Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 43 ARIESHA DAN GRANIA MENJADI SISWI AKADEMI MILITER


__ADS_3

Hari ke lima acara penerimaan calon siswa akademi tahap ke dua....


Pertarungan putaran pertama hari ke empat ini sudah dimulai. Tampak Grania sudah bersiap-siap melakukan pertarungan. Sikap tubuhnya sudah membentuk kuda-kuda yang mantap.


Sementara Ariesha dan 2 teman lainnya tampak menonton di luar arena pertarungan. Mereka amat berharap agar Grania bisa memenangkan pertarungan.


Lawannya kali ini boleh dibilang lawan yang tangguh dari peserta satu regunya. Posisi nilai sama dengannya. Dan juga sang lawan sudah memenangkan 2x pertarungan kemarin. Bahkan dia mengalahkan lawan-lawannya cuma satu jurus. Hebat!


Grania harus bekerja ekstra kalau mau mengalahkan lawan tangguhnya ini.


Hakim juri atau hakim wasit sudah memberi aba-aba pertanda pertarungan dimulai.


Sang lawan yang berusia 10 tahun tampak bergerak maju dengan cepat menyerang. Sedangkan Grania tidak mau menanti serangan datang, melainkan ikut maju menyerang pula dengan gerakan cepat.


Saling serang terjadi di antara mereka di jurus pertama ini. Pukulan dan tendangan silih berganti masing-masing mereka lancarkan dengan cepat. Dan ditangkis oleh lawan dengan tidak kalah cepat pula.


Begitu seterusnya hingga jurus pertama usai. Dua petarung itu berimbang di jurus pertama ini.


Melangkah jurus kedua masih sama. Keadaan masih berimbang. Serangan pukulan maupun tendangan masing-masing mereka masih dapat ditangkis oleh lawan dengan mantap.


Begitu menginjak pada jurus ke tiga Grania mengubah jurusnya dan pola serangan. Kali ini Grania mengerahkan jurus andalannya di mana jurus ini belum digunakan pada pertarungan sebelumnya.


Sedangkan lawan pada jurus ke tiga ini cuma mengubah pola serangan. Jurusnya tetap sama seperti pada pertarungan jurus ke dua. Entah sudah kehabisan jurus atau masih menyimpan jurus pamungkasnya.


Di awal-awal pertarungan jurus ke tiga masih berimbang antara Grania dan lawannya. Namun begitu sudah mencapai pertengahan jurus mulai tampak lawan kalah dalam permainan jurus.


Pola serangan lawan lumayan hebat. Tapi pola serangan Grania tidak kalah hebat pula. Ditunjang dengan jurusnya yang hebat pula. Karena itu adalah jurus pamungkas.


Sebentar lagi jurus ke tiga akan berakhir....


Grania terus menyerang tanpa kenal ampun. Sedangkan lawannya kini hanya mampu menangkis serangan. Tidak ada kesempatan untuk menyerang dan tidak diberi kesempatan.


Kepalan kanan Grania menghantam wajah lawan. Tapi dengan cepat lawan mengangkat tangan kiri menangkis serangan meski tangannya mulai kesemutan.


Hampir bersamaan kepalan kiri Grania menghantam dada lawan. Namun lawan masih bisa menangkis meski agak kelabakan.


Hampir bersamaan pula tendangan kaki kanan Grania menyabet rusuk kiri lawan dengan cepat dan telak. Dan lawan tidak bisa lagi menangkis karena dia sudah mati langkah.


Tangan kirinya masih berada di atas dan masih kesemutan. Mana bisa dia melakukan penangkisan dengan keadaan demikian. Apalagi tendangan itu begitu cepat datangnya. Dia hanya mampu meringis kesakitan.


Baru saja kaki kanan Grania turun, kaki kiri naik melayang dengan cepat menendang samping kanan kepala lawan. Tapi lawan berusaha keras untuk menangkis. Apalagi tangan kanannya masih berada di atas.


Namun dia kecele. Karena tiba-tiba kaki kiri Grania berhenti. Terus ditekuk dan langsung menohok dada lawan tanpa dapat dicegah. Karena pertahanannya sudah terbuka bebas.


Lawan terjajar 4 langkah ke belakang sambil kembali meringis kesakitan.


