
Siang itu di Istana Kristal Ungu, di kediaman Raja Darian Cashel, penguasa Kerajaan Amerta....
Kala itu di ruang pribadi Raja Darian. Di situ cuma ada Yang Mulia tentunya bersama Pengawal Raja, Jenderal Myles. Juga ada Pendeta Noman dan sahabatnya, Pejabat Penyelidik Rahasia, Jenderal Felix. Yang tidak kalah penting ada Dhafin juga di situ.
Maksud dari pertemuan itu tidak lain membahas penyakit Raja Darian. Yang mana telah diketahui bahwa ternyata Raja Darian sakit demam aneh seperti itu sudah hampir tiga tahun. Dan beberapa tabib pilihan yang memeriksa penyakit Raja Darian Cashel juga belum bisa menyembuhkan.
Sebelum Jenderal Felix dan Dhafin datang ke Istana Kristal Ungu ini, mereka mendatangi Pendeta Noman di rumahnya. Dan mereka langsung membicarakan kepada pendeta itu mengenai penyakit Raja Darian Cashel.
Seperti yang Dhafin duga kalau Pendeta Noman memang mengetahui kalau Yang Mulia terkena racun. Sedangkan tabib yang biasa memeriksa Yang Mulia, menurut dugaan Pendeta Noman, sepertinya juga mengetahui kalau Yang Mulia bukan sekedar demam biasa, tapi terkena racun.
Hanya saja, apakah sang tabib mengetahui Raja Darian mengidap racun apa tapi belum bisa mengobatinya? Pendeta Noman belum bisa memastikan. Sedangkan dia sendiri belum yakin dengan dugaannya mengenai racun yang diidap oleh Yang Mulia.
Dan sebab mengapa Yang Mulia bisa bertahan sampai sekarang, karena beliau mempunyai tenaga dalam yang cukup tinggi. Sehingga bisa menekan hawa dingin yang menyerangnya dengan tenaga dalam yang berhawa panas. Ditambah juga Pendeta dan Jenderal Myles yang bergantian menyalurkan tenaga dalam panas ke tubuhnya.
Ketika Raja Darian diberitahu bahwa maksud kunjungan Dhafin ke istananya ini adalah untuk menyembuhkan penyakitnya, terang saja dia terkejut bukan main. Seorang anak kecil seperti Dhafin bisa menyembuhkan penyakit aneh? Ini suatu hal yang mengherankan.
"Kamu bisa menyembuhkan penyakitku?" Raja Darian tidak bisa menahan keterkejutannya bercampur keheranan. Jelas keraguan menguar dari pertanyaannya itu.
Saat ini raja yang masih tampak gagah dan tampan itu terbaring setengah duduk di pembaringannya yang megah. Pakaian tebal membungkus tubuhnya yang putih pucat. Selimut tebal ikut menemaninya.
Pendeta Noman duduk tak jauh di sisi kiri pembaringan, sedangkan Jenderal Myles duduk tak jauh di dekat kepala sebelah kanan pembaringan. Sementara Jenderal Felix dan Dhafin duduk tak jauh di sebelah kaki pembaringan.
"Apakah kamu seorang tabib?" tanyanya lagi merasa aneh.
Seorang anak kecil sudah menjadi tabib sudah merupakan hal yang luar biasa. Apalagi sampai bisa menyembuhkan penyakit aneh yang dia derita sudah lima tahun. Tabib ternama yang mengobatinya saja belum bisa. Ini seorang anak kecil...?!
Dhafin diam saja mendengar dua pertanyaan bernada heran sekaligus meragukannya itu. Belum mau mengomentari apa-apa. Sudah hal biasa baginya kemampuannya dalam ilmu pengobatan diragukan. Apalagi yang meragukan itu adalah seorang raja yang tentunya mempunyai banyak tabib yang handal.
"Kepandaian tidak melulu diukur hanya berdasarkan usia, Yang Mulia," kata Pendeta Noman bernada bijak. "Keajaiban yang Penguasa Langit turunkan ke dunia ini tidak hanya terbatas pada orang-orang dewasa maupun orang-orang tua. Mohon kiranya Yang Mulia bisa memahaminya."
Seketika Raja Darian tersentak seakan telah tersadar dari sesuatu. Dia segera paham ucapan bijak Pendeta Noman itu. Ya, keajaiban yang Penguasa Langit turunkan ke dunia amat luas dan banyak. Hanya saja terkadang pikiran manusialah yang terbatas dan sempit.
"Kamu bisa menyembuhkanku, Nak?" tanya Raja Darian mengulang pertanyaannya yang tadi. Nadanya tidak lagi keheranan. Sorot matanya tidak lagi memancar keraguan. Seolah gelagat itu sebagai perijinan bagi Dhafin untuk mengobatinya.
★☆★☆
"Dengan ijin Penguasa Langit, Yang Mulia," sahut Dhafin bernada tenang. Sikap santunnya tidak pernah lepas.
