bisa membaca kalau Arsenio hendak membunuh Wilson.


Makanya dia mengusulkan kepada Brian agar pertarungan segera dihentikan saja. Takutnya Arsenio benar-benar melampaui batas.


Tapi Brian membujuk Jarrel agar tetap tenang, jangan terlalu khawatir yang berlebihan. Dan terus meyakinkan kalau Arsenio tidak bakalan membunuh Wilson.


Semetara Andro dan Pedang Emas juga terlibat perbincangan mengenai gaya bertarung Arsenio yang beringas.


"Gila anak itu!" gerutu Andro bernada mengeluh. "Sepertinya dia hendak membunuh Wilson."


"Kamu tenang saja," kata Pedang Emas sambil tersenyum, "hal itu tidak bakalan terjadi. Sebentar lagi pengecut itu akan tumbang."


Semoga saja...."

__ADS_1


Sementara 3 ksatria elit lainnya juga berbincang-bincang di antara mereka. Dan perbincangan mereka tak lepas dari kecaman atas tindakan yang dilakukan Arsenio yang terlalu melampaui batas.


★☆★☆


Pertarungan sengit antara Wilson melawan Arsenio masih saja terus berlangsung, bahkan makin seru. Tanpa terasa pertarungan mereka sudah berlangsung selama lebih dari 4x penanakan nasi.


Namun perkataan Aziel sepertinya sebentar lagi akan segera terbukti. Siapa yang bertarung dengan tenang dan tidak dikuasai amarah, dialah yang bakalan menang.


Arsenio terlalu bernafsu ingin menjatuhkan Wilson dengan cepat. Setiap serangan yang dilancarkan mengandung dendam dan amarah.


Artinya dia bertarung dikuasai oleh hawa nafsu. Kurang memperhitungkan pertahanan diri, dan tidak terlalu teliti membaca setiap serangan dan perubahan serangan Wilson.


Sedangkan Wilson, meski cukup lama, sekarang dia sudah bisa membaca pola serangan Arsenio. Dan selalu berhasil mementahkan setiap serangan Arsenio.


Hal yang membantu Arsenio tidak cepat-cepat tumbang karena dia mempunyai kehebatan yang tinggi. Juga Wilson tidak bernafsu untuk membunuhnya.


Namun sepertinya sekarang Wilson tidak mau menunggu lebih lama lagi menyudahi pertarungan. Maka dia segera meningkatkan kehebatannya, merubah jurus, serta merubah pola serangan.


Hasilnya, Arsenio tidak lama kemudian sudah mulai keteteran. Semua serangannya lambat laun menurun keganasannya.


Walaupun dia masih banyak melakukan serangan, tapi sekarang semua serangannya mentah. Bahkan sekarang hampir sering menangkis serangan Wilson. Bahkan beberapa kali hampir dia kecolongan.


Tentu saja hal itu membuatnya amat kesal. Hingga saat dia belum berhasil menjatuhkan Wilson, malah dia sedikit demi sedikit didesak oleh Wilson.


Sudah begitu, bukan kehebatan yang dia tingkatkan. Malah dendam dan amarahnya berikut emosi gilanya yang ditingkatkan. Hasilnya semua serangannya kini ngawur.


Bahkan tendangan dan pukulan Wilson sudah mulai satu demi satu mampir di tubuhnya. Meskipun Wilson belum mau menyarangkan pedangnya di tubuh Arsenio.


Hingga suatu ketika Arsenio mengayunkan pedangnya cukup cepat dari atas ke bawah, hendak menebas pundak kanan Wilson.


Hampir bersamaan Wilson mengayunkan pedangnya dengan cepat menghantam batang pedang Arsenio. Sehingga pedang itu yang tadinya meluncur ke bawah, kini terhempas ke samping kiri Arsenio.


Sementara Wilson menyusul serangan berikutnya dengan mengangkat kaki kirinya, menendang dengan cukup keras kepala sebelah kanan Arsenio.


Desss!


"Akh!"


Karena Arsenio tidak bisa lagi mengontrol dirinya, maka tendangan itu dengan telak menghantam kepalanya. Sehingga dia terhuyung beberapa langkah ke samping kirinya sambil mengeluh tertahan.


Sedangkan Wilson tidak lagi memberi hati pada Arsenio untuk membiarkannya menguasai keadaannya.


Dengan cepat dia mengejar Arsenio. Selagi Arsenio terhuyung, dengan cepat dia mengayunkan pedangnya hendak menebas lengan kiri pemuda itu.


Namun, meski Arsenio masih terhuyung ke samping, tapi dia masih bisa mengayunkan pedangnya menangkis serangan itu seraya mundur satu langkah.


Akibatnya, pedangnya langsung terhempas ke samping, lalu terlepas dari genggaman dan terlempar cukup jauh.


Selanjutnya, Wilson langsung memberondong Arsenio dengan pukulan dan tendangan yang bertubi-tubi. Sehingga membuatnya terjajar ke belakang sambil teraduh-aduh.


Terakhir, setelah memulangkan pedangnya ke dimensi ghaib, Wilson menghantamkan kedua telapak tangannya ke dada Arsenio. Tentu saja hantaman itu teraliri tenaga sakti yang cukup tinggi.


