
Pertarungan antara Raja Ghanim melawan Pangeran Nelson masih terus berlangsung. Namun Raja Ghanim semakin kepayahan dan semakin terdesak hebat.
Sepertinya dia tidak sanggup lagi memegang pedangnya. Karena begitu pedang Pangeran Nelson menghantam pedangnya langsung terlepas dan terlempar jauh.
Hampir bersamaan Pangeran Nelson memutar tubuhnya sembari melayangkan kaki kirinya dengan cepat mengarah ke samping kiri kepala Raja Ghanim.
Kondisi Raja Ghanim sudah kepayahan. Rasanya tidak sanggup lagi menghindari serangan itu. Maka dengan telak, kuat dan keras tumit Pangeran Nelson menghantam kepalanya. Sehingga membuat sang raja terjajar ke samping kanan beberapa langkah, lalu jatuh terbaring.
Akan tetapi Raja Ghanim seperti tidak kenal menyerah. Meski sudah amat kepayahan, dia memaksakan diri beringsut bangun.
Sementara Pangeran Nelson dengan langkah cepat menghampiri Raja Ghanim yang sudah hampir berdiri. Dan begitu raja malang itu sudah berdiri meski dengan limbung, Pangeran Nelson menggerakkan pedangnya lurus ke depan hendak menusuk dada sang raja.
"Hentikan, Paman Nelson!"
Belum sempat ujung pedang Pangeran Nelson menusuk dada kiri Raja Ghanim, Dhafin dengan cepat berseru menahan tindakan pamannya itu. Maka ujung pedang itu seketika berhenti berjarak 5 jari dari dada Raja Ghanim.
Setelah itu Pangeran Nelson segera menoleh pada Dhafin yang beranjak ke tempat itu. Tampak tarikan wajah Pangeran Nelson seperti tidak puas atas pelarangan Dhafin. Tapi demi menghargai keputusan keponakannya, dia urung membunuh Raja Ghanim.
Akan tetapi kejadian yang sungguh tak terduga seketika terjadi. Dengan kuat Raja Ghanim mendorong tubuhnya ke depan. Sehingga ujung pedang Pangeran Nelson yang belum sempat diturunkan langsung menusuk dadanya hingga menembus cukup dalam tanpa dapat dicegah.
Kejadian itu tentu saja membuat semua orang yang melihatnya amat terkejut bukan main.
Tidak terkecuali Pangeran Nelson yang segera menoleh kembali pada Raja Ghanim, dan melihat kebodohan yang dilakukan sang raja, sengaja menusukkan dadanya ke ujung pedang yang sebenarnya sudah berhenti.
Dhafin yang melihat itu lebih terkejut lagi sehingga membuatnya berhenti melangkah. Sepasang matanya membulat menatap tidak percaya pada perbuatan Raja Ghanim.
Dia sudah berhasil mencegah Pangeran Nelson agar tidak membunuh sang raja. Namun Raja Ghanim dengan sengaja menusukkan dadanya pada ujung pedang Pangeran Nelson. Sungguh dia menyesalkan perbuatan Raja Ghanim itu. Amat menyesalkan!
Sementara Raja Ghanim, wajahnya sudah menegang hebat. Terdengar mulutnya yang terkatup rapat mendesis seperti menahan rasa sakit yang hebat.
Dia menyadari ujung pedang Pangeran Nelson sudah menembus jantungnya. Itu artinya sebentar lagi kematian akan menjemputnya.
Tak lama, seakan tanpa sadar Pangeran Nelson menarik pedangnya hingga tercabut dari dada Raja Ghanim, membuat sang raja memekik kecil.
Darah segar langsung mengalir keluar dari lubang luka tusukan pedang itu.
Tampak Raja Ghanim semakin sempoyongan seakan tak sanggup lagi menahan beban tubuhnya yang gempal. Dan sepertinya sebentar lagi tubuhnya akan segera tumbang.
Sementara pada saat itu seketika muncul Gerbang Cahaya sekitar 5-6 tombak di samping kiri Raja Ghanim. Hampir bersamaan muncul Putri Evelyne dari dalam portal bercahaya putih itu, menyusul seorang ksatria wanita.
Tentu saja beberapa orang yang ada di sekitar pelataran istana itu dapat melihat kemunculan Putri Evelyne, dan sukses membuat mereka terkejut pula.
Ketika keluar dari Gerbang Cahaya, Putri Evelyne segera menyaksikan kondisi ayahandanya yang mengenaskan. Melihat pedang Pangeran Nelson yang berlumuran darah yang masih di genggamannya.
