
Kediaman Selir Ashana Bellanca bukanlah berada di lingkungan istana. Semenjak dia mengidap penyakit kulit yang aneh dia tidak diperbolehkan tinggal di lingkungan keluarga istana.
Ditakutkan penyakit kulitnya itu akan menular kepada keluarga istana lainnya. Di samping itu juga bau luka pada penyakitnya itu amat busuk sekali, jelas mengganggu ketentraman kediaman keluarga istana.
Oleh karena itu, dia diperintahkan untuk tinggal di luar lingkungan istana. Maka dibuatkanlah untuknya bangunan yang cukup megah di ujung kotaraja sebelah barat.
Dia tinggal di situ sudah lebih dari 3 tahun, nyaris seumur dengan penyakit kulit yang diidapnya hingga sekarang. Tanpa ada pasukan istana yang menjaga apalagi pengawal keluarga istana.
Karena perintah pengusiran secara halus itu datang dari Bunda Suri Hellen Gretha, Raja Ghanim Altezza tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi dia hanya sebagai raja boneka.
Yang memegang dan mengendalikan tampuk pemerintahan adalah Bunda Suri Hellen Gretha.
Selama setahun Raja Ghanim Altezza masih boleh mengunjungi selir tercintanya itu. Namun pada tahun berikutnya Raja Ghanim tidak diperbolehkan lagi.
Alasannya telah jelas, ditakutkan Raja Ghanim akan tertular penyakit selirnya itu. Kalau sampai hal itu terjadi akan berdampak juga pada Permaisuri Berliana dan 2 selirnya yang lain. Itu anggapan mereka.
Sebenarnya Raja Ghanim memaksakan diri tetap hendak mengunjungi istri ke 3-nya itu. Namun lagi-lagi dia tidak berdaya. Selirnya akan dibunuh kalau dia memaksakan diri. Dan ancaman itu bukan ancaman main-main.
Sehingga segala perlakuan tidak adil yang ditimpakan kepada Selir Ashana Bellanca itu sukses membuat hatinya semakin sedih dan berduka. Membuatnya menderita lahir dan batin.
Sudah tidak diberikan fasilitas sebagaimana layaknya keluarga istana. Ditambah lagi sudah hampir setahun ini tidak ada lagi Tabib Istana yang menangani secara serius penyakitnya.
Dan lebih parah dari itu, Selir Ashana tidak boleh bertemu dengan sang suami tercinta, Raja Ghanim.
Rasanya lebih baik mati kalau hidup cuma menanggung derita seperti ini. Hidup hanya untuk menanggung kesedihan dan duka.
Perlu diketahui, Selir Ashana sudah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri.
Untung saja pelayan setianya, Pelayan Galina senantiasa ada di saat kritis seperti itu. Dia selalu menasehati dan menyemangati agar junjungannya tetap bersabar.
Bukan hanya Pelayan Galina saja yang selalu menasihati Selir Ashana, Jenderal Elaina juga ikut andil memberi semangat baginya agar tetap bertahan.
Pengawal Pribadi Selir Ashana yang masih cantik itu juga ikut menemani hari-hari sang selir.
Terkadang Guru Zeroun, seorang guru besar beladiri kotaraja datang berkunjung, memberi obat penghilang rasa nyeri pada Selir Ashana dan juga ikut menasehati.
Tiap kali menasehati Selir Ashana, Guru Zeroun mesti mengatakan.
"Tenanglah, Yang Mulia, bersabarlah! Suatu saat kelak akan ada tabib yang dapat menyembuhkan penyakit Yang Mulia."
Hati Selir Ashana kembali tenang jika selesai dinasehati oleh kedua orang kepercayaannya dan Guru Zeroun. Meski masih dirundung sedih tapi harapannya kembali hidup untuk sembuh.
★☆★☆
Dhafin dan Putri Lavina sampai di kotaraja pada suatu pagi, kira-kira pukul 8 lewat.
Sebelumnya Dhafin mengajak Putri Lavina singgah di hutan untuk mencari bahan ramuan obat yang dia butuhkan untuk mengobati Selir Ashana.
Karena bersama orang yang dia cintai, Putri Lavina ikut saja ke mana Dhafin mengajak.
