Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 161 RENCANA PEMBUNUHAN PUTRI ARCELIA CAITLINE


__ADS_3

Kota besar di ujung wilayah timur Kerajaan Bentala sudah dikuasai oleh Pasukan Selir Heliana. Keadaan Kota Diandara sudah dikondusifkan dan sudah dinyamankan oleh pasukan yang ada.


Sedangkan para penduduk, baik penduduk kota maupun penduduk kampung-kampung, begitu tahu kalau yang menguasai ujung wilayah timur adalah Pasukan Heliana hati mereka senang bukan main.


Karena mereka telah mengetahui bahwa setiap daerah yang sudah dikuasai oleh pasukan itu, penduduknya pasti aman dan sejahtera.


Di samping itu juga pasukan itu menjamin keselamatan mereka dan melepaskan mereka dari belunggu tirani Bunda Suri.


Sementara itu, pasukan militer yang ada di Markas Militer Kota Diandara sudah dijinakkan oleh kekuatan ghaibnya Dhafin.


Lebih tepatnya dengan kekuatan ghaibnya dia menghilangkan ingatan semua pasukan militer itu. Sehingga mereka tidak ingat lagi junjungan pertamanya.


Kini pasukan militer yang berjumlah 30.000-an lebih beserta para komandan dan puluhan kepada regu pasukan, semuanya tunduk di bawah perintah dan kendali Pangeran Revan.


Sementara itu pula, sebelum 4 Pengawal Pribadi Ratu dan Putri Kayshila kembali ke Istana Centauri, mereka bertemu dulu secara pribadi dengan Dhafin. Dan mereka langsung menanyakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Yang Mulia Ratu.


Di samping itu juga mereka merasa curiga terhadap Putri Athalia yang seperti dekat dengan Dhafin. Saat mereka hendak ketemu Dhafin, ada Athalia bersama pemuda itu. Mereka tampak seperti begitu akrab.


Apakah mereka ada hubungan?


"Kenapa kalian bertanya seperti itu?" tanya Dhafin menunjukkan mimik tidak mengerti. "Memangnya ada apa dengan Yang Mulia Ratu?"


"Selepas kamu menemuinya 5 hari yang lalu," sahut Putri Kayshila, "semenjak itu Kanda Aurellia belum pernah keluar dari kediamannya, bahkan dari ruang pribadinya."


"Dan Yang Mulia seperti tampak habis menangis setiap kali kami temui," sambung Jovita.


"Kanda, sebenarnya ada apa kamu dengan Yang Mulia?" tanya Ariesha bernada sedih. "Kenapa Yang Mulia bisa sampai seperti itu?"


"Apakah Yang Mulia Ratu telah mengatakan sesuatu kepada kalian?" tanya Dhafin seakan tidak menggubris pertanyaan Ariesha.


Kelima gadis cantik itu saling melempar pandang satu sama lain. Mereka belum mendengar apapun dari Ratu Aurellia mengatakan sesuatu. Maka hampir serempak mereka menggeleng.


"Setiap kali kami tanya," kata Ariesha seolah mewakili yang lain, "Yang Mulia tidak mau berterus terang."


"Kalau begitu biar Yang Mulia Ratu sendiri yang mengatakannya kepada kalian," kata Dhafin merasa enggan mengungkapnya.


"Kenapa tidak kamu sendiri yang mengatakannya saja, Kanda?" tanya Putri Kayshila jelas memaksa. "Apakah masalah kalian adalah sesuatu yang rahasia?"


"Jangan paksa aku mengatakan sesuatu yang belum dikatakan Yang Mulia kepada kalian," kata Dhafin tetap enggan mengungkap.


"Sebaiknya kalian kembali ke istana!" perintahnya seakan menyetop Ariesha yang mau berbicara lagi. "Beri tahu padanya kalau kalian sudah bertemu dengan aku, tapi juga tidak berbicara apa-apa."


