Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 55 TURNAMEN BELADIRI ANAK BANGSAWAN Part.8 : YANG MULIA TARGET PEMBUNUHAN


__ADS_3

Rasa sakit hati bercampur amarah akibat menderita kekalahan membuat Pangeran Adrian mendendam pada Tim Fariza Luna, terutama pada sang ketua yang dia anggap telah bermain licik terhadap timnya.


Maka untuk membalas kelicikan Fariza Luna, Pangeran Adrian berniat untuk mencederai anggotanya itu.


Sementara di arena 2 giliran Dhafin yang melawan ketua tim, Orian Louise. Namun Dhafin dapat mengalahkan lawan dengan cukup mudah kurang dari sepenanakan nasi.


Sementara di arena 1 Pangeran Adrian terus menyerang lawannya dengan brutal. Sedangkan lawannya berusaha membendung serangan Pangeran Adrian agar tidak terdesak.


Hingga suatu adegan di mana gadis bercadar ungu muda melayangkan tendangan miring kaki kakan ke rusuk kiri Pangeran Adrian. Sedangkan Pangeran Adrian tanpa menghindari serangan langsung menghentakkan lutut kanannya ke samping kiri dengan kuat.


Sehingga sebelum tendangan miring gadis bercadar ungu menghantam rusuk kiri Pangeran Adrian, terlebih dahulu tulang keringnya terhantam lutut kanan Pangeran Adrian yang dihentakkan dengan kuat. Sehingga...


Kraaak!


"Aaa...!"


Demikian keras dan kuatnya benturan itu sehingga membuat tulang kering gadis bercadar itu retak parah. Membuatnya menjerit kesakitan.


Tapi sebelum tubuhnya jatuh, kaki kanan Pangeran Adrian yang belum turun dengan cepat dan kuat menyodok dada gadis itu. Sehingga membuatnya terlempar sambil kembali menjerit dan jatuh dengan keras ke lantai.


Karena kakinya yang cedera terbentur ke lantai dengan keras, maka tulang keringnya yang tadi hampir patah kini benar-benar patah. Kembali dia menjerit kesakitan, setelah itu pingsan.


Sementara Pangeran Adrian yang sepertinya sudah kesetanan, kembali bersiap hendak menerjang si gadis yang sudah pingsan.


Namun belum juga niat jahatnya terlaksana, terdengar suara bentakan anak kecil yang cukup keras mencegat tindakannya.


"Hentikan, Pangeran!"


Seketika gerakan Pangeran Adrian terhenti. Bukan karena suara bentakan itu, melainkan ada semacam kekuatan ghaib seketika mengunci gerakannya.


Hampir bersamaan berkelebat bayangan merah dari arah arena 2 dan langsung menghampiri gadis bercadar yang terkapar diam.


Sementara itu pula 4 gadis bercadar melenting naik ke arena 1 dan langsung menghampiri temannya yang sedang dalam pemeriksaan sosok baju merah yang tak lain adalah Dhafin.


Sedangkan Pangeran Adrian yang kembali bebas bergerak, begitu tahu kalau Dhafin yang ikut campur urusannya, seketika menggeram bukan main.


"Keparat kamu, Anak Rendahan!" makinya menggeram.


Tanpa banyak pikir dia segera mengerahkan kesaktiannya pada kedua telapak tangannya. Lalu dihentak dengan kuat ke arah Dhafin yang lagi duduk berjongkok.


Maka 2 larik sinar merah yang menghantar hawa panas seketika meluncur dengan deras ke arah Dhafin.


Sementara perbuatan Pangeran Adrian ini membuat semua orang yang melihatnya terkejut bukan main, termasuk Yang Mulia. Terlebih lagi Permaisuri Chalinda dan Putri Faniza.


Belum sempat Nona Fariza Luna memperingatkan agar Dhafin menghindar, seketika Dhafin mengangkat telapak tangan kanannya yang sudah terbungkus sinar putih bening dengan cepat.


Blap! Blap!


Maka 2 sinar merah berhawa panas lantas menghantam tembok tak berwujud di depan telapak tangan Dhafin. Dan 2 sinar itu seketika lenyap seakan tertelan sesuatu.


Lalu kejap berikut keluar gelombang hawa dingin tak berwujud dari situ dan langsung melesat dengan cepat ke arah Pangeran Adrian. Sedangkan Pangeran Adrian terlambat menyadarinya, maka tidak sempat menghindari.


