Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 70 BERDUA DI BAWAH BULAN PURNAMA 2


__ADS_3

Malam terus merayap perlahan demi perlahan. Membuat suasana di Kampung Naraya semakin diselubungi kesunyian.


Namun malam ini kampung yang cukup terpencil itu masih ditemani sang Dewi Malam. Sedangkan sang Dewi Malam masih setia menaburkan sinar lembutnya menyinari sepasang insan yang tengah berjalan ringan menyusuri jalan utama kampung.


Ya, mereka tidak lain adalah Pangeran Revan dan Jenderal Jessica. Namun sudah sekian langkah mereka berjalan, belum juga saling berbicara. Seakan mereka masih menata percakapan apa yang enak diobrolkan.


"Apakah Nona tahu apa motif para prajurit istana sampai membantai penduduk kampung ini?" tanya Pangeran Revan yang sepertinya tak tahan dengan kebisuan.


Tapi pertanyaan Pangeran Revan bukan pertanyaan iseng saja. Jenderal Jessica adalah Komandan Divisi Penyelidik. Besar kemungkinan dia tahu penyebab prajurit istana sampai melakukan pembantaian di sini.


Setidaknya sebelumnya gadis itu melakukan penyelidikan. Itu menurut dugaannya.


"Sehari sebelum kejadian itu," sahut Jessica tanpa banyak pikir, "beberapa orang kawan dari Pasukan Penyelidik melaporkan bahwa sekitar 100 personil prajurit istana bergerak menuju kampung bagian utara Kota Bahir...."


"...Tujuan mereka jelas ingin menyerang salah satu kampung sebelah utara," lanjutnya. "Karena pihak istana menduga kalau salah satu dari kampung bagian utara Kota Bahir merupakan sarang pemberontak."


"Sebenarnya kami berjumlah 60 personil waktu keluar dari Istana Centauri," kata Jessica lagi memberi tahu. "Begitu sampai di bagian utara ini kami memecah menjadi 3 kelompok di 3 kampung yang kami duga salah satu dari tujuan prajurit istana itu."


"Tidak tahunya ternyata tujuan mereka ke Kampung Naraya ini."


"Yaah, kampung ini memang cukup terpencil," timpal Pangeran Revan. "Kalau belum pernah ke sini sebelumnya, jelas tidak tahu kalau di sini ada kampung."


"Ya, Pangeran benar," sambung Jessica. "Kami baru tahu kalau ke kampung ini tujuan prajurit istana itu ketika dari kejauhan kami melihat asap dari arah sini."


"Maka tanpa banyak pikir," lanjutnya, "saya dan 29 rekan lainnya yang bersiaga di salah satu kampung langsung meluncur ke sini."


"Tapi begitu melihat Pangeran dan pasukan Pangeran sudah ada di sini, 15 personil saya suruh kembali ke kampung di mana kami bersiaga sebelumnya. Sisanya terus maju menyerang prajurit istana."


"Pangeran sendiri, kenapa bisa tahu kalau ada prajurit istana menyerang ke mari?" tanya Jessica berbalik.


"Kejadian awalnya hampir mirip dengan Nona," sahut Pangeran Revan tanpa sungkan. "Ada laporan kalau prajurit istana akan menyerang ke kampung bagian utara Kota Bahir."


"Lalu paman mengutus kami untuk menggagalkan penyerangan itu. Maka saya dan 25 personil Pasukan Khusus serta 8 jawara Markas Centaurus langsung menuju ke daerah utara ini."


"Awalnya kami juga belum tahu ke mana sesungguhnya tujuan mereka. Kami tahunya tujuan mereka ke mari ketika melihat api dari arah sini. Maka kami langsung menuju ke mari."


"Ada satu hal yang masih mengganjal pikiran saya, Pangeran," kata Jessica teringat sesuatu.


"Apa itu, Nona Jenderal?"


"Kenapa pihak istana bisa menuduh kalau di kampung ini merupakan sarang pemberontak? Sedangkan kita telah tahu bersama kalau para penduduk juga tidak mengerti kenapa mereka sampai diserang oleh prajurit istana. Apalagi sampai dituduh sebagai pemberontak."


"Hal itu masih diselidiki, Nona Jenderal," kata Pangeran Revan menerangkan. "Mudah-mudahan saja kita bisa tahu latar belakang semua itu dalam waktu dekat."