Ketika mereka menyinggung soal Putri Athalia, apa Dhafin ada hubungan dengannya. Namun Dhafin memberi jawaban yang tidak memuaskan yang sepertinya Dhafin tengah menutup-nutupi sesuatu.

__ADS_1


Akhirnya mereka kembali ke Istana Centauri dengan tanpa memperoleh apa-apa dari Dhafin.


Sementara Dhafin, sepeninggal 5 bidadari Istana Centauri, dia langsung pergi ke daerah tenggara Kerajaan Bentala bersama Putri Athalia. Kata Putri Athalia ada seorang yang juga berpenyakit kulit yang harus diobati.


★☆★☆


Di ujung wilayah tenggara Kerajaan Bentala, tepatnya di sebuah tempat agak masuk ke dalam hutan, terdapat rumah yang cukup kecil.


Di dalam rumah itu tinggal seorang gadis buruk rupa yang ditemani seorang perempuan paruh baya.


Letak rumah itu terbilang jauh dari pemukiman penduduk kampung. Jadi, jika terjadi sesuatu kepada mereka tak ada seorang pun yang tahu.


Namun andaikan tahu juga tidak ada seorang pun yang memperdulikannya. Di samping keadaan mereka begitu melarat, pula kondisi fisik si gadis yang begitu buruk.


Sekujur tubuhnya berikut mukanya hampir dipenuhi luka korengan.


Dulu, waktu awal-awal terkena penyakit itu, lukanya berair dan bernanah. Dan mengeluarkan aroma yang amat busuk. Namun sekarang agak mendingan berkat dia meminum ramuan obat.


Maksudnya agak mendingan bukan sembuh. Cuma lukanya saja yang mengering dan terkelupas. Tidak berair lagi atau bernanah. Tapi meninggalkan belang-belang putih yang buruk dan bercak-bercak hitam yang kotor.


Pokoknya kondisi gadis itu tidak sedap dipandang mata. Makanya dia tinggal di tempat yang amat terpencil dari pemukiman. Lebih tepatnya dia dikucilkan oleh para penduduk bersama pelayan tuanya itu.


Dia tinggal di rumah kecilnya itu bersama pelayan tuanya sejak usianya 10 tahun. Sekarang usianya sudah genap 18 tahun. Jadi, dia tinggal bersama pelayannya sudah 8 tahun, sama usianya dengan usia penyakitnya itu.


Awalnya kulit tubuhnya terdapat bintik-bintik merah. Tak lama bintik-bintik merah itu berubah menjadi luka berair. Hingga akhirnya bernanah.


Sebenarnya si gadis buruk rupa itu hampir saja berputus asa akan hidupnya yang begitu buruk. Namun pelayan setianya itu terus saja membujuknya agar tetap bersabar. Suatu saat mimpinya itu akan menjadi kenyataan.


Ya, si gadis bermimpi, bakan lebih dari 3x bahwa dalam mimpinya dia didatangi oleh seorang pendeta tua yang mengabarkan kepadanya kalau suatu saat akan ada pangeran yang akan menyembuhkan penyakitnya.


Lanjut pendeta tua itu mengatakan bahwa pangeran yang akan menyembuhkan itu adalah jodohnya. Dia akan dijadikan istri oleh sang pangeran. Akan tetapi bukan satu-satunya istri sang pangeran.


Kalau mimpi itu cuma 1 2x saja mungkin dia belum begitu percaya. Namun mimpi itu sudah berulang kali.


Jelas mimpinya itu merupakan sebuah ramalan akan nasib baiknya di masa depan. Tinggal bagaimana dia terus bersabar hingga waktu yang dinanti telah tiba.


"Sabarlah, Tuan Putri! Mimpi itu adalah anugerah dari langit akan ramalan nasib baik bagi Tuan Putri di masa depan...."


Nasehat-nasehat seperti itulah tak bosan-bosannya pelayan tua itu ucapakan. Dan hingga sekarang si gadis yang dipanggil Tuan Putri masih tetap bersabar.


