Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 193 PERTEMPURAN DI GERBANG BARAT KOTARAJA Part. 2


__ADS_3

Pada gebrakan pertama, Chafik dan pasukannya dapat membunuh lawan mereka dengan sekali hantam. Begitu juga dengan Abiela dan Danita serta pasukan mereka.


Namun pada gebrakan berikut pasukan berkuda sudah dapat mengendalikan tunggangan mereka dan dapat berperang dengan baik. Sehingga untuk beberapa saat lamanya mereka masih bisa meladeni perlawanan Pasukan Khusus Istana Centauri.


Tapi sepertinya perlawanan pasukan berkuda itu tidak berlangsung lama.


Meski mereka berperang di atas kuda, namun mereka seperti tidak leluasa dalam menyerang. Bahkan Pasukan Khusus Istana Centauri yang lebih leluasa dalam menyerang.


Dengan mudah Pasukan Khusus melumpuhkan tunggangan pasukan berkuda, lalu membunuh penunggangnya dengan cepat.


Bahkan tidak sedikit yang dapat membunuh penunggangnya tanpa harus melumpuhkan tunggangannya dahulu.


Sehingga belum begitu lama pertempuran berlangsung, sudah cukup banyak pasukan berkuda yang binasa di ujung pedang Pasukan Khusus.


Perlu diketahui, Pasukan Khusus Istana Centauri sudah dilatih bertempur dalam kondisi apapun. Juga sudah dilatih menghadapi lawan dalam keadaan bagaimanapun.


Sehingga menghadapi pasukan berkuda bukanlah hal yang sulit bagi Pasukan Khusus Istana Centauri.


Akhirnya, sebagian besar pasukan berkuda berinisiatif turun dari tunggangan mereka, lalu melakukan pertempuran tanpa menunggang kuda.


Sementara itu pula, Ratu Aurellia dan para ksatria yang bersamanya langsung ikut menyerang para jawara istana. Sedangkan 100 Pengawal Khusus bersama pasukan lainnya langsung menghadapi pasukan infanteri.


Sehingga perang campuh antara pasukan Bunda Suri Hellen melawan pasukan Ratu Aurellia tidak dapat dihindari lagi.


Denting suara senjata saling beradu di udara menimbulkan bunyi yang menggiriskan hati. Ditingkahi suara teriakan pertempuran yang begitu menggelegar yang dapat menggetarkan jantung.


Masih ditingkahi pula dengan jeritan-jeritan kematian yang begitu menyayat hati.


Ya, itu adalah jeritan-jeritan kematian pasukan infanteri Bunda Suri Hellen Gretha.


Mereka dapat dibinasakan dengan mudah bukanlah jumlah mereka yang sedikit. Bahkan jumlah pasukan infanteri ini yang paling banyak.


Pula mereka dapat dibinasakan dengan mudah bukanlah kehebatan mereka yang tidak memenuhi standar. Bahkan pasukan infanteri itu rata-rata murid perguruan Kelas 2 dan 3.


Akan tetapi yang mereka hadapi adalah Pasukan Istana Centauri dan pasukan gabungan dari berbagai kelompok. Yang mana mereka bukan saja dibekali ilmu beladiri dan tenaga dalam yang tinggi. Namun mereka diajarkan pula taktik berperang dengan baik.


Sehingga pertempuran yang sengit itu baru berdurasi sepenanakan nasi lebih, sudah banyak pasukan infanteri Bunda Suri yang bertumbangan bersimbah darah.


Menyusul pasukan kavaleri yang juga sudah mulai banyak yang bertumbangan dengan bersimbah darah, 1 demi 1. Menyusul setelah itu pasukan jawara istana yang kali ini menemukan lawan tanding yang kemampuannya berada di atas mereka.


Pertempuran sengit masih saja berlangsung seakan tak mengenal kata berhenti. Tidak perduli cuaca yang begitu terik, matahari yang sudah berada di pertengahan kepala.


Pertempuran sengit masih saja tergelar. Tidak perduli kalau sudah ribuan nyawa melayang. Tidak perduli kalau sudah ribuan jasad bersimbah darah terkapar. Tak perduli kalau areal tempat itu sudah digenangi oleh darah segar.