★☆★☆


Rupanya Grania tidak mau memberi kesempatan bagi lawan untuk mengambil napas. Seketika dia bergerak cepat mengejar lawan yang masih terjajar.


Begitu sudah berada dalam jangkauan serangan, Grania langsung melayangkan pukulan beruntun ke tubuh lawan dengan keras, kuat dan telak.


Terakhir Grania mengirimkan tendangan melayang terputar dan langsung menghantam samping kanan kepala lawan hingga bukan lagi terjajar, melainkan langsung jatuh terpelanting ke lantai matras.


Sejenak sang lawan tidak bergerak. Tapi tak lama, tubuhnya bergerak hendak bangkit. Namun dia hanya mampu bangkit terduduk. Kondisi tubuhnya masih lemah.


Lalu dia hendak bangkit lagi. Mungkin maksudnya hendak melakukan perlawanan lagi. Namun hakim juri dan wasit sudah menyatakan dia kalah meski dia protes.


"Aku masih sanggup untuk bertarung," katanya memaksakan diri.


"Maaf, Nona," kata Hakim Juri penuh bijaksana. "Nona sudah kalah dengan telak. Kondisi nona tidak bisa lagi melanjutkan pertarungan."


Terpaksa dia keluar arena dengan dibopong oleh petugas.


Meninggalkan arena saja harus dibopong. Bagaimana dia mau memaksakan diri hendak bertarung lagi?


Akhirnya hakim juri menyatakan Grania sebagai pemenang pertama di regunya. Dan lawannya tadi sebagai pemenang ke dua. Karena dia baru 1x kalah dalam 3x bertarung.

__ADS_1


Begitu Grania keluar arena, Ariesha dan 2 teman lainnya menyambutnya terus memeluknya sebagai luapan rasa gembira atas kemenangan Grania.


Tidak lama kemudian, putaran ke dua hari ke empat telah dimulai.


Ariesha sudah bersiap-siap melakukan pertarungan dengan lawannya yang waktu tahap pertama tidak lulus dalam tes memanah.


Lawannya ini juga sudah bertarung 2x kemarin. Namun dari pertarungannya itu dia belum memperoleh kemenangan sama sekali. Sedangkan Ariesha sudah memperoleh kemenangan 2x kemarin.


Jadi, secara tertulis atau menurut data penilaian, lawan Ariesha tidak tergolong hebat. Sedangkan menurut catatan Ariesha sudah mengalahkan salah satu peserta tangguh dalam regunya.


Hakim wasit sudah menyerukan aba-aba pertanda pertarungan segera dimulai.


Sang lawan mengambil inisiatif menyerang duluan. Dengan cepat dia melesat ke arah Ariesha yang sepertinya menanti serangan.


Begitu sudah dalam jangkauan serangan, sang lawan langsung melancarkan serangan secara bertubi-tubi. Maksudnya berbuat demikian agar Ariesha tidak punya kesempatan balas menyerang.


Dan pula dia langsung mengerahkan jurus terhebatnya. Dengan maksud bisa mengalahkan Ariesha di jurus pertama ini.


Niatnya bagus, tapi tidak ditunjang dengan kehebatan yang bagus.


Setengah jurus lebih Ariesha membiarkan lawannya menggila terhadapnya. Dan itu sudah cukup bagi Ariesha merasakan keganasan serangan lawan yang tidak seberapa.


Maka pada gebrakan selanjutnya Ariesha mulai balas menyerang. Dan sang lawan mulai kacau serangannya saat Ariesha melakukan perlawanan.


Sehingga belum lama Ariesha balas menyerang, lawan sudah tampak terdesak. Dan di penghujung jurus pertama lawan sudah terdesak hebat.


Begitu memasuki jurus ke dua dan belum lama pertarungan berlangsung, sang lawan sudah beberapa kali menerima pukulan dan tendangan Ariesha.


Dan terakhir Ariesha langsung menghantamkan dua telapak tangannya sekaligus ke dada lawan dengan telak, keras, dan kuat. Membuat lawan terlempar ke belakang satu tombak lebih sambil menjerit tertahan.


Begitu jatuh terkapar di lantai matras, sang lawan tidak bisa bangkit lagi. Bahkan bergerak pun susah. Dengan terpaksa dia digendong keluar arena.


