Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 114 DUGAAN PUTRI RAYNA CATHRINE


__ADS_3

Dhafin sudah membereskan urusannya di Istana Centauri; sudah menyembuhkan Putri Faniza, sudah berhasil membentuk Panah Cakra Langit di dalam energi sakti Yang Mulia Ratu alias Putri Aurellia. Sekaligus pula menyempurnakan energi sakti 4 Pengawal Cantik.


Juga berhasil membuka segel yang mengunci ilmu beladiri dan kesaktian Putri Raisha.


Maka setelah itu Dhafin beserta Brian, Keenan dan Gibson meninggalkan Istana Centauri. Tentu Yang Mulia Ratu yang berpenampilan Putri Aurellia jelas ikut pula.


Kalau Yang Mulia Ratu keluar sarang tentu 4 Pengawal Pribadi-nya jelas ikut serta. Kalau ratunya keluar sarang jelas pasukan elitnya ikut keluar pula.


Termasuk di antaranya 50 Pengawal Khusus-nya. Agar Dhafin tidak curiga 50 Pengawal Khusus itu berpakaian ala kependekaran. Itupun Dhafin masih merasa heran juga kok Putri Aurellia diikuti oleh pasukan elit Istana Centauri.


Namun Yang Mulia Ratu masih bisa berkelit kalau semua pasukan itu yang nantinya akan membantu lancarnya misi penyelamatan Yang Mulia Raja Darian.


Mendengar alasan itu Dhafin malah senang. Karena misi kali ini amat berbahaya. Dia membutuhkan bantuan pasukan yang benar-benar handal dalam berperang.


Di samping itu juga nanti dia akan meminta bantuan pasukan elitnya Pangeran Revan.


Sementara itu, Putri Kayshila tidak ikut serta. Karena dia harus menggantikan kedudukan sementara selama Yang Mulia Ratu meninggalkan singgasana.


Lagipula dia harus memberi kesempatan kepada Yang Mulia Ratu untuk lebih dekat dengan Dhafin. Tanpa ada dia di antara mereka.


Sebelum Dhafin dan yang lainnya menyusun rencana penyelamatan, dia pergi dulu ke Markas Centaurus untuk membuka segel yang mengunci ilmu beladiri dan kesaktian Pangeran Nevan dan 3 orang lainnya.


Tentu ke sananya dia diantar oleh Pangeran Revan dan Brian. Dan yang ikut bersamanya cuma Putri Aurellia. Sepertinya gadis itu tidak mau lagi melepaskan Dhafin. Ke mana Dhafin pergi harus dia ikut.


Kalau ke Markas Centaurus tentulah Dhafin bertemu dengan Komandan 1 Pasukan Jubah Merah, Pangeran Nelson. Dan Pangeran Nelson sama juga dengan ketiga pendiri Istana Centauri.


Begitu Pangeran Nelson melihat Dhafin, dia langsung menduga kalau Dhafin adalah Pangeran Agung, Pangeran Ghavin Aldebaran. Karena kemiripan wajahnya dengan Pangeran Ghazam Aldari.


Namun sama juga seperti menghadapi Selir Heliana dan kedua putrinya, Dhafin masih dapat berkelit dari serangan Pangeran Nelson. Meski Pangeran Revan ikut menyerang juga, tapi tetap jati diri Dhafin masih dapat tersegel.


Rampung sudah urusan Dhafin di Markas Centaurus. Dia dan Yang Mulia Ratu kembali ke Kampung Naraya bersama Pangeran Revan dan Brian. Ikut bersama mereka 100 pasukan elit dan belasan pendekar Markas Centaurus.


Para Pasukan Jubah Merah itu nantinya akan membantu dalam penyelamatan Yang Mulia Raja Darian.


Setelah rencana misi penyelamatan selesai di rancang dan pasukan yang akan ikut sudah dipilih, akhirnya Dhafin beserta rombongan meninggalkan Kampung Naraya menuju ke Kerajaan Amerta.


Termasuk yang ikut dalam rombongan itu adalah Brian, Aziel, Keenan, Kelvin, dan Gibson. Juga ada tambahan beberapa jawara dari Kampung Naraya.


Sedangkan dari pasukan Istana Centauri ada tambahan, yaitu Jenderal Abiela beserta 50 pasukannya dan Fariza Luna.


Kebetulan dia baru saja pulang dari melakukan investigasi di sebuah wilayah Kerajaan Bentala. Dan datang ke Kampung Naraya untuk melapor kepada Pangeran Revan. Karena dia memang termasuk dari Pasukan Penyelidik Rahasia.


★☆★☆


Kerajaan Amerta....