★☆★☆


Bleeesss!


Tanpa ampun gelombang hawa dingin itu menghantam tubuh Pangeran Adrian hingga terlempar ke belakang sambil menjerit dan jatuh ke bawah panggung. Tapi cepat ditangkap oleh prajurit yang menjaga di bawah panggung.


Hampir bersamaan hakim wasit beserta 2 orang petugas yang membawa tandu segera naik ke atas panggung dan langsung menghampiri Dhafin yang kembali memeriksa gadis bercadar yang masih pingsan.


Sementara itu, Yang Mulia seketika berkelebat naik ke atas panggung yang diikuti oleh Jenderal Myles. Yang Mulia tidak menghiraukan nasib Pangeran Adrian. Dia langsung menghampiri Dhafin yang sedang memeriksa gadis bercadar yang masih pingsan.


Begitu Yang Mulia sudah dekat, keempat gadis bercadar dan hakim wasit beserta 2 petugas langsung berlutut memberi hormat.


"Bagaimana keadaan gadis itu, Dhafin?" tanya Yang Mulia langsung.


"Tulang kering kaki kanannya patah, Yang Mulia," sahut Dhafin bernada takzim.

__ADS_1


"Ya Tuhan!" desah Yang Mulia mengeluh terkejut.


Jenderal Myles juga terkejut mendengar hal itu. Lebih terkejut lagi Nona Fariza dan ketiga kawannya. Kalau tak ada Yang Mulia di situ, dia mungkin langsung menghabur memeluk kawannya yang naas itu dan menangisinya.


"Apa bisa disembuhkan dalam waktu dekat?" tanya Yang Mulia setelah selesai menguasai perasaannya.


"Dengan ijin Penguasa Langit hamba akan berusaha menyembuhkannya, Yang Mulia."


Setelah itu Yang Mulia tanpa sungkan menyatakan permintaan maaf atas perlakuan Pangeran Adrian yang tidak terpuji kepada Tim Fariza Luna dan meyakinkan kalau Dhafin akan menyembuhkan teman mereka.


Tak lama kemudian, gadis bercadar digotong di atas tandu oleh 2 orang petugas. Nona Fariza dan 3 temannya mengikuti. Sedangkan hakim wasit kembali ke tempatnya.


Yang masih berada di arena 1 itu tinggal Yang Mulia dan Jenderal Myles serta Dhafin. Namun baru saja Yang Mulia dan Jenderal Myles hendak turun, tiba-tiba terjadi kekacauan di 4 tempat.


Tampak beberapa orang berpakaian biasa menyerang para prajurit keamanan kotaraja yang menjaga di sebelah utara, timur, selatan dan barat area turnamen.


Kejadian itu langsung membuat suasana menjadi kacau. Para penonton dan sebagian peserta turnamen langsung berlari serabutan meninggalkan area turnamen.


Sementara para bangsawan yang menonton di atas panggung juga menjadi panik dan langsung turun meninggalkan area turnamen.


Tampak pasukan Pengawal Keluarga Istana dengan sigap dan cepat mengevakuasi semua keluarga istana. Dan Permaisuri Chalinda langsung menggandeng Nyonya Carrisa membawa serta bersamanya.


Sementara beberapa pasukan khusus dan para prajurit militer langsung membantu prajurit kotaraja melawan puluhan pengacau yang ternyata berkemampuan hebat.


Sedangkan Pendeta Noman, Jenderal Felix, Jenderal Lyman serta 25 pasukan elit yang selalu mengawal rajanya segera naik ke atas panggung dan langsung memagari Yang Mulia dan Dhafin. Sebagian pasukan elit lainnya menjaga di sekeliling bawah panggung.


Sementara beberapa pejabat militer lainnya mengatur para prajurit yang terus berdatangan untuk mengamankan area sekitar turnamen. Termasuk melindungi para peserta yang masih ada di area turnamen.


★☆★☆


"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Yang Mulia.


"Sekumpulan orang-orang tak dikenal dari arah penonton tiba-tiba menyerang prajurit penjaga, Yang Mulia," lapor Jenderal Lyman.


"Kekacauan ini cuma pengalihan, Yang Mulia," kata Dhafin memberi tahu.


