
Sementara Dhafin dan Keenan melakukan penyegelan secara ghaib yang dibantu oleh Pendeta Noman, Aziel dan Kelvin langsung melenting naik ke atas panggung arena 1.
Terus mengambil posisi tertentu selain jalur lintasan 5 anak panah tadi. Tapi tetap di dekat Yang Mulia dan membelakangi.
Sedangkan Brian, setelah mengingatkan Putri Raisha agar jangan ikut naik, lalu menyusul naik dan segera berposisi seperti 2 kawannya tapi di lain tempat.
Hampir bersamaan waktunya, Putri Aurellia dan 4 temannya juga langsung melenting naik ke atas panggung. Sementara busur dan anak panah sudah tergenggam di tangan mereka.
Sedangkan Putri Raisha, melihat 4 gadis itu naik ke atas panggung tanpa ada yang menghalangi jadi bengong tak mengerti. Apalagi dia melihat mereka membawa busur dan anak panah.
"Mau apa mereka naik ke atas panggung dengan membawa busur dan panah?" pikirnya dalam hati.
Begitu sudah berada di panggung, keempat gadis itu langsung mengambil posisi di 5 jalur lintasan anak panah. Putri Aurellia berposisi di belakang Pendeta Noman, Ariesha di belakang Dhafin, Namira dan Grania di samping kiri kanan Yang Mulia. Naifa di belakang Keenan.
Sementara itu Yang Mulia sempat melihat Putri Aurellia melintas tak jauh di samping kanannya. Namun dia hanya memandangnya sebentar saja, karena Putri Aurellia cepat berlalu.
Lalu dengan cekatan kelima gadis itu memasang anak panah di busur. Terus menarik senar busur dengan kencang sambil mengarahkan busur ke target masing-masing.
Karena mereka sudah cukup menguasai tenaga sakti, tak lupa masing-masing anak panah mereka dialiri tenaga sakti mereka. Setelah merasa cukup mengeker target, anak panah dilepas.
Maka meluncurlah dengan amat cepat 5 anak panah yang terbungkus 5 sinar yang berbeda ke target masing-masing.
Sementara semua peserta yang masih ada di area turnamen dan sebagian prajurit menyaksikan semua kejadian yang menakjubkan itu.
Selagi orang-orang masih terkesima dengan aksi kelima gadis itu, Dhafin meminta ayahnya yang berada di bawah panggung untuk menyuruh prajurit menuju ke 5 tempat yang menjadi target sasaran anak panah.
Jenderal Felix mengenal 5 tempat yang disebutkan Dhafin. Tanpa banyak pertimbangan dia langsung menyuruh beberapa pasukan khusus untuk menuju kelima tempat yang disebutkan Dhafin.
Sementara itu, 5 anak panah yang terbungkus cahaya terus meluncur dengan cepat menuju target sasaran masing-masing. Dan tak lama kemudian....
Crap! Crap! Crap! Crap! Crap!
Dengan kuat 5 anak panah menancap di tubuh 5 orang bertopeng di tempat yang berbeda-beda. Dua anak panah menancap di dada 2 orang bertopeng yang berada di dalam menara.
Satu anak panah menancap di rusuk orang yang berada di atas bangunan tinggi. Dan 2 anak panah menancap di lambung 2 orang yang juga berada di atas bangunan.
Begitu kuat dan kerasnya anak panah itu menancap di tubuh mereka, hingga ujung panah tembus ke belakang. Dan mereka langsung terjajar jatuh ke belakang.
Rupanya sinar yang membungkus masing-masing anak panah membawa daya kejut bagi kelima orang berbusana serba hitam itu. Sehingga sekujur tubuh mereka langsung bergetar hebat. Setelah beberapa saat kemudian mereka terdiam kaku, entak mati entah pingsang.
★☆★☆
Sementara 5 gadis kecil, setelah melakukan pemanahan, mereka mengambil lagi 1 anak panah di tempat panah yang tersampir di punggung mereka dan memasang ke busur. Terus mengarahkan panah mereka ke 2 target nun jauh di sana.
Semua perbuatan mereka itu dilakukan dengan cepat dan cekatan. Seakan-akan mereka itu orang-orang yang sudah terampil dalam memanah.
