
Sementara itu Dhafin dan rekan-rekannya serta Putri Eveline dan Zelyne masih berada di Kota Nehan yang sudah kondusif.
Saat ini mereka tengah duduk-duduk di sebuah bangunan kecil tanpa dinding di lingkungan gedung jawatan kota. Sambil menunggu kedatangan Pangeran Revan, mereka berbincang-bincang tentang isi surat yang diberikan oleh Raja Ghanim.
Isi surat yang ditujukan Raja Ghanim kepada Jenderal Zelyne ternyata bukan khusus ditujukan kepada sang jenderal cantik itu.
Dalam amplop surat yang ditujukan kepada Jenderal Zelyne ternyata terdapat 2 lembar surat.
Surat yang satu ditujukan kepada Zelyne yang berisikan perintah Raja Ghanim kepada Zelyne untuk mewakili dirinya dalam rangka membacakan surat perintahnya di hadapan para komandan dan seluruh pasukan yang awalnya di bawah kepemimpinan Raja Ghanim.
Juga perintah kepada Zelyne untuk menyampaikan pesan Raja Ghanim bahwa kepemimpinan pasukan dia serahkan sepenuhnya kepada keturunan Pangeran Ghazam.
Di dalam surat itu juga tertera nama-nama komandan perang yang memimpin sekitar 20000 personel pasukan.
Surat yang satunya berupa surat perintah Raja Ghanim kepada para komandan dan seluruh pasukan untuk tunduk dan patuh di bawah kepemimpinan keturunan Pangeran Ghazam.
Untuk bersatu mengangkat senjata di bawah kepemimpinan keturunan Pangeran Ghazam dalam menggulingkan kekuasaan Bunda Suri Hellen.
Kedua surat itu telah dibaca oleh Dhafin, Aziel, Gibson serta Zafer setelah dibaca oleh Zelyne. Putri Eveline tidak ikut membaca karena mencukupkan Zelyne yang membacanya.
Lagipula Putri Eveline masih memikirkan pesan ayahandanya yang menyuruhnya bergabung dengan Dhafin dan rekan-rekannya. Sementara mereka mengangkat senjata untuk melawan keluarganya.
Haruskah dia menuruti perintah ayahandanya?
Masih terngiang dalam pikirannya kematian Pangeran Marvin, kakak kandungnya. Dia mati dibunuh oleh Zafer dalam sebuah pertarungan.
Sementara pembunuh kandanya ada bersamanya. Dia harus bagaimana dia jadi bingung. Sedangkan pengawal sekaligus sahabatnya menjadi kekasih sang pembunuh.
Sementara itu apa yang digundahkan oleh Putri Eveline amatlah dimengerti oleh Dhafin dan rekan-rekannya, terutama Zafer.
Meskipun Zafer telah menerangkan sekali lagi kenapa dia harus membunuh Pangeran Marvin, Putri Eveline masih juga belum bisa menerima keadaan.
"Kamu harus menyadari satu hal bahwa Selir Hellen Gretha, nenekmu berada di pihak yang salah," kata Dhafin mencoba memberi pengertian. "Dia telah merampas sesuatu yang bukan haknya."
"Aku rasa sepertinya Yang Mulia Raja sudah menceritakan mengenai duduk persoalan yang sebenarnya," lanjutnya. "Bukankah begitu?"
Putri Eveline yang mendengar penuturan Dhafin hanya mengangguk. Ya, ayahandanya sudah menceritakan padanya akar masalah sehingga konflik ini terjadi.
Dia harus menyadari kalau semua yang terjadi ini adalah takdir langit yang harus dia terima meskipun dia benci.
"Kamu harus menyadari pula bahwa semua yang terjadi," kata Dhafin yang mencocoki apa yang dipikirkannya, "baik yang kamu rasakan maupun yang kamu saksikan adalah takdir langit yang harus kamu terima meskipun kamu tidak suka."
