Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 165 PENYERANGAN GEROMBOLAN PEDANG TENGKORAK


__ADS_3

Kondisi Putri Arcelia benar-benar baik, baik secara fisik maupun secara psikis. Penyakit kulitnya telah sembuh total. Kulit tubuhnya putih mulus, wajahnya amat cantik laksana bidadari.


Energi saktinya yang kemarin-kemarin masih tersegel di dalam tubuhnya, sekarang semuanya sudah dibuka oleh Dhafin, sudah digodok pula. Maka sekarang Putri Arcelia sudah bisa menggunakan energi saktinya.


Hatinya sudah merelakan sepenuhnya kepergian pelayannya yang sudah bertahun-tahun menemaninya, dalam suka maupun duka. Meskipun hatinya amat bersedih sekali.


Wanita itulah yang membuatnya bisa bertahan hidup hingga sekarang. Dia belum sempat membayar kebaikan sang pelayan, tapi sang pelayan sudah meninggalkannya.


Hampir saja dia hidup sebatang kara. Untungnya Dhafin setuju kalau dia ikut dengan pemuda tampan itu yang katanya diramalkan menjadi jodohnya.


Namun Putri Arcelia mau mengikuti Dhafin ke mana pun pergi bukan karena dia diramalkan menjadi jodohnya. Melainkan dia memang sudah berjanji akan mengabdi kepada pangeran yang telah menyembuhkannya itu.


Sedangkan Putri Athalia sendiri, dia juga sudah berjanji pada dirinya akan mengabdi kepada Dhafin, terlepas dia adalah jodoh Dhafin. Dan akan mengikuti ke mana pun Dhafin pergi.


Sementara Dhafin, menghadapi kedua gadis yang begitu kompak ingin mengikutinya seperti layaknya pengawal, jadi bingung juga.


Kalau Putri Arcelia ingin mengikutinya adalah wajar, karena gadis itu sekarang sudah sebatang kara. Tidak mungkin Dhafin meninggalkannya begitu saja.


Sedangkan Putri Athalia ingin mengikutinya layaknya pengawal adalah kurang tepat.


Putri Athalia adalah pemimpin Kampung Tolucan. Bagaimana dia meninggalkan kaumnya hanya untuk mengikuti seorang Dhafin?


Kalau toh nanti mereka akan menikah, tidak sampai seperti itu juga bukan? Mengikutinya ke mana dia pergi. Bagaimana dengan istrinya yang lain kalau begitu?


Memikirkan hal itu Dhafin menjadi bingung dan serba salah. Akhirnya dia menyetujui kedua-duanya mengikutinya layaknya pengawal, sambil memikirkan bagaimana cara agar mereka tidak selalu mengikutinya.


Sementara itu pula, ketika memeriksa energi sakti Putri Athalia, maka Dhafin mendapati kalau masih ada 1 energi saktinya yang belum terbuka segelnya. Dan Dhafin langsung memberitahukannya.


Setelah itu, Dhafin membuka segel energi sakti itu. Lalu mengaktifkan fungsinya agar bisa digunakan oleh Putri Athalia.


Akhirnya, untuk menjadikan agar Putri Arcelia benar-benar menguasai energi saktinya, Dhafin harus tinggal di rumah Putri Arcelia untuk membimbingnya. Otomatis Putri Athalia juga ikut tinggal.


Selama tinggal di tempat terpencil dan sunyi seperti itu Dhafin boleh dibilang sudah cukup akrab dengan kedua calon istrinya itu. Begitu juga sebaliknya.


Dan yang tidak kalah membuat Dhafin senang bahwa masing-masing kedua gadis itu bisa saling akrab antara satu sama lain.


Padahal mereka sudah saling menyadari kalau nantinya mereka akan menjadi madu bagi masing-masing di antara mereka.


Selama tinggal di rumah kecil itu pula Dhafin benar-benar dibuat seperti raja oleh kedua gadis cantik itu. Dan yang tidak kalah membuat Dhafin terkesan dengan kedua gadis cantik itu bahwa ternyata mereka pandai memasak.