Sifat ini salah satu hal yang membuat Raja Darian tertarik dan kagumi seorang Dhafin ini. Berbanding terbalik dengan anak sulungnya, sang putra mahkota, Pangeran Adrian.
"Kalau begitu, kapan kamu akan memulai?" tanya Raja Darian membuka perijinan.
"Mohon ijinkan hamba memeriksa kondisi badan Yang Mulia terlebih dahulu," kata Dhafin penuh santun.
"Silahkan!"
__ADS_1
Kemudian Dhafin melangkah ringan menuju sisi sebelah kanan pembaringan. Begitu sampai dia hendak menundukkan badan bermaksud mengtakzim Yang Mulia. Namun cepat dicegah oleh Raja Darian.
"Kamu tidak usah banyak peradaban di sini, Dhafin. Ini tempat pribadiku, bukan tempat umum. Kamu sudah menghormatiku dalam hatimu itu sudah cukup, tidak perlu dengan sikap yang berlebihan."
"Ya-yang Mulia...."
Badan Dhafin yang sudah hampir menunduk seketika merandek. Sepasang mata kelamnya menatap haru raja yang bijaksana itu. Ucapan Raja Darian yang penuh kelembutan itu jelas tepat membidik relung hatinya. Sehingga menyemburatkan perasaan harunya tanpa bisa disembunyikan. Sehingga tanpa terasa air matanya mengalir ke wajah tampannya.
Raja sebaik Raja Darian ini kenapa begitu bernasib malang seperti ini? Dia yang bersifat arif bijaksana kepada rakyatnya, kenapa ada segelintir dari mereka berniat jahat dengan tega meracuni dengan racun ganas seperti ini? Sungguh hal ini tidaklah adil.
"Kenapa kamu menangis, Nak?" tanya Yang Mulia cukup heran dan penasaran setelah beringsut ke pinggir sebelah kanan pembaringan.
Jenderal Myles melihat Dhafin meneteskan air mata juga merasa heran. Apa yang membuat seorang anak kecil seperti Dhafin ini terharu, sehingga bisa menangis meski tanpa suara? Begitu hebatkah ucapan lembut Yang Mulia barusan baginya sehingga membuatnya terharu begitu?
Sedangkan Pendeta Noman dapat memahami perasaan Dhafin yang menyayangkan keadaan Yang Mulia yang bernasib malang itu. Seorang raja yang adil dan bijaksana, tapi ada saja yang berniat jahat kepadanya.
Sementara Jenderal Felix merasakan hal yang sama dengan pendeta Noman. Dia sudah menceritakan perihal mengenai Penguasa Kerajaan Amerta itu kepada Dhafin. Dan juga Dhafin waktu itu meneteskan air mata haru, sama seperti sekarang ini.
Dhafin buru-buru menyeka air matanya, tidak langsung menjawab pertanyaan Yang Mulia. Dengan cepat dinormalkan lagi perasaannya, dan langsung bersikap seperti biasa.
"Maaf atas sikap hamba yang tidak sopan, Yang Mulia."
"Hahaha..., sudahlah."
Dhafin segera meraih tangan kanan Raja Darian yang putih pucat dan dingin, lalu memeriksa denyut nadinya. Setelah itu memeriksa kedua tangan Yang Mulia sebatas siku, mengamati perubahan kulitnya. Tak lupa ditekan-tekan tidak terlalu keras.
"Seorang raja yang baik seperti Yang Mulia masih saja ada yang berniat jahat hendak membunuhnya," kata Dhafin setelah selesai memeriksa kedua tangan Yang Mulia. "Kadang hamba berpikir kenapa takdir begitu jahat kepada orang baik seperti Yang Mulia."
Yang Mulia hanya tersenyum mendengar ucapan tersirat Dhafin itu. Sedangkan Pendeta Noman yang mendengarnya segera mengomentari dengan bijak penuh kearifan.
"Takdir tidak pernah jahat kepada siapapun. Karena segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir sang Penguasa Langit. Sedangkan musibah yang terjadi pada seseorang merupakan takdir yang harus dia jalani...."
Dhafin mendengarkan ucapan bijak itu dengan baik. Dan akan mengingatnya selalu, karena itu merupakan ilmu pengetahuan baginya.
★☆★☆
Setelah meminta ijin kepada Yang Mulia, Dhafin menyingkap sedikit selimut yang menutupi kaki Raja Darian. Lalu melakukan pemeriksaan pada kedua kaki Yang Mulia seperti pada kedua tangan Yang Mulia.
"Mohon ijin, Yang Mulia," kata Dhafin setelah merapikan kembali selimut yang menutupi kaki Raja Darian. "Hamba hendak memeriksa wajah Yang Mulia."
"Silahkan!"
Tanpa berlama-lama Dhafin segera memeriksa wajah Raja Darian. Mengamati dengan teliti kelopak mata dan bibir Yang Mulia.
