Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 164 RAMALAN PENDETA TUA


__ADS_3

Racun Kelabang Merah satu rumpun dengan Racun Kelabang Hitam. Hanya saja efek yang dihasilkan dari masing-masing racun tersebut ketika terkena korbannya sedikit berbeda.


Efek racun yang ditampakkan dari Racun Kelabang Hitam yaitu bahwa racun tersebut, apabila terkena korban maka kulitnya akan rusak, dan membuat kulit berwarna hitam bagai hangus, seperti yang pernah terjadi pada Putri Athalia.


Sedangkan efek racun yang dihasilkan Racun Kelabang Merah yaitu bahwa racun tersebut juga akan merusak kulit. Hanya saja warna kulit akan berubah menjadi merah kehitaman.


Hal ini seperti yang terjadi pada Putri Arcelia. Seluruh permukaan kulitnya berubah menjadi merah kehitaman. Dan karena sifatnya panas, maka efek racun itu membuat semua luka korengannya mengering. Tidak berair lagi. Tapi masih menyisakan bau busuk yang tak sedap.


Akan tetapi Dhafin tidak mengalami kesulitan dalam menyembuhkan Racun Kelabang Merah. Karena belum lama ini dia sudah menyembuhkan Racun Kelabang Hitam yang metode penyembuhannya boleh dikatakan sama dengan penyembuhan Racun Kelabang Merah.


Adapun luka korengan Putri Arcelia, setelah Dhafin periksa ternyata luka itu bukan diakibatkan oleh racun. Namun luka itu juga ternyata bukan luka korengan biasa. Atau lebih tepatnya sejatinya Putri Arcelia bukan terkena penyakit korengan.


Karena tentu saja Dhafin tahu bagaimana penyakit korengan yang sebenarnya.


Tentu saja hal itu membuat Putri Athalia terkejut heran sekaligus penasaran. Karena dia menyangka penyakit yang menimpa Putri Arcelia adalah penyakit korengan biasa. Tak tahunya menurut Dhafin bukan.


Sedangkan Putri Arcelia seperti sependapat dengan Dhafin. Dia terkena penyakit itu semenjak usianya 10 tahun. Sudah berbagai ramuan obat dia minum, tapi penyakit yang dia derita itu belum juga sembuh.


Kalau cuma penyakit korengan biasa tentulah penyakitnya itu sudah sembuh sejak lama.


Akan tetapi Putri Arcelia tidak mengerti kenapa dia bisa terkena penyakit seperti itu. Padahal dia merasa tidak pernah memakan atau meminum sesuatu yang aneh. Atau terkena sesuatu yang aneh.


Hanya saja dia terkena penyakit seperti itu semenjak dia berhasil membuka energi saktinya sendiri, yaitu pada usianya yang hampir genap 10 tahun. Dalam keadaan dia tidak menyadari bahwa pembukaan energi sakti yang tidak sempurna akan berefek buruk pada pemiliknya.


Maka Dhafin menjelaskan hal yang demikian tersebut.


Intinya, penyakit yang diderita oleh Putri Arcelia disebabkan oleh pembukaan energi sakti yang tidak atau belum sempurna.


Maka, sebelum menyembuhkan Putri Arcelia, Dhafin membuka dulu segel kesaktian Putri Arcelia yang belum sempurna, yang ternyata dia juga memiliki 4 macam energi sakti, sama seperti Putri Athalia.


Seperti biasa, sebelum Dhafin melakukan pekerjaan yang tidak ringan itu dan pekerjaan selanjutnya, dia mengamankan dulu areal kediaman Putri Arcelia dengan mantra pelindung.


Setelah Dhafin membuka semua energi sakti Putri Arcelia, sekaligus menggodoknya agar Putri Arcelia bisa mengendalikan dan menggunakannya, barulah Dhafin menyembuhkan penyakit kulit sang putri. Dan proses pelaksanaannya terbilang mudah.


