
Senja makin merangkak turun. Sinar mentari makin meredup, teriknya makin melemah.
Sementara Pertarungan antara Putri Arcelia bersama pelayannya melawan 3 lelaki yang sepertinya 3 utusan dari Kerajaan Lengkara masih terus berlangsung di halaman rumah kecil sang putri.
Untuk beberapa saat lamanya pertarungan masih berjalan seimbang. Pelayan Putri Arcelia melawan lelaki berbaju hijau. Sedangkan Putri Arcelia dikeroyok oleh Danish dan Agam.
Pada awal-awal pertarungan si pelayan tua masih dapat mengimbangi serang-serang lelaki baju hijau. Kehebatan jurus-jurus pedang yang dia punya patut diacungkan jempol.
Namun dia hanya bisa meladeni pertarungan lelaki baju hijau cuma sampai 15 jurus. Begitu pertarungan sudah menginjak jurus ke 16 pelayan tua sudah mulai terdesak.
Sementara sang junjungan, Putri Arcelia masih dapat meladeni pengeroyokan yang dilancarkan oleh kedua utusan Kerajaan Lengkara lainnya.
Pedang bermata satunya terayun lincah dan cepat, menangkis sekaligus menyerang kedua lawannya. Dan disembari gerakannya menebar aroma busuk yang hendak menanggalkan hidung.
Akan tetapi 2 utusan Kerajaan Lengkara itu seakan tidak terpengaruh dengan aroma tidak sedap itu. Mereka terus saja memainkan pedang masing-masing, menghantam sekaligus menangkis setiap serangan Putri Arcelia.
Sementara itu, pelayan Putri Arcelia semakin terdesak, bahkan pertarungan belum mencapai 20 jurus dia sudah terdesak hebat.
Ruang geraknya telah terkurung oleh serangan pedang lelaki baju hijau. Sedangkan pedang bermata tunggalnya sudah mati kutu. Tidak bisa lagi balas menyerang, malah lebih banyak menangkis serangan.
Hingga suatu ketika pedang lelaki baju hijau menghantam dengan keras pedang sang pelayan tua. Sehingga pedang pelayan tua terlontar ke samping kanan. Namun belum sampai terlepas dari genggaman telapak tangannya.
Traaang...!
"Akh!"
Terdengar pelayan tua meringis tertahan. Tangan kanannya kini terasa kaku dan kesemutan hebat.
Sedangkan lelaki baju hijau tidak sampai di situ saja gerakannya. Sembari menarik pedangnya, tubuhnya berputar cepat ke kanan sambil melayangkan kaki kirinya. Lalu kaki itu menendang dada pelayan tua.
Karena pelayan tua belum sempat menguasai dirinya, maka tendangan bertenaga dalam tinggi itu menghantam dadanya dengan keras, kuat, dan telak.
Dughk!
"Aaakh!"
Kontan saja pelayan tua langsung terjajar sekian langkah ke belakang sambil setengah memekik kesakitan.
Sedangkan lelaki baju hijau masih belum mau berhenti menyerang. Selagi tubuh pelayan tua terjajar, seketika telapak tangan kirinya yang terbuka lebar didorong dengan kuat dan cepat ke arah pelayan tua.
Zlaaap!
__ADS_1
Maka melesatlah selarik sinar hijau pekat dari telapak tangannya. Saking cepatnya lesatan sinar panas itu, membuat pelayan tua tidak bisa berkutik lagi. Sehingga sinar itu menghantam tubuhnya tanpa ampun.
Blaaarrr...!
Pelayan tua tidak sempat terlempar jauh, keburu tubuhnya hancur berantakan menjadi abu panas berwarna hijau. Menciptakan ledakan yang cukup keras.
"Bibi!" desis Putri Arcelia terkejut begitu mengetahui akan kematian pelayan tua yang begitu mengerikan.
Satu kejapan mata saja Putri Arcelia lengah dari pertarungan hampir membuat lehernya putus. Untuk saja dia cepat menghindari tebasan pedang Danish.
Tapi ujung pedang Agam sudah menanti punggung kirinya. Akan tetapi dengan gerakan indah dan cepat dia menghindari serangan maut itu. Lalu bersamaan dengan itu dia ayunkan pedangnya dengan cepat menangkis serangan lawan-lawannya.
★☆★☆
Kini Putri Arcelia dikeroyok oleh 3 utusan dari Kerajaan Lengkara.
Sebenarnya meskipun dikeroyok oleh ketiga lelaki bengis, Putri Arcelia masih dapat mengimbangi semua serangan mereka. Namun kematian pelayan setianya, jelas membuat perasaannya terganggu.
Perasaannya yang terganggu jelas mengganggu konsentrasinya dalam bertarung, membuat pola serangannya mulai kacau, membuat gerakannya tidak selincah dan secepat tadi. Sehingga sekarang Putri Arcelia mulai terdesak.
Ruang geraknya mulai dikurung oleh pedang 3 lawannya. Serangan-serangannya sudah mulai berkurang. Yang banyak dia lakukan sekarang cuma menangkis serangan.
Lama kelamaan dia sudah terdesak hebat. Yang dia lakukan sekarang bukan cuma menangkis serangan, melainkan dia mati-matian menyelamatkan selembar nyawanya.
Sedangkan dikeroyok 3 orang dia masih bisa mengimbangi serangan lawan-lawannya.
Namun karena dia bersedih akibat kematian pelayan setianya, membuat pertarungannya kacau.