Raja Adrian menyesalkan tindakan Putri Rayna Cathrine yang cuma memenjarakan para tahanan perang. Maunya dia semua tahanan perang, selain ibunya dan adiknya, dibunuh saja, tak perlu dipenjarakan.

__ADS_1


Malah Putri Rana memenjarakan saja mereka. Dengan dalih ingin membunuh mereka perlahan-lahan di dalam penjara. Tentunya dengan menggunakan racun yang membunuh korbannya perlahan-lahan.


Seperti racun yang terkena pada Putri Faniza. Beruntungnya Putri Faniza berhasil disembuhkan oleh Dhafin.


Kini sebagian besar tahanan itu berhasil diselamatkan. Yang membuat Raja Adrian geramnya minta ampun. Tapi dia cuma bisa memendam kemarahannya terhadap Putri Rayna karena dia tidak berani menentang apa yang sudah diputuskan nenek sihir itu.


Sementara itu, penjagaan di penjara bawah tanah makin diperketat. Pasukan yang menjaga di situ semuanya pasukan elit; sekitar 500 Pasukan Khusus dan 1000 Prajurit Militer tingkat 3.


Ditambah lagi bangunannya dipasang tirai ghaib yang menyelubungi seluruh permukaan bangunan penjara. Sehingga walaupun bangunannya terlihat, tapi tidak bisa memasukinya karena terhalang pelindung ghaib.


Ditambah lagi Putri Rayna selalu memantau keadaan penjara bawah tanah itu dari kejauhan. Baik keadaan di dalam penjara, tepatnya keadaan bilik Yang Mulia Raja Darian. Maupun keadaan di luar penjara.


Sebagai seorang penyihir yang hebat tentu hal itu amat mudah bagi Putri Rayna Cathrine melakukannya.


Dengan kekuatan sihirnya hampir saja dia berhasil menyegel Dhafin dalam kerangkeng sihirnya. Sedangkan Dhafin harus mengerahkan seluruh kekuatannya agar bisa menghancurkan kerangkeng sihir itu.


Di suatu pagi yang cerah, di kediaman Putri Rayna Cathrine, Istana Teratai Emas, tampak Raja Adrian tengah berbincang-bintang dengan wanita yang masih tampak muda itu di ruangan pribadinya yang cukup luas.


"Bibi, apa kamu yakin Dhafin bakalan datang ke penjara dalam waktu dekat ini?" tanya Raja Adrian ingin tahu.


"Itu pasti, Ananda Adrian," kata Putri Rayna Cathrine alias Bunda Suri Rayna seraya tersenyum penuh arti. "Dia tidak bakalan berhenti sebelum berhasil menyelamatkan junjungannya."


"Dan pasti akan membawa kawannya yang lebih banyak lagi," sambungnya.


"Apa menurutmu keparat itu telah merekrut sebuah pasukan yang besar?" tanya Raja Adrian ingin mengetahui firasat wanita cabul itu.


Ya, Putri Rayna memang pantas dikatakan wanita cabul. Umur sudah tergolong tua begitu masih juga doyan bermesraan. Dan pasangannya selalu perjaka tampan yang perkasa.


Raja Adrian harus menelan salivanya untuk membasahi tenggorokannya yang seketika kering mana kala tiap kali bertatapan dengan wanita cantik itu.


Senyum wanita itu memang benar-benar menawan yang dipadu oleh wajah cantik yang sempurna. Wanita cabul itu belum menggunakan sihir pemikatnya saja, sudah memikat pemuda tampan yang memandangnya.


Kalau bukan wanita itu adalah bibinya, Raja Adrian yang sudah mempunyai pikiran rusak dan kotor itu ingin merasakan permainan cintanya di atas ranjang.


★☆★☆


Sejenak Raja Adrian menetralkan dulu gejolak nafsu kotornya baru bisa menjawab pertanyaan bibinya.


"Mengingat banyaknya anak-anak yang hilang pada 8 tahun yang lalu, bersamaan dengan menghilangnya Dhafin dan timnya, aku menduga dia dan timnya merekrut anak-anak itu dan membentuk satu kelompok untuk tujuan tertentu."


"Sebagai bukti adalah kemunculan Gibson bersamanya," sambungnya.


"Dugaanmu itu bisa saja benar," kata Putri Rayna seolah sepemikiran. "Tapi tidak menutup kemungkinan dugaan lain terjadi."


"Maksudmu?" Raja Adrian sudah serius. Pikiran kotornya seolah hilang.


"Anak-anak itu diculik oleh orang tertentu," kata Putri Rayna menerangkan, "terus dijadikan sebuah pasukan untuk suatu tujuan besar. Sedangkan Dhafin dan Gibson termasuk bagian dari pasukan itu."