Begitu juga saat Dhafin mengajaknya ke toko ramuan obat saat sampai di kotaraja, Putri Lavina manut saja. Padahal kalau saat biasa mana mau dia ke tempat seperti itu.
Sedangkan Anggie dan Fanny, saat mengetahui junjungan mereka sudah berada di kotaraja mereka langsung mencarinya dan menemukan Putri Lavina sedang belanja bersama Dhafin di toko ramuan obat.
Tapi Putri Lavina langsung berkata kepada mereka.
"Untuk sementara waktu aku bebas tugaskan kalian dalam mengawalku."
"Kenapa bisa begitu, Tuan Putri?" tanya Anggie curiga sambil melirik takut-takut pada Dhafin.
"Aku tidak ingin diganggu oleh kalian selama aku bersama Kak Dhafin," jawabnya enteng.
Anggie menerima saja, malah senang. Sedangkan Fanny sempat memohon untuk tetap mengawal majikannya.
"Tuan Putri, aku tetap mengawal ya. Aku janji tidak akan macam-macam."
Dia terus memohon agar tetap mengawal Putri Lavina. Tujuannya tidak lain agar bisa melihat sang idola, agar bisa berdekatan dengan sang idola.
Tapi dasarnya memang Putri Lavina keras kepala, sekali dia bilang tidak tetap tidak. Sehingga Fanny tidak berdaya dan tidak bisa membantah. Dan terpaksa harus menelan sendiri keinginannya untuk berdekatan dengan Dhafin.
Sementara Dhafin diam saja, tidak mau ikut campur dalam masalah Putri Lavina.
__ADS_1
Dalam pikirannya hanya ingin menjalankan rencananya di kotaraja; mengobati Selir Ashana, lalu mengajak berunding para petinggi Kerajaan Bentala.
Setelah selesai belanja ramuan, Dhafin mengusulkan untuk langsung saja ke kediaman Selir Ashana.
Namun Putri Lavina memohon untuk singgah dulu di istana kerajaan, lebih tepatnya singgah di istananya. Katanya ingin mengambil sesuatu di istananya.
Dhafin sebenarnya tidak setuju, karena dia tahu apa maksud Putri Lavina membawanya ke istana. Tapi karena dia mempunyai misi datang ke kotaraja, terpaksa dia setuju saja.
Sesampainya di lingkungan istana, apa yang menjadi tujuan Putri Lavina tercapai, yaitu ingin memamerkan ketampanan Dhafin di hadapan para saudari tirinya.
Sekaligus ingin menunjukkan kalau dia bisa mendapat pemuda yang amat tampan.
Putri Lavina sukses membuat 3 putri cantik istana terpesona akan ketampanan Dhafin. Sekaligus juga sukses membuat mereka iri terhadap Putri Lavina.
Tiga putri cantik istana Kerajaan Bentala yaitu Putri Ardella Celisa, putri Permaisuri Berliana; Putri Eveline Dayana, putri Selir Agung Caltha Fiona; Putri Ilona Manda, putri Oriana Mesha.
Ketiga putri cantik istana itu tidak bisa menyembunyikan rasa terpukaunya, rasa kagumnya akan ketampanan Dhafin. Sementara Dhafin sikapnya datar-datar saja dengan mode tenangnya.
Sikap Dhafin yang ketenangannya begitu sempurna itu semakin membuat ketiga putri cantik itu terpesona.
Setelah selesai melihat ketampanan Dhafin, seketika timbul dalam hati masing-masing mereka ingin merebut Dhafin dari Putri Lavina.
Dan masing-masing mereka sudah merencanakan sesuatu bagaimana cara mendapatkan Dhafin.
★☆★☆
Ketika sebentar lagi Putri Lavina sampai di kediaman bundanya bersama Dhafin, seketika laju kuda mereka seolah dihadang oleh 3 orang gadis. Terpaksa mereka menghentikan laju kuda dengan segera.
Belum lama kuda mereka berhenti Dhafin segera turun dari kuda. Sedangkan Putri Lavina mengikuti dengan malas.
Hatinya jelas jengkel atas perbuatan ketiga gadis yang tidak dikenalnya itu. Kalau saja tidak ada Dhafin, Putri Lavina langsung mendamprat mereka habis-habisan.
