
Dhafin telah selesai mencabut segel yang tertanan di dalam tubuh Putri Faniza. Segel yang terpasang di dalam rongga dada Putri Faniza mencegah Racun Candu Kala keluar dari tubuhnya.
Sementara itu, Putri Faniza masih tetap terdiam bagai orang tertidur pulas.
Ini kali pertama Dhafin mengobati pasien di mana dia harus membuka dahulu segel yang mengunci suatu penyakit atau racun yang ada di dalam tubuh seorang pasien.
Kemudian Dhafin kembali menoleh pada Permaisuri Chalinda, terus berkata.
"Bibi Permaisuri, sebelum saya menyembuhkan Tuan Putri, bolehkah saya berbicara sebentar kepada Bibi?"
"Silahkan, Dhafin!" kata Permaisuri Chalinda. "Kamu mau bicara apa?"
"Seperti yang saya sudah katakan tadi kalau Tuan Putri Faniza terkena Racun Candu Kala," kata Dhafin mulai menuturkan. "Nanti saya akan jelaskan apa itu Racun Candu Kala."
"Yang ingin saya titik beratkan dahulu disini bahwa," lanjut Dhafin, "dalam proses penyembuhan Tuan Putri saya akan melakukan salah satu dari 2 metode penyembuhan. Saya menyerahkan pilihannya kepada Bibi."
"Apa 2 metode itu, Dhafin?" tanya Permaisuri Chalinda penasaran.
"Saya akan menjelaskan saja efek dari kedua metode itu, Bibi Permaisuri," sahut Dhafin tidak ingin berpanjang lebar. "Tapi intinya kedua metode itu akan menyembuhkan Tuan Putri dari Racun Candu Kala."
"Efek metode pertama akan menghilangkan ingatan Tuan Putri terhadap orang yang pernah dicintainya," kata Dhafin agak sedikit lain nada suaranya.
"Sedangkan efek metode kedua akan menghapus sementara ingatan Tuan Putri terhadap semua orang yang pernah dikenalnya dan cuma bersisa 1 orang yang diingat, yaitu yang dicintainya."
Selir Heliana, Dua Bunda Istana serta 2 Tetua Istana Centauri tidak memberikan ekspresi terkejut terhadap penjelasan Dhafin itu.
Akan tetapi wajah mereka tampak serius ingin mengetahui keputusan Permaisuri Chalinda tentang apa yang akan dia pilih dan kesudahan dari kejadian ini.
Sementara Nyonya Carissa jelas terkejut dengan kedua metode yang dijelaskan Dhafin itu. Dia tidak menyangka akan serumit ini menyembuhkan racun yang diidap Putri Faniza.
Sedangkan Permaisuri Chalinda juga terkejut dengan kedua metode aneh itu. Dia juga tidak menyangka akan serumit ini untuk menyembuhkan putrinya. Tapi dia harus memilih salah satu di antara metode itu.
Sementara 4 pengawal cantik dan Putri Kayshila juga terkejut dengan kedua metode aneh itu, sekaligus merasa miris dengan apa yang akan dipilih oleh sang permaisuri. Tampak mereka menatap Yang Mulia Ratu dengan pilu.
Sedangkan Ariesha dan Jovita yang duduk di samping Yang Mulia Ratu menggenggam erat telapak tangannya.
Sementara Yang Mulia Ratu terkejut bukan main dengan kedua metode itu. Di benaknya bukan memikirkan proses penyembuhan, melainkan memikirkan pilihan wanita yang juga bundanya itu. Dia menatap tak berkedip Permaisuri Chalinda dengan hati miris.
Pilihan Permaisuri Chalinda akan menentukan nasib cintanya terhadap Dhafin.
"Kalau kamu melakukan metode kedua, berapa lama ingatan Putri Faniza baru kembali?" Nyonya Carissa yang bertanya. Jelas ingin tahu.
"Kalau Tuan Putri rajin minum obat yang nanti akan aku berikan, kira-kira 3 bulan ingatannya sudah kembali, Bunda," sahut Dhafin menjelaskan.
"Tapi 1 bulan pertama aku harus lebih sering menemani Tuan Putri," tambahnya, "untuk memberikan terapi kejiwaan padanya."
