Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 130 PEJABAT CHOMAN MENGACAU DI KEDIAMAN SELIR ASHANA


__ADS_3

Kalaulah tidak melihat Dhafin secara seksama, mungkin Raja Ghanim menganggap pemuda di depannya itu adalah Pangeran Ghazam Aldari, kakak seayahnya.


Untuk beberapa saat lamanya dia menatap Dhafin tanpa berkedip. Sedangkan Dhafin menatap pembunuh ayahnya itu dengan tatapan dingin dan datar.


Sekuat tenaga dia mengunci dendamnya yang hendak memberontak keluar agar tidak meledak. Kalau tidak ingat kemuliaan Selir Ashana yang berhati baik itu, ingin rasanya dia menghantam lelaki itu dengan pukulan terhebatnya.


Jaraknya dengan Raja Ghanim cuma 4 langkah. Dia bisa memperkirakan dengan sekali pukul Raja Ghanim pasti akan mati.


Dia tinggal memilih saja ilmu kesaktiannya yang terhebat, apakah Telapak Beku, Pukulan Matahari, ataukah Bulan Merah. Kalau dia gunakan salah dari ilmu itu dengan tingkat tinggi, dia yakin Raja Ghanim langsung modar.


Namun dia masih berpikir panjang untuk membunuh pembunuh itu lebih cepat. Akhirnya dia hanya bisa mengelus-elus dendamnya agar tetap jinak.


Sedangkan Putri Lavina tidak lagi berada di samping Dhafin. Dia kini tengah berdiri di samping Pelayan Galina yang agak jauh dengan Raja Ghanim.


Sebenarnya dia heran juga melihat ayahandanya bersikap seolah mengenal Dhafin. Padahal antara mereka berdua baru kali ini bertemu. Tapi dia tidak terlalu menghiraukan.


Sikap Dhafin yang tidak menyembah hormat kepada ayahandanya dia tidak perduli. Dia juga masih kesal dengan ayahandanya itu yang demi menuruti perintah Bunda Suri, rela tidak menghiraukan ibunya.


Hatinya tambah kesal dan dongkol mana kala bundanya menerima begitu saja perlakuan ayahandanya dan memaafkannya. Bahkan merasa saling menyayangi seolah tidak terjadi apa-apa.


Saat ini sebenarnya dia ingin marah. Tapi mau marah kepada siapa?


Sementara seluruh pasukan Raja Ghanim, melihat sikap Dhafin yang tidak berlutut menyembah hormat kepada junjungan mereka, hendak bertindak terhadap Dhafin. Namun aksi merasa segera ditahan oleh Jenderal Kenzie.


"Jangan ada seorang pun di antara kalian yang mengganggu urusan Yang Mulia dengan pemuda itu," kata Jenderal Kenzie bernada dingin.


"Tapi, Tuan Jenderal...." kata salah seorang yang dekat dengan Jenderal Kenzie.


"Apakah perlu aku bicara 2x?" kata Jenderal Kenzie lagi langsung memotong ucapan orang itu bernada makin dingin.


Prajurit itu langsung bungkam. Dan yang lain juga tidak ada yang berani bertindak lagi, apalagi berbicara.


Sedangkan Guru Zeroun cuma melirik Jenderal Kenzie yang memperingatkan pasukan istana, kemudian beralih memandang Raja Ghanim dan Dhafin yang saling berhadapan.


Dia seperti melihat sesuatu yang hendak dilampiaskan kepada Raja Ghanim, tapi pemuda itu menahannya. Lalu dia melangkah mendekat ke belakang sang raja.


Sementara itu, Jenderal Elaina datang menghampiri suaminya. Lalu meminta maaf padanya karena semalam tidak pulang lantaran menemani Selir Ashana menjalani proses pengobatan.


Suami yang baik hati itu dapat memaklumi tugas istrinya. Dan dia juga terkadang tidak pulang atau tidak berjumpa dengan istrinya karena tugas. Begitulah resiko yang mereka hadapi selama menjadi Pengawal Pribadi.


Lalu Jenderal Elaina memberitahukan kalau Jessica, putri mereka masih hidup dan dalam keadaan sehat-sehat saja.


Terang saja Jenderal Kenzie terkejut sekaligus gembira mendengar hal itu. Tapi mereka berhenti mengobrol dulu karena Raja Ghanim terlibat pembicaraan dengan Dhafin.


★☆★☆


"Kenapa Yang Mulia memanggil Nak Dhafin dengan nama Kanda Ghazam?" tanya Selir Ashana heran.


"Wajah pemuda ini mirip dengan Kanda Ghazam," sahut Raja Ghanim bernada duka. "Matanya mirip dengan Ayahanda Yang Mulia."