Hampir bersamaan Dhafin segera menarik kedua telapak tangannya dari tabir pelindung Yang Mulia. Diikuti oleh Keenan, setelah itu Pendeta Noman.
Maka tak lama sinar yang tadi membungkus tabir pelindung seketika lenyap. Lalu beberapa helaan napas kemudian 5 anak panah lantas jatuh ke lantai.
Tapi tabir pelindung yang masih mengelilingi Yang Mulia belum hilang. Karena Dhafin belum mencabutnya.
Setelah itu Dhafin maupun Keenan langsung memusatkan kewaspadaan mereka pada 2 arah nun jauh di sana. Sama halnya dengan kedelapan anak itu. Sedangkan Pendeta Noman tetap waspada di tempatnya.
"Apa sudah aman, Dhafin?" tanya Yang Mulia sambil menoleh pada Dhafin yang tidak lagi membelakanginya. "Tidak ada lagi pemanah gelap?"
Dhafin menggeser posisinya lebih dekat dengan Yang Mulia, tapi matanya tetap waspada menatap ke satu arah. Setelah dekat dia menyahuti Yang Mulia.
"Hamba belum bisa memastikan, Yang Mulia. Tapi mudah-mudahan saja sudah tidak ada lagi."
__ADS_1
Kemudian Yang Mulia membalikkan badan, terus menatap searah yang ditatap Dhafin. Tapi dia belum mengerti apa yang ditatap Dhafin di tempat ketinggian nun jauh di sana.
"Apa 5 pemanah gelap itu sudah berhasil diatasi?" tanya Yang Mulia lagi. Dia tadi sempat melihat 4 gadis kecil selain Putri Aurellia melakukan pemanahan.
"Mudah-mudahan saja panah Tuan Putri dan 4 gadis lainnya berhasil membidik tepat sasaran, Yang Mulia," kata Dhafin tidak mau memastikan.
Yang Mulia terdiam sejenak. Begitu Dhafin menyebut Tuan Putri dia langsung menatap Putri Aurellia yang berdiri membelakanginya di samping kanan Pendeta Noman.
Dia sebenarnya ingin berbicara atau sekedar menyapa putrinya yang sudah 5 tahun dia sia-siakan karena kebodohannya yang salah menuduh anaknya.
Tapi dalam situasi begini kurang tepat kalau berbicara dengan putrinya itu. Mungkin dia akan menyapanya saja.
Beberapa saat kemudian, Dhafin berkata kepada Pendeta Noman.
"Paman Pendeta! Yang Mulia sepertinya sudah bisa dibawa ke istana!"
Tanpa banyak pikir Pendeta Noman memanggil Jenderal Myles dan menyuruhnya mengerahkan pasukan elit atau Pengawal Khusus Raja mengawal Yang Mulia.
Jenderal Myles tidak menunda perintah. Dia langsung memerintahkan sekitar 20 Pengawal Khusus untuk melindungi Yang Mulia. Setelah itu dia naik ke panggung.
"Paman Myles! Pagari Yang Mulia serapat mungkin," kata Dhafin pada Jenderal Myles yang kebetulan berada di dekatnya. "Aku akan membuka tabir pelindung Yang Mulia."
Jenderal Myles segera mengatur pasukan elit itu agar lebih rapat lagi melindungi Yang Mulia. Setelah itu Dhafin membuka tabir pelindung. Dan tak lama kemudian Yang Mulia siap dikawal ke istana.
"Kamu harus menjelaskan semua peristiwa ini, Dhafin," kata Yang Mulia sebelum beranjak pergi. "Aku menduga kamu mengetahui kalau peristiwa ini bakal terjadi."
"Hamba, Yang Mulia," kata Dhafin penuh takzim.
"Kapan kamu bersedia datang ke Istana Kristal Ungu?"
"Ampun, Yang Mulia. Hamba sudah berjanji akan mengobati teman Nona Fariza sore nanti."
"Hamba, Yang Mulia."
Setelah memandang Putri Aurellia sebentar yang masih bersikap dingin seolah tidak menggubris, Yang Mulia beranjak tinggalkan area turnamen dengan dikawal Pengawal Khusus Raja. Jenderal Myles ikut serta.