Begitu semua luka seperti korengan telah sembuh dan telah sirna dari tubuhnya, dan mendapati kulitnya, baik kulit tubuh maupun kulit wajah kembali putih mulus, betapa senangnya hati Putri Arcelia. Hingga dia menangis terharu saking gembiranya.


Apalagi setelah dia mandi ramuan air matra yang dibuat Dhafin, kulit wajahnya dan kulit tubuhnya semakin putih mulus. Membuat bau badannya hilang bukan saja hilang, melainkan menguarkan aroma yang amat wangi.


Membuat kecantikannya benar-benar cantik mempesona laksana bidadari kahyangan.


Mimpi pun tidak pernah kalau Dhafin bisa membuatnya secantik seperti sekarang ini. Dia hanya mendapat petunjuk dari seorang pendeta di dalam mimpi kalau ada seorang pangeran yang akan menyembuhkannya.


Namun dia tidak menyangka kalau pangeran yang menyembuhkannya itu bisa membuatnya sedemikian cantik seperti sekarang. Betapa kegembiraannya tidak bisa dia lukiskan.


Dia tidak ingat lagi kalau dulu wajahnya seperti apa? Apakah cantik atau tidak? Tapi dia cuma tahu kalau pelayannya mengatakan kalau dulu wajahnya cantik.


Akan tetapi dia merasa yakin kalau kecantikan yang dia punya sekarang ini melebihi kecantikannya semula.


★☆★☆


Putri Arcelia berlutut menyembah hormat di depan Dhafin saat dia telah keluar dari kamarnya.


"Keselamatan dan kesejahteraan terlimpah kepada Yang Mulia Pangeran," kata Putri Arcelia bernada penuh hormat. "Terimalah salam hormat dari hamba...."

__ADS_1


Tentunya sang putri tidak sekoyong-koyong berbuat demikian. Dulu, sebelum Putri Arcelia sembuh, dia sudah berjanji pada dirinya akan mengabdikan sepanjang hidupnya sepenuhnya kepada pangeran yang menyembuhkannya.


Apalagi setelah Putri Athalia memberitahukan kepadanya kalau dewa penolongnya itu memang benar-benar seorang pangeran, calon penguasa negeri.


Putri Arcelia tidak perduli Dhafin calon penguasa atau bukan. Yang ada dalam pikiran dan hatinya bahwa Dhafin adalah seorang pangeran yang menjadi tempatnya mengabdikan dirinya seumur hidupnya.


Meskipun dia tahu kalau dirinya adalah seorang putri raja.


Sedangkan Dhafin tentu saja terkejut melihat tindakan Putri Arcelia yang berlebihan itu.


Baru keluar dari kamar setelah bersalin pakaian bersama Putri Athalia, tiba-tiba saja Putri Arcelia langsung berlutut menyembahnya seperti menyembah seorang raja atau seorang junjungan.


Lantas Dhafin memandang Putri Athalia seolah meminta pertanggung jawaban kenapa Putri Arcelia melakukan penghormatan seperti itu.


Ditatap seperti itu, kontan Putri Athalia langsung berlutut menyembah hormat pula dengan penuh rasa takut dan keseganan yang mendominasi.


"Ampunkan atas kelancangan hamba, Yang Mulia," kata Putri Athalia penuh rasa hormat seraya menunduk dalam. "Hamba siap menerima hukuman."


Dhafin tidak lantas menanggapi perbuatan Putri Athalia. Malah dia seperti kebingungan menyaksikan perbuatan kedua bidadari itu.


"Ampun, Yang Mulia," kata Putri Arcelia cepat-cepat menjelaskan perbuatannya yang sepertinya Dhafin salah memahaminya. "Hamba melakukan penghormatan seperti ini atas dasar kerelaan diri hamba. Lagipula hamba telah mengetahui kalau Yang Mulia adalah seorang pangeran."


"Bukan karena diberitahu oleh Athalia?" tanya Dhafin seraya melirik Putri Athalia sebentar.


"Bukan, Yang Mulia...."


Lalu dia menceritakan mimpinya yang bertemu dengan seorang pendeta tua yang meramalkan tentang nasib baiknya di masa depan.