"Pengacau yang sesungguhnya adalah pasukan pemanah yang sudah bersiap tidak jauh dari area turnamen," ungkap Dhafin lagi.


"Pasukan pemanah?" kata Yang Mulia terkejut heran. "Berapa jumlah mereka?"


"Kurang dari 10 orang," sahut Dhafin lagi. "Dan target mereka yang sesungguhnya adalah Yang Mulia."


Bukan saja Yang Mulia terkejut mendengar keterangan Dhafin yang tanpa keraguan itu, semua pejabat yang ada di situ ikut terkejut.


Dan mereka kembali terkejut ketika tiba-tiba 5 orang pasukan elit yang memagari Yang Mulia menjerit kesakitan. Lalu mereka jatuh bertumbangan begitu saja dan mati.


Entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu 5 anak panah menancap masing-masing di kepala dan leher mereka.


Kejadian itu begitu cepat berlangsung, tidak ada seorang pun yang menyadari. Sehingga dari mana datangnya anak panah tidak ada yang mengetahui.


Sementara 20 pasukan elit yang tersisa semakin meningkatkan kewaspadaan. Pedang yang sudah terhunus semakin digenggam erat-erat.


"Perintahkan semua pejabat dan prajurit untuk turun dari panggung kecuali Paman Pendeta, Yang Mulia!" pinta Dhafin cepat.


"Apa kamu yakin rencanamu akan berhasil, Dhafin?" tanya Jenderal Felix.


Sebelumnya anak angkatnya itu telah memberitahukan kepadanya kalau 2 pemanah tempo hari akan mengulangi aksinya dan targetnya adalah Yang Mulia.


"Rencana apa, Jenderal Felix?" tanya Yang Mulia.


Tapi belum juga pertanyaan itu terjawab, kembali terdengar jeritan 5 orang pasukan elit saling susul menyusul. Kembali anak panah menancap di kepala dan leher mereka.


Lagi-lagi kejadiannya begitu cepat, belum ada yang menyadari. Dari mana datangnya 5 anak panah itu masih belum ada yang mengetahui. Menambah suasana semakin horor dan menegangkan.


"Cepat beri keputusan, Yang Mulia!" pinta Dhafin lagi.


Tanpa pikir lagi Yang Mulia langsung menyuruh 2 pejabat istana dan 15 pasukan elit segera turun dari panggung. Dan mereka, meski masih ragu tetap melaksanakan perintah.

__ADS_1


Yang masih tinggal di atas arena 1 hanya Dhafin, Pendeta Noman, dan Yang Mulia yang masih tampak bingung dan tidak mengerti akan rencana Dhafin.


Hampir bersamaan 2 pejabat dan pasukan elit tadi turun, Keenan naik ke atas panggung. Lalu mengambil posisi tertentu di depan Yang Mulia agak ke kanan berjarak 3 langkah dengan membelakangi Yang Mulia.


Sedangkan Putri Aurellia, Namira, Ariesha, Grania, dan Naifa sudah bersiaga melaksanakan tugas mereka. Tampak masing-masing mereka sudah mengepit bungkusan yang agak memanjang.


Sementara Brian, Aziel dan Kelvin tetap waspada di dekat kelima gadis tadi. Terutama Brian yang selalu mengawasi Putri Raisha yang berdiri tak jauh dari mereka bersama 4 anggota.


Dia mewaspadai saudarinya itu jangan sampai berbuat sesuatu pada Putri Aurellia yang mengacaukan rencana.


Sementara itu, kekacauan yang terjadi di 4 tempat sudah teratasi. Meski tidak sedikit prajurit keamanan kotaraja dan prajurit militer yang mati, namun para pengacau berhasil dibasmi. Sekitar 7 orang berhasil ditangkap.


Kini para prajurit keamanan kotaraja dan prajurit militer sudah banyak berhamburan di area turnamen mengamankan keadaan sekitar.


Di atas panggung, Dhafin meminta Yang Mulia agar jangan melangkah satu langkah pun, baik mundur maupun maju. Tetap bersikap seperti orang waspada.


Sedangkan Pendeta Noman diminta tetap waspada di tempat berdirinya. Kalau ada anak panah mengarah padanya, dihindari saja jangan ditangkap.


Setelah itu membantu Dhafin dan Keenan menyegel anak panah yang menancap di tabir pelindung Yang Mulia.


