Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 215 MEREKA DATANG TEPAT PADA WAKTUNYA


__ADS_3

"Bajingan...! Jauhkan tangan kotor kalian!"


"Akan kubunuh kalian semua sialan!"


"Hahaha....!"


Jeritan-jeritan kepanikan serta suara bentakan-bentakan kemarahan yang berpadu dengan suara gelak tawa yang memuakkan masih menyemaraki malam yang dingin ini.


Tampak 4 orang lelaki melakukan tindakan tidak senonoh kepada kedua gadis cantik yang tidak lain adalah Raniya dan Naura. Sedangkan kedua gadis itu sudah berderai air mata kepedihan, terus menjerit-jerit penuh histeris.


Namun keempat lelaki bejat itu sama sekali tidak peduli akan kepedihan yang dialami Raniya maupun Naura. Sama sekali tidak menghiraukan jeritan-jeritan histeris keduanya yang begitu menyedihkan.


Sepasang tangan kotor mereka masih terus bergerilya dengan kasar ke tubuh mulus kedua gadis itu yang hampir polos. Menciumi wajah cantik keduanya dengan buas. Meski kedua wajah cantik itu terus meronta-ronta.


Ya, Raniya maupun Naura hanya bisa menggerakkan wajah atau kepala mereka. Sedangkan sekujur tubuh mereka tidak bisa digerakkan karena masih dalam pengaruh totokan.


Mereka saat ini sudah tidak berdaya. Mau diapakan oleh keempat lelaki itu sudah tidak bisa melawan. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menjerit-jerit histeris.


Pakaian atas mereka sudah berantakan. Bahkan pakaian Naura sudah robek-robek. Jadi sudah bisa dibayangkan apa yang akan muncul jika pakaian mereka sudah begitu. Tubuh halus putih mulus yang terus dijamah oleh tangan-tangan kotor 4 serigala buas.


Setelah puas melakukan aktifitas pemanasan, lelaki baju biru maupun lelaki baju merah segera bersiap melakukan pertarungan inti dengan Raniya dan Naura.


Namun belum juga mereka sempat membuka paksa pakaian bawah kedua gadis itu, tiba-tiba saja....


"Menyingkir dari kedua gadis itu atau kalian akan mati!"


Terdengar bentakan keras yang sungguh mengagetkan bernada dingin penuh ancaman dari suatu arah. Begitu hebatnya suara bentakan mengerikan itu membuat suara jeritan histeris dan gelak tawa langsung berhenti.


Tentu saja mereka semua, baik keempat lelaki mesum maupun kedua gadis malang amat terkejut bukan main.


Hampir bersamaan terdengarnya suara bentakan, datang menyusul 5 serangan jarak jauh yang amat cepat. Tiga buah sinar berhawa panas dan dingin, dan 2 serangan angin padat tak berwujud.


Lima serangan gelap itu bukan datang dari arah bentakan tadi terdengar, melainkan dari arah lain. Sungguh hebat!


Di tengah keterkejutan mereka, rupanya keempat lelaki itu masih sempat merasakan datangnya kelima serangan jarak jauh itu. Dan tak mau larut dalam keterkejutan, mereka segera bersiap menyelamatkan diri.


Lelaki baju putih dan lelaki berompi coklat yang berhadapan dengan serangan segera melompat cepat ke samping dengan terburu-buru.


Lelaki baju putih melompat ke samping kanan, sedangkan lelaki berompi coklat ke samping kiri.


Sementara lelaki baju biru masih sempat melompat searah dengan lelaki baju putih. Namun lelaki baju merah belum sempat menghindar.


Sehingga sebuah serangan berupa sinar panas warna merah menghantam tengkuknya dengan telak, keras, dan kuat. Maka terlemparlah dia ke depan cukup jauh sambil menjerit keras.


Sedangkan lelaki berompi coklat memang berhasil menghindari serangan berwujud sinar panas. Namun ternyata dia tidak sempat menghindari serangan angin padat tak berwujud.


Maka angin keras dan padat tak terlihat itu langsung menghantam dadanya dengan telak dan keras. Sehingga membuatnya terlempar deras cukup jauh searah dengan temannya yang juga terkena serangan.

__ADS_1


Begitu tubuh kedua lelaki itu jatuh ke tanah, terguling beberapa langkah. Setelah itu diam tidak bergerak lagi. Rupanya pukulan jarak jauh itu mengandung tenaga sakti yang cukup tinggi. Sehingga membuat mereka langsung tewas ketika terkena.