Lalu tak lama dia melihat ayahandanya rebah ke tanah bagai papan jatuh.
"Ayahanda...!" jeritnya histeris.
Dengan cepat dia berlari menghambur ke ayahnya sambil menangis. Namun lebih cepat lagi gerakan Dhafin yang segera menyadari keadaan sang raja.
Belum sempat tubuh Raja Ghanim menimpa bumi, Dhafin sudah berhasil menangkapnya. Lalu perlahan diturunkan ke bawah, terus disandarkan di pangkuannya.
Hampir bersamaan Putri Evelyne telah tiba, dan langsung duduk melutut di sisi Raja Ghanim. Sementara air mata kesedihan terur mengalir di pipi halus putihnya.
★☆★☆
"Kanda Dhafin, apa yang terjadi pada ayahandaku?" tanya Putri Evelyne di sela isak tangisnya.
Sejenak Dhafin memandang Putri Evelyne tanpa menjawab pertanyaannya. Lalu memandang Raja Ghanim dengan tatapan pilu.
Sementara Raja Ghanim, meski napasnya sudah tersenggal-senggal tapi wajahnya tidak menegang lagi. Bahkan tampak tenang namun terselip kesedihan dan penyesalan.
"Kenapa Yang Mulia sampai melakukan hal nekat itu," kata Dhafin bernada sedih. Sepasang matanya tampak berkaca-kaca.
"Hamba sudah mencegah Paman Nelson agar tidak membunuh Yang Mulia," lanjutnya, "dan Paman Nelson mau mendengarkan aku. Tapi kenapa Yang Mulia malah nekat berbuat begitu...."
"Ini... sudah takdirku, Dhafin...," kata Raja Ghanim bernada pelan dan lemah. Sepasang matanya yang sayu menatap pilu pada Dhafin. "Tidak perlu disesalkan...."
"Ayahanda, apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Putri Evelyne masih penasaran. "Kenapa dadamu seperti tertusuk pedang?"
"Tidak apa-apa, putriku...," kilah Raja Ghanim di sela-sela napasnya yang makin tersenggal. "Kamu tidak perlu khawatir...."
__ADS_1
"Yang Mulia. Izinkan hamba mengobati Yang Mulia," kata Dhafin menawarkan.
"Tidak perlu," tolak Raja Ghanim. "Justru inilah yang aku inginkan...."
"Tapi, Yang Mulia...."
"Tapi, Ayahanda...."
"Anak muda," dengan suara semakin lemah Raja Ghanim langsung memutus ucapan Dhafin dan putrinya yang hendak berkata, "boleh aku bertanya?"
"Silahkan, Yang Mulia!"
"Apakah kamu... putra Kanda Ghazam Aldari...?"
"Benar, Yang Mulia, hamba memang putra Pangeran Ghazam Aldari. Nama hamba adalah Pangeran Ghavin Aldebaran."
"Aku sudah menduga... sejak pertama kali... melihatmu...," kata Raja Ghanim sudah tersendat-sendat.
"Ayahanda...," desah Putri Evelyne lirih yang makin pilu melihat kondisi ayahandanya.
"Setiap saat... aku selalu dihantui oleh... ayahmu... dan rasa bersalah... akibat membunuhnya dan membunuh... kedua bundamu...," kata Raja Ghanim dengan nada makin pilu dan berduka.
"Paman," kata Dhafin yang sudah memanggil sang raja dengan sebutan paman, "tidak usah lagi hal itu diingat-ingat. Aku sudah memaafkan kekhilafan paman itu dan melupakan semua yang terjadi...."
"Yang terpenting sekarang adalah mengobati paman, dan memulai hidup baru dengan keluarga yang masih ada...."
"Sungguh mulia hatimu, keponakanku...," kata Raja Ghanim seraya tersenyum haru.
"Tapi... aku sudah... memutuskan untuk meninggalkan dunia ini..., menyusul keluarga yang sudah mendahului...."
"Ayahanda...."
Putri Evelyne yang masih terus menangis seperti hendak berkata. Namun Raja Ghanim yang sudah semakin mendekati ajal terus saja berkata dengan suaranya yang semakin lemah.
"Pangeran Ghavin..., kamu sudah berhasil... merebut kembali hakmu... dari tangan Selir Hellen.... Dan sekarang... kerajaan ini adalah milikmu...."
"Pimpinlah rakyatmu dengan adil... dan bijaksana.... Kembalikanlah... keamanan dan kemakmuran rakyat Bentala... setelah sekian tahun... mereka menderita di bawah kekuasaan... Selir Hellen...."