__ADS_1
Putri Eveline sedikit tersentak kaget begitu mendengar penuturan Dhafin yang sangat mencocoki apa yang dia pikirkan. Sampai-sampai dia memandangnya lekat-lekat. Apakah orang ini bisa membaca pikiran orang?
Dhafin yang melihat ekspresi Putri Eveline itu cuma tersenyum saja. Terus dia berkata lagi yang bermakna menyarankan.
"Kami tidak memaksamu untuk ikut terlibat dalam perang saudara ini. Tapi setidaknya, jika kamu tidak ingin mengarahkan pedangmu kepada keluargamu, tapi jangan juga mengarahkan pedangmu kepada Pangeran Revan yang mana dia adalah saudaramu juga."
"Kenapakah harus terjadi perang saudara seperti ini?" kata Putri Eveline bernada sedih seakan belum bisa menerima takdir langit.
"Tidak ada yang menginginkan peristiwa seperti ini terjadi, Tuan Putri," kata Dhafin bernada bijak, "jika segala sesuatunya berjalan sebagaimana mestinya."
"Namun sayangnya dalam kasus ini Selir Hellen melakukan suatu tindakan diluar batas," lanjut Dhafin, "sehingga membangkitkan reaksi penentangan sekaligus perlawanan dari pihak Yang Mulia Selir Heliana."
"Maka perang tidak bisa dicegah lagi yang mana hal ini sudah ketentuan dari Penguasa Langit. Kebetulan antara kedua belah pihak yang berperang masih satu keluarga."
Zelyne yang berada di dekat Putri Eveline, melihat kesedihan yang dialami junjungannya itu langsung merangkulnya, membawanya dalam pelukannya. Lalu berkata sambil membelai lembut rambutnya.
"Tuan Putri, semua apa yang dikatakan Tuan Muda Dhafin adalah benar. Jika kamu tidak mau ikut berperang, setidaknya kamu tidak ikut terlibat dalam konflik ini."
"Aku masih bingung menentukan sikap, Kak," kata Putri Eveline bernada bersedih.
"Sudahlah! Untuk saat ini kamu tidak usah dulu memikirkan kamu harus berpihak pada siapa," kata Zelyne bernada bijak. "Yang terpenting kamu mencerna dulu tentang semua yang dikatakan Tuan Muda Dhafin."
Tapi untuk saat sekarang ini dia harus menenangkan diri dulu untuk bisa menerima kenyataan lahir batin.
★☆★☆
Pangeran Revan, Brian dan beberapa rekan lainnya telah tiba di Kota Nehan.
Namun ternyata bukan cuma mereka yang datang. Ratu Agung Aurellia dan 4 pengawal cantiknya beserta 50 Pengawal Khusus Ratu juga ikut datang.
Bahkan Jessica dan Fariza Luna; 2 Komandan Pasukan Rahasia juga ikut serta.
Dan mereka semua langsung menemui Dhafin dan rekan-rekan lainnya di gedung jawatan kota.
Begitu Jessica tahu kalau kakaknya ada di gedung jawatan kota, dan Zelyne juga tahu ternyata adiknya juga ikut bersama rombongan Ratu Agung Aurellia, betapa bahagianya perasaan masing-masing.
Hampir tidak kalah bahagianya dengan Fariza saat bertemu lagi dengan Gibson setelah beberapa hari terpisah.
Terang saja Zelyne dan Jessica langsung saling berpelukan melepas rasa rindu ketika selama 8 tahun lebih terpisah.
Tidak lama kemudian, setelah Zelyne dan Jessica selesai saling menguras air mata karena dapat dipertemukan kembali setelah sekian lama terpisah, barulah Jessica memperkenalkan kakaknya itu kepada rombongan Ratu Aurellia. Tak lupa dia juga memperkenalkan Putri Eveline.
__ADS_1
Ratu Aurellia berusaha untuk tidak curiga kepada kedua gadis itu, apakah mereka menyukai Dhafin juga atau tidak.