Dan sesuai prediksi Ariesha yang memenangkan pertarungan. Dan kemenangan tersebut merupakan kemenangan yang ke tiga dalam 3x bertanding.


Usaha memang tidak akan menyia-nyiakan hasil.


★☆★☆


Kenapa dikatakan amat mendebarkan? Karena lawan kali ini merupakan lawan yang paling tangguh di dalam satu regunya.


Dari awal hingga hari ini posisi nilai dan prestasi lawannya sama dengan dirinya. Dia juga tadi mengalahkan lawan tangguh yang Ariesha kalahkan kemarin. Dan juga hingga jurus ke tiga, sama dengan Ariesha kemarin mengalahkannya.


Jadi, secara data kekuatan, kehebatan antara Ariesha dengan lawannya kali ini bisa dikategorikan berimbang. Hal ini menurut penilaian salah satu anak teman Ariesha yang selalu menyaksikan pertarungan Ariesha.


Tapi menurut penilaian Grania, Ariesha tetap lebih hebat dari lawannya. Apa alasannya sehingga Grania berani memprediksi demikian?


Dia menjelaskan bahwa menurut informasi lawan Ariesha sudah belajar ilmu beladiri sejak usia 8 tahun. Sekarang usia lawan Ariesha sudah 10 tahun. Berarti sudah 2 tahun dia belajar beladiri. Tentunya belajar tenaga dalam juga.


Sedangkan lawan tangguh yang satunya yang usianya tidak jauh beda dengan Ariesha baru setahun belajar ilmu beladiri.


Seharusnya, dengan lamanya belajar beladiri selama 2 tahun itu, lawan Ariesha bisa mengalahkan lawan tangguh yang satunya dengan cepat. Paling maksimal sampai 2 jurus.


Tapi dia baru bisa mengalahkan lawan yang cuma belajar beladiri baru setahun sampai 3 jurus lamanya. Sama dengan pencapaian Ariesha yang mengalahkan lawan tersebut.


Padahal Ariesha belajar ilmu beladiri baru setengah tahun. Namun dia mampu mengalahkan lawan yang sudah belajar setahu.


Itu cuma penilaian atau prediksi dua anak kecil itu. Adapun bagaimana kenyataannya nanti, takdir langit yang menentukan. Siapa yang menang atau siapa yang kalah bisa saja tidak sesuai prediksi.


Tampak hakim wasit sudah menyerukan aba-aba. Pertarungan antara Ariesha dengan sang lawan tangguh segera dimulai.


Seakan tidak ada yang mau menanti datangnya serangan, Ariesha maupun lawannya sama-sama melesat maju dengan cepat ke depan saling melancarkan serangan.


Pukulan dan tendangan silih berganti mereka lesatkan antara satu sama lain. Ritme pertarungan lumayan cepat. Sedikit saja di antara mereka terlambat menangkis, dipastikan akan terkena pukulan atau tendangan.


Silih berganti melakukan serangan dan tangkisan bukan suatu hal yang mudah. Namun kedua anak itu dapat melakukan hal tersebut. Menandakan permainan jurus mereka yang lincah tidak bisa dianggap remeh.


Dengan cepat sang lawan menyodor telapak tangan kirinya ke dada Ariesha. Namun dengan cepat pula Ariesha menggeser kaki kanan ke samping seraya memiringkan tubuhnya.

__ADS_1


Menyusul tangan kirinya terangkat naik menangkis serangan itu. Hampir bersamaan kepalan kanan bergerak cepat menghantam ke arah rusuk kiri sang lawan.


Namun dengan cepat pula sang lawan menggeser kaki kiri ke belakang, sehingga posisi badannya agak serong. Hampir bersamaan telapak tangan kanannya bergerak cepat ke kiri menghalau serangan.


Terus saja di antara mereka saling serang dan saling tangkis. Hingga jurus pertama usai mereka masih saling serang dan hampir bersamaan saling tangkis.


Di penghujung jurus pertama kedua telapak tangan mereka bertemu pada satu titik pertengahan. Karena tidak ada tenaga sakti yang keluar, karena mereka belum punya, bertemunya dua serangan itu tidak menimbulkan ledakan.


Namun, akibat dari hal itu mereka sama-sama terdorong tiga langkah ke belakang. Tenaga dalam mereka berimbang pada jurus pertama ini.


