Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 24 ANUGRAH YANG AMAT BERHARGA


__ADS_3

Semenjak dari Kota Pendar hingga kembali ke rumahnya, Ariesha boleh dikatakan tidak pernah berhenti melatih ilmu bela diri yang sudah diajarkan oleh Dhafin.


('Kembali ke rumahnya' di sini maksudnya Ariesha kembali ke rumah orang tuanya di kotaraja yang selama sembilan tahun terpisah dengan mereka. Untuk mengetahui kisah yang sebenarnya silahkan baca kembali: BAB 11 TERKUAKNYA RAHASIA TENTANG ARIESHA)


Begitu juga dengan bersemedi, hampir tidak pernah dia tinggalkan. Apalagi di rumahnya ini. Aman dan tenang kalau melakukan semedi.


Tanpa terasa dia tinggal di kotaraja sudah hampir satu setengah bulan. Itu artinya sudah setengah tahun lebih dia belajar bela diri. Dan orang seperti Ariesha yang mempunyai tekad yang kuat, belajar bela diri sudah selama itu tentunya sudah membuahkan hasil yang cukup memuaskan.


Berkat rajinnya dia bersemedi, energi kekuatan batinnya meningkat sedikit demi sedikit. Bersamaan dengan itu pula tenaga dalamnya ikut meningkat. Sekarang dia sudah bisa menyalurkan tenaga dalammya ke dalam jurus-jurusnya.


Dan Ariesha ternyata tidak hanya belajar ilmu bela diri dan tenaga dalam. Selama sebulanan ini dia juga belajar memanah. Dan tentunya yang mengajarkan adalah ayahnya, Jenderal Felix.


Memang Ariesha ini anaknya pintar dan cerdas. Dia cepat memahami pelajaran yang diajarkan kepadanya. Dan memprakterkkan dengan cepat dan tepat. Baru sebulan dia belajar memanah sudah membuat ayahnya cukup puas.


Kalau soal dukungan Ariesha masuk sekolah keprajuritan, jelas ayahnya mendukung penuh. Ini suatu kebanggaan bagi Jenderal Felix putrinya mau sekolah keprajuritan. Terkhusus sekolah pelatihan Pengawal Putri Raja.


Biasanya putri-putri bangsawan cuma mau sekolah kepribadian. Sedikit di antara mereka yang mau sekolah keprajuritan. Sedari kecil mereka sudah belajar memperanggun diri, termasuk kecantikan.


Sedangkan Nyonya Carrisa, ibunya awalnya tidak setuju putrinya masuk sekolah keprajuritan, apalagi sekolah pelatihan Pengawal Putri Raja.


Sekolah itu adalah sekolah unggulan. Jadi, para siswa-siswinya digembleng sedemikian rupa agar menjadi seorang pengawal tangguh bagi putra-putri raja.


Berbagai macam pelatihan keras dan kasar dalam sekolah pengawal itu, sehingga Nyonya Carrisa amat ngeri dan takut jika membayangkan putrinya masuk dalam sekolah itu.


Maunya dia Ariesha masuk sekolah kepribadian saja yang tidak ada pelatihan kekerasan. Akan tetapi pada akhirnya Nyonya Carrisa meluluskan juga keinginan putrinya itu.


Saking sayangnya kepada putrinya, apapun yang diminta dia akan menuruti. Meski dia nantinya banyak terpisah lagi dengan putrinya, karena nantinya Ariesha akan tinggal di asrama pelatihan.


Pagi itu amat cerah. Matahari sudah naik sekitar dua tombak. Ariesha tampak masih berlatih dengan Dhafin di halaman belakang kamarnya, Paviliun Pelangi. Kali ini mereka berlatih tanding jurus pedang. Pedang yang digunakan tentu terbuat dari kayu.


Sudah satu pekan ini dia berlatih tanding dengan Dhafin. Kebetulan memang Dhafin tidak ada acara di luar dalam satu pekan terakhir ini. Jadi dia bisa memantau secara penuh perkembangan ilmu bela diri dan tenaga dalamnya.


Perlu diketahui bahwa sekarang Dhafin sudah menjadi anak angkat keluarga Jenderal Felix. Sungguh tidak bisa dilukiskan betapa senang dan bahagianya Jenderal Felix.