★☆★☆


Sepasang muda-mudi itu masih saja terus melangkah di bawah siraman sinar rembulan.


"Pangeran. Apa ada kemungkinan prajurit istana bakal menyerang ke sini lagi?" tanya Jenderal Jessica setelah agak lama terdiam.


"Besar kemungkinan iya," sahut Pangeran Revan menduga. "Kalau mereka beranggapan di sini merupakan sarang pemberontak, dan mengetahui penyerangan pertama mereka gagal, maka mereka akan menyerang lagi."


Percakapan di antara sepasang insan itu masih dalam suasana formal. Panggilan masing-masing mereka juga masih formal. Mereka juga masih bersikap sopan dan hormat serta saling menghargai kedudukan masing-masing.


Tetapi nampaknya mereka begitu menikmati suasana seperti itu. Jessica berbicara cukup lancar dan tidak kagok lagi. Meski tetap menjaga intonasi suara agar tidak terkesan santai.


Sedangkan Pangeran Revan sepertinya mengimbangi sikap yang disuguhkan Jessica kepadanya.


"Jarak antara kotaraja dengan daerah ini kira-kira sepekan perjalanan berkuda," kata Jessica seolah memberi tahu. "Pastinya pihak istana memperhitungkan juga kalau hendak menyerang lagi ke sini."


"Dan saya bisa menduga kalau mereka akan membawa pasukan yang lebih banyak lagi setelah tahu penyerangan pertamanya gagal," lanjutnya.


"Tapi setidaknya masih ada kesempatan bagi kita untuk memeriksa seluruh kampung yang ada di daerah ini," kata Pangeran Revan.


"Ya, Pangeran benar," kata Jessica menandasi, "kita masih punya kesempatan memeriksa daerah ini."


"Bagaimana menurut Nona Jenderal kalau daerah ini kita jadikan basis cadangan?" tanya Pangeran Revan meminta pandangan Jessica.

__ADS_1


"Pangeran harus memikirkan matang-matang dulu kalau mau melaksanakan rencana itu," sahut Jenderal Jessica menyarankan.


"Pangeran harus mencatat bahwa," lanjut Jessica, "jika pihak istana sudah tahu kalau penyerangan mereka ke sini ternyata gagal, mereka akan lebih serius menganggap daerah ini sebagai sarang pemberontak."


Cerdas! Puji Pangeran Revan dalam hati. Di samping gadis jangkung tapi tegap ini berwajah cantik, ternyata otaknya encer juga. Bukan main-main ternyata dia ditunjuk sebagai Komandan Divisi Penyelidik.


"Kalau kita tinggalkan daerah ini begitu saja, terkhusus Kampung Naraya, akan lebih berbahaya lagi nantinya," kata Pangeran Revan berargumen.


"Bisa jadi perkampungan yang ada di daerah ini menjadi sasaran orang-orang istana juga," lanjutnya.


"Apa yang Pangeran khawatirkan itu menjadi kekhawatiran saya juga," kata Jessica mengungkapkan. "Tapi mungkin ada baiknya kalau kita selesai memeriksa seluruh daerah ini, baru kita putuskan langkah selanjutnya."


"Lagi pula harus ada persetujuan Yang Mulia Ratu Agung kalau hendak membuat basis cadangan di sini."


Sekali lagi Pangeran Revan memuji kecerdasan pikiran Jenderal Jessica, tapi dalam hati. Jenderal cantik ini telah memperhitungkan segala sesuatunya sebelum bertindak.


"Apakah Nona Jenderal tahu ada berapa perkampungan di daerah ini?" tanya Pangeran Revan.


"Di daerah ini ada 4 kampung yang saling berjauhan," kata Jessica menerangkan. "Dan Kampung Naraya ini yang paling jauh dari yang lain."


Sejenak Pangeran Revan tak bertanya lagi atau berbicara. Dan Jessica juga ikut membisu pula.


Begitu mereka melihat ada bangun kecil seperti gardu jaga, Pangeran Revan menawarkan agar mereka duduk beristirahat sejenak di sana. Dan diiyakan oleh Jessica.


★☆★☆


Sudah beberapa saat lamanya sepasang insan itu duduk di gardu jaga belum ada yang memulai berbicara. Seakan mereka masih asyik menikmati indahnya bulan purnama yang sedang mereka saksikan saat ini.


