Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 112 CINTA GRANIA YANG TERLARANG


__ADS_3

Awalnya Gibson menatap gadis berbaju merah itu dengan sorotan tajam. Namun begitu Grania sudah dekat jaraknya dengannya, sorot matanya seketika berubah-rubah.


Awalnya sepasang matanya membulat karena terkejut. Kejap berikut membinarkan rasa pilu bertabur duka bercampur haru.


Setelah itu berubah menjadi datar. Bersamaan dengan tangannya yang tadi masih terangkat, diturunkan dengan perlahan-lahan.


Sementara Grania berhenti di depan Gibson ketika sudah berjarak kira-kira 1 tombak kurang. Sedangkan Gibson beralih menghadap ke arah lain seolah enggan berhadapan dan bertatapan langsung dengan Grania.


"Maaf, kenapa Nona sampai menyasar ke tempat ini?" tanyanya tanpa menghadap kepada Grania. "Ini sudah malam."


"Apa syair-syairmu tadi itu menceritakan tentang riwayat hidupmu, Kak..., eh boleh aku memanggilmu kakak?"


"Panggil saja namaku, Nona," kata Gibson tidak setuju. "Tidak perlu Nona memanggilku seperti itu. Aku tidak pantas dihormati oleh bangsawan seperti Nona."


Nada ucapan Gibson seperti mengungkapkan kedukaan dan kekecewaannya yang menyatu menjadi kemarahan dan dendam.


"Di Istana Centauri tidak berlaku istilah bangsawan atau rakyat biasa," kata Grania seolah meralat anggapan Gibson terhadap dirinya. "Jadi aku di sini bukan lagi seorang bangsawan, karena aku sudah menjadi warga Istana Centauri."


"Tapi meskipun kamu tetap tidak setuju, aku tetap akan memanggilmu kakak," lanjutnya, "karena kamu lebih tua dariku, Kak Gibson."


Gibson diam saja seolah tidak menggubris ucapan Grania. Pandangan matanya masih memandang ke lain arah, asalkan tidak bertatapan dengan Grania.


Karena Gibson tidak ingin Grania tahu kalau hatinya amat tersentuh Grania memanggilnya kakak. Jelas hatinya merasa bahagia adik seibunya itu memanggilnya kakak. Panggilan yang sudah sekian lama dirindukan.


Namun bersamaan dengan itu hatinya bersedih, karena sejak lahir Grania cuma tahu kalau kakaknya adalah Dareen Ardiaz, bukan dirinya. Padahal dia adalah kakak pertama Grania.


Hatinya makin bersedih dan berduka karena yang tahu tentang hal itu cuma dia dan Nyonya Brianna, wanita yang telah melahirkannya. Artinya hal itu masih menjadi rahasia yang tidak semua orang tahu.


"Kak Gibson, apa syair-syairmu tadi itu menceritakan tentang riwayat hidupmu?" tanya Grania mengulang pertanyaannya tadi yang belum dijawab Gibson.


"Apa perdulimu tentang riwayat hidupku, Nona?" kata Gibson bernada datar dan tajam, masih tanpa melihat lawan bicaranya.


Namun hatinya makin tersentuh saja ketika mendengar pertanyaan Grania itu. Pertanyaan itu sebagai isyarat kalau Grania perduli akan dirinya.


"Kenapa kamu bersikap seperti itu kepadaku, Kak?" kata Grania merasa tersinggung akan sikap Gibson yang ditampakkan padanya itu.


Bukan Grania marah, namun bersedih seolah Gibson membencinya.


"Apakah kamu marah padaku? Kenapa?"


"Ataukah karena kamu membenci wanita? Tapi kenapa kamu bisa bersikap baik kepada Nona Fariza Luna?"


Pertanyaan-pertanyaan itu membuat hati Gibson semakin sedih. Memang tidak seharusnya dia marah atau membenci Grania. Gadis itu tidak punya salah apa-apa.


Yang bersalah adalah ibunya. Seharusnya Gibson hanya marah dan benci kepadanya saja. Tidak boleh kepada Grania juga.


Dan seketika hati Gibson terkejut. Kenapa Grania membawa-bawa nama Nona Fariza dalam hal ini? Apakah Grania cemburu terhadap Fariza? Karena dia bersikap baik kepada Fariza, sedangkan kepada Grania tidak.