Yang tidak kala senang adalah Nyonya Carrisa. Dengan Dhafin sudah menjadi anak angkatnya, cukup membuatnya tidak merasa kehilangan jikalau Ariesha lulus dan tinggal di asrama. Karena ada Dhafin yang tinggal bersama mereka.


Sebenarnya Jenderal Felix mengajak Dhafin untuk ikut dalam kejawatan pemerintahan kerajaan. Karena keilmuan yang menakjubkan yang ada pada Dhafin sudah cukup memenuhi syarat untuk dia ikut andil dalam pemerintahan. Kalau soal umur, dia yakin Yang Mulia bisa menerima.


Namun Dhafin menolak secara halus. Dia mencukupkan diri berprofesi sebagai tabib saja. Lagipula sang bunda angkat menolaknya dengan tegas.


"Kanda ini bagaimana tho?" protes Nyonya Carrisa sengit waktu itu. "Apa sudah tidak ada lagi orang dewasa di Kerajaan Amerta ini, sehingga anak kecil seperti Dhafin mau diajak dalam pemerintahan juga?"


"Carrisa! Umur dan fisiknya memang kecil," Jenderal Felix masih mencoba membujuk. "Tapi keilmuannya tidak seperti anak kecil, bahkan melebihi orang dewasa. Dia sudah...."


"Tidak!" Nyonya Carrisa langsung memotong ucapan suaminya dengan cepat dan sengit. "Aku tidak ijinkan putraku kamu ikutkan dalam pemerintahan. Ini keputusan terakhirku!"


★☆★☆


Seorang pelayan perempuan yang masih muda muncul dari rumah induk sambil berlari-lari. Keadaannya begitu panik dan tampak tergesah-gesah. Wajah cantik nan imutnya begitu tegang.


"Tuan Muda di mana?" tanya pelayan muda itu begitu sampai di depan kamar Dhafin, Paviliun Senja.


"Tuan Muda ada di Paviliun Palangi...," sahut salah seorang pelayan Dhafin yang bersih-bersih di sekitar kamar Dhafin.


Pelayan muda Nyonya Besar kembali berlari meninggalkan pelayan laki-laki itu tanpa menunggu ucapannya selesai. Tanpa menghiraukan keheranan pelayan laki-laki itu terhadapnya.


Sementara pelayan Nyonya Besar itu terus saja berlari-lari langsung menuju halaman belakang Paviliun Pelangi. Karena dia tahu kedua majikan mudanya itu pasti ada di situ.

__ADS_1


"Tuan Muda!" panggil pelayan itu tanpa melepas sikap hormatnya begitu sudah dekat dengan tempat latihan Ariesha dan Dhafin.


Ariesha maupun Dhafin lantas segera berhenti berlatih pedang. Lalu sama-sama menoleh ke pelayan ibu mereka itu. Dhafin diikuti Ariesha menghampiri si pelayan. Bersamaan si pelayan muda ikut mendekat pula.


"Ada apa?" Ariesha yang bertanya dengan mimik heran. Karena melihat sikap si pelayan tampak panik.


"Maaf, Nona Muda, Tuan Muda, Nyonya Besar sakit lagi," kata pelayan itu dengan suara agak gemetar memberitahu. "Beliau muntah-muntah dan pusing lagi...."


Dhafin dan Ariesha langsung saling bertatapan penuh keheranan. Tadi bunda mereka sedang keluar bersama dua pelayannya. Katanya mau ke pasar. Sekarang dikabarkan sakit. Apa yang terjadi?


"Sekarang Bunda dimana?" tanya Ariesha cepat. Wajahnya kini sudah menegang pertanda mulai panik.


"Sekarang Nyonya Besar sudah dimasukkan ke kamar," jawab pelayan itu lagi.


Tanpa bertanya lagi Ariesha langsung meninggalkan tempat itu disusul Dhafin setelah meletakkan pedang kayu mereka. Tapi sebelumnya Dhafin memesan kepada pelayan perempuannya yang ada di situ untuk membawakan tas obatnya.


★☆★☆


Begitu sampai di depan kamar ibunya, Ariesha dan Dhafin langsung masuk ke kamar yang luas dan mewah itu. Maklum saja kamar pejabat tinggi dan nyonyanya jelas mewah.


Tampak Nyonya Carrisa yang dipapah pelayannya baru keluar dari kamar mandi, dan menuju ke pembaringan yang besar miliknya. Dia sepertinya habis muntah lagi.