Tapi sikap angkuh dan judesnya tidak bisa dia tahan.
Sejenak Dhafin memandang ketiga gadis itu. Salah seorang gadis yang berdiri paling tengah memakai cadar sehingga menyamarkan raut wajahnya.
Sedangkan 2 gadis yang berdiri di samping kiri kanan tidak memakai cadar. Dan mereka berwajah cantik rupawan.
Beberapa hari yang lalu, Nona Athalia hanya bisa memandang ketampanan Dhafin dari kejauhan. Sekarang dia bisa menatap ketampanan itu dari dekat. Betapa hatinya tidak terpesona?
Dari Kota Arthia dia sudah terpesona terhadap Dhafin. Sekarang tambah terpesona akan sikap tenang dan santun yang ditunjukkan pemuda itu.
Rasanya baru kali ini melihat kepribadian seorang pemuda yang begitu sempurna seperti pada Dhafin ini.
"Siapa kalian?" tanya Putri Lavina dengan gaya angkuhnya, kurang senang. "Kenapa menghalangi jalan kami?"
Baik Kaluna ataupun Malinka tidak akan meladeni Putri Lavina. Mereka sudah menyerahkan kepada Nona Athalia sebagai juru bicara.
Sementara Nona Athalia sendiri jelas tidak lantas menjawab pertanyaan itu, karena harus menetralkan hatinya dulu yang sempat bergetar melahat Dhafin dari dekat seperti ini.
Setelah dia bisa menguasai perasaannya, Nona Athalia menjurah hormat, lalu berkata.
"Maaf, Tuan Putri, kalau kami lancang menghalangi perjalanan Tuan Putri."
"Tapi percayalah kami tidak ada maksud jahat menghadang perjalanan kalian," lanjutnya.
"Apa kalian yang mengikuti kami semenjak dari Kota Arthia?" tanya Dhafin seketika menebak.
Semenjak meninggalkan Kota Arthia Dhafin merasa seperti ada orang yang menguntit mereka selama perjalanan. Para penguntit itu menjaga jarak yang cukup jauh sehingga Dhafin cukup susah mengenali mereka.
Namun Dhafin masih bisa mengetahui kalau para penguntit itu adalah wanita.
"Ya, benar," sahut Nona Athalia langsung berterus terang.
Ketiga gadis itu tidak heran lagi Dhafin dapat mengetahui kalau mereka memang mengikuti perjalanan Dhafin dari Kot Arthia. Dengan kapasitas keilmuan yang ada pada Dhafin, hal seperti itu bukan hal yang sulit baginyam
Yang terkejut adalah Putri Lavina. Dia tidak menyangka kalau tenyata ketiga gadis itu mengikuti mereka dari Kota Arthia.
"Katamu kalian tidak ada maksud jahat terhadap kami," kata Putri Lavina. "Tapi kenapa kalian mengikuti kami? Bukankah itu perbuatan jahat?"
"Maaf, Tuan Putri," kata Nona Athalia mencoba menerangkan. "Kami memang tidak bermaksud jahat berbuat demikian."
__ADS_1
"Lantas apa tujuan kalian mengikuti kami?" tanya Dhafin tetap dengan mode tenangnya.
"Maaf, Pangeran Pusat," kata Nona Athalia beralih memandang Dhafin dengan menyebut julukan pemuda tampan itu. "Apakah Tuan hendak menyembuhkan Yang Mulia Selir Ashana?"
Dhafin sedikit terkejut heran juga mendengar gadis bercadar itu mengetahui namanya. Tapi dia tidak mau menunjukkannya.
Dhafin cepat mengangkat tangannya mencegat Putri Lavina agar jangan berkata. Biar dia saja yang berbicara. Terpaksa Putri Lavina menuruti permintaan Dhafin meski harus bersungut-sungut dulu.
"Apa maksud Nona bertanya seperti itu?" sahut Dhafin tetap tenang.
"Kami hanya ingin memastikan kalau yang kami cari adalah orang yang tepat," kata Nona Athalia.
"Kalau begitu kalian mencari seorang tabib," tebak Dhafin. "Apakah benar begitu?"
