
Malam semakin merangkak turun perlahan demi perlahan. Waktu sudah melewati pertengahan malam. Dingin semakin menggila menyelimuti areal ujung kampung itu.
Sementara pertarungan antara Tuan Regulus Cs melawan Pangeran Pusat Cs semakin memanas, semakin seru, dan semakin sengit.
Kabut tebal tidak menghalangi pandangan mereka yang begitu tepat dalam menangkis maupun menyerang lawan masing-masing. Hawa malam yang amat dingin tidak mempengaruhi gerakan mereka, tetap saja lincah, gesit dan cepat.
Hingga saat ini yang entah sudah berapa jurus tercipta masing-masing kedua kubu itu belum ada yang menggunakan senjata. Mereka masih saja bertarung dengan tangan kosong.
Namun walau begitu pertarungan itu tidak kalah layaknya mereka menggunakan senjata; dahsyat sekaligus sadis.
Masing-masing para petarung itu bertarung 1 vs 1. Kecuali Dhafin yang bertarung menghadapi 2 lawan sekaligus; Mawar Kuning dan Mawar Putih. Namun walau begitu tidak ada kesulitan bagi Dhafin menghadapi kedua kakak beradik itu.
Perlu diketahui, baik Mawar Kuning maupun Mawar Putih, bukan saja terkenal kehebatan permainan mereka di atas ranjang. Tapi ilmu beladiri serta kesaktian mereka lebih hebat lagi.
Meski umur mereka masih tergolong muda, sekitar 30-an tahun, namun kehebatan mereka tidak bisa dianggap remeh. Apalagi mereka bertarung maju berdua sekaligus.
Namun yang dihadapi adalah Dhafin, salah seorang jawara terhebat yang dimiliki Istana Centauri. Bukan saja beladiri serta kesaktian yang dipunyai pemuda tampan itu, melainkan tenaga batin yang sudah berpadu dengan tenaga ghaibnya tidak kalah hebatnya.
Sudah berapa kali kedua kakak beradik yang doyan bermesraan itu mengerahkan ilmu pemikat pada Dhafin. Namun belum juga berhasil, karena Dhafin selalu menangkalnya dengan ilmu yang dimilikinya.
Tapi kedua wanita cantik berdandan seronok itu tidak berputus asa. Mereka terus saja bertarung melawan pemuda yang sudah memikat hati mereka, bagaimana menaklukkan Dhafin tanpa harus membunuhnya.
Sementara pertarungan di tempat lain tidak kalah serunya. Dan tanpa terasa para petarung semakin menjauh dari perkampungan, dan semakin dekat menuju pinggir hutan.
Tampak Golok Hitam ternyata sudah menggunakan golok hitamnya melawan Zafer. Sedangkan putra Selir Ashana itu sudah tahu sampai di mana kehebatan lawannya. Maka tanpa sungkan pula bertarung menggunakan pedangnya yang berwarna kuning keemasan.
Sedangkan Tuan Regulus maupun Aziel sepertinya sudah tahu sampai di mana kehebatan mereka masing-masing. Maka tanpa sungkan mereka langsung menggunakan senjata masing-masing pula.
Tuan Regulus menggunakan golok cukup besar berwarna putih keperakan. Sedangkan Aziel menggunakan salah satu dari Sepasang Pedang Bulan-nya. Maka pertarungan di antara mereka semakin seru, semakin dahsyat, dan semakin mengerikan.
Sementara Iblis Racun Betina maupun Hendry belum lama pula bertarung menggunakan senjata masing-masing.
Wanita yang kerap bermain racun itu menggunakan senjata berupa tongkat besi warna ungu tua, yang mana kepala tongkatnya berbentuk kepala serigala.
Sedangkan Hendry menggunakan sepasang pedang. Yang satu panjang dan yang satunya agak pendek dari pedang panjangnya.
Hampir setiap serang demi serangan yang masing-masing mereka lancarkan terdengar bunyi suara logam saling beradu yang cukup keras, sehingga mampu membuat bising di telinga dan membuat hati tergiris.