Keadaan Nyonya Caarisa cukup kepayahan. Wajahnya yang cantik agak kuyu dan pucat. Sepertinya dia kelelahan bagai habis bekerja berat.


Melihat ibu angkatnya dalam keadaan demikian, Dhafin segera membantu memapahnya menuju pembaringan. Sedangkan Ariesha memandang ibunya dengan miris.


Dia khawatir ibunya kenapa-napa. Dia tahu ibunya dalam tiga pekan ini sudah beberapa kali muntah-muntah disertai dengan pusing dan sakit kepala.


Melihat anak angkatnya dan putrinya sudah ada di kamarnya, Nyonya Carrisa tersenyum senang.


"Kali ini aku lebih sering muntah, Dhafin," keluh Nyonya Carrisa bernada lemah. "Aku tidak mengerti penyakitku ini apa. Obatmu sepertinya takarannya harus ditambah...."


"Iya, Bunda tenang dulu, biar benbaring dulu!" pinta Dhafin lagi. "Nanti aku periksa."


Ariesha yang sudah mengambil segelas air putih segera menawarkan ke ibunya begitu nyonya cantik itu sudah duduk di tepi pembaringan. Dan setelah Nyonya Carrisa minum, dia berbaring di pembaringan yang dibantu oleh Dhafin.


Sedangkan Ariesha segera mengenakan ibunya selimut setelah menyerahkan gelas bekas minum ibunya tadi kepada pelayan yang membantu memapah tadi. Lalu menyuruh pelayan lainnya untuk mengambilkan kursi untuk kakaknya duduk. Sedangkan dia duduk di tepi pembaringan.


Tak lama kemudian, pelayan Dhafin datang membawa tas obatnya. Menyerahkan kepada pelayan Nyonya Carrisa, setelah itu dia pergi. Dia tak sampai masuk ke dalam kamar.


Setelah mengambil tas obatnya, mengambil obat mual dan obat pengembalian tenaga, lalu Dhafin memberikannya kepada ibunya agar meminumnya sebelum dia memeriksa kondisi ibunya yang lemas ini.


Kemarin-kemarin dia tidak serius memeriksa ibu angkatnya. Dia cuma memberikan obat mual dan pusing serta pengembalian tenaga. Namun sepertinya kali ini dia harus serius memeriksa ibunya itu.


"Apa perut bunda masih kembung seperti masuk angin?" tanya Dhafin setelah memeriksa nadi bundanya. Saat ini dia sudah duduk di kursi.


"Iya, Dhafin," sahut Nyonya Carrisa memberitahu. "Bahkan sekarang sudah terasa sakit seperti... kram."


"Sekarang bunda lebih sering muntah," lanjutnya. "Sakit kepala dan pusing apalagi. Dan akhir-akhir ini bunda sering merasa lelah. Padahal bunda tidak banyak bekerja belakangan ini."


Nyonya Carrisa itu meski punya lumayan banyak pelayan, bukan berarti dia ongkang-ongkang kaki saja. Dia sering nimbrung bersama para pelayannya mengerjakan pekerjaan rumah, termasuk memasak.


Tapi sejak tiga pekan terakhir ini kalau bekerja sedikit dia cepat lelah. Makanya dia tidak banyak bekerja sekarang. Dia tadi pergi ke pasar bersama dua pelayannya sebenarnya terpaksa saja. Dan ingin membeli beberapa jenis buah. Repotnya, buah-buahan itu dia sendiri yang harus membelinya. Tidak mau diwakilkan.


"Bunda sering buang air kecil?" tanya Dhafin melakukan pemerikasaan.


"Iya, bunda sering buang air kecil sekarang."

__ADS_1


Lalu Dhafin mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Ariesha heran bercampur bingung. Masalahnya, semua yang ditanyakan Dhafin dibenarkan oleh ibunya. Seakan-akan Dhafin menebak keadaan yang terjadi pada ibunya.


Di saat Dhafin bertanya tentang sesuatu yang berhubungan dengan kewanitaan, Ariesha langsung protes.


"Ih, Kanda, kenapa bertanya seperti itu? Malu tahu."


"Aku ini seorang tabib, Ariesha," kata Dhafin membela diri. "Kalau ingin mengetahui keadaan pasien yang sebenar-benarnya, malu harus dibelakangkan."


"Masa' sampai segitunya sih?" sungutnya.


