
Kala itu di sebuah hutan rimbun di ujung sebelah utara wilayah Kerajaan Amerta. Atau tidak jauh di luar batas wilayah Kerajaan Bentala sebelah selatan....
Waktu itu hari masih pagi. Langit tampak begitu cerah, nyaris tak berawan. Matahari naik baru setombak. Sementara hawa sejuk suasana hutan masih terus terasa seakan enggan untuk pergi.
Di suatu sudut di tengah hutan yang di kelilingi oleh pepohonan rimbun besar kecil, di bawah sebuah pohon besar tampak 10 pemuda tampan tengah duduk-duduk santai sambil berbincang-bincang ringan.
Mereka tidak lain adalah Dhafin, Brian, Aziel, Zafer, Gibson, Keenan, Kelvin, Hendry, Wilson, dan Veron.
Karena di dekat pohon besar itu ada 3 objek yang bisa dijadikan tempat duduk, maka duduklah mereka sesuai selera masing-masing di situ.
Tiga objek itu adalah batang pohon tumbang yang cukup besar, batu besar yang atasnya agak datar dan lebar, akar pohon yang besar yang menonjol di permukaan.
Beberapa hari yang lalu mereka meninggalkan Istana Bentala yang mana pada waktu itu sedang berlangsung upacara pelantikan Pangeran Revan menjadi raja.
Sebelumnya Dhafin melakukan suatu tindakan yang mana belum pernah dia lakukan sebelumnya. Yaitu menghilangkan ingatan semua orang tentang dirinya.
Bukan hanya itu saja. Sembilan orang pemuda tampan yang bersamanya dia melakukan hal yang sama, menghilangkan ingatan semua orang tentang mereka.
Hingga akhirnya mereka sampai di tengah hutan ini yang sudah masuk wilayah Kerajaan Amerta.
Dhafin memilih 9 ksatria handal itu bukan asal saja. Mereka termasuk jajaran ksatria elit yang sudah memiliki kesaktian tingkat tinggi. Bahkan beberapa di antara mereka sudah mencapai taraf sempurna.
Pengalaman dalam berperang maupun dalam bertarung sudah tidak diragukan lagi.
Keberadaan mereka di wilayah Kerajaan Amerta bukan untuk pelesiran. Melainkan demi melakukan sebuah tugas yang telah direncanakan oleh Dhafin sebelum penaklukan Kerajaan Bentala.
"Yang Mulia," kata Kelvin yang sudah terbiasa memanggil begitu kepada Dhafin dengan nada setengah merengek, "apakah Abiela benar-benar masih mengingat saya setelah matra ghaib Yang Mulia terbuka? Dua bulan waktu yang cukup lama, Yang Mulia...."
Kelvin duduk di batang pohon tumbang bersama Gibson, Zafer, dan Wilson.
Dia memandang Dhafin yang duduk di atas batu dengan model bagai bersemedi dengan wajah memelas tapi tampak lucu. Di kiri kanan pemuda itu duduk Aziel dan Brian.
"Alaaah..., dasar kamu ini budak cinta!" gerutu Hendry yang kesal menyaksikan kebucinan Kelvin yang menurutnya lebai. Dia duduk di atas akar pohon yang berbentuk aneh itu bersama Keenan dan Veron.
"Sudah berapa kali kamu mengeluhkan ucapan menjijikkan itu," lanjutnya. "Apa kamu tidak percaya dengan kehebatan Yang Mulia?"
"Bukan begitu," kata Kelvin cepat masih dengan mimik menyebalkan sekaligus lucu. "Aku hanya takut Abiela berpaling kepada pemuda lain...."
"Percayalah, Kelvin," bujuk Gibson seraya menepuk-nepuk pelan punggungnya, "kekasihmu tak 'kan melupakanmu secara permanen. Hal itu hanya sementara saja."
"Sudah!" kata Brian cepat bernada kesal mencegah Kelvin yang hendak merengek lagi. "Tidak usah lagi kamu membahas masalah yang tidak terlalu penting itu. Sekarang kita fokus saja pada apa yang Yang Mulia membawa kita ke mari!"
"Brian benar, Kelvin," imbuh Wilson yang duduk di samping kiri Kelvin bernada membujuk. "Kita fokus saja dulu pada tugas kita di kerajaan ini. Kalau kamu terus mengingat kekasihmu itu yang sebenarnya baik-baik saja, bisa-bisa kamu tidak fokus dalam menjalankan tugas."
"Bahkan nyawamu bisa melayang," imbuh Aziel pula bernada dingin. Sorot matanya amat dingin menatap Kelvin.