__ADS_1


Bukan cuma pandai memasak saja, ternyata masakan masing-masing mereka begitu enak. Dan mereka cepat mengetahui seleranya.


Akhirnya selama 6 hari Dhafin membimbing Putri Arcelia, Dhafin merasa telah cukup. Putri Arcelia sudah terbilang menguasai 4 energi saktinya.


Tak lupa juga Dhafin memeriksa tingkat penguasaan energi sakti Putri Athalia, yang ternyata dia juga benar-bener menguasai.


★☆★☆


Setelah Putri Arcelia membawa barang penting yang perlu dia bawa, mereka bersiap-siap meninggalkan rumah mungil itu pada suatu pagi yang indah.


Barang yang dibawah oleh Putri Arcelia cuma pakaian di badannya dan sejumlah uang serta pedangnya. Dan agar tetap dia mengenang pelayannya, dia membawa pedang sang pelayan tua.


Tapi yang penting dia harus membawa Kalung Tanda dan plakat lencana sebagai tanda kalau dia seorang putri raja. Serta Belati Kerajaan yang menandakan kalau dia pewaris tahta kerajaan ayahandanya, yaitu Kerajaan Diandara.


Akan tetapi baru saja mereka berjalan belasan tombak dari rumah kecil itu, seketika tempat itu dikepung oleh sekitar 200 lebih orang-orang serba hitam.


Dari ciri-ciri yang terlihat Dhafin maupun Putri Athalia sudah dapat memastikan kalau sekelompok orang-orang bertopeng hitam itu adalah Gerombolan Pedang Tengkorak, sebuah kelompok pembunuh bayaran.


Namun kelompok itu ternyata berada di bawah kekuasaan Raja Bastian. Dan semenjak beberapa tahun ini bermitra dengan Putri Rayna yang berkuasa di Kerajaan Amerta.


Sementara Dhafin sudah sejak lama berurusan dengan gerombolan penjahat itu. Dan sekarang mereka kembali berurusan dengannya.


Orang-orang serba hitam itu sampai nyasar ke tempat ini Dhafin sudah bisa menebak tujuannya apa.


Sejenak Dhafin mengamati lelaki yang bicara itu. Dari model caranya berpakaian Dhafin dapat mengetahui kalau lelaki itu termasuk wakil ketua.


Biasanya kalau waka dalam jajaran kelompok sesat itu mempunyai ilmu yang tinggi yang tidak boleh dianggap remeh. Dhafin sudah pernah membunuh salah seorang Waka Gerombolan Pedang Tengkorak.


Lalu Dhafin memandang 15 orang jawara kelompok itu yang berdiri berjajar di belakang wakil ketua.


"Aku tahu kalian datang kemari untuk membunuh kedua gadis yang bersamaku ini juga bukan?" kata Dhafin bernada santai bersikap tenang.


"Kalau kamu sudah tahu, kenapa tidak cepat-cepat menyerahkan kedua gadis itu?" kata wakil ketua makin bernada dingin. "Lalu kamu bunuh dirimu sendiri."


"Aku masih ingin hidup lama, kawan," kata Dhafin tetap tenang, "kenapa harus membunuh diri segala?"


"Ternyata kamu cukup bernyali juga, Pangeran Pusat," dengus wakil ketua bernada sinis. "Mentang-mentang kamu sudah berhasil membunuh Wakil Ketua 4."


"Temanmu itu pantas mati," kata Dhafin lagi masih kalem dan tenang. "Dan sampah-sampah seperti kalian juga memang pantas mati....!"

__ADS_1


Sebenarnya wakil ketua sudah menggeram mendengar ucapan penghinaan sekaligus peremehan yang dilontarkan Dhafin. Tapi dia masih bisa bersabar.