"Ariesha! Kamu jangan mengganggu kakakmu yang sedang memeriksa bunda," tegur Nyonya Carrisa bernada halus. "Kamu diam saja dulu!"


"Dengar tuh apa kata bunda," kata Dhafin seolah meledek sambil tersenyum usil.


"Sudah, Ariesha, sudah," tegur Nyonya Carrisa lagi saat Ariesha mau membalas ledekan Dhafin. "Biarkan kakakmu memeriksa bunda dulu, jangan diganggu."


Ariesha tidak jadi membalas ledekan Dhafin. Dia kini diam tapi wajahnya bersungut-sungut.


"Kalau begitu bunda ini sakit apa, Dhafin?" tanya Nyonya Carrisa yang dari tadi penasaran. "Kamu sepertinya tahu akan keadaan bunda."


"Sekarang pertanyaan terakhir," kata Dhafin seakan tidak menggubris pertanyaan Nyonya Carrisa. "Kapan bunda terakhir datang bulan?"


"Seharusnya tiga pekan yang lalu bunda sudah haidh," sahut Nyonya Carrisa setelah berpikir sejenak. "Tapi sudah hampir sebulan ini bunda tidak haidh. Ada apa ya, Dhafin?"


"Sepertinya obat ramuan yang aku berikan kepada bunda dan ayah itu mujarab," kata Dhafin seraya tersenyum. Tapi membuat Ariesha maupun Nyonya Carrisa heran. Sepertinya pertanyaan itu tidak sesuai dengan jawaban.


Pernah Jenderal Felix mengeluhkan kepada Dhafin tentang dia dan istrinya yang sampai sekarang belum dapat momongan lagi.


Kemudian Dhafin memberikan dua suami istri itu suatu ramuan yang bisa membuat mereka mendapat keturunan lagi. Dan hasilnya sepertinya sekarang ini.


"Kanda! Jangan berbelit-belit jawabannya," tegur Ariesha gemas. Tapi nadanya bagai orang merengek. "Katakan cepat, bunda sakit apa?"


"Bunda tidak sakit," kata Dhafin tidak lepas tersenyum. "Tapi perut bunda telah berisi."


"Berisi?!" Ariesha tambah bingung. "Berisi apa?"


"Bunda hamil maksudmu?" tebak Nyonya Carrisa sambil siap-siap senyum bahagia.


Dhafin berdiri dari kursinya lalu berpindah duduk di tepi pembaringan. Senyumnya terus terkembang. Meraih tangan kiri bundanya, lalu meletakkan di pipi kanannya, dan berkata menjawab pertanyaan bundanya.


"Benar, Bunda."


Kebahagiaan Nyonya Carrisa susah untuk dilukiskan kini. Sembilan tahu lamanya dia sudah tidak hamil. Tabib yang memeriksa sebelumnya sudah menyatakan kalau dia tidak bisa hamil lagi, alias mandul.


Namun setelah rutin meminum ramuan ajaib yang diberikan anak angkatnya, belum ada sebulan mereka sudah melihat hasilnya. Kini dinyatakan hamil oleh Dhafin. Dan dia amat percaya akan hasil pemeriksaan anaknya itu.


Mungkin saking bahagianya, Nyonya Carrisa langsung bangkit terduduk, terus memeluk kedua anaknya sambil mencium mereka saking senang, saking gembiranya.


Sedangkan Ariesha, begitu mengetahui kalau dia bakal punya adik, betapa bahagianya dia. Saking bahagianya sampai-sampai meneteskan air mata haru. Betul-betul keberadaan Dhafin di tengah-tengah keluarga Felix Damian, ayahnya membawa berkah yang begitu banyak.


Keesokan harinya seluruh orang yang ada di kediaman Jenderal Felix mengadakan syukuran atas kehamilan Nyonya Carrisa.


Sedangkan Jenderal Felix yang baru tahu keesokan harinya kalau istrinya telah hamil, benar-benar seisi rumahnya itu memberikannya sebuah kejutan yang amat besar dan berharga baginya. Sungguh kebahagiaannya tidak bisa terlukiskan.


Terkhusus bagi Dhafin, dia tidak pernah berhenti mengucapkan terima kasih kepada anak ajaib itu. Semenjak hadirnya anak itu dalam kehidupannya, telah banyak mendatangkan anugrah kepadanya. Terkhusus anugrah seorang anak bakal diberikan langit kepadanya.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2