"Atau aku menghilangkan ingatanmu juga tentang kekasihmu selama 2 bulan," kata Dhafin bernada tenang tanpa membuka matanya, "biar kamu fokus pada tugas."
"Setuju...!" seru Brian dan Hendry hampir bersamaan.
Sementara beberapa orang lainnya mimik wajahnya bagai setuju dengan usulan Dhafin meski tidak mengucapkan.
__ADS_1
★☆★☆
Mendengar ucapan mengerikan Dhafin itu dan mendengar persetujuan Brian dan Hendry serta yang lainnya, tentu saja membuat Kelvin terkejut bukan main. Ketakutan langsung menyergapnya.
Menghadapi marabahaya apapun dia tidak pernah takut, sampai pun menghadapi ribuan musuh apalagi. Namun kehilangan wanita yang dicintainya itulah yang membuatnya takut.
Barusan Dhafin mengatakan akan menghilangkan ingatannya tentang Abiela sang kekasih. Katanya cuma 2 bulan saja.
Bagaimana dia tidak takut kalau begitu? Beberapa saat saja dia tidak mengingat kekasihnya sudah membuatnya ketakutan. Apalagi selama 2 bulan.
Padahal kalau mau dipikir Dhafin cuma menghilangkan ingatannya cuma sementara, tanpa mempengaruhi psikologisnya. Setelah itu dia mengingat lagi seperti biasa.
Tapi memang dasarnya Kelvin ini amat mencintai Jenderal Abiela sehingga membuatnya bucin begitu.
Refleks dia melompat kecil ke tanah. Terus melangkah lebar menuju batu besar di mana Dhafin duduk. Begitu tinggal setombak kurang lagi jaraknya dengan batu besar, dia langsung menyungkurkan tubuhnya berlutut di hadapan Dhafin.
"Ampun, Yang Mulia," rengek Kelvin dengan nada dan mimik memelasnya yang menyebalkan namun lucu, "jangan lakukan hal itu! Saya tidak ingin ingatan saya lepas dalam mengingat Abiela...."
"Bagaimana jika hal itu akan mengganggumu dalam melaksanakan tugas, Kelvin?" kata Dhafin seakan mengingatkan.
"Ingatlah!" lanjutnya, "jumlah kita cuma 10 orang. Dan bisa jadi dalam suatu keadaan kita berjuang sendiri-sendiri."
"Saya berjanji akan melaksanakan tugas dengan baik, Yang Mulia," kata Kelvin berusaha bernada tegas.
"Kamu yakin?" Dhafin ingin ketegasan yang benar-benar tegas.
"Saya yakin, Yang Mulia," Kelvin berusaha meyakinkan.
Sebelumnya Dhafin meminta kepada semua rekannya untuk memanggilnya dengan nama saja, tanpa ada embel 'Yang Mulia' di depannya. Karena dia saat ini masih dalam penyamaran.
Namun permintaan Dhafin itu tidak ada yang berani melaksanakannya. Kenapa?
Mereka semua sudah mengetahui kalau Dhafin adalah Pangeran Agung atau Putra Mahkota Kerajaan Bentala dengan nama asli Pangeran Ghavin Aldebaran.
Terlepas Dhafin menolak menjadi raja, namun mereka tetap saja menghormatinya seperti junjungan dan memanggilnya dengan sebutan Yang Mulia, meski Dhafin tidak memintanya.
Ditambah lagi bahwa semua penduduk Istana Centauri sudah tahu kalau Dhafin adalah kekasih junjungan mereka, Yang Mulia Ratu Aurellia.
Maka otomatis mereka menghormati Dhafin sebagaimana mereka menghormati Ratu Aurellia. Dan gelar Yang Mulia wajib mereka sematkan pada Dhafin.
Sedikit rumit juga permasalahan ini dibahas hingga akhirnya Gibson menyarankan untuk tetap memanggil Dhafin dengan gelar kehormatan, tapi dengan sebutan 'Tuan Muda'.
Semuanya setuju, dan Dhafin terpaksa menyetujuinya daripada permalasahan ini jadi panjang. Tapi kalau ada yang memanggilnya dengan sebutan nama silahkan saja.
Namun adakah yang berani?
★☆★☆
Selanjutnya, Dhafin membagi pelaksana tugas dalam misi ini menjadi 2 kelompok. Kelompoknya yang anggotanya yaitu Gibson, Zafer, Hendry, dan Veron. Dan kelompok Brian yang anggotanya yaitu Aziel, Keenan, Kelvin, dan Wilson.