"Aku mendengar dan melaksanakan semua yang kamu anjurkan padaku, paman," kata Dhafin makin sedih.
"Terima kasih.... Kamu memang anak yang baik...."
Lalu Raja Ghanim menoleh kepada Putri Evelyne, terus berkata menyampaikan pesan yang harus dilaksanakan oleh putrinya itu.
"Evelyne, anakku, aku meminta kepadamu... untuk tidak menuntut apapun pada kandamu, Pangeran Ghavin.... Patuhilah semua apa yang dinasehatkan kepadamu... dan jangan pernah membantah ucapannya....."
"Beritahukan... pesan pentingku ini kepada kedua adikmu, Ardella dan Ilona.... Berjanjilah padaku untuk memenuhi wasiatku ini, putriku...."
"Ayahanda, biarkan Kanda Dhafin mengobatimu dulu!" pinta Putri Evelyne.
"Berjanjilah padaku, Evelyne, biar aku mati dengan tenang...."
"Jangan berkata begitu, Ayahanda.... Kamu pasti bisa sembuh. Kamu tidak boleh mati...."
"Berjanjilah padaku, putriku...," Raja Ghanim terus menekankan.
"Iya, Ayahanda, aku berjanji...," kata Putri Evelyne di tengah derai tangisnya yang makin menjadi, "aku berjanji...."
"Terima kasih, putriku.... Kini aku bisa menyusul Ayahanda Neshfal dengan tenang...."
Setelah itu Raja Ghanim terkulai dengan lemah. Nyawanya kini telah meninggalkan raganya untuk selamanya. Sementara wajahnya masih tetap menampakkan kesedihan yang mendalam.
"Ayahanda...!" jerit Putri Evelyne histeris.
Setelah itu dia jatuh pingsan ke belakang. Saking tidak kuatnya menahan kesedihan sekaligus kehilangan. Ya, dia memang sudah banyak kehilangan keluarganya.
Putri Kayshila yang melihat hal itu segera menghampiri Putri Evelyne, lalu membopongnya dengan kedua tangannya di depannya.
Sementara Dhafin, setelah menatap beberapa saat Raja Ghanim, kemudian menggendongnya dengan kedua tangannya di depannya. Setelah itu dia melayangkan pandangannya ke sekelilingnya.
Tenyata di sekitar situ sudah berkumpul semua keluarganya yang ikut dalam perang. Terdapat juga sahabat-sahabat setianya dan rekan-rekan seperjuangan. Sedangkan kedua pengawal cantiknya tidak pernah jauh darinya.
__ADS_1
Kemudian kembali beralih memandang Selir Heliana seakan meminta keputusan nenek cantik itu.
"Kita makamkan dulu Raja Ghanim dan Selir Hellen," kata Selir Heliana bernada lembut tapi tegas. "Setelah itu kita mengadakan upacara pelantikanmu sebagai raja Kerajaan Bentala."
Meskipun sempat sedikit kaget, Dhafin tidak membantah perkataan neneknya itu. Dia tidak mau dulu berdebat masalah siapa yang akan dilantik sebagai raja selanjutnya.
Yang terpenting sekarang memakamkan dahulu Raja Ghanim di pemakaman keluarga istana.
★☆★☆
Sebelum upacara sakral pelantikan raja Kerajaan Bentala yang baru, sempat terjadi sedikit perdebatan antara Dhafin dengan seluruh keluarganya yang ada di Istana Bentala sekarang.
Selir Heliana sudah menetapkan bahwa Dhafin alias Pangeran Ghavin Aldebaran yang akan menjadi raja di Kerajaan Bentala. Karena dia memang ahli waris yang lebih berhak menjadi raja.
Namun Dhafin tidak setuju kalau dia yang akan menjadi raja di Kerajaan Bentala. Hal itu tidak sesuai dengan yang sudah ditentukan oleh Penguasa Langit, meskipun dia sebagai ahli waris.
Yang lebih berhak menjadi raja di Kerajaan Bentala adalah Pangeran Revan Abrisam. Hal itu sesuai dengan takdir langit sebagaimana yang sudah diramalkan oleh 3 orang peramal sakti.
Akan tetapi tidak ada seorang pun yang menyetujui keputusan Dhafin itu. Termasuk Pangeran Revan sendiri. Dia menentang keras keputusan Dhafin yang menolak menjadi raja, dan menunjuknya sebagai raja hanya berlandaskan ramalan.
Sementara, baik Ratu Aurellia maupun kedua pengawal cantiknya tidak bisa banyak membantu Dhafin mengenal masalah ini, yang pada akhirnya mereka pasrah juga akan keputusan Selir Heliana.