Sedangkan Pendeta Noman, setelah berpesan kepada Putri Aurellia agar selalu menjaga diri dan mendoakan kebaikan dan keberkahan, lalu dia menyusul.
★☆★☆
Pernah Dhafin berfirasat bahwa pemanah gelap yang gagal tempo hari akan mengulangi aksinya. Dan target berikutnya adalah Yang Mulia.
(untuk mengetahui tentang kejelasan firasat Dhafin ini silahkan lihat: BAB 39 FIRASAT DHAFIN!)
Dan ternyata firasat Dhafin itu terbukti. Lima orang pemanah gelap mencoba melakukan pembunuhan terhadap Yang Mulia.
Dan diduga kuat 2 orang di antaranya adalah pemanah gelap yang tempo hari beraksi di gerbang selatan kotaraja.
Semua tentang analisa firasat ini Dhafin jelaskan di depan Yang Mulia dan keempat pejabat tinggi ketika kembali mengadakan pertemuan di Istana Kristal Ungu.
Waktu itu bukan cuma 4 pejabat andalan Yang Mulia yang hadir di situ. Selain Dhafin dan Brian yang memang diundang, juga hadir Putri Raisha Arabelle.
Putri Raisha amat penasaran dengan peristiwa kemarin. Dia ingin dengar langsung penjelasan Dhafin atau Brian tentang peristiwa kemarin. Kenapa bisa hal itu terjadi. Tentu Dhafin dan Brian mengetahui.
Adapun mengenai operasi penyelamatan Yang Mulia sekaligus pembekukan 5 pemanah gelap, hal itu merupakan strategi dan rancangan Dhafin dan Brian yang dibantu oleh 3 teman lainnya.
Dhafin juga menjelaskan bahwa sejak awal turnamen dia mempelajari situasi di sekitar lokasi turnamen dan terus mengamati tempat-tempat ketinggian yang cocok untuk dijadikan tempat membidik ke arah lokasi turnamen.
Dari hasil pengamatan itu, akhirnya mereka merancang suatu strategi brilian yang berhasil dengan cukup sempurna yang telah disaksikan banyak orang, termasuk Putri Raisha.
__ADS_1
Dalam hati Putri Raisha mengagumi kejeniusan Dhafin dan Brian. Meski umur mereka masih amat muda, tapi mereka bisa merancang suatu strategi yang orang dewasa saja belum tentu semua bisa.
Terus terang dia yang masih berumur muda begini belum bisa memikirkan mengenai apa yang mereka rencanakan itu.
Adapun mengenai nasib Pangeran Adrian, akibat terkena pukulan jarak jauh Dhafin yang bernama 'Telapak Beku', semua ilmu beladiri dan kesaktiannya telah musnah. Dia kembali dari nol lagi.
Semestinya dia menderita lumpuh selama 3 bulan. Namun Dhafin telah memberikan obat pil yang bisa menyingkat kelumpuhannya menjadi sebulan.
Sedangkan mengenai salah satu personil Tim Fariza Luna yang kaki kanannya patah telah berhasil disembuhkan oleh Dhafin yang dibantu oleh Putri Aurellia.
Rupanya Putri Aurellia memiliki energi penyembuh dari 3 energi sakti yang dimiliki. Dan dengan energi penyembuh itu pula, tulang kering gadis bercadar itu bisa disembuhkan dengan singkat dan tersambung seperti semula.
Sementara para prajurit keamanan dan para prajurit militer melakukan pengamanan selama 3 hari. Dan terus memperketat penjagaan di 4 pintu gerbang kotaraja.
Adapun mengenai identitas 5 pemanah gelap dan para pengacau, dugaan kuat sementara bahwa mereka adalah anggota Gerombolan Pedang Tengkorak.
Namun para pejabat militer tidak berhasil mengorek keterangan dari pemberontak itu karena mereka semua telah mati. Lima pemanah gelap mati di tempat. Sedangkan 7 pengacau yang berhasil ditangkap telah mati bunuh diri.
Hilang sudah jejak untuk sementara.