Tampak darah segar termuntahkan dari mulut mereka yang sedikit menganga.


Sedangkan 3 buah serangan yang tidak mengenai sasaran terus saja meluncur tanpa henti. Serangan-serangan ganas itu baru berhenti ketika menghantam dua batang pohon beberapa tombak di seberang sana.


Demikian dahsyatnya 3 serangan itu, sehingga membuat kedua pohon yang tidak berdosa itu langsung hancur berantakan, menimbulkan ledakan yang cukup keras. Sungguh mengerikan!


★☆★☆


Lelaki baju biru dan lelaki baju putih memang selamat dari serangan jarak jauh. Mereka melompat cukup jauh dari Raniya yang hampir saja mereka gagahi.


Namun belum juga mereka sempat berdiri dengan sempurna, 3 sosok bayangan berkelebat cepat menghadang mereka. Lalu tahu-tahu kedua lelaki itu sudah diserang oleh 3 buah pedang.


Lelaki baju biru sempat terkejut menyaksikan tebasan pedang mengancam lehernya. Untuk mencabut pedang guna menangkis serangan rasanya tidak sempat. Maka sekuat tenaga dia membuang tubuhnya ke belakang.


Namun serangan itu datangnya laksana kilat. Terlambat sedikit saja dia menghindar karena ujung pedang itu masih sempat menggorok leher bagian depannya.


Sedangkan lelaki baju putih tidak sempat menghindari kedua serangan itu. Di samping datangnya begitu tiba-tiba dan cepat, dia juga jelas tidak siap untuk menghindar.


Maka sebuah serangan berupa tebasan pedang dari arah belakang menebas putus lehernya. Sedangkan ujung pedang dari arah depan merobek dadanya cukup panjang dan dalam.


Tak lama kemudian, kedua lelaki itu segera tumbang dengan nyawa melayang. Tanpa sempat mengetahui lebih jelas siapa yang menyerang mereka.


Sementara itu, bersamaan berkelebatnya 3 sosok bayangan yang menghadang tadi, berkelebat juga 2 sosok bayangan. Sosok bayangan biru menuju ke arah Raniya, sedangkan sosok bayangan hitam menuju ke arah Naura.


Sementara kondisi kedua gadis malang itu cukup mengenaskan. Rambut sedikit acak-acakan. Pakaian masih berantakan, memperlihatkan sepasang bukit kembar mereka yang sekal.


Sedangkan kedua sosok bayangan yang baru datang yang ternyata 2 orang pemuda, begitu sampai di dekat kedua gadis itu, mereka langsung merapikan kondisi keduanya.


Pemuda berbaju merah yang tak lain adalah Dhafin segera merapikan pakaian Raniya yang hanya berantakan, tidak sampai rusak atau robek.


Hal itu Dhafin lakukan dengan cepat sambil menekan gejolak perasaan. Masalahnya dia sempat melihat bukit kembar Raniya yang aduhai.


Sedangkan pemuda baju hitam yang ternyata Zafer, dengan cepat membuka pakaian luarnya, lalu menyelimuti tubuh atau aurat Naura yang terbuka dengan baju itu.


Hal itu juga Zafer lakukan dengan cepat sambil menekan gejolak perasaannya. Karena dia juga melihat aurat Naura.


Adapun Raniya maupun Naura, begitu menyadari ada orang yang menolong masing-masing mereka, segera menatap sang penolong. Dan mereka langsung tahu siapa yang menolong mereka itu.


Saat itu pula hati dan perasaan mereka bersuka cita sekaligus merasa perih. Bersuka cita karena mereka masih sempat diselamatkan sebelum kehormatan mereka benar-benar hancur. Merasa perih karena mereka tertipu dengan persangkaan mereka.


Dan begitu Dhafin maupun Zafer membuka totokan di tubuh mereka, baik Raniya maupun Naura langsung memeluk penolong mereka tanpa sungkan. Tangis kembali meledak, air mata kembali tertumpah.


Sedangkan Dhafin maupun Zafer tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan saja Raniya dan Naura memeluk mereka, tanpa bermaksud melepaskan. Mereka paham betul akan perasaan kedua gadis itu.


Meskipun kehormatan mereka terselamatkan, tapi perbuatan kotor 4 lelaki yang sudah jadi mayat itu seakan telah merenggut kehormatan mereka. Rasanya sungguh perih amat susah untuk dilupakan.

__ADS_1


★☆★☆


"Sudahlah, Nona," kata Dhafin membujuk Raniya. "Keadaan sudah aman. Empat penjahat tadi sudah mati terbunuh."


