
Sang mentari sudah terkubur di ufuk barat sejak tadi. Senja tua telah sirna berganti kelam. Malam sudah bangkit dari tidur lelapnya cukup lama. Merangkak perlahan menanjaki cakrawala, membentangkan selendang kegelapan ke seantero mayapada.
Malam itu masih di Istana Kristal Ungu, di ruang pribadi Raja Darian Cashel di mana dia dan semua yang ada di situ telah selesai makan malam....
Memang orang baik itu pastilah banyak terlimpahkan keberkahan dari Yang Maha Kuasa, Sang Penguasa Langit. Raja Darian Cashel sekarang sudah sembuh secara total. Tidak ada lagi 'Racun Mayat Beku' di dalam tubuhnya. Peredaran darahnya sudah berjalan dengan normal. Kulitnya sudah tampak seperti biasa, tidak lagi pucat.
Tadi, ketika Dhafin telah selesai melakukan penyembuhan, Raja Darian tidak sampai pingsan. Dari awal penyembuhan hingga selesai dia mengerahkan tenaga dalam sesuai anjuran Dhafin. Dan di akhir-akhir hampir selesai pengobatan tenaga dalamnya semakin meningkat. Sehingga ketahanan tubuh Raja Darian semakin stabil.
Mengenai peristiwa Raja Darian bisa terkena 'Racun Mayat Beku', Dhafin menduga kuat bahwa adanya unsur kesengajaan yang dilakukan oleh orang-orang tertentu. Atau lebih tepatnya sengaja dilakukan oleh orang-orang yang membenci Raja Darian.
Tujuannya sudah pasti, yaitu hendak membunuh Yang Mulia. Karena 'Racun Mayat Beku' adalah jenis racun pembunuh. Membunuh korbannya secara perlahan-perlahan.
Mengapa orang-orang itu menggunakan jenis racun seperti itu? Tentu mereka mempunya rencana jahat terselubung sehingga mereka melakukan hal demikian. Mereka sengaja meracuni Yang Mulia dengan racun yang membuat Yang Mulia mati secara perlahan-perlahan agar rencana terselubung mereka berjalan dengan rapi, aman, dan mulus.
Yang jelas indikasi ini menunjukkan bahwa telah ada rencana pembunuhan terhadap Raja Darian secara terselubung. Kalau begitu, apa tujuan mereka melakukan rencana pembunuhan tersebut?
"Rencana pemberontakan...," cetus Jenderal Myles tak lama setelah Dhafin mengemukakan analisanya kenapa Yang Mulia bisa terkena racun secara panjang lebar.
"Tepat...," kata Jenderal Felix sependapat, "rencana pemberontakan. Atau lebih khusus lagi rencana perebutan kekuasaan."
Raja Darian yang kini telah duduk di kursi berukir indah yang cukup besar terdiam sejenak memikirkan semua pemaparan Dhafin tadi. Dan barusan lagi dua pejabat tinggi kepercayaannya mencetuskan sesuatu yang sama sekali belum pernah terlintas dalam benaknya.
Dia memerintah Kerajaan Amerta ini setelah menggantikan ayahandanya, Raja Kerajaan Amerta sebelumnya, yang telah mangkat sudah lebih dari sepuluh tahun. Selama dia memerintah, Kerajaan Amerta selalu aman dan tentram. Secara garis besar rakyatnya makmur terjamin.
Dia tidak pernah lepas memantau keadaan kerajaannya. Makanya dia mewajibkan tiap dua bulan sekali mengadakan pertemuan di Balairung Istana untuk menerima laporan kerja para pejabatnya selama dua bulan itu.
Dan ada beberapa pejabat penting yang selalu dimintai keterangan tentang keadaan rakyatnya. Seperti Pejabat Keamanan Kerajaan, Pejabat Kesejahteraan Kerajaan, Pejabat Penyelidik Rahasia, dan Kepala Ketertiban Umum Kerajaan. Melalui keempat pejabat kepercayaannya ini dia selalu memantau keadaan negerinya.
Akan tetapi, sedemikian rapinya dia mengatur kerajaannya, sedemikian telitinya dia memantau keadaan negerinya, sedemikian aman dan tentramnya kerajaannya, ternyata masih ada juga peluang bagi para pemberontak untuk menggulingkan kekuasaannya. Ini diluar dugaannya.