Sementara Penyair Putih maupun Pendekar Penyair belum sama sekali menggunakan senjata dalam pertarungan mereka. Hanya saja saling adu kesaktian kadang mereka terapkan pada setiap serangan yang mereka lancarkan.
Seperti saat ini. Kedua telapak tangan mereka sudah berisi tenaga sakti yang cukup tinggi. Lalu serta merta mereka saling menghantamkan kedua telapak tangan mereka ke depan. Begitu keempat telapak tangan itu bertemu pada satu titik pertengahan....
Blaaarrr! Blaaarrr!
Seketika terdengar dua ledakan cukup keras dan dahsyat yang saling bersamaan. Demikian kerasnya dua ledakan itu, membuat telinga pekak dan membangunkan seluruh makhluk malam yang ada di sekitar situ.
Tampak bias-bias ledakan memercik ke segala arah.
Sementara baik Pendekar Penyair maupun Penyair Putih sama-sama terseret ke belakang 1 tombak. Lalu Gibson terjajar 3 langkah ke belakang. Sedangkan Penyair Putih terjajar 4 langkah ke belakang.
Tidak lama masing-masing kedua petarung itu sama-sama mengerahkan tenaga murni untuk menetralkan kondisi yang sempat terkena imbas dari adu tenaga sakti tadi.
★☆★☆
Untuk beberapa saat lamanya kedua penyair itu saling bertatapan dengan tajam penuh ancaman. Benak masing-masing mereka segera membahas adu tenaga dalam beberapa saat yang lalu.
Tampak wajah Penyair Putih semakin membesi manakala mengetahui kalau tenaga dalam Pendekar Penyair lebih tinggi darinya.
__ADS_1
Benaknya segera memikirkan akal licik agar bisa mengalahkan Gibson. Kalau tidak bisa mengalahkan, dia harus mencari akal bagaimana melarikan diri.
Dasar pengecut!
"Apa kamu gurunya Penyair Pemetik Bunga, Penyair Putih?" tanya Gibson seketika memecah kebisuan di antara mereka.
Terang saja hati Penyair Putih terkejut mendengar pertanyaan Gibson itu. Tentu saja tebakan pemuda itu sangat tepat. Penyair Pemetik Bunga adalah muridnya yang sudah cukup lama hilang alias mati.
Dia cuma mendengar rekan-rekannya dari Kerajaan Lengkara kalau muridnya itu terbunuh. Siapa yang membunuh masih belum jelas.
"Apa kamu yang membunuh muridku itu?" tanya Penyair langsung menebak.
"Manusia hina seperti muridmu itu lebih pantas mati daripada hidup lama," kata Gibson bernada dingin. "Maka aku membantunya agar dia lekas mampus...."
"Agar dia berhenti berbuat nista," lanjutnya, "agar wanita terhormat menjadi sentosa...."
"Aduhai, sungguh malang.., murid pertamaku telah binasa di tanganmu, wahai pemuda," kata Penyair Putih seolah mengimbangi gaya bicara Gibson. "Aku harap kamu tidak keberatan kalau aku membunuhmu, agar arwah muridku bisa tersenyum bahagia di dalam pusaranya...."
Tentu saja ucapan Penyair Putih bermode syair itu bukan ucapan kosong. Dia mengerahkan seluruh kekuatan tenaga batinnya melalui gelombang suaranya. Karena dia sudah tahu dengan siapa dia berhadapan.
"Sebelumnya itu, kalau boleh aku tahu siapakah gerangan kamu ini adanya," lanjutnya, "agar nantinya nisan pusaramu bisa kuukir namamu yang jumawa...."
Angin tidak wajar langsung berhembus di sekitar mereka. Pertama-tama perlahan. Lama kelamaan mulai kencang.
"Hahaha...! Murid nista guru durjana, itulah gelar hina yang kalian pikul menuju ke alam baka...," kata Gibson tidak mau kalah.