★☆★☆


Melangkah jurus ke dua masing-masing mereka merubah pola serangan dan merubah jurus pula. Tenaga dalam ditingkatkan dan ritme serangan tambah dipercepat.


Tiga orang hakim juri yang menjadi penilai penampilan mereka tampak mengangguk-anggukan kepala pertanda mereka kagum akan pertarungan dua anak kecil itu.


Hingga suatu adegan di pertengahan jurus ke dua....


Serangan masing-masing kedua anak itu datang silih berganti seolah tiada henti. Dan mereka saling berebut kecepatan siapa yang lebih dahulu memasukan serangan.


Entah bagaimana awalnya, dikarenakan gerakan mereka begitu cepat, telapak tangan kanan masing-masing mereka menghantam dada kiri mereka masing-masing.


Serangan itu demikian cepat, telak, dan kuat. Berisi tenaga dalam tinggi. Sehingga mereka sama-sama terdorong kebelakang. Ariesha 3 langkah. Sedangkan lawannya 4 langkah.


Dari kejadian ini sudah bisa diukur, siapa yang paling tinggi tenaga dalamnya.


Ariesha yang cuma merasakan sedikit sesak di rongga dadanya kembali melesat ke depan melancarkan serangan.


Sedangkan sang lawan, sebenarnya sudah mulai terganggu atas serangan telak Ariesha itu. Tapi dia tidak sempat menetralkan kondisi, karena harus meladeni serangan Ariesha lagi.


Pertarungan terus berlangsung semakin seru. Tanpa terasa jurus ke dua telah usai. Namun pola serangan sang lawan sudah mulai terganggu.


Pertarungan memasuki jurus ke tiga....


Pola serangan dirubah. Berikut pula dengan jurus dirubah. Namun siapakah yang menambah ritme serangan dan meningkatkan tenaga dalam?


Dan ternyata....


Suatu adegan yang tidak disangka-sangka di pertengahan jurus. Tendangan kaki kanan Ariesha melayang dengan kecepatan tinggi menyabet samping kiri kepala lawannya.


Tendangan keras itu memang berhasil ditangkis tapi sedikit terlambat. Sehingga masih juga mengena samping kepala sang lawan meski tidak telak. Tapi cuma mengganggu konsentrasinya.


Sehingga serangan berikut Ariesha tidak mampu lagi ditangkisnya.


Kaki kanan Ariesha yang masih di udara dengan cepat dilukkan, lalu ditohokkan ke dada sang lawan dengan telak. Sehingga lawan terjajar 4 langkah ke belakang.


Melihat lawan yang sudah mulai kewalahan Ariesha tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan cepat dia mengejar lawan. Langsung mengirimkan pukulan dan tendangan secara beruntun.


Hingga 5x serangan lawan masih mampu menangkis berturut-turut. Tapi serangan berikutnya lebih banyak serangan Ariesha bersarang di tubuhnya ketimbang dia tangkis.


Hingga suatu ketika Ariesha melentingkan sedikit tubuhnya ke udara seraya berputar. Menyusul kaki kanannya melayang ke depan dan terus menghantam dengan keras, kuat, dan telak dada lawannya.


Dughk!


"Aaakh!"


Begitu kuatnya tendangan memukau itu bersarang di dada lawan, sehingga membuatnya terlempar ke belakang satu tombak sambil menjerit tertahan.


Kemudian jatuh bergedebuk ke lantai matras tanpa ampun.


Seorang teman Ariesha yang menyaksikan kekalahan lawan Ariesha itu belum habis pikir, bagaimana bisa Ariesha mengalahkan lawan yang tangguh itu?


Sedangkan Grania tidak heran Ariesha mengalahkan lawannya. Karena meski dia belajar beladiri dan tenaga dalam baru setengah tahun lebih, namun gurunya adalah Dhafin, bocah aneh yang misterius.


Grania yakin Dhafin telah memasukkan salah satu kekuatan ghaibnya ke dalam tubuh Ariesha, sehingga walau baru sebentar Ariesha belajar, namun sudah demikian hebat.


Bocah aneh itu memang benar-benar aneh....

__ADS_1


Dengan kemenangan Ariesha ini berarti dia sebagai pemenang pertama dan berhak memilih sendiri di mana akademi yang dia inginkan.


★☆★☆★


__ADS_2