Sedangkan Raja Darian, menatap wajah Dhafin demikian dekat begitu dan cukup lama, membuat hatinya semakin merasa kalau dalam diri Dhafin seakan dia melihat dua orang yang amat dikaguminya.
__ADS_1
Wajah tampan Dhafin mengingatkannya kepada sahabat baiknya, Ghazam Aldari, Pangeran Pertama Kerajaan Bentala. Sedangkan sepasang mata kelam Dhafin mengingatkannya pada seseorang yang amat dihormatinya, Raja Neshfal Abraham, Penguasa Kerajaan Bentala. Sayang sekali kedua orang baik itu harus mati dengan tragis akibat pemberontakan pada beberapa tahun yang lalu.
Untuk menduga kalau Dhafin adalah putra pertama Ghazam Aldari, Raja Darian belum berani. Karena wajah bisa saja sama saking banyaknya manusia di dunia ini. Dan juga namanya berbeda.
Dia masih ingat nama putra pertama sahabatnya itu dan dia masih ingat pula tanda lahir di belakang punggung sebelah kirinya.
Setelah memeriksa kondisi Yang Mulia, Dhafin kembali duduk di kursinya, di sebelah Jenderal Felix.
"Bagaimana, Dhafin?" tanya Yang Mulia ingin segera tahu hasil pemerikasaan Dhafin.
"Penyakit Yang Mulia memang bukan demam biasa," sahut Dhafin mengungkapkan. "Melainkan diakibatkan oleh racun...."
"Hm..., racun apa?" Raja Darian tidak kaget lagi kalau dia memang terkena racun. Hanya racun apa Pendeta Noman tidak memberi tahu kepadanya.
"Mohon ijin, Yang Mulia," kata Dhafin penuh hormat. "Hamba hendak berbicara sebentar kepada Paman Pendeta."
"Silahkan!"
"Menurut dugaan Paman Pendeta," kata Dhafin yang sudah menyebut paman pada Pendeta Noman, "Yang Mulia terkena racun apa?"
"Terus terang saya tidak ahli dalam ilmu pengobatan, apalagi ilmu racun," ungkap Pendeta Noman mengaku. "Hanya saja seorang teman pernah memberitahukan sebuah racun kepada saya yang mana ciri-ciri korban yang terkena racun itu sama dengan yang dialami oleh Yang Mulia...."
"Racun apa itu, Pendeta Noman?" tanya Yang Mulia.
"Apakah racun yang diidap Yang Mulia adalah 'Racun Es Merah', Dhafin?" Pendeta Noman malah bertanya sambil menoleh pada Dhafin seakan mencocokkan dengan dugaannya.
Melihat Pendeta Noman bertanya kepada Dhafin, membuat Jenderal Myles tercekat sejenak. Seorang Pendeta Noman yang ilmunya demikian banyak, bertanya kepada anak kecil bukankah hal itu sesuatu yang luar biasa?
Jenderal Myles tahu pertanyaan Pendeta Noman itu untuk mencocokkan dugaannya mengenai pengetahuannya terhadap racun. Hal ini menandakan kalau ilmu pengetahuan Dhafin tentang ilmu racun tidak bisa dianggap remeh.
"Diawali dengan demam tinggi dan menggigil hebat, terus demam biasa selama setahun," ungkap Dhafin seolah menjelaskan ciri-ciri yang diberitahukan kepada Pendeta Noman mengenai orang yang terkena racun itu. "Seterusnya mengalami demam hebat yang aneh. Apa begitu teman paman memberitahukan kepada paman?"
"Ya, benar," sahut Pendeta Noman tanpa ragu.
"Tidak ada menyebutkan menggigil pada hari-hari berikutnya sesudah menggigil yang pertama kali?" tanya Dhafin lagi.
"Tidak ada," sahut Pendeta Noman setelah beberapa saat mengingat-ingat.
"Masih ada ciri-ciri yang disebutkan oleh teman paman, misalnya ciri-ciri yang terjadi pada tubuh korban?"
"Maaf, Dhafin, seingat saya dia tidak menyebutkan ciri-ciri yang lain selain yang saya sebutkan tadi," kata Pendeta Noman mengaku. "Kalaulah ada, kuat dugaan saya ciri-ciri yang dia sebutkan itu adalah ciri-ciri yang mendasar yang bisa terlihat secara langsung."
"Kalau begitu, melulu korban mengalami ciri-ciri seperti itu bukan akibat dari 'Racun Es Merah', Paman," kata Dhafin mengungkapkan.
Bukan saja Pendeta Noman yang terkejut mendengar ucapan Dhafin yang tanpa keraguan itu. Raja Darian dan Jenderal Myles juga ikut terkejut. Itu artinya ada racun lain yang mirip dengan 'Racun Es Merah' duga mereka. Dan Jenderal Felix tahu racun apa yang dimaksud, karena Dhafin pernah memberitahukan.
__ADS_1
★☆★☆★