Selir Ashana kembali menatap Dhafin. Seolah ingin menilai apakah Dhafin mirip dengan Pangeran Ghazam atau tidak.


Tapi dia tidak punya gambaran bagaimana rupa Pangeran Ghazam. Jadi, jelas tidak tahu tentang kemiripan Dhafin dengan Pangeran Ghazam.

__ADS_1


"Siapa namamu, Anak Muda?" tanya Raja Ghanim dengan ramah.


"Maaf, Yang Mulia, sepertinya Yang Mulia Selir sudah menyebutnya tadi," sahut Dhafin.


Meski nada suaranya terdengar datar tapi Dhafin tidak melepas sikap tenang dan santunnya.


Putri Lavina yang melihat sikap Dhafin seolah tidak hormat kepada ayahandanya tampak tersenyum senang. Sedangkan Pelayan Galina menatap takut sekaligus kasihan terhadap Dhafin.


Sementara Pasukan Raja Ghanim makin geram bercampur dongkol melihat sikap Dhafin yang semakin tidak sopan. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu perintah.


Sedangkan Guru Zeroun masih tetap diam di belakang Raja Ghanim. Tapi dia terus mengamati keadaan Dhafin.


Sementara Jenderal Elaina yang hendak menegur Dhafin secara halus ditahan oleh suaminya dan memberitahukan agar tidak usah mengurus sikap Dhafin.


Sedangkan Selir Ashana tidak terlalu memusingkan sikap Dhafin yang tidak menyembah hormat kepada suaminya. Dia memaklumi sikap Dhafin sebagai pengembara yang tidak dituntut mengikuti aturan tata krama istana.


"Apa benar namamu Dhafin?" kata Raja Ghanim menyelidik. "Bukan Pangeran Ghavin Aldebaran?"


"Nama hamba memang Dhafin, Yang Mulia, Dhafin Damian," sahut Dhafin menegaskan meski dia bohong. "Tidak ada nama lain."


"Tapi wajahmu mirip dengan Pangeran Ghazam, kakakku," kata Raja Ghanim masih ngotot. "Dan putranya dia namakan Pangeran Ghavin Aldebaran."


"Kalau begitu apa yang hendak Yang Mulia lakukan jika hamba seperti yang Yang Mulia duga?" tanya Dhafin ingin tahu.


"Aku akan menyerahkan tahta Kerajaan Bentala kepadamu," kata Raja Ghanim bersungguh-sungguh. "Karena kamu yang lebih berhak sekarang."


"Tapi sayang, hamba bukan seperti yang Yang Mulia duga," Dhafin masih pada pendiriannya. "Jadi hamba tidak berhak atas tahta kerajaan."


"Tapi kenapa aku merasa kalau kamu adalah Pangeran Agung?"


"Apa itu?"


"Sebenarnya amat berbahaya apa yang Yang Mulia lakukan ini," kata Dhafin mulai mengsugesti. "Menduga seseorang mirip dengan keluarga Yang Mulia tanpa mengumpulkan semua bukti yang ada...."


"Cuma bermodalkan seseorang itu mirip dengan salah satu keluarga Yang Mulia tidaklah cukup kalau dia itu seperti yang Yang Mulia duga, bahkan amat berbahaya."


"Bagaimana kalau misalkan orang lain yang juga mirip dengan Pangeran Ghazam. Maka amat berbahaya kalau dia langsung mengiyakan dugaan Yang Mulia tanpa Yang Mulia mengumpulkan semua bukti yang menguatkan dugaan Yang Mulia."


Semua yang mendengar penjelasan analisa Dhafin percaya akan semua yang dikatakan Dhafin.


Kecuali Guru Zeroun. Dia malah merasa yakin kalau Dhafin adalah Pangeran Ghavin Aldebaran. Hanya saja Dhafin tidak mau mengakui terus terang dengan alasan tertentu.


"Apa yang dikatakan Nak Dhafin itu benar, Yang Mulia," kata Selir Ashana seakan mendukung Dhafin. "Hati-hati, jangan sampai salah menduga."


Baru saja Raja Ghanim hendak berkata lagi, tiba-tiba terdengar suara ledakan cukup dahsyat dari arah pintu gerbang.


Terang saja semua orang yang mendengar ledakan itu amat terkejut bukan main. Maka serta merta semua orang memandang ke pintu gerbang....


★☆★☆


Blaaar....!


Terdengar suara ledakan yang cukup dahsyat. Bersamaan pintu gerbang yang tadi tertutup rapat, seketika hancur berantakan.

__ADS_1


Setelah pintu gerbang dibuka dengan kasar seperti itu dan puing-puingnya berserakan di mana-mana, tampak satu rombongan kuda yang dipimpin oleh Pejabat Choman langsung masuk ke halaman kediaman Selir Ashana.


