
Menyaksikan pasukannya hari demi hari semakin berkurang, membuat Bunda Suri Hellen sekarang merasa khawatir dan ketakutan.
Dia sudah membayangkan seramnya kekalahan yang akan dia terima yang akan berujung pada kematiannya.
Namun nenek cantik itu gengsinya selangit. Jelas dia tidak tunjukkan kerapuhannya itu kepada siapa pun, termasuk kepada adiknya, Pejabat Choman dan kepada putranya, Raja Ghanim.
Sedangkan si pengecut Pejabat Choman tidak bisa lagi menyembunyikan ketakutannya. Menurut perhitungannya mereka akan kalah dari pasukan Selir Heliana. Karena pasukan yang masih bertahan di istana tinggal sedikit.
Paling cuma sekitar 10.000 meskipun semuanya terdiri dari pasukan elit dan jawara elit. Sedangkan pasukan mereka yang bertempur tadi siang semuanya telah terbantai, tidak ada yang tersisa. Sementara pasukan Selir Heliana cuma segelintir saja yang gugur.
Dia sudah membayangkan kekalahan telak telah terbentang di depan matanya. Lebih lanjut lagi tentu kematian akan segera menjemputnya kalau dia tetap bertahan di istana.
Makanya dia menyarankan kepada Bunda Suri Hellen agar meninggalkan istana malam ini juga. Lebih tepatnya membujuk.
Sementara Raja Ghanim yang jelas mengkhawatirkan keselamatan bundanya menyetujui hal itu. Lebih jelasnya dia menyarankan agar bundanya beserta istri dan putri-putrinya meninggalkan istana malam ini juga melalui jalan rahasia.
Sedangkan dia bersama Pejabat Choman serta kedua putranya dan seluruh pasukan yang tersisa akan tetap mempertahankan istana sampai titik darah penghabisan.
Akan tetapi Bunda Suri Hellen berpendapat lain. Dia malah memerintahkan Raja Ghanim beserta kedua istrinya serta semua anaknya untuk meninggalkan istana. Biar dia dan Pejabat Choman serta sisa pasukan yang ada yang akan tetap bertahan di istana.
Pejabat Choman yang berwatak culas dan berotak licik jelas tidak menyetujui pendapat Raja Ghanim dan Bunda Suri Hellen itu. Pendapat mereka sama sekali tidak menguntungkan dirinya.
"Paman, di awal kali kita merebut kerajaan ini kamu begitu bersemangat sekali," sarkas Raja Ghanim seraya tersenyum sinis. "Tapi kenapa pada saat sekarang ini kamu menunjukkan kepengecutanmu?"
"Jaga bicaramu, Ghanim!" hardik Pejabat Choman jelas tersinggung.
"Sudah! Sekarang aku putuskan...."
Akhirnya Bunda Suri memutuskan bahwa dia, Pejabat Choman dan Raja Ghanim beserta sisa pasukan yang ada yang akan tetap bertahan di istana. Sedangkan Permaisuri Berliana dan Selir Riana beserta putra-putri Raja Ghanim yang meninggalkan istana.
Pejabat Choman masih tetap ngotot agar dia ikut dalam rombongan. Tapi Bunda Suri menolaknya dengan tegas. Dan mengancamnya akan membunuhnya kalau lelaki tua pengecut itu tetap membantah.
Akhirnya Pejabat Choman setuju juga dengan keputusan kakaknya itu meskipun amat terpaksa.
Sedangkan Raja Ghanim amat setuju dengan keputusan bundanya itu. Dia sudah memperkirakan kalau kematian sebentar lagi akan menjemputnya. Namun dia tidak ingin kalau kedua istri serta putra-putrinya ikut terbunuh juga.
Cukuplah istri keduanya yang mati terbunuh dan putra dari istrinya itu. Jangan ada lagi keturunannya yang mati.
Dia sudah sangat bersyukur Putri Evelyne dapat dia selamatkan. Di samping itu juga dia mendengar kabar kalau istri keempatnya yang paling dia cintai berserta putrinya telah diselamatkan oleh pasukan Selir Heliana.
Dia jadi lega sekarang. Meskipun dia mati dia tidak akan menyesal. Karena dia memang sudah bertekad ingin mati di tangan keturunan kakaknya yang sudah dia bunuh. Sebagai penebus akan dosanya di masa lalu.