Dia juga melambari gelombang suaranya dengan tenaga batin berpadu tenaga ghaib. Dan tidak tanggung-tanggung dia mengerahkan hingga tingkat akhir.
"Kamu hanya berniat membunuhku, tapi tidak mampu membinasakanku. Sedangkan aku bukan hanya berniat, tapi mampu membuat nyawamu sirna...."
Sementara gelombang angin semakin menggila di sekitar mereka. Dedaunan kering berterbangan, kabut malam langsung sirna.
"Tentu kamu masih ingat wanita bangsawan bernama Brianna Faranisa.... Setelah kamu merenggut bunga sucinya, lalu kamu mencampakkannya begitu saja, meninggalkannya tanpa dosa...."
Penyair Putih berusaha keras untuk tidak terkejut. Karena kalau hal itu terjadi, tentu tenaga batin Gibson akan lebih cepat mencelakainya.
Namun dia masih ingat wanita bangsawan yang bernama Brianna Faranisa, gadis yang pernah menyerahkan kesuciannya karena mencintainya. Setelah mereguk bunga suci dari wanita itu, lalu dia meninggalkannya dan tidak pernah menemuinya lagi.
"Tanpa pernah kamu menghirau kalau dalam garba rahimnya memendam nutfah kotormu. Kemudian hasil kenistaanmu itu membesar dalam perutnya, sementara wanita bangsawan itu menyembunyikan mukanya karena malu menanggung hasil kebejatanmu...."
"Kemudian lahirlah anak haram, hasil dari kebejatanmu dan wanita bangsawan yang kejam dan tercela...."
"Ya..., dia memang wanita kejam dan tercela karena tega membuang oroknya yang masih merah, membiarkannya terlantar dipermainkan oleh kejamnya dunia..., karena tidak sanggup menanggung malu dan celaan dunia...."
Dari penuturan Gibson yang panjang lebar itu, Penyair Putih hampir yakin kalau anak yang lahir hasil hubungan terlarang adalah pemuda di depannya ini. Kalau benar hal itu, maka dia akan memainkan perannya sekarang.
"Apakah... apakah anak yang terlahir dari rahim Brianna itu adalah kamu..., putraku...?" kata Penyair Putih mulai bersandiwara dengan gaya bicaranya yang menyesal.
"Setelah semua yang terjadi kamu masih berani menyebut aku adalah putramu, lelaki durjana?" kata Gibson makin bernada dingin suaranya di tengah kepedihan hatinya.
"Kamu jangan berkata begitu, putraku," gaya bahasa Penyair Putih makin dibuat memelas penuh penyesalan. "Aku memang ayah yang tidak berguna, yang telah menelantarkan darah dagingnya hanya karena mengejar nafsu belaka...."
"Maafkan ketidak berdayaan ayahmu ini, putraku. Aku akan bersujud di hadapanmu, memohon ampunanmu dan maafmu... Ayahmu yang malang ini menyesal.... Aku telah menyesal...."
"Hahaha...! Lihatlah dirimu, Penyair Hina," kata Gibson sama sekali tidak terpengaruh sandiwara Penyair Putih. "Setelah kamu sudah merasa binasa di tanganku, kamu cepat-cepat bersandiwara di depanku...."
"Kamu muntahkan dari mulut kotormu itu kalimat-kalimat penyesalan yang palsu, berharap aku mengampuni perbuatan hinamu...."
__ADS_1
"Jangan berkhayal, Orang Tua, aku tidak akan pernah mengampunimu, karena aku sudah bersumpah akan melenyapkan nyawamu...."
"Bersiaplah untuk menjemput ajalmu, Penyair Putih!"
Setelah itu Gibson setengah merentangkan tangan kanannya ke samping agak ke depan. Lalu beberapa kejap berikut pedangnya yang memancarkan sinar kuning seketika muncul di dalam genggaman tangannya.
"Dasar anak durhaka!" bentak Penyair Putih menggeram marah karena sandiwaranya tidak berhasil. "Baiklah kalau kamu ingin mati muda, aku akan mengabulkan!"