Sebentar saja fenomena di sekitar areal luar gerbang sebelah barat itu begitu mengerikan. Mayat-mayat bergelimpangan, berserakan tak tentu arah bagai sampah busuk yang menjijikkan.


Bahkan sebagian pasukan kini sudah berperang di atas mayat-mayat.


Sementara bau anyir darah yang amat busuk sudah menyebar ke segala arah.


★☆★☆


Pertarungan antara Komandan Perang melawan Pangeran Pusat masih terus berlangsung, bahkan sekarang semakin sengit. Saling serang serta saling tangkis silih berganti seakan tidak ada kata berhenti.


Tempo pertarungan begitu cepat. Jurus-jurus yang dikerahkan begitu indah dimainkan dan begitu lihai.


Dan hingga saat ini yang entah sudah berapa jurus dikerahkan kedua petarung itu belum ada yang menggunakan senjata. Dengan kata lain mereka bertarung masih dengan tangan kosong.


Sementara pertarungan antara Pangeran Revan melawan Guru Grayson juga masih terus berlangsung dan semakin sengit. Bahkan mereka dalam bertarung sudah menggunakan senjata pedang pusaka masing-masing.


Begitu juga pertarungan antara Brian, Gibson, Aziel, Zafer, Keenan, Kelvin, dan Hendry melawan para guru besar perguruan semakin sengit semakin seru. Bahkan mereka semua sudah menggunakan pedang dalam bertarung.

__ADS_1


Beralih ke pertarungan Komandan Perang melawan Dhafin....


Komandan Perang melancarkan tendangan kaki kanan menyabet ke samping kepala Dhafin dengan keras dan cepat. Namun tangan kiri Dhafin lebih cepat lagi terangkat menangkis dengan mantap tendangan itu.


Hampir bersamaan kaki kanan Dhafin terangkat menendang rusuk kiri Komandan Perang. Namun Komandan Perang sudah bersiap menangkis tendangan itu sambil menurunkan kaki kanannya.


Akan tetapi saat tangan kiri Komandan sudah bergerak menangkis, tiba-tiba Dhafin menghentikan laju tendangan kaki kanannya itu. Lalu dengan cepat tendangan itu di belokkan ke atas, ke arah kepala sang komandan sebelah kiri.


Perubahan gerakan itu begitu tiba-tiba dan dilakukan secara cepat, sehingga Komandan Perang tidak ada kesempatan untuk menangkisnya. Maka dengan telak dan keras tendangan itu menghantam samping kepalanya.


Desss...!


"Ukh!"


Kontan saja kepala Komandan Perang agak miring ke kanan sambil terjajar ke samping satu langkah. Namun setelah itu dia melenting ke belakang saat Dhafin melancarkan serangan berikut.


Setelah kedua kakinya telah mendarat dengan sempurna di atas tanah, sejenak Komandan Perang menatap Pangeran Pusat dengan tajam.


Dalam hati dia memuji kehebatan sang lawan. Sudah sekian jurus dia melancarkan serangan, tak ada satupun serangannya yang berhasil membobol pertahanan Dhafin. Bahkan dia yang kecolongan, kena tendangan cukup keras dari Dhafin.


Sedangkan Dhafin tetap berdiri di tempatnya setelah tadi serangan keduanya gagal sambil juga menatap dengan tajam sang komandan.


Tak lama Komandan Perang merentangkan tangan kanan ke depan sambil mengepal telapak tangan. Beberapa helaan napas kemudian, seketika muncul sinar memanjang warna merah dari tangannya. Lalu sinar itu langsung membentuk pedang bersinar merah.


Dhafin yang melihat lawan sudah memanggil pedang pusakanya, dia tidak mau menganggap remeh. Dia sudah merasakan bagaimana kehebatan lawannya yang tidak boleh di pandang remeh.


Maka dia juga segera memanggil Pedang Akhirat-nya dengan cara yang tidak jauh beda dari sang komandan.


Belum lama Dhafin memanggil pedangnya, Komandan Perang kembali menyerang Dhafin yang kali ini dengan jurus-jurus pedang yang terbilang hebat. Dan Dhafin tidak mau kalah, ikut balas menyerang.


Sehingga pertarungan tingkat tinggi antara dua jago dari kedua kubu kembali tergelar.