Mendengar penjelasan itu hati Yang Mulia Ratu semakin teraduk-aduk. Kalau Permaisuri Chalinda memilih metode kedua tentu Putri Faniza lebih sering bersama Dhafin.
Jelas sedikit banyak akan menimbulkan rasa suka di hati Dhafin. Sedangkan Putri Faniza akan semakin cinta kepada Dhafin.
★☆★☆
"Kalau kamu akan memilih metode yang mana, Dhafin?" tanya Permaisuri Chalinda seperti menguji.
"Maaf, Bibi, saya tidak akan memilih," kata Dhafin yang makin membuat Yang Mulia Ratu merasa tersiksa. "Saya sudah menyerahkan keputusan pilihannya kepada Bibi."
"Kenapa kamu bicara begitu, Kanda?" kata Kayshila jelas mengkritik ucapan Dhafin. "Apakah kamu tidak bisa memberikan pilihan yang terbaik yang jelas kamu yang tahu?"
"Apakah kamu sudah lupa kalau aku juga seorang tabib, Kayshila?" tanya Dhafin seolah mengingatkan Kayshila.
"Aku tidak akan pernah lupa kalau kamu seorang tabib," kata Kayshila masih protes. "Tapi setidaknya 'kan kamu bisa memberikan pilihan yang terbaik."
"Seorang tabib cuma bisa memberikan kesembuhan bagi pasien sesuai harapan," Dhafin masih mencoba memberi pengertian. "Adapun pada kasus ini pilihan metode proses penyembuhannya harus pasien atau keluarga pasien yang menentukan, Kayshila."
__ADS_1
Kayshila tidak membantah lagi, atau lebih tepatnya kalah debat. Tapi wajahnya tampak sedikit memberengut. Melihat hal itu Dhafin tersenyum kecil.
Selir Heliana cukup menikmati percakapan kecil antara Dhafin dan Kayshila itu. Benaknya jelas bercuriga akan ucapan Kayshila yang seakan menyarankan Dhafin memilih merode pertama.
Tapi dia belum bisa menebak apakah makna ucapan Kayshila itu menandakan dia cemburu atau tidak.
Sementara Yang Mulia Ratu juga memikirkan ucapan protes Kayshila barusan. Dia menduga ucapan Kayshila itu mengandung kecemburuan.
Sedangkan Permaisuri Chalinda belum juga memberikan pilihan. Kembali sepasang matanya menatap sedih pada putrinya.
Dia tidak pernah tahu tentang siapa yang putrinya cintai. Tapi kenapa harus sebuah racun yang mengungkapkan tentang siapa yang dia cintai?
Ternyata orang yang dicintainya adalah orang yang tepat, sesuai keinginannya. Jelas dia merasa senang dan bahagia tentunya. Sedangkan dia amat kenal kalau Dhafin adalah pemuda yang baik.
Sementara semua orang masih menunggu keputusan yang dipilih Permaisuri Chalinda. Sedangkan Permaisuri Chalinda sendiri seperti merasa bingung sekaligus gunda.
Namun setelah ditunggu sekian lama, akhirnya dia bebicara juga.
"Lakukan metode yang pertama saja, Dhafin."
Bukan saja kebisuan yang hancur berantakan akibat ucapan itu. Selir Heliana, 2 Bunda Istana serta 2 Tetua Istana, bahkan Nyonya Carissa juga terkejut mendengar ucapan itu.
Kenapa Permaisuri Chalinda tega mengorbankan putrinya dan cinta putrinya?
Sementara Kayshila dan 4 pengawal cantik tampak senang mendengar pilihan itu. Namun Yang Mulia Ratu tidak bisa merasakan bahagia secara sempurna saat mendengar keputusan bundanya.
"Apakah kamu sudah memikirkan baik-baik tentang pilihanmu itu, Chalinda?" tanya Selir Heliana.
"Iya, Bibi," sahut Permaisuri Chalinda mantap. "Dan bagiku itu adalah pilihan yang terbaik."
"Ingatlah, kamu akan mengorbankan cinta putrimu," kata Selir Heliana seolah menasehati.