Apakah itu artinya Grania juga menyukainya? Sejak kapan Grania menyukai seorang yang miskin seperti dirinya?


★☆★☆


Dia bertemu dengan Grania seperti sekarang ini bisa dihitung jari. Paling 3x dengan pertemuan ini. Yang kedua kalinya ketika dia masih kecil. Itupun bertemunya di pesta yang diadakan oleh Putri Aurellia di Istana Kejora.


Pertemuan pertama memang tidak disengaja. Namun pertemuan kedua seolah Grania sengaja ingin bertemu. Tapi Gibson selalu berusaha untuk menghindar.


Sejak kecil dia sudah tahu kalau Grania adalah adiknya. Karena sejak kecil dia sudah tahu siapa ibunya Grania, wanita yang juga melahirkannya di luar pernikahan. Sejak kecil dia sudah membenci wanita yang melahirkannya dan keluarga baru wanita itu.


Adapun pada saat Turnamen Beladiri Anak Bangsawan dia satu tim dengan Dareen Arfiaz, hal itu sangat terpaksa sekali. Karena Pangeran Nevan memintanya dengan sangat.


Lagipula Dareen Ardiaz tidak menunjukkan sikap permusuhan dengannya. Mungkin karena Dareen Ardiaz tidak tahu kalau yang satu tim dengannya adalah kakaknya. Entah bagaimana kalau dia tahu?


Gibson tidak tahu sejak kapan Grania menyukainya. Tapi bukan itu yang menjadi pikirannya. Kalau benar Grania memang menyukainya, hal itu tidak boleh terjadi. Dia harus cepat-cepat mencegahnya.


Grania tidak boleh mencintai saudaranya sendiri, saudara satu ibu.


"Kenapa kamu diam saja, Kak Gibson?" tanya Grania yang seketika mengagetkan hati Gibson. "Apakah sejak dahulu kamu membenciku? Itulah kenapa kamu selalu menghindar dariku?"


Nada suara Grania semakin sedih. Sedih karena Gibson seolah tidak memperdulikannya. Tapi Gibson sampai saat ini masih juga bungkam.

__ADS_1


Di tengah perasaannya yang sudah semakin kalut, Grania memberanikan diri menghampiri Gibson dan berdiri tepat di depannya. Terus sepasang matanya yang sudah berkaca-kaca menatap Gibson lekat-lekat.


"Kalau kamu memang membenciku, aku tidak apa-apa," ucap Grania bernada pilu. "Aku akan menjauh darimu dan tidak akan mengganggumu lagi...."


"Tapi setidaknya kamu mengatakan kepadaku kenapa membenciku," lanjut Grania semakin terbawa perasaan, "agar aku tahu kesalahanku apa dan memperbaikinya."


"Jika suatu saat aku sudah bisa melupakanmu dan sudah bisa menyukai pemuda lain, aku sudah tahu kesalahanku dan sudah memperbaikinya...."


Tentu saja ucapan Grania yang mengerikan itu amat mengejutkan Gibson. Sampai-sampai dia balas menatap gadis itu dengan mata membulat saking terkejutnya.


Tadinya dia cuma menduga kalau Grania menyukainya. Tapi sekarang Grania terang-terangan menyatakan suka kepadanya.


"Tidak, kamu tidak boleh menyukaiku atau mencintaiku!" ucap Gibson dengan suara agak bergetar antara sadar dan tidak karena dia masih dikuasai keterkejutan.


"Kenapa?" cecar Grania. "Kenapa aku tidak boleh mencintaimu, Kak? Apakah karena kamu sudah mencintai Nona Fariza?"


Air mata yang sudah menggenang di kelopak matanya langsung bergulir begitu saja di pipi putih nan halusnya. Grania sudah tidak sanggup lagi membendung kesedihannya.


Melihat hal itu Gibson makin terharu.


"Aku belum dan tidak akan menyatakan cinta kepada Nona Fariza," ungkap Gibson jujur. Nada suaranya kini melunak. "Karena aku tidak pantas untuknya."


"Kalau kamu belum jadian dengannya, kenapa aku tidak boleh mencintaimu?" Air mata Grania makin deras mengalir di pipinya mendengar ucapan Gibson barusan.


Gibson harus memeras otak menghadapi gadis yang kekeh pendirian ini. Karena dia tidak menyangka kalau Grania sudah berubah.