Kini 3 buah pedang menekan pedang Putri Arcelia ke bawah. Lalu dengan cepat Agam dan lelaki baju hijau melayangkan tendangan kuat dan cepat yang langsung menghantam dadanya hingga dia terjajar ke belakang sambil menjerit tertahan.
Selagi Putri Arcelia terjajar ke belakang, seketika Danish mendorong telapak tangan kirinya ke depan dengan cepat dan kuat. Maka selarik sinar merah berhawa panas keluar dari telapak tangannya. Lalu meluncur dengan deras ke arah Putri Arcelia
Sedangkan Putri Arcelia sebenarnya masih belum dapat menguasai keseimbangan dan keadaan dirinya. Namun dia tetap memaksakan diri menangkis serangan maut berupa pukuran jarak jauh dari Danish.
Maka dengan berani Putri Arcelia mengangkat telapak tangan kirinya yang terbuka lebar menahan sinar merah yang hendak menghantam tubuhnya.
Begitu sinar merah itu mengenai telapak tangan Putri Arcelia, maka ledakan agak keras terdengar. Sedangkan Putri Arcelia jelas saja langsung terlontar ke belakang sambil menjerit keras.
Mulutnya yang menganga lebar memuntahkan darah kehitaman dan memuncrat ke udara. Sementara tubuhnya terus saja terlontar dengan deras. Kemudian tubuhnya jatuh di atas tanah berumput dengan keras.
Beberapa saat lamanya Putri Arcelia terdiam tak bergerak. Tapi tak lama, dia bergerak berusaha bangkit hendak berdiri. Namun dia hanya mampu bertopang pada kedua sikutnya.
__ADS_1
Sementara kondisi sekujur tubuhnya melemah seakan tak bertenaga. Dadanya amat sakit bagai dihimpit batu. Dan tak lama, topangan pada sikutnya lemah. Hingga akhirnya dia jatuh terkapar dan pingsan.
Tampak kulit kedua telapak tangannya yang tidak tertutup yang hampir dipenuhi luka setengah kering langsung berubah warna menjadi merah kehitaman. Dan semua luka yang tadi setengah kering kini benar-benar kering.
Sementara itu, 3 utusan dari Kerajaan Lengkara berkelebat cepat. Dan tahu-tahu sudah berada di dekat dengan Putri Arcelia yang masih tergeletak pingsan di atas tanah.
Danish bergerak melangkah hendak pergi ke samping kiri Putri Arcelia dengan maksud hendak menusukkan pedangnya ke dada Putri Arcelia.
Namun baru 3 langsung kakinya bergerak, seketika terdengar suara dari arah depan mereka.
"Sekali lagi kakimu melangkah, nyawamu akan cepat melayang!"
★☆★☆
Perkataan itu diucapkan dengan cukup pelan. Tapi terdengar cukup jelas, dengan nada begitu dingin begitu mengerikan. Namun yang berbicara tidak nampak sama sekali, padahal suaranya terdengar dari depan sana.
Untuk sejenak lamanya, ketiga utusan dari Kerajaan Lengkara melayangkan pandangannya ke segala arah mencari siapa yang berbicara.
Akan tetapi dengan sikap meremehkan Danish bergerak hendak melangkah lagi. Namun baru satu langkah kakinya bergerak, seketika muncul batang pedang bercahaya biru keputihan di samping lehernya sebelah kanan.
Dan pedang itu terus saja bergerak hingga tanpa ampun menebas leher Danish bagai menebas batang pisang.
Serangan aneh itu begitu tiba-tiba muncul. Pedang itu tiba-tiba bergerak menebas bagai digerakkan setan.
Sehingga Danish tidak sempat melakukan apa-apa. Tidak sempat tahu kalau ada orang yang menyerang. Tidak sempat tahu kalau ada serangan aneh. Maka tidak sempat menghindar sehingga lehernya tertebas.
Dia cuma sempat mendesah pelan. Setelah itu jatuh tersungkur ke depan dengan kepala menggelinding.
Tentu saja kejadian aneh yang tiba-tiba itu mengagetkan Agam dan lelaki baju hijau. Sehingga secara refleks mereka melenting ke belakang menjauh dari tempat kejadian aneh itu.
Dan belum juga keterkejutan mereka lenyap, tiba-tiba muncul sesosok pemuda berbaju biru langit di belakang waktu Danish tadi berdiri. Tampak pemuda itu masih berposisi bagai menebas leher Danish.
Hampir bersamaan, muncul lagi sesosok gadis bercadar dengan berpakaian serba putih di samping kanan Putri Arcelia. Lalu sosok bercadar yang ternyata adalah Putri Athalia duduk melutut di samping Putri Arcelia.
Kemudian dia merentangkan kedua tangannya di atas tubuh Putri Arcelia. Lalu tak lama keluar sinar kuning bening dari kedua telapak tangannya. Kemudian sinar itu membungkus sekujur tubuh Putri Arcelia.
Jelas tindakan Putri Athalia itu membuatkan bagi Putri Arcelia pengaman yang melindungi diri sang putri.
Sedangkan pemuda berpakaian biru yang tidak lain adalah Dhafin langsung berbalik menghadap ke arah utusan Kerajaan Lengkara yang tinggal dua.
Sementara pedang yang masih tergenggam di tangan kanan Dhafin dilepas begitu saja. Namun secara ajaib pedang itu langsung lenyap.
__ADS_1
Sejenak Dhafin menatap tajam kedua lelaki bertampang bengis itu. Putri Athalia yang tahu-tahu sudah ada di samping kiri Dhafin juga ikut-ikutan menatap
★☆★☆★