"Sebenarnya aku baru tahu kalau Faniza mencintai Dhafin," kata Permaisuri Chalinda mengungkapkan. "Karena yang aku tahu mereka berdua tidak pernah bertemu kecuali hanya sekali. Itupun cuma sebentar."
Sementara Permaisuri Chalinda beralih menatap Dhafin, lalu berkata.
"Dhafin. Jujur sebenarnya aku senang sekali putriku mencintaimu. Dan lebih senang lagi kalau kamu membalas cintanya."
Tidak ada ekspresi apapun yang ditunjukkan Dhafin ketika mendengar ucapan Permaisuri Chalinda. Wajahnya tampak datar dan tenang saja laksana air telaga yang amat tenang.
Sementara Yang Mulia Ratu entah sudah berbetuk bagaimana hati saat ini? Namun begitu mendengar bundanya itu melanjutkan ucapannya....
★☆★☆
"Namun... sebagai seorang ibu aku harus bertindak adil terhadap semua putri-putrinya.... Aku tahu putriku, Putri Aurellia lebih duluan mengenal dirimu daripada Faniza."
Para pencetus Istana Centauri sudah siap-siap terkejut mendengar ucapan Permaisuri Chalinda. Mereka memang sudah tahu kalau Yang Mulia Ratu sudah kenal dengan Dhafin. Hanya perkenalan itu sudah sejauh mana mereka belum tahu.
"Dan aku tahu kalian sudah menjalin hubungan sejak kecil," lanjutnya. "Entah sudah sampai sejauh mana hubungan kalian, tapi aku tahu Putri Aurellia pasti amat mencintaimu...."
"Makanya aku tidak mungkin mengorbankan cintanya demi kesenangan putri kandungku sendiri...."
"Dia sudah cukup menderita sejak kecil. Aku tidak mau menambah penderitaannya. Kamu sudah berhasil mengangkat penderitaannya dan membuatnya bahagia. Aku tidak mau merusaknya dan merusak hubungan kalian."
Yang Mulia Ratu tidak sanggup lagi menengadahkan wajahnya. Dia langsung tertunduk dalam. Sementara hatinya sudah bercampur aduk dengan berbagai macam perasaan mendengar semua ucapan bundanya itu.
Terang saja ucapan Permaisuri Chalinda yang panjang lebar itu sukses membuat terkejut para pencetus Istana Centauri. Mereka tidak menyangka kalau hubungan antara Yang Mulia Ratu dengan Dhafin sudah begitu jauh, bahkan sejak kecil.
Kenapa Yang Mulia Ratu tidak bercerita terus terang kepada mereka? Atau dia punya alasan yang kuat menyembunyikan hubungannya dengan Dhafin?
Serta merta mereka memandang Yang Mulia Ratu. Namun yang dipandang hanya bisa tertunduk. Kemudian beralih memandang Dhafin. Namun yang bisa melihat wajahnya cuma Selir Heliana.
Ditatapnya lekat-lekat pemuda tampan itu. Namun Dhafin tetap tenang saja dengan wajah tenang datarnya. Sebenarnya dia heran juga melihat Dhafin masih bisa bersikap setenang itu.
__ADS_1
"Tuan Dhafin, apakah kamu mencintai Aurellia?" yang bertanya adalah Putri Clarabelle saking tidak tahannya ingin bertanya.
Yang kaget bukan main adalah Yang Mulia Ratu. Dia sampai-sampai mengangkat wajah dan menatap Putri Clarabelle. Tidak menyangka bundanya yang satu itu bertanya seperti itu secara terang-terangan.
Pertanyaan itu juga sukses membuat 4 pengawal cantik, Kayshila dan Nyonya Carissa kaget bukan main. Empat pengawal cantik langsung menatap Putri Clarabelle, sedangkan Kayshila dan Nyonya Carissa langsung menatap Dhafin.
Namun yang ditatap ekspresinya bagaimana? Laksana telaga yang amat tenang wajah itu tetap saja tenang tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Kemudian tampak dia bergerak membalik badan menghadap Putri Clarabelle.
"Maaf, Yang Mulia, sekali lagi hamba minta maaf," kata Dhafin setelah menyembah hormat.