Dulu dia mengetahui kalau Grania adalah gadis pendiam dan tidak banyak bicara. Tapi sekarang bukan lagi dia banyak bicara, bahkan pandai bicara.


Untuk berterus terang sekarang kalau mereka bersaudara, Gibson menganggap belum momennya. Dia harus bisa member tahu secara baik-baik kalau Grania tidak boleh mencintainya.


★☆★☆


Beberapa saat lamanya kedua muda-mudi itu saling membisu dan saling tatap. Hanya ekspresi wajah mereka yang saling berbicara.


Tak lama Gibson mengangkat kedua tangannya ke wajah Grania, lalu kedua jempolnya menyeka air mata gadis berambut shaggy dengan lembut dan pelan. Sedangkan Grania membiarkan saja seolah meresapi jemari Gibson membelai pipi putih nan halusnya.


"Tidak pantas kamu mengeluarkan air mata seperti ini," kata Gibson bernada tenang dan lembut. "Tidak perlu kamu menangis hanya karena tidak mendapat cinta dari lelaki miskin sepertiku. Masih banyak pemuda yang lebih baik dan lebih bermartabat daripada aku."


Dia langsung melengos ke arah lain karena tidak sanggup lagi menentang tatapan Gibson. Karena binar mata Gibson berubah menjadi lembut, tenang, teduh. Seketika wajah cantiknya langsung merah dadu karena menahan malu.


Kalau Gibson sudah dalam mode tenang seperti itu, aura ketampanannya langsung menguar. Gadis siapa yang tidak berdebar hatinya kalau melihatnya.


"Lagipula kamu siapa mengatur-atur siapa yang pantas aku cintai," kata Grania melanjutkan lagak ngambeknya.


Gibson sebenarnya mau tersenyum melihat tingkah Grania itu. Tapi dia berusaha menahannya.


"Apakah kamu sudah mendengar semua lantunan syairku tadi?" tanya Gibson seperti mendapat ide.


"Ya, aku sudah mendengar semuanya," sahut Grania masih melengos ke arah lain.


"Kamu paham akan kandungan maknanya?"


"Kamu terlahir dari seorang ibu, tapi ibumu tidak merawatmu," tutur Grania menjabarkan makna syair Gibson. "Bahkan membuangmu demi menutupi aib keluarganya karena kamu lahir di luar nikah...."


"Akhirnya kamu tumbuh besar tanpa belaian dan tanpa cinta seorang ibu," lanjut Grania. "Bahkan kamu tumbuh besar dalam penderitaan karena harus hidup di jalanan bagai anak gelandangan...."


"...Syair-syairmu itu menceritakan tentang riwayat hidupmu. Iya 'kan?"


"Ya, kamu benar," kata Gibson mengakui sekaligus memuji dalam hati akan kecerdasan Grania dalam memahami kata-kata tersirat.


"Sekarang kamu sudah tahu kalau aku adalah anak yang lahir di luar nikah," lanjut Gibson. "Aku harap kamu tidak ngotot lagi ingin mencintaiku."


"Justru aku makin ingin mencintaimu, Kak," kata Grania kembali menatap Gibson. "Aku ingin kamu membagi penderitaanmu kepadaku agar beban hidupmu menjadi ringan. Jangan kamu pikul sendiri."


"Jangan dulu kamu memikirkan hal itu," kata Gibson hampir mati akal menghadapi kekekehan gadis ini. "Ingatlah bahwa kamu seorang bangsawan yang tidak boleh sembarang orang kamu cintai."


"Aku sudah bilang tadi kalau aku bukan bangsawan lagi," Grania masih kekeh. "Aku bebas mencintai siapa saja yang pantas bagiku. Karena Istana Centauri tidak membatasi dan tidak membeda-bedakan status awal."


"Kamu masih memiliki orang tua dan mereka masih berstatus bangsawan. Setidaknya kamu memperhatikan perasaan mereka yang tentunya akan malu anaknya mempunyai kekasih seperti aku."

__ADS_1


"Aku tidak mau...."


"Nona, dengar, dengarkan aku dulu!" kata Gibson segera memotong ucapan Grania.


"Kamu mencintai aku atau siapa pun itu urusan kamu," lanjutnya, "tapi tolong dengarkan aku dulu. Untuk sekarang ini kamu jangan dulu memperturutkan perasaanmu itu kepadaku. Tahanlah dulu hingga semuanya telah jelas."


