
Kala itu di Istana Centauri. Tepatnya di ruang pribadi Ratu Aurellia di kediamannya, Istana Kejora.
Di ruangan yang luas itu cuma ada Yang Mulia Ratu, Putri Athalia serta Putri Arcelia. Namun hingga saat ini suasana masih dibungkam oleh kebisuan, ketiga bidadari yang masih mengenakan cadar itu belum saling berbicara antara satu sama lain.
Mereka masih saja terdiam seakan masih asyik dengan pikiran masing-masing.
Putri Athalia tampak tertunduk diam seakan menekuri meja yang ada di depannya. Padahal benaknya tengah memikirkan, atau lebih tepatnya menerka-nerka, apa sebenarnya yang mau dibicarakan oleh Ratu Aurellia dengan mengumpulkan mereka di kediamannya.
Tapi satu hal yang Putri Athalia merasa takjub, yaitu tentang ramalan pendeta tua yang ternyata benar.
Ketika seorang pendeta tua berkunjung ke rumah Putri Arcelia, sang pendeta berkata kepada Dhafin kalau Ratu Aurellia ingin bertemu dengan dirinya dan Putri Arcelia.
Waktu itu sang pendeta seperti berkata biasa kepada Yang Mulia Pangeran Ghavin. Nyatanya itu adalah sebuah ramalan. Karena pendeta tua mengaku tidak pernah bertemu dengan Ratu Aurellia sebelumnya.
Tahu-tahunya Ratu Aurellia meminta untuk bertemu secara khusus antara mereka bertiga sesuai apa yang diramalkan oleh pendeta tua.
Putri Athalia tidak bisa memastikan apa yang akan dibicarakan oleh Ratu Aurellia kepada dirinya maupun Putri Arcelia. Sedangkan Pangeran Ghavin juga tidak pernah menyinggung-nyinggung soal Ratu Aurellia di hadapannya maupun di hadapan Putri Arcelia.
Namun dia bisa mengira-ngira kalau Pangeran Ghavin sudah menceritakan soal ramalan tentang Pangeran Ghavin akan beristri 3 kepada Yang Mulia Ratu. Bisa jadi itu yang akan dibicarakan sang ratu kepada mereka.
Kalau masalah itu yang akan dibicarakan, jangan-jangan Ratu Aurellia tidak menyetujui kalau Pangeran Ghavin mempunyai istri selain sang ratu.
Itu artinya Ratu Aurellia menentang takdir.
Sedangkan Putri Arcelia sebenarnya tidak menginginkan pertemuan ini, sama sekali. Bukan berarti dia membenci Ratu Aurellia. Karena dia belum mengenal lebih jauh siapa itu Ratu Aurellia.
Hanya saja Putri Athalia mengatakan padanya kalau gadis yang juga bercadar itu adalah Ratu Negeri Tabir Ghaib yang juga kekasih Pangeran Ghavin.
Namun, meski mengetahui gadis itu adalah seorang ratu, Putri Arcelia tidak menghormat padanya sebagaimana layaknya menghormati seorang junjungan, seperti yang dilakukan oleh Putri Athalia.
Karena dia merasa Ratu Aurellia bukanlah junjungannya. Dia cuma punya satu junjungan di dunia ini yang layak dia hormati sepenuh jiwa. Yaitu Yang Mulia Pangeran Ghavin.
Sebenarnya juga Putri Arcelia merasa heran kenapa Ratu Aurellia menghendaki pertemuan khusus seperti ini? Tapi begitu mengingat akan ramalan sang pendeta tua, dia jadi mengerti kalau kejadian ini adalah kehendak takdir.
Meskipun dia sama sekali tidak menginginkan. Kalaulah Pangeran Ghavin tidak memerintahkannya mengikuti permintaan Ratu Aurellia waktu itu, dia bersikeras untuk menolaknya, meskipun Ratu Aurellia memaksa.
Akan tetapi, bersamaan dengan itu dia merasa takjub akan kebenaran ramalan pendeta tua. Bahwa benar-benar pertemuan ini adalah sesuatu yang sudah ditakdirkan.
Sementara Ratu Aurellia, sebenarnya merasa heran dan sedikit bingung, kenapa dia menghendaki pertemuan dengan Putri Athalia dan Putri Arcelia?
Apakah karena dia cemburu kepada kedua gadis itu? Kalau begitu, apakah pantas dia bahas bersama mereka perasaannya itu dalam pertemuan ini? Bukankah hal itu terlalu naif?