Sebenarnya Pangeran Cullen menolak untuk meninggalkan istana. Tapi karena diancam oleh Bunda Suri dan juga dibujuk oleh ayahnya. Akhirnya dia mau juga ikut bersama rombongan ikut meninggalkan istana.
Sementara Pangeran Arzan tidak punya komentar apa-apa. Dia manut saja saat disuruh meninggalkan istana. Entah apa yang ada pikiran pangeran berpembawaan tenang itu?
Tidak lama kemudian, tanpa berlama-lama Permaisuri Berliana dan Selir Riana serta putra-putri mereka meninggalkan istana melalui terowongan rahasia. Mereka dikawal oleh 1.000 Pasukan Elit.
Dan tentu Pengawal Pribadi kedua pangeran ikut serta.
★☆★☆
Bagaimana dengan Pejabat Choman?
Dia menerima keputusan kakaknya bukan berarti dia tidak merencanakan sesuatu.
Selagi orang-orang sibuk mempersiapkan pasukan elit yang akan mengawal keluarga istana dalam menyelamatkan diri, Pejabat Choman langsung melarikan diri ke gerbang utara sebelah timur.
Dia tidak perduli lagi akan ancaman kakaknya yang akan membunuhnya jika dia bertingkah macam-macam. Yang ada dalam otak licik dan pengecutnya saat ini bagaimana menyelamatkan dirinya.
Perlu diketahui, Pejabat Choman tidak memiliki istri apalagi anak. Dia lebih senang menyalurkan nafsu setannya dengan jalur berzina atau memperkaos wanita ketimbang memiliki istri.
__ADS_1
Dia tidak suka terikat dengan aturan resmi pernikahan. Dia lebih senang bebas tanpa aturan apapun kalau hendak berhubungan dengan wanita. Kalau ada seorang wanita menuntut agar menikahinya langsung dibunuhnya. Sadis!
Dengan ilmu teleportasi Pejabat Choman dengan cepat hampir sampai ke gerbang timur. Dengan cepat dipacu kuda tunggangannya.
Begitu hampir sampai di pintu gerbang sebelah timur itu, hal pertama yang disaksikan ada pemandangan yang mengerikan. Ribuan mayat tergeletak di sekitar gerbang dan sudah menguarkan aroma bangkai yang amat busuk.
Tidak ada sama sekali rasa iba tergambar di wajah culasnya. Yang ada ekspresi dingin dan tatapan penuh kebencian.
Cuma sebentar dia menyaksikan fenomena mengerikan itu. Setelah itu kembali melajukan kudanya mendekati pintu gerbang. Begitu sampai dia segera turun dari kuda dengan cepat.
Ketika dia hendak membuka pintu gerbang, seketika dia terkejut bukan main. Pintu gerbang itu dilingkupi sinar bening warna merah ketika dia menyentuhnya.
Maka segera dia berkesimpulan kalau pintu gerbang timur itu telah disegel oleh mantra ghaib.
Setelah itu, tanpa mau berlama-lama berpikir dia segera melenting ke atas tembok gerbang. Meninggalkan kudanya di dekat pintu gerbang.
Begitu sudah berada di atas tembok, sejenak dia memperhatikan keadaan di luar gerbang. Tanpa mengamati keadaan gardu jaga, dia melenting turun ke bawah. Begitu sudah sampai di tanah dia langsung ngacir dengan ilmu lari cepatnya.
Ketika Pejabat Choman sudah memasuki pertengahan hutan, dia segera berhenti sejenak untuk mengatur napas tuanya. Namun begitu hendak melanjutkan pelariannya, seketika telinganya mendengar sebuah suara yang tenang namun jelas mengejeknya.
"Rupanya kamu sudah tidak sabar menghantar nyawamu lebih cepat, Pejabat Choman."
Bukan main terkejutnya Pejabat Choman mendengar suara yang begitu tiba-tiba itu di tengah rasa takut yang masih menghantui dirinya.
Dengan cepat dia menoleh ke depan agak ke samping kanan berjarak 4-5 tombak di mana suara itu tertangkap oleh telinganya. Ya, tanpa bersusah payah sepasang mata liciknya melihat orang yang telah mengatainya barusan.
Dia seorang pemuda tampan berambut panjang dikuncir dengan sebagian kecil anak rambut depannya sebelah kiri menjuntai di depan wajahnya. Berpakaian rangkap dan panjang dengan baju luar warna biru langit.
