
Perwira tinggi istana yang ternyata Komandan Perang Pasukan Istana yang ditempatkan di Kota Pendar, begitu mengetahui ada penyusup masuk ke pemerintahan Kota Pendar, dia langsung bertindak.
Dia berpikir dengan adanya penyusup di Kota Pendar, berarti sarang pemberontak ada di sekitar wilayah timur Kerajaan Amerta ini.
Maka dia langsung menyebar pasukannya untuk mencari ke pelosok-pelosok kampung atau hutan di sekitar wilayah timur ini.
Apalagi dia mendapat kabar kalau 10 pendekar istana dan 2 perwira istana yang mengejar 3 penyusup semalam semuanya telah tewas.
Berita itu dia peroleh dari 2 orang bawahannya yang dia tugaskan untuk menyusul 12 rekan mereka yang mengejar penyusup. Akan tetapi 2 perwira itu hanya menemukan sisa-sisa pakaian 12 rekan mereka yang sudah terkoyak parah dan sisa-sisa kerangka mereka.
Setelah memastikan kalau 10 pendekar istana telah tewas dibunuh oleh kelompok pemberontak, sang komandan mengirim surat ke pemerintah pusat, mengabarkan kejadian tersebut.
Sementara Tim Brian, dengan tersebarnya pasukan istana mencari keberadaan mereka, itulah yang mereka harapkan. Maka tanpa berlama-lama mulailah mereka melaksanakan aksi yang sudah mereka rencanakan.
Karena masing-masing kelompok pasukan yang ditugaskan mencari keberadaan kelompok pemberontak cuma berjumlah kurang dari 500 personil, cukup mudah bagi Tim Brian membasmi pasukan istana itu.
Setelah membasmi satu kelompok pasukan istana, mereka segera berpindah untuk membasmi kelompok lainnya.
Karena mereka sudah punya informasi di mana saja pasukan istana mencari kelompok pemberontak, maka dengan mudah mereka menuju target. Tentunya aksi mereka ditunjang dengan ilmu teleportasi.
Lebih dari itu, 11 orang pemuda itu merupakan kumpulan ksatria-ksatria pilihan. Fakta itu adalah salah satu poin terpenting yang menjadi sebab keberhasilan setiap misi dan aksi yang dilakukan oleh Tim Brian.
Tanpa poin itu, meski mereka ditunjang dengan ilmu teleportasi, tentulah setiap misi dan aksi yang sudah direncanakan bisa dipastikan tidak berjalan mulus. Bahkan besar kemungkinan akan gagal.
Karena setiap langkah yang mereka lakukan akan selalu berurusan dengan maut dan tertumpahnya darah.
Itupun ternyata mereka tidak bisa sampai tuntas membasmi pasukan istana dengan siasat dan strategi yang mereka terapkan itu. Karena sepertinya pasukan istana mengetahui siasat mereka. Lalu menghentikan pengejaran dan kembali ke pusat Kota Pendar.
Akan tetapi Tim Brian berhasil melakukan suatu gebrakan yang membuat pasukan istana merasa terteror. Lebih khusus lagi membuat geram pihak istana.
★☆★☆
Sementara itu, setelah beberapa hari Tim Dhafin terbagi menjadi dua kelompok, akhirnya mereka dapat bersatu lagi dan bertemu di tempat yang sudah disepakati.
Tentunya mereka sudah mendapatkan berbagai macam informasi seputar peristiwa yang terjadi di Kerajaan Amerta selama dalam perjalanan mereka. Juga telah melakukan berbagai aksi selama dalam tugas.
Satu hal yang perlu diketahui bahwa waktu akan bertemunya kembali Tim Dhafin dan Tim Brian sudah berjalan 18 dari 25 hari. Dan sudah disepakati mereka akan bertemu di Bukit Kanaya.
Setelah itu mereka pergi ke wilayah ujung Kerajaan Amerta sebelah tenggara. Karena menurut informasi telik sandi kerajaan yang berhasil mereka tangkap, di wilayah itu terdapat sekumpulan orang yang pihak kerajaan selalu menyebutnya sebagai pemberontak.