Pertarungan kali ini lebih dahsyat dan lebih seru lagi dari yang pertama. Di mana pada gebrakan pertama kedua petarung itu tidak mau bertindak ayal-ayalan. Pada jurus pertama saja mereka langsung mengerahkan jurus yang hebat dan dahsyat.


★☆★☆


Pasukan infanteri terus saja bertumbangan satu demi satu seakan tidak mau berhenti. Tanpa terasa sudah separuh lebih yang menjadi mayat. Sementara yang masih hidup mati-matian berjuang mempertahankan nyawanya.


Sedangkan pasukan kavaleri juga tinggal separuh kurang yang masih hidup. Mereka juga tengah berjuang dengan sekuat tenaga menangkal setiap gempuran Pasukan Khusus Istana Centauri.


Pasukan kavaleri milik Bunda Suri memang harus mengakui kehebatan Pasukan Khusus. Mereka sudah mengerahkan seluruh kemampuan dalam menangkal setiap serangan Pasukan Khusus, tetap tidak membawa pengaruh yang berarti.


Bahkan mereka satu demi satu bertumbangan bersimbah darah tanpa nyawa.


Tampak Chafik mengamuk sejadi-jadinya di tengah kepungan pasukan kavaleri yang mengeroyoknya. Setiap kali tombak mautnya bergerak, paling tidak dua tiga nyawa yang melayang dari raganya.


Sementara itu pula Ratu Aurellia beserta pasukannya, para ksatria elit masih terus menggempur pasukan jawara istana yang kini juga sudah tinggal separuh.


Tampak Pedang Kahyangan sang ratu bergerak lincah mengancam setiap nyawa lawannya.


Tidak jauh darinya Putri Kayshila juga memainkan Pedang Mawar Merah-nya, menebas leher lawannya. Kemudian pedang yang memancarkan sinar merah itu terus bergerak mencari nyawa selanjutnya.


Dua gadis cantik calon istri Dhafin juga tidak mau kalah. Mereka yang bertempur tidak pernah berjauhan terus saja bergerak lincah memainkan jurus-jurus pedang yang begitu indah namun mematikan.


Pedang Putri Athalia menebas pinggang lawannya hingga putus. Pada waktu yang bersamaan ujung pedang Putri Arcelia merobek dengan dalam dada berikut perut lawan.


Sementara 9 ksatria andalan Istana Centauri masih terus bertarung melawan 9 pentolan Bunda Suri Hellen. Tapi sepertinya Brian, Gibson, Keenan, dan Hendry sudah mulai mendesak Guru Besar lawan mereka sedikit demi sedikit.


Tidak lama berselang, Pangeran Revan, Pangeran Aziel, Kelvin, dan Pangeran Zafer juga sudah mulai mendesak lawan mereka masing-masing.


Hal ini membuat lawan mereka merasa geram sekaligus penasaran. Umur masih semuda itu namun kenapa begitu sulit mengalahkan mereka? Pertahanannya kenapa begitu sudah dibobol?

__ADS_1


Jangan mendesak para ksatria andalan itu, malah mereka yang didesak oleh lawan.


Hendry tampak memainkan sepasang pedang panjang dan pendeknya dengan begitu lincah dan cepat. Membuat lelaki tua berkumis dan berjanggut tebal lawannya sudah mulai kewalahan.


Sudah beberapa kali salah satu dari pedang Hendry hampir membelai tubuhnya. Sedangkan tangannya yang memegang pedang sudah mulai kesemutan hebat.


Bayangkan saja saat ini dia lebih sering menangkis gempuran kedua pedang Hendry ketimbang balas menyerang.


Hingga suatu ketika pedang panjang Hendry berhasil menebas tangan kanan lawan hingga putus. Tentu saja sang lawan langsung menjerit tertahan saat tangannya yang memegang pedang putus begitu saja.


Sedangkan Hendry tidak berhenti menyerang. Sepasang pedangnya terus bergerak lincah bermain di seputar tubuh lawan; menyayat, mengiris, menggorok. Hingga dalam waktu singkat luka besar dan menganga lebar sudah banyak tercipta hampir di sekujur tubuh lelaki tua itu.


Darah segar semakin banyak mengalir keluar membasahi pakaiannya yang berwarna kuning.