Dan hatinya lega ketika mengetahui kalau Putri Eveline adalah sepupunya Pangeran Revan. Itu artinya sepupunya Dhafin juga. Maka gadis itu aman dari kecurigaan Ratu Aurellia.
Sedangkan pada Zelyne Ratu Aurellia belum ada alasan untuk curiga terhadapnya, walaupun dia kakak Jessica.
Sementara Jessica sendiri sudah mulai sedikit demi sedikit menjauhkan hatinya dari menyukai Dhafin. Apalagi Fariza memberitahukan kepadanya kalau Dhafin adalah milik ratu mereka.
Makanya ketika bertemu dengan Dhafin lagi dia berusaha untuk bersikap wajar, apalagi di hadapan Yang Mulia Ratu.
Sedangkan Dhafin juga cuma menyapa ramah seraya tersenyum santun kepada Jessica dan juga kepada Fariza serta 4 pengawal cantik.
Sementara Putri Eveline, ketika pertama kali melihat Ratu Aurellia dan segala keanggunannya, sempat tertegun sejenak. Sayang dia tidak bisa melihat kecantikannya karena tertutupi oleh cadarnya.
Dan dia terkesan akan tutur bahasa serta sikapnya yang sama sekali tidak ada kesan angkuh atau sombong. Malah dia merasakan sikap ramah dan rendah hati.
Padahal dia melihat semua orang yang ada di gedung ini menghormatinya, tidak terkecuali Pangeran Revan.
Satu orang yang sikapnya biasa saja di hadapan Ratu Aurellia yaitu Dhafin. Putri Eveline langsung menarik sebuah kesimpulan kalau antara keduanya pasti ada hubungan khusus.
Memikirkan hal itu Putri Eveline berusaha untuk tidak menyukai Dhafin, meskipun indikasi ke arah situ sudah ada. Makanya dia harus cepat-cepat mundur saja kalau tidak ingin berbuat masalah.
Apalagi dia melihat sang ratu berbicara begitu santai kepada Dhafin menanyakan tentang perihal keadaan Kota Nehan serta beberapa hal lainnya.
Tidak lama kemudian, Zelyne meminta Putri Eveline untuk menyerahkan surat Raja Ghanim yang ditujukan kepada Pangeran Revan. Sedangkan surat yang ditujukan kepadanya dia serahkan kepada Yang Mulia Ratu.
Namun Pangeran Revan meminta agar surat yang ditujukan kepadanya diserah kepada Yang Mulia Ratu.
Maka Yang Mulia Ratu menerima surat itu, di samping juga menerima surat dari Zelyne. Setelah membaca kedua surat itu, Ratu Aurellia baru menyerahkan kedua surat itu kepada Pangeran Revan.
Adapun isi surat Raja Ghanim kepada Pangeran Revan yaitu permintaan maafnya yang sebesar-besarnya atas perbuatan dosa yang dilakukannya, yaitu membunuh Pangeran Ghazam dan kedua istrinya, di mana mereka adalah orang tua Pangeran Ghavin dan Pangeran Revan.
Isi surat selanjutnya mengenai penyerahan pasukan yang berjumlah 20000 lebih personel kepada keturunan Pangeran Ghazam dan menyerahkan kepemimpinan tertinggi pasukan tersebut kepada keturunan Pangeran Ghazam.
Setelah acara pembacaan surat, Ratu Aurellia mengadakan pertemuan kecil di aula gedung jawatan kota.
Tidak lain pertemuan itu membicarakan tentang penetapan basis pasukan sementara di Kota Nehan, karena mereka sudah menguasai kota yang cukup besar itu.
Setelah itu penjemputan pasukan yang diberikan Raja Ghanim tesebut yang diantar oleh Zelyne. Sementara Putri Eveline tetap ikut serta pula.
★☆★☆★
__ADS_1