Lalu dia berbuat seperti Gibson. Dan tak lama di tangan kanannya telah tergenggam pedang panjang bermata satu. Lalu langsung melesat ke depan menyerang Gibson dengan ganas.
Sementara Gibson tidak mau menunggu serangan tiba. Dia segera menyongsong serangan manusia bejat itu. Hingga tidak lama kemudian, kedua orang yang ternyata ayah dan anak itu kembali terlibat dalam pertarungan.
★☆★☆
Sementara itu, pertarungan antara Dhafin melawan Mawar Kuning dan Mawar Putih terus berlangsung semakin seru. Masing-masing dari mereka sudah menggunakan senjata.
Dhafin menggunakan Pedang Akhirat-nya. Sedangkan kedua bersaudara itu juga menggunakan senjata pedang yang gagangnya berukir bunga mawar; Mawar Kuning berwarna kuning, Mawar Putih berwarna putih.
Hingga suatu ketika Dhafin menangkis pedang kedua wanita cantik itu tak jauh di depan wajahnya. Kemudian secara tidak terduga kedua wanita itu menghembuskan uap pemicu birahi dari mulut mereka ke wajah Dhafin.
Namun Dhafin yang selalu waspada akan serangan curang kedua wanita itu segera menyadari serangan berbahaya itu.
Setelah melepas pedangnya begitu saja dari genggaman tangannya dan pedangnya langsung lenyap, dengan gerakan amat cepat dia mendorong kedua telapak tangannya di depan wajahnya, lalu melenting ke belakang dengan lebih cepat lagi.
Maka serangkum angin seketika berhembus menghempas uap pemicu birahi yang keluar dari mulut Mawar Kuning dan Mawar Putih. Lalu uap berbahaya itu tanpa ampun kembali ke tuannya masing-masing.
Sungguh Mawar Kuning maupun Mawar Putih sama sekali tak menduga kalau Dhafin mampu menghindari serangan mereka. Lebih tak menduga lagi kalau serangan mereka bisa dikembalikan.
Karena terlambat mengadakan persiapan akhirnya senjata makan tuan. Uap pemicu birahi itu langsung menerpa wajah dan mata mereka. Dan seketika gerakan mereka terhenti.
Namun tak lama kemudian, uap pemicu birahi telah bereaksi. Wajah Mawar Kuning maupun Mawar Putih tampak merah merona pertanda sudah dalam mode birahi tingkat tinggi.
Begitu mereka melihat Dhafin berdiri tenang tidak jauh di depan mereka, pedang langsung dibuang begitu saja, lalu mereka berlari kecil ke arah Dhafin sambil berkata penuh birahi yang mendayu-dayu.
"Sayangku...."
"Cintaku...."
Sedangkan Dhafin tetap diam saja di tempatnya, seolah menanti kedatangan kedua wanita doyan bercinta itu. Namun kedua telapak tangannya sudah terbungkus sinar putih bening berhawa amat dingin.
Begitu kedua wanita itu sudah berada 2 langkah kurang di depannya, dengan cepat dan kuat Dhafin menghantamkan kedua telapak tangannya yang sudah berisi kesaktian itu ke dada membusung kedua wanita itu.
Telapak tangan kanan ke bukit kembar Mawar Kuning, telapak tangan kiri ke bukit kembar Mawar Putih.
Kedua wanita itu tidak memperdulikan serangan berbahaya itu, karena pikiran mereka sudah dirasuki oleh birahi akut. Maka dengan telak serangan itu mengenai sasaran.
Bughk!
Bughk!
"Aaa...!"
"Aaakh...!"
Seketika kedua wanita itu terlempar ke belakang dengan deras sambil menjerit keras. Dan selagi mereka berada di udara, seketika tubuh mereka berubah menjadi beku laksana patung es. Begitu telah jatuh menimpa tanah berumput langsung hancur berkeping-keping.
Tamatlah riwayat Mawar Kuning dan Mawar Putih akibat kecerobohan mereka sendiri.
__ADS_1
★☆★☆★