"Jelas apanya, Kak?" Grania malah curiga.


"Sampai semuanya jelas apakah kamu mencintaiku hanya karena kasihan kepadaku atau cintamu itu tulus."


"Tapi aku tulus ingin mencintaimu, Kak."


"Nanti dulu, Nona," Gibson masih mencoba membujuk. "Sabar dulu. Kamu juga belum memberi tahu ibumu apakah boleh mencintai aku apa tidak."


"Tapi aku bisa pastikan ibumu tidak menyetujui tindakanmu itu."


"Kalau begitu aku tidak mau minta ijin kepada bunda," Grania masih saja keras kepala. "Aku akan minta ijin kepada Yang Mulia Ratu. Beliau pasti mengijinkan."


"Sudahlah," kata Gibson sudah kehabisan akal membujuk Grania. "Aku tidak mau lagi berdebat denganmu tentang masalah ini."


"Kalau kamu mendengarkan nasihatku, aku ucapkan banyak terima kasih," lanjutnya. "Tapi kalau kamu tetap pada keinginanmu, itu terserah kamu."


★☆★☆


Mendengar ucapan itu Grania menangis lagi. Meski cuma terisak tapi cukup membuat Gibson merasa kasihan. Dan hampir tidak tahan ingin mengatakan kalau mereka bersaudara.


"Kamu boleh melarang aku apa saja, aku berusaha sekuat tenaga untuk menyanggupinya," isak memelas Grania di tengah tangisnya.


"Tapi kalau kamu melarangku jatuh cinta kepadamu, lebih baik kamu membunuhku saja. Karena hal itu sama saja kamu membunuhku...."


Entah apalagi yang Gibson mau katakan rasanya tidak bakalan dituruti oleh Grania. Karena sepertinya Grania memang benar-benar mencintai dirinya.


"Aku heran dengan dirimu ini, Nona," kata Gibson setengah bergumam. "Kenapa sebegitunya kamu mencintaiku? Apa keistimewaan pemuda miskin ini bagi seorang Nona seperti kamu?"


"Karena kamu adalah pemuda yang baik," ungkap Grania berusaha menahan tangisnya. "Dari dulu hingga sekarang sifatmu tidak berubah. Makanya aku sudah menyukaimu sedari kecil."


"Kamu sudah menyukaiku sejak lama?" Gibson terkejut juga mendengarnya.


"Iya, tapi kamunya tidak merasa karena kamu terus menghindariku."


"Sudahlah, Nona, kamu belum mengenalku lebih jauh. Simpan dulu anggapan baikmu kepadaku. Aku harap kamu menuruti nasehatku untuk saat ini."


"Tidak, aku tidak mau menuruti nasehatmu!"


"Katanya kamu menyatakan cinta kepadaku, tapi belum apa-apa kamu sudah membantah nasehatku," Gibson seolah menyindir.


"Tapi...."


"Sudah! Aku mau kembali ke kamarku," kata Gibson cepat memotong ucapan Grania. "Aku tidak mau lagi berdebat denganmu."


Setelah itu Gibson berbalik dan terus melangkah hendak tinggalkan tempat ini. Tapi baru 4 langkah, Grania yang masih diam di tempatnya langsung menegur.


"Apa kamu mau meninggalkan aku, Kak?"


Tangisnya yang hampir reda sudah mulai meledak lagi.


"Kalau kamu mau tinggal di situ silahkan!" kata Gibson yang terus melangkah. "Kalau kamu mau ikut pulang, ayo!"


Grania langsung meledak tangisnya. Membuat Gibson harus berhenti, terus cepat-cepat kembali ke tempat Grania yang masih berdiri menangis.


"Sudah, sudah, jangan menangis!"


Gibson terus membujuk agar Grania berhenti menangis sambil menyeka air mata gadis itu. Beberapa lama Gibson membujuk, akhirnya Grania berhenti menangis pula.


Sebagai pelengkap Gibson membujuk Grania agar berhenti menangis, terpaksa Gibson menggendong belakang Grania. Setelah itu mereka tinggalkan tempat itu.


"Sudah ya Nona, jangan menangis lagi. Nanti kalau orang melihat kita, dikiranya aku sudah apa-apakan kamu."


"Kamu sudah mengapa-apakan aku kok."

__ADS_1


"Ya, ya, aku minta maaf."


★☆★☆★


__ADS_2