"Pangeran...," kata Jessica memecah kebisuan sambil melirik Pangeran Revan. Suaranya bernada sedikit ragu-ragu.


"Ya, ada apa, Nona Jenderal?" tanya Pangeran Revan sambil mengalihkan pandangan dari Dewi Malam ke wajah cantik Jessica.


Beberapa helaan napas Jessica saling bertatapan dengan Pangeran Revan. Setelah itu gadis cantik itu perlahan mengalihkan pandangannya ke lain arah seolah tidak sanggup menahan tatapan Pangeran Revan lebih lama.


Terus terang dia tak merasakan apa-apa saat berdekatan dengan pangeran tampan itu. Hatinya pun tak berdesir saat menerima tatapannya.


Hatinya hanya diperuntukkan oleh lelaki pujaannya, yaitu tabib kecil yang pernah dijumpainya. Entah kenapa dia baru merasakan suka kepada tabib kecil yang sebenarnya bernama Dhafin alias Ghavin Aldebaran saat berpisah dengannya.


Entah kapan dia akan bertemu lagi dengan tabib kecil. Dia yakin sekarang ini pasti tabib kecil sudah berubah menjadi pemuda yang tampan. Tapi wajahnya masih dingin berbalut duka seperti wajah Pangeran Revan.


Tapi hatinya masih agak ragu dan bimbang, apakah tabib kecil itu adalah Pangeran Revan ini? Makanya sekarang dia mau bertanya untuk memastikan.


"Boleh saya bertanya sesuatu, Pangeran?" tanya Jessica masih sedikit ragu-ragu.


"Mau bertanya tentang apa?" kata Pangeran Revan setelah kembali menatap rembulan.


"Apakah waktu kecil Pangeran pernah mengembara?" tanya Jessica memulai maksudnya.


"Sejak saya di temukan oleh Paman Nelson dan dibawa ke Markas Centaurus," sahut Pangeran Revan mengakui, "saya tidak pernah keluar-keluar."


"Paling berkunjung ke Istana Centauri," lanjutnya.


"Ada apa Nona Jenderal menanyakan hal itu?" selidik Pangeran Revan.


Sebenarnya ada 2 pertanyaan mendasar yang Jessica ingin ajukan kepada Pangeran Revan. Tapi dengan 1 pertanyaan itu saja sudah membuat Jessica menjadi yakin kalau tabib kecil bukanlah Pangeran Revan. Melainkan orang lain meski wajahnya mirip.


"Ah, tidak apa-apa," sahut Jessica masih agak sungkan. "Saya hanya teringat seseorang yang saya jumpai waktu kecil dulu."


"Dari kecil hingga sekarang Nona masih mengingat orang itu?" tanya Pangeran Revan sedikit merasakan lain di hatinya. Sampai-sampai kembali menatap Jessica.


"Iya, Pangeran," sahut Jessica terus terang, "saya sering mengingatnya."


"Setelah pertemuan itu kalian pernah berjumpa lagi?" kejar Pangeran Revan. Hatinya mulai diamuk gemuruh cemburu.


"Saya tidak pernah berjumpa lagi, Pangeran, selain pada waktu itu."


Hebat! Gadis secantik Jessica masih mengingat seseorang yang pernah dijumpainya di masa kecilnya, meski cuma sekali. Tentu lelaki itu merupakan orang yang istimewa bagi Jessica.

__ADS_1


Dia yang baru sebentar berjumpa dengan Jessica tapi sudah mulai suka. Namun gadis yang disukainya itu ternyata ingatannya cuma terisi lelaki yang baru sekali dijumpai. Sadis! Ini benar-benar sadis!


Hatinya yang tadi bergemuruh dengan sekuat tenaga ditenangkan agar Jessica tidak mengetahui kalau sebenarnya dia cemburu.


Tapi apa artinya dia cemburu? Toh dia belum menyatakan rasa sukanya kepada Jessica, apalagi jadian.


"Siapa nama lelaki itu, Nona?" tanya Pangeran Revan setelah sedikit menguasai perasaannya.


Jessica tak langsung menjawab pertanyaan itu. Dia lantas menoleh pada Pangeran Revan karena merasa aneh dengan nada suara sang pangeran yang agak bergetar.


"Maaf, Pangeran," kata Jessica merasa tidak enak. "Kalau Pangeran tidak suka dengan obrolan ini, saya tidak akan melanjutkan."