Namun sekarang ini sepertinya nasib baik akan segera berubah menjadi nasib buruk. Nasib buruk yang akan menghantarkannya kepada kematian.


Saat ini tampak 3 lelaki bengis berambut agak panjang sedang berdiri di depan pintu rumah gadis buruk rupa. Mereka berpakaian dengan model dan warna yang berbeda-beda.

__ADS_1


Tapi senjata mereka sama, yaitu berupa pedang cukup panjang.


★☆★☆


Sorot mata ketiga lelaki itu menyorot garang, seakan hendak meruntuhkan gubuk derita itu.


"Apa kamu yakin di sini tempatnya Putri Arcelia Caitlyne, Agam?" tanya lelaki baju kuning yang berdiri paling tengah dengan suara berat menyeramkan.


"Aku tidak mungkin salah, Danish," sahut lelaki baju biru yang dipanggil Agam yakin. "Aku sudah beberapa kali memantau tempat ini."


Lelaki yang dipanggil Danish tidak bertanya lagi. Tapi tak lama terdengar bentakannya cukup keras.


"Putri Arcelia! Keluarlah menjemput ajalmu!"


Si gadis buruk rupa yang ternyata bernama Putri Arcelia Caitlyne keluar dari dalam rumahnya dengan berani. Keadaan tubuhnya serba tertutup.


Kecuali sepasang matanya yang menyorot tajam menatap 3 lelaki bengis di depannya berjarak 4 tombak. Di samping kirinya telah berdiri pelayannya dengan sikap berani pula.


Masing-masing kedua wanita itu juga tengah menggenggam pedang di tangan kiri.


Rupanya mereka sudah tahu gelagat kalau 3 lelaki bengis itu membawa maksud yang tidak baik.


"Ada apa kalian mencariku?" bentaknya pula tidak mau kalah.


"Tentu kami akan membunuhmu!" kata Danish bernada dingin menyeramkan.


"Kami akan membuatmu menemui ajal hari ini biar hidupmu tidak menderita lagi," sambung agam juga tak kalah menyeramkan.


"Aku tidak kenal kalian dan tidak pernah berurusan dengan kalian," kata Putri Arcelia bernada dingin ketus pula. "Kenapa tiba-tiba datang ingin membunuhku?"


"Kamu adalah salah satu sumber malapetaka bagi Kerajaan Lengkara," kata Danish makin dingin nada suaranya. "Oleh karena itu, melenyapkanmu adalah wajib!"


"Kalian terlalu banyak ngoceh yang membuang-buang waktu!" dengan lelaki baju hijau yang berdiri di sebelah kanan.


Belum kering gema suaranya, dia langsung melesat ke arah pelayan tua. Entah kapan mencabutnya tahu-tahu di tangannya sudah terayun pedangnya hendak menebas pelayan tua.


Awalnya pelayan tua tampak terkejut. Tapi karena dia sudah siaga sejak tadi, dia cepat menguasai diri. Lalu, secepat dia menghunus pedang, secepat itu pula diayunkan menangkis serangan si baju hijau.


Sedangkan Danish dan Agam jelas tidak mau kalah. Dengan gerakan cepat sambil menghunus pedang, mereka ikut menyerang Putri Arcelia dan pelayannya.


Sehingga tidak butuh waktu lama, pertarungan sengit yang cukup memukau langsung tercipta tanpa berlama-lama. Pertarungan antara Putri Arcelia dan pelayannya melawan 3 lelaki bengis yang spertinya berasal dari Kerajaan Lengkara.


Tiga lelaki itu memang sudah jauh-jauh hariberencana hendak membunuh Putri Arcelia. Hal itu sesuai tugas yang diperintahkan kepada mereka untuk membunuh salah satu sumber mala petaka bagi keberlangsungan Kerajaan Lengkara

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2