Dia teringat lagi kejadian tadi siang saat dia melihat kedua gadis itu langsung menghampiri Dhafin ketika pemuda itu selesai bertarung. Sikap kedua gadis itu layaknya pengawal istimewa bagi Dhafin.
Lebih dari itu Ratu Aurellia merasa kalau Dhafin begitu akrab dengan mereka. Begitu juga sebaliknya.
__ADS_1
Dia tidak bisa memungkiri perasaannya kalau dia cemburu kepada Putri Athalia dan Putri Arcelia. Amat cemburu!
Tapi, apakah pantas dia mendominasi Dhafin alias Pangeran Ghavin? Sementara dia tahu kalau Dhafin adalah Pangeran Agung.
Sekali lagi dia memandang pada Putri Athalia yang sedari tadi hanya diam tertunduk. Lalu beralih memandang pada Putri Arcelia yang kepalanya tidak tertunduk, namun sepasang mata beningnya memandang ke arah lain.
Tapi kejap berikut Putri Arcelia beralih memandang pada Ratu Aurellia. Sehingga beberapa saat lamanya kedua gadis itu saling bertatapan antara satu sama lain.
★☆★☆
"Maaf, Ratu Aurellia," kata Putri Arcelia bernada datar tapi dengan sikap sopan, "sebenarnya ada apa ratu mengumpulkan kami di sini?"
Ini kali pertama semenjak dia menjadi ratu ada orang yang memanggilnya dengan panggilan biasa selain Dhafin, meski dengan sikap sopan.
Dia tidak terkejut apalagi tersinggung dipanggil biasa oleh Putri Arcelia. Dia hanya merasa heran, kenapa Putri Arcelia tidak menunjukkan sikap hormat kepadanya sebagaimana layaknya seorang junjungan?
Tidak mungkin Putri Arcelia tidak mengetahui siapa dirinya. Ataukah sikapnya itu menunjukkan kalau Putri Arcelia tidak menganggapnya sebagai junjungan?
Tapi ah, itu tidak penting. Yang terpenting membahas dulu bagaimana perasaan mereka terhadap Dhafin.
Sedangkan Putri Athalia, mendengar ucapan datar Putri Arcelia itu langsung menatap sang putri dengan sorotan seperti menegur sambil berkata.
"Putri Arcelia, kenapa kamu bersikap seperti tidak hormat begitu kepada Yang Mulia Ratu. Beliau adalah junjungan kita juga selain Yang Mulia Pangeran Ghavin."
Putri Athalia sengaja menyebut nama asli Dhafin di depan Ratu Aurellia dengan anggapan kalau Ratu Aurellia tentu sudah mengetahui jati diri Dhafin pula.
Putri Athalia tidak heran kenapa Putri Arcelia sampai berucap seperti itu. Dia bahkan salut akan rasa hormat Putri Arcelia yang absolut kepada Dhafin.
Yang terkejut heran adalah Ratu Aurellia, bahkan dua kali. Keterkejutan yang pertama bahwa dia tidak menyangka kalau kedua gadis itu ternyata seorang putri raja.
Keterkejutan berikut, bahkan lebih terkejut bahwa ternyata Putri Arcelia begitu amat sangat menghormati Dhafin. Ada apakah sebenarnya antara mereka?
"Tapi setidaknya kamu menghormati beliau sebagai seorang penguasa," kata Putri Athalia memperingatkan lagi.
"Tidak mengapa, Nona eh Putri Athalia," kata Ratu berjiwa besar. "Sikap Putri Arcelia terhadapku tidak salah. Dia memang bukan bawahanku. Dan aku bukanlah junjungannya."
"Dan kamu juga, Putri Athalia, tidak usah terlalu menghormat begitu kepadaku sebagaimana layaknya menghormati seorang junjungan...."
"Hubungan di antara kita hanyalah sebatas kemitraan. Bukan hubungan antara junjungan dengan bawahan...."
"Dan juga aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas sikap tidak sopan aku kepada kalian yang tidak tahu kalau kalian ternyata juga putri raja. Hal itu karena minimnya pengetahuanku."
Putri Athalia makin salut akan kepribadian Ratu Aurellia. Memang tidak sembarangan kalau dia ditunjuk sebagai seorang pimpinan besar, meskipun dia wanita.
Sedangkan Putri Arcelia tidak bisa membohongi hatinya kalau dia salut akan jiwa besar Ratu Aurellia. Pantaslah kalau sampai Putri Athalia segan kepadanya.