Dan benar saja. Ketika Tim Dhafin tiba di tempat tersebut, mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang dimaksud. Sekumpulan orang yang ternyata memiliki kehebatan yang sudah mencapai level tinggi.
Mereka semua rata-rata masih berusia muda. Jumlah mereka tidak lebih dari 3.000 personil, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka tidak memiliki tempat yang tetap atau markas. Mereka cuma tinggal di kemah yang bisa mereka bongkar dan pasang kembali.
Satu hal lagi, mereka tidak mempunyai orang yang mereka sebut sebagai ketua.
Mereka cuma mempercayakan kepada 10 orang di antara 60 orang yang terhebatnya di antara mereka untuk merundingkan atau membahas setiap permasalahan yang mereka hadapi.
Adapun 10 orang itu, di samping memiliki tingkat kehebatan dan kecerdasan yang tinggi, juga memiliki umur yang paling tua di antara semuanya, yaitu kisaran 30-an tahun ke atas. Dan yang paling tuanya belum melampaui umur 35 tahun.
Tentulah awalnya terjadi ketegangan antara Tim Dhafin dengan mereka. Namun hal itu tidak berlangsung lama.
Setelah Dhafin menjelaskan tentang siapa dirinya dan semua rekannya, dan menjelaskan kalau ternyata mereka satu perjuangan, barulah orang-orang itu bisa memahami dan tidak lagi menghunus pedang permusuhan.
Apalagi beberapa orang di antara orang-orang itu masih mengenal Dhafin dan Gibson. Mereka ternyata orang asli Amerta yang pernah menjadi peserta Turnamen Beladiri Anak Bangsawan.
__ADS_1
Apalagi di antara beberapa orang itu adalah seorang gadis cantik yang ternyata cukup mengenal Gibson di masa kecil dulu. Sungguh mengesankan!
Setelah terjadi pembicaraan antara Tim Dhafin dengan 10 tetua pasukan tangguh itu, ternyata diketahui kalau mereka tengah merencanakan untuk menyerang pasukan istana yang ditempatkan di sebuah kota di wilayah selatan Kerajaan Amerta.
Kota itu bisa dibilang terletak di ujung wilayah selatan. Sekitar 3 setengah hari perjalanan berkuda jaraknya dengan Kota Denver.
Menurut informasi yang sudah didapatkan oleh pasukan tangguh itu bahwa jumlah pasukan istana yang ditempatkan di kota itu berjumlah sekitar 25.000 lebih personil, termasuk para jawara dan pendekar istana.
Tentu saja Dhafin amat setuju dengan rencana tersebut. Dan menyambut dengan antusias rencana mereka serta mendukung sepenuh hati. Dan mengerahkan timnya untuk membantu.
Sedangkan 10 tetua pasukan dan sepertinya semua pasukan tangguh merasa senang sekali Tim Dhafin mau membantu rencana mereka.
Mereka sudah cukup mengetahui kehebatan Dhafin, baik ketika masih kecil apalagi sudah dewasa seperti sekarang.
Apalagi ketika aksi kehebatannya ditunjukkan saat dia dan rekan-rekannya menyelamatkan keluarga Raja Darian Cashel ketika dipenjara beberapa bulan yang lalu.
Mereka memang senantiasa mengikuti perkembangan yang terjadi di Kerajaan Amerta.
Akhirnya mereka mengadakan pertemuan khusus untuk menyusun siasat dan strategi untuk menyerang pasukan istana di kota tersebut. Bahkan kalau bisa ditaklukkan sekalian.
Sebelum pertemuan khusus itu diadakan, 10 tetua pasukan bersepakat menunjuk seorang ketua yang akan memimpin pergerakan mereka.
Dan tanpa mereka harus lama berunding, mereka sepakat menunjuk Dhafin sebagai ketua mereka. Bahkan semua pasukan tangguh menyetujui keputusan 10 tetua mereka.