Kelakuan pejabat cabul itu seperti perampok saja yang hendak merampok salah sorang rumah penduduk. Dia dan rombongannya datang tanpa diundang, terus berbuat onar seenak udel.


Tanpa ada rasa hormat sedikit pun kalau yang dia masuki secara kasar adalah kediaman istri penguasa. Sikap yang ditunjukkan Pejabat Choman itu jelas amat meremehkan kedudukan Raja Ghanim maupun Selir Ashana.


Terang saja kedatangan Pejabat Choman dan rombongan, atau lebih tepatnya pasukan istana mengagetkan Raja Ghanim dan anak-istrinya, Guru Zeroun, serta sepasang Pengawal Pribadi. Tak terkecuali Pelayan Galina.


Sampai-sampai Selir Ashana merangkul tangan Raja Ghanim karena merasa ketakutan.


Sedangkan Dhafin tampak begitu tenang dan santai akan kedatangan rombongan itu. Sama sekali dia tidak merasa gentar dengan kebrutalan mereka.


Sementara semua pasukan Raja Ghanim, begitu melihat kedatangan rombongan Pejabat Choman yang tidak bersahabat, mereka langsung mengambil posisi melindungi Raja Ghanim dan Selir Ashana.


Sedangkan 2 Pengawal Pribadi dan Guru Zeroun juga berposisi melindungi junjungan mereka.


Sementara itu, tampak Putri Lavina segera menghampiri Dhafin. Terus membisikkan kalau orang tua berwajah culas lagi cabul itu bernama Pejabat Choman.


Dhafin tampak manggut-manggut setelah mendengar informasi dari Putri Lavina. Maka dia langsung menatap lelaki tua berambut kelabu itu dalam-dalam.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Paman?" tanya Raja Ghanim bernada dingin begitu Pejabat Choman dan 4 pengawalnya sudah berada sekitar 3 tombak lebih di hadapannya.


Pejabat Choman tidak lantas menjawab pertanyaan Raja Ghanim. Sejenak dia tersenyum menyeringai melihat Selir Ashana yang tetap memakai cadar. Kemudian dia beralih menatap orang-orang yang berada di sekitar Raja Ghanim.


Terakhir menatap Dhafin dengan seksama. Baru beberapa kejap menatap, dia segera menduga kalau Dhafin itu adalah putra Pangeran Ghazam, sama seperti dugaan Raja Ghanim.


Sedangkan Dhafin juga menatapnya dengan tajam penuh dendam. Lalu Dhafin beralih menatap satu persatu 4 pengawal lelaki bejat itu.


Belum lama dia memperhatikan 4 pengawal itu, seketika dia teringat akan 4 dari 5 orang yang telah membantai bibinya 15 tahun yang lalu.


Api dendam dalam diri Dhafin semakin berkobar begitu melihat 4 pembunuh bibinya itu. Saat ini juga dia bertekad akan menghabisi mereka.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Paman!" kata Raja Ghanim makin dingin nada suaranya. "Mau apa kamu ke mari dengan berbuat onar?"


"Aku ingin menangkap seorang pengacau, Yang Mulia," kilah Pejabat Choman sambil tersenyum meremehkan.


"Bukankah pengacau itu adalah kamu sendiri?" kata Raja Ghanim seraya tersenyum sinis. "Kamu datang di sini seperti perampok."


"Aku melihat kamu sudah berani bersuara, Yang Mulia," kata Pejabat Choman seolah menegur. "Apa karena ada Guru Zeroun di sini dan pemuda malang itu?"


Sambil berkata dia menunjuk Dhafin yang berdiri tenang. Tidak terpengaruh sikap melecehkan lelaki tua itu.


Sementara Guru Zeroun yang sempat disinggung namanya diam saja. Tapi kewaspadaannya tetap terpasang.


"Tidak usah mengalihkan pembicaraan, Paman! Jawab saja pertanyaanku tapi!"


"Bukankah kamu diperintahkan menangkap bocah itu, Yang Mulia?" kata Pejabat Choman bernada sinis dan tajam. "Kenapa sekarang malah seperti kamu melindunginya."


"Aku melihat anak ini tidak punya salah apa-apa, Paman," kata Raja Ghanim seolah membela Dhafin. "Kenapa harus ditangkap?"


"Sebaiknya kamu cepat pulang ke istana, Yang Mulia," kata Pejabat Choman seolah mengatur Raja Ghanim. "Biar aku menangkap bocah itu...."


"Sekaligus juga menangkap Selir Ashana karena telah menampung pengacau di kediamannya."

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2