Setelah dirasa situasi dan kondisi keamanan kotaraja telah kondusif, Turnamen Beladiri Anak Bangsawan pada hari ke 12 atau hari ke 4 setelah peristiwa rencana pembunuhan Yang Mulia yang gagal dimulai lagi.
Namun kali ini prajurit keamanan dan prajurit militer yang menjaga area turnamen ditambah 2x lipat dan diperketat. Dan semua tempat ketinggian yang berada di sekitar lokasi turnamen dijaga oleh pasukan elit.
★☆★☆
Pada babak 8 besar masih menyisakan 1 putaran pertarungan lagi, yaitu putaran ke 10. Adapun yang bertarung yaitu Dylan Ruben dari Tim Dylan Ruben dengan Gibson Kyler dari Tim Pangeran Nevan di arena 1.
Sedangkan di arena 2 yang bertarung yaitu Putri Raisha dari Tim Putri Raisha dengan Ervin Devian dari Tim Ervin Devian.
Pertarungan mereka ini merupakan pertarungan yang menentukan lolos tidaknya tim mereka ke babak semifinal. Karena poin dari masing-masing 4 tim itu hingga saat ini berimbang.
Tampak di arena 1 pertarungan antara Dylan Ruben, anak Jenderal Myles melawan Gibson Kyler berlangsung cukup seru dan sengit. Kedua anak itu memainkan jurus dengan begitu lincah dan lihai. Gerakannya begitu cepat tepat.
Sementara itu juga, pertarungan di arena 2 antara Putri Raisha dan Ervin Devian, anak bangsawan dari kota lain juga berlangsung tidak kalah seru dan sengitnya.
Tanpa terasa pertarungan sudah menghabiskan waktu sepenanakan nasi (30 menit). Dan Dylan Ruben harus mengakui kalau Gibson Kyler lebih hebat darinya.
Dylan Ruben boleh berbangga kalau dia termasuk 10 besar anak bangsawan terhebat kotaraja. Namun siapa sangka Gibson Kyler, seorang anak orang biasa bisa mengimbangi kehebatannya, bahkan sudah mulai membuat Dylan Ruben kerepotan.
Lama kelamaan Dylan Ruben terdesak, bahkan sudah terdesak hebat. Sampai sebuah tendangan memutar kaki kanan Gibson menjebol dadanya hingga terlempar jatuh.
Namun tak lama, Dylan cepat bangkit meski sedikit sempoyongan. Dan baru saja dia bergerak maju, Gibson sudah melesat ke depannya dan langsung melancarkan pukulan dan tendangan beruntun.
Mulanya Dylan masih dapat menangkis. Namun karena dia sudah kepayahan. Akhirnya pukulan dan tendangan Gibson yang datangnya bertubi-tubi tak bisa lagi dia tangkis.
Hingga akhirnya dua tinju Gibson melesat bersamaan dan menghantam telak dada dan ulu hatinya. Dan kembali dia terlempar jatuh. Namun kali ini sudah tak berdaya lagi.
Hampir bersamaan, pertarungan antara Putri Raisha yang juga sudah mulai kewalahan melawan Ervin Devian hampir berakhir.
Rupanya Ervin Devian tidak memberi ampun pada lawan meski seorang perempuan, meski seorang putri raja.
Serangan demi serangan terus dilancarkan hingga Putri Raisha tidak bisa lagi menangkisnya. Maka beberapa pukulan dan tendangan langsung bersarang ke tubuh rampingnya.
Sampai akhirnya dia terlempar jatuh akibat terkena tendangan memutar kaki kanan Ervin Devian. Karena dia sudah kepayahan maka tidak sanggup lagi meneruskan pertarungan.
Maka gagallah dia, anak yang satu-satunya yang masuk dalam 10 besar anak bangsawan terhebat, masuk ke babak semifinal. Hatinya jelas kesal karena gagal. Namun tidak brutal seperti kakaknya, Pangeran Adrian.
Pertandingan berlanjut ke babak semifinal hari itu juga. Adapun yang berhasil lolos yaitu Tim Fariza Luna, Tim Pangeran Nevan, Tim Brian Darel, dan Tim Ervin Devian.
__ADS_1
★☆★☆★