__ADS_1
Namun Putri Arcelia tetap pada pendiriannya. Meskipun dia salut kepada Ratu Aurellia. Tapi di hatinya hanya ada Pangeran Ghavin yang berhak dihormati sepenuhnya.
"Maaf, Ratu Aurellia," kata Putri Arcelia seakan tidak menggubris ucapan Ratu Aurellia, "ratu belum menjawab pertanyaanku tadi."
★☆★☆
Yang Mulia Ratu tidak lantas menjawab atau menanggapi pertanyaan Putri Arcelia yang tadi. Perlahan tangan kanannya digerakkan ke cadarnya. Lalu membukanya perlahan pula. Terus meletakkan cadarnya itu di meja. Lalu duduk tegak lagi.
Sedangkan Putri Athalia maupun Putri Arcelia, begitu melihat wajah bidadari Ratu Aurellia yang jelita, terang saja mereka terkejut bercampur terpukau yang amat sangat.
Masing-masing mereka berpikir kalau wajah mereka yang amat cantik. Namun begitu melihat pesona wajah Ratu Aurellia, mereka seakan sepakat kalau Ratu Aurellia lebih cantik dari mereka.
"Kalian sudah melihat wajahku yang aku tidak peruntukkan selain hanya kepada satu orang lelaki," kata Ratu Aurellia meminta dengan jaminan. "Bolehkah aku melihat wajah kalian juga?"
Putri Athalia yang sudah respek dan percaya kepada Ratu Aurellia langsung membuka cadarnya tanpa ragu. Sedangkan Putri Arcelia tidak lantas membuka cadarnya.
Bukan dia tidak percaya kepada Ratu Aurellia. Namun dia hanya enggan saja membuka cadarnya kepada sembarang orang meskipun kepada sang ratu sendiri.
Sementara Ratu Aurellia tidak bisa menahan rasa takjubnya melihat wajah bidadari yang jelita Putri Athalia. Dia merasa dirinyalah yang tercantik. Namun begitu melihat kecantikan wajah Putri Athalia, kecantikannya seakan tersaingi.
Begitu dia melihat pada Putri Arcelia, ternyata gadis itu tidak membuka wajahnya. Maka langsung dia berkata dengan nada seakan menyindir.
"Apakah kamu juga merasa kalau wajahmu itu hanya milik Pangeran Ghavin? Sehingga walaupun aku yang ingin melihatnya tetap tidak boleh?"
Ditegur seperti itu Putri Arcelia merasa juga. Toh mereka bertiga calon istri Pangeran Ghavin. Jadi, saling melihat wajah di antara mereka jelas tidak mengapa. Akhirnya dia membuka juga cadarnya.
Dan lagi-lagi Ratu Aurellia tidak bisa menahan rasa takjubnya begitu melihat wajah bidadari Putri Arcelia yang amat mempesona.
Awal kali dia melihat wajah si gadis dengan mimik agak judes. Tapi ternyata dia melihat Putri Arcelia layaknya bidadari yang sedang judes.
Ternyata bidadari walaupun judes, tetap saja cantik mempesona. Ini benar-benar gila.
Maka dia semakin yakin kalau Putri Arcelia dan juga Putri Athalia merupakan dua gadis yang Dhafin pilih sebagai calon istrinya. Yang mana hal itu untuk memenuhi syarat agar bisa menikahinya.
"Kalau boleh aku bertanya," kata Ratu Aurellia ingin memastikan dugaannya, "apakah kalian yang Pangeran Ghavin pilih sebagai calon istri?"
"Maaf, Yang Mulia, apakah Yang Mulia Pangeran belum menceritakan tentang sebuah ramalan kepada Yang Mulia?" tanya Putri Athalia keheranan.
"Ramalan apa maksudmu?" tanya Ratu Aurellia terkejut heran.
Tanpa berlama-lama Putri Athalia menceritakan tetang ramalan kalau dia maupun Putri Arcelia sudah dijodohkan oleh langit bakal menjadi istri Pangeran Ghavin.
Akhirnya Ratu Aurellia paham bahwa Dhafin hendak memiliki istri lebih dari satu bukan hanya untuk melaksanakan syarat agar bisa menikah dengannya.
Hal itu ternyata sudah ditakdirkan oleh Penguasa Langit kalau Dhafin memiliki 3istri.
__ADS_1
★☆★☆★