"Tidak mengapa, Nona Jenderal," kilah Pangeran Revan. "Saya tidak apa-apa. Jawab saja pertanyaan saya tadi."


"Dia tidak mau menyebutkan namanya, Pangeran," sahut Jessica bernada kurang semangat.


Dia merasa Pangeran Revan seperti tersinggung dengan obrolan ini. Dia makin merasa tidak enak.


★☆★☆


"Kenapa dia tidak mau menyebutkan namanya, Nona?" tanya Pangeran Revan heran setelah agak lama terdiam.


Nada suaranya sudah seperti semula, lembut dan tenang. Sehingga membuat Jessica agak tenang dan lega. Tapi dia tetap berhati-hati dalam berucap.


"Sebenarnya salah saya juga karena terlalu berlebihan mencandainya," ungkap Jessica mulai sedih. "Mungkin karena kesal kepada saya sehingga dia tidak mau menyebutkan namanya."


"Sampai pun kami berpisah dia tidak mau menyebutkan namanya," lanjutnya berusaha menahan kesedihannya. "Bahkan dia tidak mau lagi bertemu dengan saya."


"Mungkin waktu itu hatinya terluka atas sikap Nona terhadapnya," kata Pangeran Revan tidak bermaksud menyalahkan.


"Pangeran benar," kata Jessica mengakui. "Baru saya sadari kalau perbuatan saya itu ternyata mendatangkan rasa tersinggung terhadap orang lain."


"Dulu, waktu saya kecil suka usil dan bercanda yang berlebihan kepada orang," lanjutnya. "Tanpa perduli apakah orang itu tersinggung atau tidak."


"Apakah Nona sudah minta maaf kepadanya waktu itu?"


"Saya tidak terpikirkan untuk minta maaf, Pangeran. Karena saya merasa waktu itu cuma bercanda biasa...."


"Baru saya menyadari kesalahan saya ketika saya sudah berpisah dengannya," lanjutnya. "Terlambat untuk minta maaf, Pangeran."


"Ada keinginan bertemu dengannya lagi?" tanya Pangeran Revan tidak berbasa-basi.


"Entahlah, Pangeran, saya tidak tahu," sahut Jessica bimbang. "Lagi pula pasti dia sudah melupakan saya. Dan bisa jadi dia sudah punya kekasih."


"Nona yakin dia sudah punya kekasih?"


"Pemuda tampan dan sebaik dia, mana ada gadis cantik yang tidak suka padanya. Bahkan bisa jadi banyak gadis cantik yang menyukainya."


"Tapi kalau boleh saya sarankan, jika berjumpa lagi dengannya, temuilah dia dan minta maaf," kata Pangeran Revan tulus.


"Terlepas dia sudah punya kekasih atau belum," lanjutnya, "yang penting Nona minta maaf padanya sebagai pertanggung jawaban atas perbuatan Nona terhadapnya di waktu lampau."


Jessica terdiam memikirkan saran Pangeran Revan yang bagus itu. Dia memang harus mencari tabib kecil itu dan meminta maaf padanya. Apapun yang terjadi.


Terlepas dia sudah punya kekasih atau belum, pokoknya dia harus menemuinya dan harus minta maaf.


Sedangkan Pangeran Revan, melihat Jessica terdiam, dia bertanya atau berkata lagi. Tapi dia bisa menduga kalau gadis cantik itu memikirkan sarannya tadi.


Sebenarnya dia ingin bertanya apa hubungan pertanyaan Jessica di awal tadi dengan pemuda yang ditemuinya di waktu kecil. Tapi diurungkan. Pikirnya tidak terlalu penting.


Yang penting wajah cantik Jessica sudah tampak biasa lagi, kalau tidak mau dibilang ceria. Karena tadi wajahnya sempat bersedih. Membuat sang pangeran cemas juga.


Pangeran Revan rupanya tidak tahu kalau pemuda yang diceritakan Jessica sebenarnya adalah Ghavin Aldebaran alias Dhafin Damian, kakaknya seayah.


Dan Jessica juga sampai sekarang belum tahu kalau tabib kecil yang masih diingatnya itu sebenarnya bernama Ghavin Aldebaran, kakak dari pemuda tampan yang masih setia duduk di sampingnya.


Lantas, bagaimana jika suatu saat mereka mengetahui pemuda yang sedang dibicarakan? Apakah yang terjadi dengan sepasang muda-mudi itu?

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2