Sikap pemuda itu begitu santai. Tangannya bersedekap di dada. Sementara kedua kakinya begitu kokoh berdiri di dahan sebuah pohon besar. Sepasang matanya menatap santai ke arah Pejabat Choman yang menatapnya seperti melihat setan.
"Pangeran... Pusat...!" sebutnya dengan suara sedikit bergetar karena takut.
★☆★☆
Begitu mendengar Pejabat Choman menyebut namanya, Dhafin langsung turun dengan ringan ke tanah. Terus melangkah menuju ke Pejabat Choman dengan langkah ringan dan santai. Begitu sudah berjarak kira-kira 3 tombak di depannya, Dhafin berhenti.
Sedangkan Pejabat Choman masih diselimuti keterkejutan sekaligus keheranan sekaligus mulai dikuasai ketakutan.
Dia terkejut dan heran, bagaimana pemuda ini bisa tahu dia berada di sini?
Ya, bagaimana Dhafin bisa tahu Pejabat Choman ada di hutan ini?
Sebenarnya hal itu berasal dari informasi seorang ksatria elit yang menjaga gerbang timur. Dia melihat Pejabat Choman mendatangi gerbang timur. Maka tanpa banyak pikir, ksatria itu langsung melapor ke basecamp.
Maka diutuslah Pangeran Pusat untuk mencegat pelarian Pejabat Choman. Dan Dhafin tanpa banyak pikir segera berangkat. Dan dia tidak sulit melacak keberadaan sang pejabat karena dia menggunakan ilmu Pelacak Aura Sukma.
Sementara Pejabat Choman mulai dirasuki rasa takut karena pasti pemuda itu akan membunuhnya. Hatinya berterus terang kalau dia tidak sanggup menghadapi pemuda itu.
Bahkan dia menduga bahwa yang membunuh Komandan Perang adalah Pangeran Pusat ini. Sementara Komandan Perang lebih hebat daripada dia. Kalau dia memaksakan diri melawan Pangeran Pusat sama saja bunuh diri.
Maka otak liciknya mencari akal bagaimana agar dia bisa lolos dari pemuda yang amat dia benci ini.
"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa menemukan kamu di sini? Benar 'kan?" kata Dhafin dengan nada santai dan tenang.
Pejabat Choman tidak menanggapi. Dia hanya diam sambil terus menatap Dhafin dengan tajam. Berusaha menyembunyikan kegentarannya dan kepengecutannya.
"Olehnya itu, kamu sekarang sudah mulai dihantui rasa takut. Takut kalau aku membunuhmu. Karena kamu beranggapan Komandan Perang saja aku bisa binasakan, apalagi kamu. Benar tidak?"
"Olehnya itu, kamu sekarang mencari akal bagaimana bisa melarikan diri dariku...."
"Tapi aku ingatkan padamu, kamu tidak akan bisa melarikan diri lagi dariku sekarang."
__ADS_1
"Keparat! Bagaimana bisa anak ini mengetahui apa yang ada dalam pikiranku?" kata Pejabat Choman dalam hati dengan ekspresi keheranan.
"Kamu tidak perlu heran kenapa aku bisa tahu dalam otak kotormu itu. Karena aku memang orang yang hebat."
Amarah Pejabat Choman langsung meledak seketika. Keberanian untuk melawan Dhafin tiba-tiba muncul dalam dirinya.
"Kamu terlalu jumawa, Pangeran Pusat!" bentaknya dengan geram terselip keangkuhan. "Kamu belum tahu siapa aku!"
"Aku sudah tahu siapa kamu, Pejabat Choman," kata Dhafin masih santai tapi mengandung sarkas. "Kamu adalah seorang pengecut yang mencoba melarikan diri dari masalah."
Amarah Pejabat Choman tidak bisa terbendung lagi yang terus disulut oleh mulut berbisa Dhafin.
Dengan cepat direntangkan tangan kanannya ke depan. Tidak lama kemudian, tombak pusakanya telah tergenggam di tangan kanannya.
Dhafin yang melihat itu tidak mau menganggap remeh. Meski secara hitung-hitungan dia bisa mengalahkan Pejabat Choman, tapi dia tidak boleh menyepelekan senjata pusaka orang tua itu.