Sedikit banyak dia sudah tahu siapa Dhafin itu yang sepertinya sudah terkenal di kalangan kependekaran. Menghadapinya harus dengan bersabar serta dan perhitungan yang mantap.


Yang tidak tahan akan ejekan itu adalah 15 jawara di belakannya dan belasan anak buahnya yang terdekat dengan Dhafin dan kedua gadis itu. Tapi wakil ketua cepat mencegah mereka agar jangan gegabah.


Sedangkan Putri Athalia maupun Putri Arcelia sudah bersiaga penuh. Putri Arcelia sudah memantapkan letak pedang yang terselip di sabuh sebelah kirinya.


Putri Athalia sudah memindahkan pedangnya di tangan kirinya dan dipengang erat-erat. Sementara tangan kanannya sudah dipersiapkan mencabut pedangnya dengan cepat.


"Hahaha...! Bagus, bagus, bagus," kata wakil ketua seolah memuji sambil tertawa keras. "Nyalimu ternyata benar-benar besar. Aku suka.... Setidaknya kamu bisa bertahan beberapa jurus melawanku."


"Benarkah aku cuma bertahan beberapa jurus melawanmu?" tanya Dhafin bernada seolah terkejut. Tapi jelas kalimat itu adalah ejekan.


"Atau jangan-jangan kamu yang tidak tahan melawanku?"


Wakil ketua tidak bisa lagi menahan geram. Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. Maka tanpa malu-malu lagi dia langsung memerintahkan semua anak buahnya untuk maju kecuali 15 jawara.


★☆★☆


Akan tetap baru saja 4 langkah orang-orang serba hitam itu bergerak menyerang, seketika muncul secara aneh sekaligus menakjubkan beberapa orang rekan-rekan Dhafin dari atas kepala mereka.


Aziel, Veron, Rizhan, Zafer dan Zelyne muncul dari arah belakang Dhafin dan kedua gadis cantik itu. Keenan, Dwayne, Hendry, dan Putri Raisha muncul dari samping kanan.


Lima orang jawara elit Markas Centaurus muncul dari samping kiri. Sedangkan Ratu Agung Aurellia yang ternyata muncul juga bersama 4 pengawal cantiknya dari arah depan.


Semua rekan-rekan yang baru muncul itu dengan cara aneh seperti itu tentu dengan menggunakan teleportasi. Dan begitu mereka sudah berada dalam jangkauan serangan, mereka langsung mengamuk bagai banteng terluka.


Sebelumnya, semua orang-orang serba hitam, tidak terkecuali wakil ketua dan 15 jawaranya, tentu saja merasa terkejut sangat melihat kemunculan Ratu Aurellia dan pasukannya.


Dan keterkejutan mereka itu harus dibayar mahal dengan nyawa mereka sendiri. Baru gebrakan pertama sudah ada di antara yang bertumbangan bersimbah darah.


Jeritan-jeritan kematian terdengar saling sahut-sahutan. Ditingkahi oleh tumbangnya sosok-sosok seragam hitam tanpa nyawa.


Sedangkan Putri Athalia dan Putri Arcelia, seolah tidak terpengaruh akan kemunculan orang-orang tadi, mereka langsung menyerang orang-orang serba hitam seraya menghunus pedang masing-masing.


Begitu sudah berada dalam jangkauan serangan, kedua gadis cantik bagai bidadari itu langsung mengayunkan pedang dengan cepat menyerang orang-orang serba hitam.


Sementara wakil ketua, setelah memerintahkan 15 jawara untuk membantu kawan-kawannya, dia langsung melesat ke arah Dhafin. Tanpa malu-malu langsung mencabut pedang yang ada di samping sabuk sebelah kiri, terus menyerang Dhafin dengan ganas.

__ADS_1


Sedangkan Dhafin yang sudah tahu kehebatan wakil ketua, tidak berani melawannya dengan tangan kosong. Setelah mengambil Pedang Akhirat dengan cara aneh, Dhafin menyongsong dengan suara.


★☆★☆★


__ADS_2