Masing-masing dari kedua kelompok ini, kelompok Dhafin akan menyisir wilayah Kerajaan Amerta mulai dari wilayah utara ini terus menuju ke wilayah barat, dan berakhir di wilayah selatan.
__ADS_1
Sedangkan kelompok Brian akan menyisir mulai dari wilayah utara terus menuju ke wilayah timur, dan berakhir di wilayah selatan.
Dan mereka akan bertemu di ujung perbatasan Kerajaan Amerta sebelah selatan 25 hari ke depan dimulai dari sekarang.
Tugas mereka antara lain mencari informasi-informasi penting yang terjadi di Kerajaan Amerta selama ini, mencari tahu tentang jumlah kekuatan pasukan yang ada di kota-kota yang akan di lewati nanti. Kalau bisa mencari tahu juga jumlah kekuatan yang ada di istana.
Jika dalam perjalanan bertemu dengan kelompok oposisi, kalau bisa diajak kerjasama dalam menggulingkan tirani Putri Rayna Cathrine dan Raja Adrian.
Apabila dalam menjalankan tugas nanti, kalau ada peluang untuk berperang dengan pasukan istana atau bertarung dengan jawara istana, maka silahkan saja.
Tapi jika kemungkinan besar tidak bisa menghadapi orang-orang kerajaan, maka sebaiknya menghindari pertempuran atau pertarungan.
Dan satu hal penting yang Dhafin wanti-wanti, terutama pada Brian adalah apabila dalam perjalanan nanti bertemu dengan Putri Rayna Cathrine dan Raja Adrian atau salah satu dari keduanya, sedapat mungkin untuk menghindari.
Jangan sekali-kali kontak fisik dengan keduanya atau salah satunya. Sedapat mungkin untuk tidak terlihat oleh mereka meski ada peluang untuk bertarung.
"Perlu kalian ketahui --dan sebagian kalian sudah tahu-, bahwa kesaktian Putri Rayna dan Raja Adrian sekarang sudah semakin hebat," kata Dhafin mengingatkan. "Jadi aku harap kalian semua jangan coba-coba melakukan tindakan terhadap mereka...."
Kemudian Dhafin menjelaskan beberapa tugas lainnya lagi. Termasuk memberitahukan tentang siasat-siasat dan strategi perang.
Dan membolehkan Brian untuk merancang strategi dan siasat sendiri kepada 4 rekannya selain yang sudah dia jelaskan.
"Ada pertanyaan?" tanya Dhafin di ujung penjelasannya.
"Bagaimana jika nanti bertemu dengan Gerombolan Tengkorak Pedang?" tanya Brian ingin tahu.
"Jika ada kesempatan untuk berperang dan kemungkinan besar menang," sahut Dhafin, "maka silahkan saja untuk berperang!"
"Syukur-syukur kalau ketua gerombolan busuk itu keluar sarang dan bertemu dengan salah satu di antara kita. Jika memungkinkan, maka libas saja!"
"Jika seandainya ada kelompok oposisi yang mau bergabung dengan kita," kata Hendry bernada tanya, "apa ketua kelompoknya bisa kita ajak untuk bertemu di batas wilayah selatan nanti?"
"Jangan dulu," sahut Dhafin tegas. "Hal itu ada waktunya tersendiri."
Setelah itu, beberapa saat tidak ada lagi yang bertanya yang menyebabkan suasana didera kebisuan dibungkus kesunyian, Dhafin berkata.
"Sebelum kita tinggalkan tempat ini, ada baiknya kita panggil dulu tamu misterius yang bersembunyi di satu tempat tidak terlalu jauh dari kita."
Selesai berkata, Dhafin mengangkat tangan kanannya ke depan. Tampak telapak tangan itu jerijinya mengembang dan agak ditekuk ke dalam. Sementara telapak tangan itu menghadap ke langit.
Sembilan pemuda yang ada di situ tentu saja melihat perbuatan aneh Dhafin itu. Dan membuat mereka terkejut. Tapi mereka sudah paham apa yang sedang dilakukan oleh Dhafin.
Sementara Dhafin, begitu telapak tangannya diputar sedikit ke kiri, maka sekitar 15 tombak dari arah belakang 3 pemuda yang duduk di akar pohon terdengar suara sepeti benda berat jatuh ke tanah.
Lalu menyusul suara orang yang mengaduh karena kesakitan.
Bruuuk...!
"Wuaaadah...!"
★☆★☆★
__ADS_1