Meskipun mereka yakin kalau keputusan Dhafin adalah benar. Dan tentang ramalan itu mereka yakin juga adalah benar.
Hingga pada suatu ketika, keputusan Dhafin tidak diterima, akhirnya dia mengerahkan matra ghaibnya. Yaitu menghilangkan ingatan semua orang tentang dirinya.
Namun penghilangan ingatan itu tidak selamanya, hanya bersifat sementara saja. Dhafin memperkirakan sekitar 2 bulan orang-orang yang pernah mengenalnya akan melupakan tentang keberadaannya.
Dalam rentan waktu itu dia memperkirakan Pangeran Revan, adiknya sudah diangkat menjadi raja dan sudah bisa menstabilkan keamanan, ketertiban dan kemakmuran Kerajaan Bentala, meski belum secara sempurna.
Setelah itu akan kembali normal. Orang-orang akan mengenalnya lagi.
Akan tetapi tidak semua orang yang Dhafin hilangkan ingatan tentang dirinya. Ada beberapa orang yang dia pilih tidak lupa akan dirinya. Yaitu Brian, Zafer, Aziel, Keenan, Gibson, Kelvin, dan Hendry, Wilson, dan Veron.
Dia sengaja memilih orang-orang hebat ini untuk suatu misi yang akan dia rencanakan di Kerajaan Amerta dan Kerajaan Lengkara.
Bahkan saking hebatnya kekuatan ghaib penghilangan ingatan yang dikerahkan Dhafin, semua orang juga melupakan keberadaan 9 ksatria handal yang dipilihnya tadi.
Hal itu tidak lain untuk melancarkan rencana yang telah dia susun.
Setelah Dhafin menghilangkan ingatan orang-orang, dia berserta 9 ksatria handal meninggalkan Kerajaan Bentala.
Sementara itu, karena semua orang melupakan keberadaan Dhafin, maka secara otomatis Pangeran Revan yang diangkat menjadi raja Kerajaan Bentala.
Setelah upacara pelantikan Pangeran Revan sebagai raja telah selesai, maka Raja Revan yang dibantu oleh Pangeran Nelson dan Selir Heliana menyusun agenda-agenda penting yang akan dilakukan terlebih dahulu.
Termasuk mengumumkan ke seluruh pelosok negeri bahwa Raja Revan adalah raja Kerajaan Bentala yang baru, setelah sebelumnya seluruh penduduk kotaraja telah mengetahui terlebih dahulu. Dan mereka sangat bersuka cita sekali.
Menyusun peraturan-peraturan baru kerajaan setelah menghapus semua peraturan sebelumnya yang sama sekali menyengsarakan rakyat. Serta menyusun hal-hal yang terpenting lainnya.
Sementara Pendeta Desmon ditetapkan sebagai Penasehat Kerajaan. Di mana ketika di zaman mendiang Raja Neshfal Abraham dia juga menjabat sebagai jabatan yang sama.
Sedangkan Jenderal Kenzie Cazim, ayahnya Jessica ditetapkan sebagai Pejabat Kepala.
Dan semua pasukan pemberian mendiang Raja Ghanim, termasuk 10 Guru Besar, diserahkan kepada Raja Revan, berikut semua bekas pasukan Selir Hellen yang sebelumnya berhasil ditangkap.
Termasuk yang Raja Revan jadikan pasukannya adalah beberapa kelompok kepedekaran yang membantu merebut Kerajaan Bentala yang berasal dari Kerajaan Bentala.
Sementara semua bekas murid Perguruan Tapak Sakti dan Perguruan Golok Hitam tetap berada di Istana Centauri.
Adapun Ratu Aurellia beserta seluruh pasukannya, termasuk Putri Athalia dan Putri Arcelia, setelah upacara pelantikan Raja Revan selesai, mereka kembali ke Istana Centauri.
Yang tidak ikut adalah Jessica. Karena dia kekasih sang raja baru, Raja Revan.
Juga Putri Kayshila, karena di samping dia adik dari Raja Revan, dia juga membatu sang kakak dalam memimpin di Kerajaan Bentala.
Juga yang tinggal adalah Faniza Luna, karena Putri Kayshila memilihnya sebagai Pengawal Pribadi-nya.
Adapun Putri Evelyne, Putri Ardella dan Putri Ilona tetap berada di Istana Centauri. Besama Selir Ashana Bellanca dan putrinya, Putri Lavina Aneska.
★☆★☆★
__ADS_1