Terakhir Hendry hampir merapat di belakang sang lawan dengan posisi membelakangi. Sementara sepasang pedangnya telah menempel di leher kiri kanan depan sang lawan. Dan begitu Hendry menarik pedangnya....


Craaasss! Craaasss!


"Aghk...!"


Sepasang pedang Hendry telah menggorok besar leher sang lawan hingga hampir putus. Membuatnya menjerit tertahan bagai setan disembelih. Tak lama kemudian, lelaki tua itu tersungkur jatuh ke depan.


Darah segar semakin banyak mengalir dari lehernya yang terkoyak besar. Meregang sebentar, setelah itu diam selamanya. Mampus!


★☆★☆


Tampak pedang lelaki tua berbaju hitam itu menebas pundak kiri Keenan hingga tembus sampai ke pinggang kanan Keenan. Terus pedang itu kembali bergerak menebas putus leher Keenan.


Akibat dari dua tebasan pedang yang mematikan itu, tubuh Keenan langsung pecah berantakan menjadi puing-puing kabut warna biru keputihan. Beberapa kejap berikut puing-puing kabut itu lenyap.


Tentu saja fenomena aneh itu membuat lelaki tua baju hitam terkejut heran dibuatnya. Karena menurut perhitungannya hasil tebasan pedangnya tidak membuat lawan sampai sebegitu.


Namun selagi dia masih terkejut heran, seketika Pedang Naga Es telah menusuk kepalanya dari belakang hingga tembus ke keningnya.


Lelaki tua itu tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Tidak sempat melihat Keenan yang ternyata telah berada di belakangnya sambil menusukkan Pedang Naga Es.


Lelaki tua itu juga tidak sempat menjerit. Karena tiga kejap berikut kepalanya beserta isi dalamnya langsung berubah menjadi beku bagai es.


Terakhir, Keenan menghantamkan telapak tangan kirinya yang bersinar putih berhawa amat dingin ke punggung lelaki tua itu hingga terlempar ke depan cukup deras.


Sehingga, selagi melayang di udara sekujur tubuhnya sudah membeku bagai es. Sementara kepalanya sudah hancur berkeping-keping. Dan begitu tubuhnya jatuh ke tanah, langsung hancur berantakan.


Hampir bersamaan Brian menusukkan pedangnya ke arah leher lelaki tua berambut pendek. Namun sang lawan masih dapat menangkis serangan maut itu dengan menyilangkan goloknya. Sedangkan tangan kirinya ikut menahan goloknya.


Sehingga ujung pedang Brian kandas di pertengahan batang pedang lawannya. Namun ujung pedang itu terus bergerak maju hingga membuat lelaki tua rambut pendek itu terseret ke belakang. Hingga....


Traaak!


Golok lelaki rambut pendek seketika patah menjadi dua. Membuat lelaki tua itu terkejut bukan main. Sementara ujung pedang Brian terus bergerak maju. Lebih tepatnya terus memanjang ke depan.


Membuat lelaki tua itu tidak sempat menikmati rasa kagetnya terlalu lama. Karena ujung pedang Brian terus bergerak maju. Membuatnya tidak sempat menghindar. Sehingga ujung pedang itu terus menusuk leher depannya hingga tembus ke tengkuknya.


Lelaki tua rambut pendek itu, sebelum nyawanya melayang dia cuma sempat membelalakkan matanya sekaligus memangapkan mulutnya cukup kebar. Dan mulutnya masih sempat mengeluarkan suara bagai kerbau disembelih.


Begitu ujung pedang Brian bergerak mundur, lelaki tua itu masih sempat berdiri kaku. Lalu kejap berikut tubuhnya langsung rebah ke belakang bagai papan jatuh.


Sementara Brian, begitu ukuran pedangnya sudah kembali normal, dia tidak lantas memandang nasib lawannya. Karena dia terus bergerak cepat menggasak lawan selanjutnya.


Sementara itu, sosok-sosok tubuh tanpa nyawa terus bertumbangan. Mayat-mayat semakin banyak bergelimpangan di areal luar gerbang selah barat itu. Membuat fenomena di tempat itu semakin mengerikan semakin mencekam.


Darah semakin banyak tergenang. Hampir setiap jengkal tanah diisi oleh mayat-mayat yang masih mengalirkan darah segar. Sedangkan bau anyir darah semakin santer tercium di hidung.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2