Maka dia juga langsung memanggil pedang pusakanya, Pedang Akhirat yang memancarkan sinar putih-biru.
Sedangkan Pejabat Choman, seolah tidak mau menunggu lama, dia langsung menyerang Dhafin dengan brutal. Pada gebrakan pertama saja dia langsung menggunakan jurus tombaknya yang handal.
Sementara Dhafin meladeni serangan ganas sang pejabat dengan tenang, tapi bukan santai. Dia tahu sampai di mana kehebatan Pejabat Choman. Dhafin tidak boleh meremehkan lelaki tua itu dalam meladeninya.
★☆★☆
Sudah sekian jurus berlangsung belum juga ada satu pun serangan mematikan Pejabat Choman membelai tubuh Pangeran Pusat.
Sementara Dhafin sendiri, sampai sejauh ini masih saja mengikuti ritme dan pola serangan Pejabat Choman. Setiap serangan yang dilancarkan sang pejabat, Dhafin cuma menangkisnya saja. Tanpa balas menyerang.
Siapa sangkan metode bertarung bertujuan untuk mencari kelemahan setiap jurus Pejabat Choman.
Entah Pejabat Choman menyadari atau tidak, lagi pula dia sudah dikuasai amarah yang meluap, dia terus saja menggempur Dhafin dengan ganas brutal tak kenal henti.
Namun saat Dhafin telah mengetahui semua kelemahan dari semua jurus tombak Pejabat Choman keadaan langsung berubah secara drastis. Dan langsung membuat pejabat tua itu tercengang bukan main.
Dhafin melakukan gebrakan yang tepat sekaligus hebat. Membuat Pejabat Choman langsung terdesak hebat.
Dengan dahsyat Dhafin melancarkan sebuah serangan yang membuat tombak pusaka pejabat itu itu bukan saja patah, tapi seketika hancur berantakan. Saking kuatnya hantaman pedang yang dilancarkan oleh Dhafin.
Menerima serangan hebat itu Pejabat Choman hanya bisa makin terperangah, dan sekarang makin ketakutan. Keberaniannya langsung lenyap bagai dijambret setan.
Selanjutnya dia tidak bisa lagi melakukan apa-apa. Tidak bisa menghindar saat Dhafin menebas kedua tangannya hingga putus. Tidak bisa menghindar saat pedang Dhafin mengoyak parah beberapa bagian di tubuhnya.
Termasuk tidak bisa menghindar saat pedang Dhafin memutus kedua urat lututnya hingga dia terjatuh ke tanah berumput dengan menyedihkan. Dia cuma bisa menjerit-jerit kesakitan di tengah ketakutannya.
Darah segar terus mengucur di kedua kutungan tangannya dan di beberapa tubuhnya yang robek parah.
Pandangan matanya yang tadi garang, kini berubah kuyu menyedihkan. Dia sudah membayangkan kematian sadis yang akan dia dapatkan.
Setelah memulangkan Pedang Akhirat, Dhafin mendekati Pejabat Choman. Lalu duduk berjongkok di samping kiri sang pejabat tua yang malang.
Menyadari Dhafin yang sudah berada di sampingnya, sang pejabat langsung meratap memohon pengampunan pemuda itu sambil menangis bagai anak kecil.
Tapi Dhafin tidak memperdulikan ratapan palsu Pejabat Choman. Dia segera melakukan ritual untuk mengorek keterangan penting dari pejabat itu.
Setelah mendapat beberapa keterangan penting, termasuk informasi pengevakuasian keluarga Raja Ghanim, Dhafin laly meninggalkan Pejabat Choman begitu saja, dalam keadaan sang pejabat matipun tidak hidup pun tidak diharapkan.
Tinggallah Pejabat Choman berteriak-teriak minta tolong. Akibat dari teriakan-teriakannya itu, maka berdatanganlah beberapa hewan buas. Dan tanpa minta permisi langsung menyantap tubuh Pejabat Choman yang menjerit-jerit karena kesakitan sekaligus ketakutan.
Hingga akhirnya suaranya sudah tidak terdengar lagi karena tubuhnya sudah dikoyak-koyak oleh 8 serigala liar itu. Yang terdengar hanyalah suara geraman 8 serigala yang terus menyantap rakus tubuh Pejabat Choman yang terbilang gemuk itu.
★☆★☆★
__ADS_1