"Tapi... aku masih takut, Kak," kata Raniya lirih di tengah isak tangisnya.


"Tenanglah! Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Ada kami bersama Nona."


"Jangan tinggalkan aku, Tuan Zafer!" kata Naura lirih bernada pilu di sela-sela Zafer juga membujuknya. "Aku... takut...."


"Keadaan sudah aman, Nona," Zafer tak bosan membujuk gadis itu, "tidak ada yang perlu ditakutkan lagi."


Dhafin dan Zafer masih saja membujuk kedua gadis itu yang masih tampak panik dan ketakutan. Kejadian yang baru saja mereka alami benar-benar membuat keduanya trauma berat.


Sementara itu 3 orang pemuda yang berhasil membasmi lelaki baju biru dan lelaki baju putih tadi sudah berkumpul di dekat Dhafin dan Zafer. Mereka tak lain adalah Pedang Kilat dan 2 ksatria elit Ketua Carolus lainnya.


Pedang Kilat maupun kedua rekannya sudah bisa menebak kenapa Raniya dan Naura bisa sampai di tempat ini. Bahkan keduanya hampir saja digagahi kalau mereka tidak cepat menolong. Itupun hampir terlambat.


Kedua gadis itu tentunya tidak jadi pulang ke markas. Atau memang berniat tidak mau pulang. Mereka malah membuntuti Tim Dhafin hingga sampai ke tempat ini.


Kelompok Dhafin telah mengetahui siapa keempat lelaki bengis itu, yaitu para pendekar istana yang memang bertugas di wilayah barat ini.


Hal itu mereka ketahui berdasarkan informasi yang mereka korek dari pemimpin pendekar istana yang telah mereka binasakan di wilayah barat daya beberapa hari yang lalu.


Karena salah satu misi mereka adalah mencari keberadaan para pendekar istana untuk dibinasakan, maka langsung bertindak cepat.


Singkat cerita, entah bagaimana kejadiannya, keempat pendekar istana yang mereka cari malah bertemu dengan Raniya dan Naura. Sehingga terjadilah peristiwa memalukan yang menimpa kedua gadis itu.


Untuk saja mereka datang tepat pada waktunya dan langsung bertindak cepat. Maka selamatlah kedua gadis itu dari menanggung malu seumur hidup.


Namun walaupun begitu, kedua gadis itu merasa seperti sudah direnggut kesuciannya. Sehingga membuat keduanya trauma berat. Sehingga membuat Dhafin maupun Zafer cukup susah menenangkannya.


Memikirkan akan kondisi itu, Dhafin segera bertindak cepat. Dia segera menenangkan kedua gadis itu sekaligus menghilangkan ingatan mereka akan peristiwa memilukan itu dengan kekuatan ghaibnya.


Setelah Dhafin selesai melakukan pekerjaannya, tentunya kedua gadis itu langsung tidak sadarkan diri. Dan Dhafin membiarkan mereka terbaring sementara di atas tanah berumput yang berembun.


Kemudian, setelah berembuk kepada keempat rekannya yang sepakat memulangkan kedua gadis itu ke markas, maka Dhafin kembali menggunakan kekuatan ghaibnya yang dipadu dengan ilmu teleportasi.


Sebelum Dhafin melakukan pekerjaannya itu, Zafer meminta kepada Dhafin untuk mengambil pakaiannya yang masih menyelimuti tubuh Naura. Lalu menggantikannya dengan pakaian salah satu dari keempat pendekar istana yang sudah jadi mayat itu.


Dhafin setuju saja. Sedangkan yang lainnya juga tidak mempermasalahkan.


Maka tanpa berlama-lama Zafer langsung membuka pakaian luar lelaki baju merah dengan cepat. Lalu mengenakannya kepada Naura sambil mengambil pakaiannya.


Hal itu Zafer lakukan tanpa membuka pakaian Naura tentunya.


Tidak lama kemudian, Raniya dan Naura yang masih tak sadarkan diri dibaringkan berjajar dan berdekatan. Setelah itu Dhafin mengembalikan mereka ke markas dengan ilmu teleportasi yang dipadu dengan kekuatan ghaibnya.

__ADS_1


Setelah itu, tanpa berlama-lama kelima pemuda tampan itu meninggalkan hutan yang masih diselimuti kegelapan malam itu. Meninggalkan 4 pendekar istana yang telah terkapar jadi mayat.


★☆★☆★


__ADS_2