"Amannya suatu negeri bukan berarti bahaya besar tidak ada, Yang Mulia," kata Dhafin penuh takzim, tanpa bermaksud menggurui.
"Apa yang dikatakan Dhafin itu benar adanya, Yang Mulia," sambung Pendeta Noman. "Hamba sudah sering memberitahukan kepada Yang Mulia agar selalu waspada di tengah rasa aman. Keadaan aman tidak menjamin bahaya besar tidak ada."
"Aku terlalu terlena dengan keadaan amannya kerajaanku," desah Yang Mulia bernada sesal. "Karena kurangnya kewaspadaan sehingga aku sampai kecolongan. Ada rencana pembunuhan terhadapku, tapi aku terlambat menyadari. Sungguh malang!"
★☆★☆
"Keterlambatan tidak selamanya membuahkan kegagalan, Yang Mulia," kata Pendeta Noman penuh bijak. "Masih ada waktu untuk merubah keadaan. Yang Mulia sekarang sudah sembuh. Rencana akan adanya pemberontakan sudah tercium. Tinggal bagaimana Yang Mulia mengambil tindakan bersama pejabat tinggi kepercayaan Yang Mulia."
"Ampun, Yang Mulia," kata Dhafin penuh takzim meminta ijin untuk bicara.
"Ada apa, Dhafin?"
"Cepat atau lambat orang yang telah meracuni Yang Mulia pasti akan tahu akan kesembuhan Yang Mulia," ungkap Dhafin. "Bersamaan dengan itu pula dia akan mengetahui kalau rencananya membunuh Yang Mulia dengan racun telah gagal...."
"...Setelah mengetahuinya," lanjut Dhafin, "maka kemungkinan dia akan melakukan beberapa hal. Di antaranya kemungkinan dia akan mengulangi meracuni Yang Mulia lagi, entah dengan racun yang sama atau racun yang lain yang bisa membunuh Yang Mulia...."
__ADS_1
"...Maka kedepannya Yang Mulia harus waspada terhadap semua makanan, minuman, wewangian, atau yang semisalnya. Siapa pun itu yang hendak memberikan sesuatu yang hamba sebutkan tadi kepada Yang Mulia, hendaknya diwaspadai. Jangan sampai Yang Mulia kecolongan lagi."
"Adapun kemungkinan lainnya, hamba rasa Yang Mulia dan para pejabat Yang Mulia pasti sudah bisa memikirkannya."
"Ya, aku pasti akan menjalankan anjuranmu," kata Yang Mulia rendah hati.
"Ampun, Yang Mulia," kata Jenderal Felix minta ijin.
"Ya, ada apa, Jenderal?"
"Yang jelas rencana pembunuhan terhadap Yang Mulia sudah pasti," papar Jenderal Felix. "Bisa jadi kemungkinan lain para pemberontak mulai main kasar meski masih sembunyi-sembunyi. Atau bisa jadi mereka mulai main terbuka. Hal ini harus segera kita waspadai, Yang Mulia."
"Atau bisa jadi mereka akan menggabungkan dua rencana sekaligus, Yang Mulia," sambung Jenderal Myles. "Membunuh Yang Mulia dengan racun sekaligus melakukan penggulingan kekuasaan...."
"Seperti yang terjadi dengan Yang Mulia Raja Neshfal Abraham dan kerajaannya, begitu?"
"Benar, Yang Mulia," sahut Jenderal Myles.
Semua orang yang ada di situ mengetahui peristiwa berdarah yang menimpa Raja Neshfal Abraham dan kerajaannya. Dia dan permaisurinya serta selir ke tiganya dibunuh dengan cara diracuni oleh Selir Agung-nya, Selir Helen Gretha.
Sedangkan adik laki-laki Selir Agung itu, Choman Gerald dan orang-orangnya melakukan penggulingan kekuasaan pada waktu yang hampir bersamaan, sesuai perintah Selir Agung.
Pada peristiwa itu Choman Gerald dan orang-orangnya banyak membunuh pejabat-pejabat setia Raja Neshfal Abraham. Dalam peristiwa itu pula terbunuh Putra Mahkota Kerajaan Bentala, Pangeran Ghazam Aldari beserta istri dan dua selirnya.