__ADS_1


Raja Adrian terdiam merenung ucapan Putri Rayna yang masuk akal sekali itu. Bisa jadi anak-anak itu diculik oleh orang hebat. Terbukti hingga sekarang penculik anak-anak 8 tahun yang lalu itu belum terungkap.


Tentunya sekarang anak-anak itu sudah menjadi sebuah pasukan yang cukup besar yang mungkin akan menggulingkan sebuah kerajaan.


Kalau dugaannya itu benar, bisa jadi pasukan itu akan menggulingkan kekuasaannya.


Ini tidak boleh terjadi. Dia harus mengantisipasi lebih awal untuk menangkal kalau hal itu terjadi.


"Apa menurutmu pasukan itu akan menggulingkan kekuasaan kita, Bibi?" tanya Raja Adrian ingin tahu isi kepala wanita cantik itu.


"Itu sudah ada dalam pikiranku, Ananda Adrian," sahut Putri Rayna dengan gaya lemah lembut dan elegannya. "Tapi kamu tenang saja, mereka tidak ada artinya dengan kekuatan kita yang dibantu oleh Pasukan Pedang Tengkorak dan Raja Bastian."


Raja Adrian tersenyum angkuh mendengar ucapan Putri Rayna yang menyenangkan hatinya itu. Dengan bantuan kedua kekuatan itu kedudukannya tidak bakalan terusik.


Sehebat-hebatnya Dhafin dan orang-orang yang mengikutinya, kalau melawan 3 gabungan kekuatan pastinya tidak bakalan mampu.


"Bibi, apa kamu bisa menduga-duga siapa penculik anak-anak 8 tahun yang lalu?" tanya Raja Adrian yang mulai tertarik memikirkan hal itu.


Selama ini dia tidak pernah menyinggung-nyinggung soal itu dan tidak pernah menanyakan kepada bibinya itu. Karena dia tidak pernah menghiraukannya.


Selama 3 tahun ini dia benar-benar menikmati kenikmatan sebagai raja. Mengumbar keangkuhan dan kekejamannya ke seantero Kerajaan Amerta.


Membasmi para pembangkang dan memburu para perawan suci yang menggiurkan, terus menggagahi mereka tanpa belas kasihan.


Namun ketika Dhafin dan Gibson muncul di kotaraja, bahkan berhasil meloloskan tahanan, pikirannya mulai terganggu untuk menghiraukan masalah ini.


"Aku menduga aksi penculikan itu didalangi oleh Bibi Selir Heliana dan orang-orangnya," sahut Putri Rayna kuat menduga.


"Selir Heliana?!" Raja Adrian merasa asing dengan nama itu karena belum pernah mendengar. "Siapa dia, Bibi?"


"Adik tiri Ayahanda Raja Zalman Gavriel, kakekmu...."


Lalu Putri Rayna menceritakan siapa itu Selir Heliana dan 3 orang keturunan Raja Neshfal Abraham yang bersamanya secara singkat. Sedangkan Raja Adrian sepertinya tidak tertarik akan cerita itu, terus bertanya.


"Apakah kamu tahu di mana markas mereka?"


"Saat ini aku belum bisa melacak di mana Bibi Heliana bersembunyi," kata Putri Rayna mengaku. "Tapi itu urusan nanti. Sekarang yang kita pikirkan bagaimana menyambut kedatangan Dhafin dan kawan-kawannya."


"Sesuai yang kamu perintahkan penjagaan di luar penjara dilipat gandakan," kata Raja Adrian melaporkan. "Aku juga sudah menyebar pasukan mata-mata ke seluruh pelosok kerajaan ini."


"Tinggal menunggu instruksi selanjutnya darimu, Bibi," lanjut Raja Adrian.


Setelah itu mereka membicarakan mengenai strategi dan siasat agar rencana Dhafin dan teman-temannya dalam menyelamatkan Raja Darian gagal. Sekaligus rencana Putri Rayna untuk menangkap Dhafin. Meski Raja Adrian menginginkan kematian Dhafin.


Bukan tanpa alasan Putri Rayna ingin menangkap Dhafin. Wanita itu rupanya sudah tertarik pada pandangan pertama terhadap Dhafin.


Sekali lihat dia sudah tahu kalau Dhafin memiliki kehebatan yang tinggi, meski belum tahu sampai di mana.

__ADS_1


Pikiran kotornya sudah membayangkan bagaimana dia bercumbu dengan Dhafin di atas ranjang. Tentu dia akan merasakan sensasi kenikmatan yang tiada tara.


★☆★☆★


__ADS_2