"Benar, Pangeran Pusat," sahut Nona Athalia lagi. Dia makin terkagum akan pribadi seorang Dhafin yang ternyata pandai mencerna ucapan.
"Kalau Tuan dapat menyembuhkan penyakit Yang Mulia Selir Ashana, berarti kami menemukan orang yang tepat dimintai bantuan," lanjutnya.
"Siapakah yang sakit di antara kalian?" tanya Dhafin serius.
"Kak Dhafin, tidak usah meladeni wanita tidak jelas ini," kata Putri Lavina mencoba mempengaruhi Dhafin. "Jangan-jangan mereka cuma menjebakmu saja."
"Maaf, Tuan Putri, urusan di antara kita hanya sebatas menyembuhkan bunda Tuan Putri," kata Dhafin bernada tegas,datar,tenang. "Adapun urusan lain, saya harap Tuan Putri tidak usah mencampurinya."
"Aku hanya mengingatkanmu dari bahaya, Kak Dhafin," kata Putri Lavina masih berusaha mempengaruhi. "Siapa tahu mereka ini adalah orang jahat yang ingin menjebakmu."
"Asal Tuan Putri tahu, dengan beradanya saya di kotaraja ini, menandakan saya sudah masuk dalam jebakan."
"Apakah kamu berpikir aku menjebakmu datang ke kotaraja?" tanya Putri Lavina agak meninggi suaranya karena hampir tak mampu menahan emosi.
"Saya tidak tahu," sahut Dhafin masih tetap tenang. "Hanya Tuan Putri sendiri yang bisa tahu jawabannya."
Putri Lavina cuma bisa mendengus kecil mendengar ucapan Dhafin barusan. Wajahnya dipalingkan ke arah lain karena tidak ingin wajah yang menahan geram dilihat Dhafin.
"Siapa yang sakit di antar kalian?" tanya Dhafin mengulangi pertanyaannya yang belum terjawab.
"Maaf, untuk saat ini kami belum bisa memberi tahu," kata Nona Athalia memberi teka teki.
"Kami permisi dulu, Pangeran Pusat," kata Nona Athalia sambil menjurah hormat. "Nanti kami akan menemui Tuan lagi setelah Tuan menyembuhkan Yang Mulia Selir."
"Kalian belum menyebutkan nama," kata Dhafin seperti menuntut.
"Belum sekarang Tuan Pangeran Pusat mengetahuinya," kata Nona Athalia seolah sengaja membuat rasa penasaran. "Nanti suatu saat kami akan beri tahu."
Setelah itu ketiga gadis itu seketika meninggalkan tempat itu dengan berkelebat amat cepat. Saking cepatnya tahu-tahu mereka sudah hilang dari pandangan.
Hal itu menandakan ilmu mereka sudah mencapai tingkat tinggi.
Sementara Dhafin tidak mau dulu memikirkan wanita misterius tadi. Yang dalam pikirannya sekarang bagaimana menyembuhkan Selir Ashana.
Dia kembali melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Putri Lavina mengikuti setelah bersungut-sungut sebentar.
"Apa kamu kamu tetap ingin menemui tidak wanita tidak jelas tadi?" tanya Putri Lavina di tengah mereka melajukan kuda dengan pelan.
Sikap Putri Lavina jelas menunjukkan rasa cemburu. Dan menampakkan rasa tidak senang pada 3 gadis tadi, terutama gadis bercadar.
"Bukan saya yang akan menemui mereka, tapi mereka yang akan menemui saya," sahut Dhafin tetap kalem dan sikap tenang.
"Sama saja," sungut Putri Lavina kesal. "Yang aku tanya apa kamu akan tetap meladeni mereka?"
"Saya seorang tabib. Kalau orang sakit, tetap akan berusaha menyembuhkannya."
"Bagaimana kalau mereka merencanakan maksud jahat?"
"Maaf, itu bukan urusan Tuan Putri."
Putri Lavina makin bersungut-sungut mendengar jawaban membosankan Dhafin itu. Tapi dia harus menyadari kalau meladeni Dhafin dalam berbicara, dia pasti kalah.
Dia harus memikirkan sebuah rencana agar Dhafin tidak bertemu dengan ketiga gadis tadi.
★☆★☆★
__ADS_1