Dua selir Pangeran Ghazam ini, selir yang pertama mati di tempat peristiwa. Sedangkan selir ke duanya yang bernama Selir Khandra Fidelya sempat diselamatkan. Tapi tiga tahun kemudian ditemukan juga dan langsung dibunuh. Tidak ada dikabarkan kalau dia memilki anak.
Namun belakangan diketahui kalau kedua pelayan yang menyelamatkan kedua cucu Raja Neshfal Abraham itu akhirnya ditemukan juga dan langsung dibunuh. Yang pertama pelayan Pangeran Revan tiga tahun kemudian. Yang ke dua pelayan Pangeran Davian lima tahun kemudian. Sedangkan kedua pangeran itu dinyatakan mati bersama pelayannya pada tahun yang sama.
Jadi, semua keturunan Raja Neshfal Abraham telah mati kecuali Pangeran Ghanim Altezza, putra Selir Helen Gretha yang sekarang menjadi raja di Kerajaan Bentala serta adik laki-lakinya yang bernama Killian Ansel.
Sedangkan selir ke dua Raja Neshfal Abraham beserta putrinya, adik perempuan Pangeran Ghazam dan putra selir ke tiganya selamat dalam peristiwa itu. Dan hingga sekarang mereka semua belum ketahuan beritanya.
★☆★☆
"Apakah kalian sudah merasa yakin kalau ini adalah rencana penggulingan kekuasaanku?" tanya Yang Mulia kepada ketiga pejabatnya yang ada di situ. Maksud pertanyaannya ini adalah ingin meminta bukti secara jelas, bukan dugaan.
"Ampun, Yang Mulia," kata Jenderal Felix penuh takzim. "Perkenankan hamba untuk menjawab."
"Hm..., kamu punya bukti, Jenderal Felix?" tanya Raja Darian Cashel langsung.
"Sebenarnya hamba bersama Pejabat Militer Kerajaan dan Kepala Ketertiban Umum sudah beberapa kali melakukan pertemuan rahasia," ungkap Jenderal Felix menuturkan. "Terkadang pula Jenderal Myles kami libatkan...."
"...Pada pertemuan itu kami membahas tentang adanya sebagian pejabat yang kami curigai telah melakukan suatu gerakan terselubung yang menjurus kepada pemberontakan. Seperti contohnya apa yang terjadi pada Pejabat Kota Pendar...."
"...Ternyata kekayaan terselubung dari hasil perdagangan terlarangnya tidak masuk dalam data kekayaan pribadinya. Kami mencurigai dengan bukti yang ada, bahwa kekayaan terlarangnya itu tersalur pada sesuatu yang terselubung...."
"...Dan hamba bertanya kepada Dhafin tentang kekayaan terlarangnya Pejabat Kota Pendar kenapa tidak masuk dalam kekayaan pribadinya? Maka spontan Dhafin menjawab kalau kekayaan itu tentu untuk mendanai sesuatu yang terselubung...."
__ADS_1
"...Maka berdasarkan bukti yang ada pada kami dan firasat Dhafin tersebut, kami menyimpulkan kalau Pejabat Kota Pendar telah mendanai sebuah pergerakan terselubung. Di samping itu juga kami mendapatkan bukti kalau sebagian pejabat yang kami curigai itu telah melakukan pertemuan rahasia di Kota Denver."
Raja Darian mendengarkan secara cermat semua keterangan pejabat kepercayaannya itu. Dan dia percaya sepenuhnya akan keterangan itu. Karena Jenderal Felix adalah salah satu pejabat tingginya yang diandalkan.
"Kalau begitu," kata Raja Darian setelah agak lama terdiam, "kamu, Pejabat Militer dan Kepala Ketertiban Umum temui aku di kediamanku ini tiga hari nanti. Bawa sekalian data-data tentang sebagian pejabat yang kalian curigai."
"Hamba, Yang Mulia," sahut Jenderal Felix penuh hormat.
Kemudian Raja Darian memandang Dhafin yang menggerakkan tangan kanannya hendak mengambil salah satu kudapan. Begitu dia perhatikan secara seksama kue yang akan diambil Dhafin, seketika mengingatkannya pada sahabatnya, Pangeran Ghazam. Karena kue yang diambil Dhafin itu adalah kue kesukaan sahabatnya.