Meski belum terlalu paham apa yang diucapkan Dhafin itu, Yang Mulia maupun Pendeta Noman manut saja.


★☆★☆


Belum kering suara Dhafin memberi pengarahan, 5 anak panah meluncur dengan amat cepat dari 5 penjuru. Tiga anak panah mengarah ke belakang dan samping kiri kanan kepala Yang Mulia. Satu mengarah ke leher kanan depan, dan satunya mengarah ke dada kiri.


Bayangkan saja 5 anak panah itu mengarah pada 5 bagian yang mematikan dari Yang Mulia. Tapi Yang Mulia tetap diam di tempatnya meski hatinya merasa tegang juga.


Sebuah anak panah melintas pada jalur di mana Pendeta Noman berada. Anak panah itu demikan cepat meluncur, tapi lebih cepat lagi Pendeta Noman memiringkan kepalanya ke kanan. Maka anak panah itu terus meluncur ke belakang kepalanya.


Bersamaan waktunya Keenan dengan cepat merendahkan tubuhnya sedikit. Maka anak panah yang meluncur ke arahnya lewat di atas kepalanya.


Di lain posisi pada waktu yang nyaris bersamaan Dhafin menggeser posisi berdirinya sedikit ke kanan seraya memiringkan badan ke belakang dan memutar kepalanya ke kiri. Maka anak panah yang meluncur ke arahnya lewat di samping pipi kanannya.


Fenomena mengerikan sekaligus menegangkan itu terus diperhatikan oleh Putri Raisha. Begitu melihat anak panah meluncur ke kepala Yang Mulia, dia langsung menjerit histeris.


"Ayahandaaa...!"


Hampir saja dia menghambur ke atas panggung kalau tidak cepat ditahan oleh Brian.


"Tenang! Tidak akan terjadi apa-apa," kata Brian menenangkan Putri Raisha.


"Tapi Ayahanda...."


"Tenanglah! Tidak akan terjadi apa-apa dengan Yang Mulia."


Baru saja Putri Raisha hendak membantah peringatan Brian, terpaksa terhenti. Karena perhatiannya teralih pada Putri Aurellia dan 4 temannya yang dengan cepat merobek kertas yang membungkus sesuatu yang mereka kepit sejak tadi yang ternyata busur panah dan anak panah.


Sementara di atas panggung, 5 anak panah terus meluncur tanpa henti ke arah sasarannya. Namun seketika 5 anak panah itu berhenti sekitar 1 langkah dari posisi Yang Mulia berdiri. Dan seperti tertancap pada sesuatu yang tak terlihat.


Hampir bersamaan Dhafin dan Keenan langsung balikkan badan dengan cepat menghadap Yang Mulia sambil menghentakkan kedua telapak tangan.


Sedangkan Pendeta Noman sedikit terlambat melakukan tindakan. Setelah diperingatkan oleh Dhafin dia baru membalikkan badan menghadap Yang Mulia seraya menghentakkan kedua telapak tangannya.


Maka begitu Dhafin dan Keenan serta Pendeta Noman menghentakkan kedua telapak tangan mereka ke arah Yang Mulia, masing-masing telapak tangan mereka membentur semacam dinding bening yang memagari Yang Mulia.


Sesaat kemudian sinar yang keluar dari telapak tangan mereka seketika membungkus dinding tak terlihat itu dengan cepat.


Kejap berikut sinar-sinar itu dengan cepat merambat ke 5 anak panah yang masih menancap di dinding tak berwujud dan langsung menggulung 5 anak panah itu.


Dan terjadi keajaiban setelah itu. Tampak di 5 tempat ketinggian yang cukup jauh dari area turnamen 5 orang yang berpakaian dan bertopeng serba hitam seketika terdiam bagai patung.


Kelima orang bertopeng itu tampak memegang busur dan anak panah. Dan berpose hendak memasang anak panah ke busur. Bahkan 1 orang sudah terpasang. Tapi belum sempat senarnya ditarik, karena keburu dia jadi patung.


Kejadian itu diakibatkan dari hasil kerja kekuatan sihir Keenan dan kekuatan ghaib Dhafin. Dan dibantu tenaga batin Pendeta Noman. Sehingga bisa menyegel atau mengunci gerak orang dari jarak yang cukup jauh.


Sungguh menakjubkan!

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2