"Hamba di sini adalah seorang tabib yang hendak menyembuhkan Tuan Putri Faniza," lanjutnya. "Ditanya soal pribadi hamba belum siap untuk menjawabnya."
Nadanya begitu sopan dan santun berpadu dengan sikapnya yang amat tenang. Sukses membuat Putri Clarabelle dan Putri Richelle terperangah.
Siapa sebenarnya bocah ini? Kenapa dia bisa mempunyai ketenangan batin yang begitu mengagumkan? Mereka jadi ragu apakah pemuda itu adalah putra Ghazam Aldari?
Meski wajah begitu mirip tadi Pangeran Ghazam Aldari tidak mempunyai ketenangan batin yang sehebat ini.
Sedangkan Yang Mulia Ratu yang tadinya masih menatap Putri Clarabelle, begitu mendengar jawaban Dhafin barusan, dia langsung beralih menatap pemuda tenang itu. Dan dilihatnya Dhafin masih saja berwajah tenang, wajah yang sudah 8 tahun tidak pernah dilihatnya.
Dia teringat kembali saat terakhir waktu dia masih bersama Dhafin. Waktu itu dia menyatakan perasaannya kepada pemuda itu dengan berani.
"Kak Dhafin, aku tidak bisa memungkiri hatiku kalau aku menyukaimu," ungkapnya sambil bersandar di bahu kanan Dhafin sambil merangkul erat lengannya.
Waktu itu mereka tengah duduk saling merapat di kursi panjang bersandar di rooftop Istana Kejora sambil menikmati pemandangan malam yang bertaburkan berlaksa-laksa gemintang.
"Kita masih kecil, Tuan Putri," kata Dhafin waktu itu seolah mengingatkan. "Masih terlalu dini untuk memikirkan urusan seperti itu."
"Tapi aku memang benar-benar menyukaimu, Kak," kata Putri Aurellia kecil masih kekeh. "Apakah aku salah menyatakan perasaanku sedari sekarang?"
"Aku harap kamu memikirkan dahulu matang-matang tentang perasaanmu itu. Mengingat kamu masih kecil yang bisa saja berubah suatu saat nanti."
"Aku sudah memikirkannya matang-matang, Kak. Dan aku akan berusaha sekuat tenaga agar perasaanku padamu tetap terjaga hingga kita dewasa nanti."
"Aku harap kamu jangan melakukan hal itu. Aku harap kamu melupakan aku, jangan mengingat-ingat aku lagi."
"Kenapa kamu berkata begitu, Kak?" kata Putri Aurellia kecil sontak terkejut sambil menatap Dhafin. "Apakah kamu tidak menyukaiku?"
"Aku tidak berani menyukaimu."
"Kenapa?"
"Aku punya firasat kalau kamu bakal menjadi orang besar. Sementara aku cuma bocah kecil yang tidak jelas asal usulnya. Jelas kedudukan kita tidak sebanding kalau kita tetap bersama...."
"Sekali lagi aku bukan tidak menyukaimu, tapi aku tidak berani menyukaimu."
"Aku tidak mau menjadi orang besar," kata Putri Aurellia sambil memeluk erat Dhafin. Tangisnya sudah meledak mendengar ucapan mengerikan Dhafin barusan.
"Aku tidak mau menjadi siapa pun. Aku ingin menjadi seperti begini terus, tetap menyukaimu hingga selamanya."
"Kamu tidak bisa merubah takdir, Tuan Putri. Makanya mulai dari sekarang lupakanlah aku agar kamu tidak bersedih suatu saat nanti."
"Tidak! Aku tidak boleh melupakanmu dan tidak akan pernah. Aku akan selalu menyimpan perasaan ini di dalam hatiku hingga selamanya...."
Mengingat peristiwa itu Yang Muda Ratu hampir tidak bisa menahan air matanya.
Firasat Dhafin ternyata benar, dia kini sudah menjadi orang besar, Ratu Istana Centauri.
Apa jadinya nanti kalau Dhafin benar-benar mengetahui kalau orang yang dia hormati ini adalah teman masa kecilnya? Orang yang dulu pernah mengungkapkan perasaannya dan masih terjaga hingga sekarang?
Yang Mulia Ratu tidak sanggup membayang hal itu.
★☆★☆★
__ADS_1