Sehingga membuat dada kiri kanan Arsenio terhantam dengan keras dan telak, hingga membuatnya terlempar ke belakang sejauh 2 tombak sambil menjerit.


★☆★☆

__ADS_1


Begitu tubuh Arsenio jatuh ke tanah sempat terseret beberapa langkah. Setelah itu tubuhnya terdiam beberapa saat. Tapi dia belum mati karena tampak dadanya turun naik dengan kencang.


Tapi sekarang dia merasa nyawanya seperti telah melayang. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Terutama pada dadanya yang cukup sesak.


Namun meski kondisinya demikian, dia paksakan diri untuk bangkit dan hendak melanjutkan pertarungan. Tapi baru saja bangkit terduduk, dia langsung memuntahkan darah segar.


Maka segera dia pahami kalau sekarang dia mengalami luka dalam. Untuk melanjutkan pertarungan rasanya tidak memungkinkan. Kalau dia paksakan sama saja bunuh diri.


Sejenak dia menentramkan keadaannya. Lalu menatap Wilson dengan tajam. Sedangkan Wilson masih diam di tempat berdirinya sambil juga menatapnya dengan tajam.


Setelah puas menatap Wilson dengan penuh kebencian, lalu dia menatap Jarrel dan Brian secara bergantian beberapa saat. Setelah itu dia meningkatkan tempat itu dengan terhuyung-huyung setelah mengambil pedangnya.


Pergi dengan membawa luka, kecewa, sakit hati, dan dendam serta rasa benci. Hatinya yang terdalam jelas belum mau mengakui kekalahannya. Tapi apa boleh buat dia harus menelan kepahitan.


Sedangkan Jarrel, melihat arah kepergian Arsenio bukan kembali ke markas, dia hendak mengejarnya. Namun baru satu langkah kakinya bergerak, Pedang Emas dengan cepat mencegahnya.


"Kamu mau apa, Jarrel?" tanya Pedang Emas bernada heran.


"Aku ingin mengejar Arsenio," kata Jarrel sambil terus menatap kepergian Arsenio yang semakin jauh. "Arah kepergiannya sepertinya bukan kembali ke markas."


"Untuk apa kamu mengejarnya dalam kondisinya seperti itu?" kecam Pedang Emas. "Walaupun kamu sahabatnya, dia tidak bakalan mendengar nasehatmu untuk saat ini."


"Biarkan dia menenangkan diri dulu, Jarrel," sambung Andro. "Syukur-syukur dia mau menyadari ketololannya."


"Lagipula kamu harus ingat kita dalam rangka bertugas saat ini," lanjut Andro.


"Aku hanya ingin menyadarkannya kalau tindakannya itu sudah melampaui batas," kata Jarrel bernada mendesah.


"Kita doakan saja mudah-mudahan dia cepat menyadari kekeliruannya," kata Brian ikut menimbrungi.


"Maaf, Tuan Jarrel," kata Wilson yang sudah sampai di tempat itu penuh kesopanan. "Saya terpaksa meladeni tantangannya karena dia begitu memaksa. Sekali lagi saya minta maaf."


"Ah, tidak perlu Tuan minta maaf karena kejadian ini bukan kesalahan Tuan," kata Jarrel bijaksana.


"Sebenarnya saya tidak menyangka kalau Arsenio bisa berpikiran pendek seperti itu," kata Wilson sejujurnya menyayangkan.


"Yaah..., hal itu memang amat disayangkan," desah Jarrel juga harus jujur menyayangkan tindakan sahabatnya.


"Apa tindakan kita selanjutnya, Pangeran?" tanya Pedang Emas seolah tidak mau lagi membahas masalah kebodohan Arsenio.


"Mungkin di sini saja saya akan membagi tugas tentang misi yang akan kita laksanakan dan menejelaskan ulang secara singkat," kata Brian yang seperti juga tidak mau berpanjang lebar membahas masalah Arsenio.


Lalu dia membagi timnya menjadi dua kelompok. Satu kelompok bersamanya. Yaitu Jarrel, Kelvin, serta 3 orang ksatria elit Ketua Anthoniel. Kelompok yang ke 2 yaitu Aziel, Keenan, Wilson, Andro, dan Pedang Emas.


Tugas masing-masing kelompok mencari informasi tentang kotaraja, lebih tepatnya tentang istana dan orang-orangnya melalui daerah-daerah yang akan mereka kunjungi.


Apabila bertemu dengan para pendekar istana, maka segera membasminya jika memungkinkan. Jika tidak memungkinkan, sebaiknya menghindari.


Juga yang tidak kalah penting tentang misi mereka adalah menciptakan huru hara di beberapa tempat yang sudah mereka targetkan.


Setelah itu Brian menerangkan beberapa hal tentang misi mereka secara singkat. Karena dia sudah membahasnya bersama para petinggi Ketua Anthoniel.


Berikutnya Brian memberi tahu kalau mereka akan saling bertemu lagi di Kota Pendar 5 hari yang akan datang, terhitung dari sekarang.


Tidak lama kemudian, tanpa berlama-lama Tim Brian meningkatkan tempat itu menuju ke 2 tempat dengan terbagi 2 kelompok.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2