Kenapa anak ajaib ini begitu banyak kesamaannya dengan Pangeran Ghazam pikirnya. Cara berbicaranya yang santun, sikapnya yang begitu tenang, wajahnya yang tampan, caranya memandang. Anak ini hampir tidak membuang apa yang ada pada Pangeran Ghazam Aldari.
Apakah terlalu tergesah-gesah menyangka Dhafin adalah putra sahabatnya? Tapi dia mendapat kabar kalau Pangeran Farzan jatuh ke dalam jurang dan sudah dinyatakan mati. Dan anak ini bukan bernama Pangeran Farzan Aldebaran. Atau anak ini menyamarkan jati dirinya dan memakai nama samaran? Ah, memikirkan hal ini membuatnya bingung.
"Sepertinya Yang Mulia tengah mengenang lagi sahabat Yang Mulia, Yang Mulia Pangeran Ghazam Aldari," selidik Pendeta Noman sekaligus mengusik seraya tersenyum.
Yang Mulia tidak kaget mendengar usikan itu, bahkan cuma tersenyum lembut.
Yang tersentak kaget adalah Dhafin. Sikapnya langsung berubah sedikit panik sambil menatap Raja Darian. Bahkan kue kesukaannya yang masih ada di tangannya langsung terlepas dan jatuh ke pangkuannya begitu saja. Seolahnya dia tidak memegang apa-apa.
★☆★☆
Namun cepat-cepat Dhafin menguasai diri. Sikapnya kembali tenang solah tidak terjadi apa-apa. Raut wajahnya yang tadi sempat tegang kembali seperti biasa. Kue yang jatuh di pangkuannya diambil lagi.
Tapi perubahan sikap Dhafin itu yang tidak lama sempat ditangkap oleh kedua bola mata Raja Darian. Dia langsung tersenyum penuh arti.
"Boleh aku bertanya, Dhafin?" tanya Raja Darian sambil menatap Dhafin.
"Silahkan, Yang Mulia," sahut Dhafin agak sedikit bergetar. Dia berharap Yang Mulia tidak bertanya tentang apa yang dia khawatirkan.
"Apa kamu mencurigai Pejabat Keegen?"
Raja Darian bertanya seperti itu karena teringat akan dialog antara Dhafin dengan Pejabat Keegen sewaktu pertemuan di Balairung Istana beberapa hari yang lalu. Ucapan terakhir Dhafin kepada Pejabat Keegen dia menduga mempunyai makna tersirat.
Dhafin tidak langsung menjawab. Menatap sebentar pada Yang Mulia, lalu beralih menatap Jenderal Felix. Seolah dia menyuruh Jenderal Felix untuk menjawab.
"Sebaiknya kamu sendiri saja yang menjawab pertanyaan Yang Mulia tanpa aku yang memperantaraimu," anjur Jenderal Felix.
"Ampun, Yang Mulia," kata Dhafin penuh hormat. "Terus terang hamba tidak mengenal siapa itu Pejabat Keegen. Tapi ketika hamba diberitahu oleh Paman Felix kalau dia ternyata sahabat Pejabat Kota Pendar, maka hamba bisa menduga kalau dalam pertemuan di Balairung Istana tempo hari itu dia mencari orang yang ikut andil dalam membantu terbongkarnya kejahatan sahabatnya itu...."
"...Ketika dia sudah mengetahui siapa orangnya, tentu dia akan menindakinya. Dia tidak bisa menyelamatkan nyawa sahabatnya itu, namun dia akan membalas perbuatan orang yang ikut andil membongkar kejahatan sahabatnya."
"Ampun, Yang Mulia," sambung Jenderal Felix penuh takzim. "Pejabat Keegen ini juga sebenarnya masuk dalam daftar pejabat yang kami curigai."
"Tentu dia tidak akan mendapatkan orang yang dia cari itu," kata Pendeta Noman. "Karena orangnya adalah kamu. Bukan begitu, Dhafin?"
Dhafin tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya meski cuma sebentar. Tapi itu sudah dilihat oleh semua orang yang ada di situ. Itu artinya bahwa Dhafin sudah mengakui kalau dialah yang ikut andil dalam membongkar kejahatan Pejabat Kota Pendar.
__ADS_1
★☆★☆★