Tentu saja Dhafin menolak dengan tegas keputusan mereka itu dan mengemukakan alasan kalau dia tidak pantas menjadi ketua. Apalagi dia orang luar.
Sebagai balasan atas penolakan Dhafin semua pasukan tangguh, termasuk 10 tetua pasukan, seketika berlutut sebagai bentuk pengtakziman kepada Dhafin.
Bahkan lebih gila dari itu semua anggota timnya ikut berlutut pula, memohon kepadanya agar tetap menjadi ketua mereka.
Pasukan tangguh setuju-setuju saja dengan syarat yang diajukan Dhafin. Yang penting sekarang mereka sudah ada ketua yang memimpin mereka.
★☆★☆
Karena jumlah pasukan yang dipimpin Dhafin cuma ada 3.000 personil, lebih sedikit, maka strategi perang yang akan diterapkan tidak memungkinkan melawan pasukan istana yang berjumlah 25.000 lebih itu sekaligus.
Strategi atau siasat perang yang mereka lancarkan yaitu memancing pasukan istana untuk keluar dari pusat kota. Bukan hanya memancing keluar, melainkan membuat suatu siasat bagaimana agar pasukan istana menjadi terpecah-pecah dalam mengejar mereka.
Maka dikirimlah 60 personil pasukan yang paling tangguh, kecuali 3 orang. Sebagai ganti dari 3 orang itu, Dhafin memasukkan Zafer si Tudung Hitam, Gibson si Pendekar Penyair, dan Hendry.
Begitu sampai di pusat pemerintahan kota, tanpa basa-basi 60 ksatria tangguh yang terbagi menjadi 3 kelompok itu langsung membuat huru-hara di situ.
Bukan membantai penduduk kota atau mengacak-acak pusat keramaian, melainkan mereka membuat keonaran di 3 tempat; di Gedung Pejabat Kota, di basecam pasukan istana, dan di markas prajurit keamanan.
Aksi itu merupakan tindakan yang amat berani. Resikonya adalah nyawa mereka akan melayang. Masalahnya dalam setiap kelompok cuma berjumlah 20 personil sebagai pelaksana tugas.
Namun dasarnya mereka memang semuanya adalah para ksatria tangguh, misi yang mereka jalankan berjalan sesuai dengan rancangan. Mereka melakukan huru-hara di situ, membantai tidak sedikit pasukan yang ada di situ.
Setelah merasa cukup, lalu mereka melarikan diri dengan cepat. Mereka melarikan diri menuju 3 arah yang berbeda. Tampak mereka berlari dengan cepat. Tapi siapa sangka kalau lari mereka itu merupakan siasat pula.
Sedangkan Komandan Pasukan Perang, menanggapi adanya pemberontak yang melakukan huru-hara, maka dia langsung mengambil tindakan saat itu juga dengan cepat.
Dikirimlah pasukannya berjumlah 15.000 personil lebih, termasuk ratusan jawara istana untuk mengejar para pemberontak itu.
Dan dia juga membagi pasukannya menjadi 3 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 5.000 personil lebih. Dan mereka langsung mengejar para pemberontak ke 3 arah sesuai di mana larinya para pemberontak.
__ADS_1
Sungguh mengagumkan! Skema perang yang dirancang oleh Dhafin dan 10 tetuanya mulai berjalan sesuai yang mereka perkirakan.
Tidak lama kemudian, 15.000 lebih pasukan istana yang terbagi menjadi 3 kelompok itu sampai di suatu dataran yang cukup luas.
Akan tetapi masing-masing 3 kelompok pasukan itu tidak pernah membayangkan kalau mereka sudah menuju ke tempat pembantaian terhadap mereka.
Dengan gebrakan yang begitu mengejutkan, seketika pasukan Dhafin yang juga terbagi menjadi 3 kelompok itu muncul di hadapan mereka. Dan langsung melakukan penyerangan tanpa tanggung-tanggung.
Strategi bunga menguncup langsung diterapkan. Bermula pasukan Dhafin yang masing-masing terdiri dari 1.000 personil mengepung membentuk cincin, lalu menyerang dengan cepat dengan ganas.
Strategi bunga menguncup ini menjadikan lawan tidak bisa semua ikut menyerang. Yang hanya bisa melakukan perlawanan cuma yang berada di dekat kepungan.
Sehingga pertempuran tidak sampai menghabiskan waktu 2x penanakan nasi, pasukan istana yang berjumlah 15.000 lebih personil itu terbantai semua tanpa terkecuali.
Sedangkan pasukan Dhafin tidak ada seorang pun yang terbunuh. Cuma beberapa gelintir saja yang mengalami luka-luka. Namun tidak sampai parah.
Setelah selesai melakukan tugas, pasukan Dhafin langsung meninggalkan arena pertempuran dengan cepat dan tanpa meninggalkan jejak.
★☆★☆
Ternyata aksi pasukan Dhafin dalam melakukan huru-hara di kota tersebut tidak tanggung-tanggung. Keesokan harinya mereka langsung menyerang basecamp pasukan istana.
Bukan tanpa sebab dan tanpa strategi yang matang mereka berani melakukan aksi itu.
Mereka sudah tahu kalau pasukan istana tidak ada lagi 10.000 personil. Dan diawal mereka melakukan serangan, beberapa ksatria tangguh melontarkan serangan jarak jauh yang berupa lontaran energi sakti.
Sehingga bangunan basecamp ketentaraan langsung hancur berantakan. Sebagian besar pasukan istana ikut binasa bersama bangunan tersebut. Sebagian lainnya lari kocar-kacir menyelamatkan diri, termasuk komandannya.
Namun belum jauh mereka melarikan diri, pasukan Dhafin menjemput mereka dengan membawa kematian.
Adapun ribuan Prajurit Keamanan Kota bersama Kepala Keamanan-nya mencoba membantu menyerang pasukan Dhafin. Namun mereka segera dihadang sekitar 500 ksatria tangguh yang lainnya.
Sementara para penduduk kota tentu saja terkejut ketakutan melihat pertempuran di pusat pemerintahan kota. Namun tidak ada yang mereka bisa lakukan selain hanya cepat bersembunyi ke dalam rumah masing-masing, lalu mengunci pintu rapat-rapat.
Tapi ada juga yang memberanikan diri mengintip jalannya pertempuran dari dalam rumah masing-masing.
Tentu saja mereka langsung melihat leher yang tertebas, kepala yang menggelinding, badan yang terpisah dua, darah yang tertumpah. Sungguh mengerikan!
Tidak lama kemudian, setelah menaklukkan kota tersebut, termasuk membunuh Pejabat Kota sekalian, pasukan Dhafin langsung meninggalkan kota tanpa mendudukinya.
Sepeninggal pasukan Dhafin, fenomena pemerintahan kota sungguh mengenaskan sekaligus mengerikan.
Bangunan basecamp ketentaraan hancur rata dengan tanah. Mayat-mayat pasukan istana berserakan bagai sampah di sekitar situ.
Di tempat lain juga mayat-mayat pasukan istana berkaparan tak tentu arah. Bahkan terdapat juga di jalan kota. Dan darah juga berceceran di mana-mana.
Sedangkan Pejabat Kota mati terkapar di atas lantai marmer di dalam Gedung Pejabat Kota.
Satu hal yang patut disyukuri. Tidak ada satu pun dari para penduduk yang jadi korban pertempuran itu. Termasuk anak istri Pejabat Kota. Meskipun tentunya mereka langsung menangis tersedu-sedu melihat kematian tragis sang Pejabat Kota.
Namun di satu sisi, bagi para penduduk kota merasa senang sekali melihat kematian Pejabat Kota yang semena-mena itu. Lebih merasa senang sekali melihat kematian pasukan istana yang melakukan apa saja sesuka hati mereka.
Setidaknya untuk beberapa hari ke depan mereka sedikit merasa aman dan tentram. Bahkan dalam hati mereka selalu berdoa agar negeri mereka kembali aman dan tentram seperti masa pemerintahan Raja Darian.
★☆★☆★
__ADS_1