"Oleh karena itu hamba telah berjanji pada diri hamba bahwa," kata Putri Arcelia setelah menceritakan mimpinya, "hamba akan menyerahkan diri hamba dan mengabdikan sepanjang hidup hamba kepada pangeran tersebut, yaitu Yang Mulia."


Setelah itu Dhafin menyuruh mereka duduk di kursi yang ada di ruang tamu itu.


"Kalian adalah orang yang merdeka," kata Dhafin seakan mengingatkan. "Lebih khusus lagi kalian adalah putri raja. Tidak pantas kalian melakukan penghormatan yang begitu berlebihan, meskipun aku adalah seorang pangeran."


Lalu kedua gadis cantik itu menanggapi ucapan merendah Dhafin dengan mengemukakan alasan mereka yang kurang lebih sama.


Yaitu bahwa mereka tidak bisa membalas kebaikan Dhafin atas kesembuhan yang diberikan kepada mereka selain hanya bisa menyerahkan diri mereka kepada Dhafin dan merelakan diri menjadi pelayannya selamanya.


Dhafin tidak bisa berkata-kata lagi untuk memberi tahu kepada mereka kalau tidak usah melakukan perbuatan yang terlalu berlebihan begitu. Tapi kalau mereka melakukannya dengan kerelaan hati, Dhafin bisa apa?


Tidak lama kemudian, Dhafin memeriksa Tanda Keluhuran di kening Putri Arcelia yang ternyata memang ada dan sesuai apa yang diramalkan oleh Nenek Kaira.


Adapun tanda keluhuran itu berupa sebentuk bulan sabit warna kuning menyala yang lengkungannya berada di sebelah kiri.


★☆★☆


Selagi ketiga anak muda-mudi itu tengah ngobrol di ruang tamu di rumah kecil Putri Arcelia, mereka kedatangan seorang pendeta tua. Baik Dhafin maupun Putri Athalia sama sekali tidak mengenal mereka.


Sedangkan Putri Arcelia juga belum mengetahui nama sang pendeta berwajah tenang penuh kebijaksanaan itu. Tapi dia masih ingat bahwa pendeta tua itulah yang sering datang ke dalam mimpinya.


Ketika Putri Arcelia menanyakan tentang hal itu, maka sang pendeta membenarkan. Sekaligus pendeta tua itu menambahkan....


"...Dan yang tidak kalah penting juga bahwa Yang Mulia Pangeran Ghavin adalah jodoh Tuan Putri, di samping juga jodoh Yang Mulia Ratu Aurellia dan Tuan Putri Athalia."

__ADS_1


Meskipun Dhafin sudah mendengar keterangan ini dari Nenek Kaira, tapi tak urung dia masih sedikit terkejut pula. Berarti ramalan itu memang benar-benar nyata adanya. Dia bakalan mempunyai 3 istri bidadari.


Sedangkan Putri Arcelia amat terkejut bukan main. Dia tidak menyangka sebelumnya kalau dia adalah jodoh bagi Pangeran Ghavin. Tentu saja dia amat senang sekali mendengar penuturan pendeta tua itu.


Putri Arcelia tidak pernah bertemu Dhafin sebelumnya, baik di alam nyata maupun di alam mimpi. Dan selama hidupnya belum pernah terbetik sedikit pun bakal mencintai seseorang. Bahkan bertemu lelaki yang sepesial di hatinya pun belum pernah.


Karena maklum saja keadaan penyakitnya sebelumnya yang begitu menjijikkan yang membuatnya minder dengan orang lain.


Akan tetapi, begitu pendeta tua itu menuturkan kalau Dhafin adalah jodohnya, maka seketika itu juga benih cinta terhadap Dhafin langsung bersemi di dalam hatinya.


Mungkin inilah yang dinamakan jodoh. Dia belum mengenal Dhafin secara mendalam, tapi Dhafin sudah membuatnya jatuh cinta.


Pendeta tua itu juga menuturkan bahwa Pangeran Agung Ghavin kelak akan menjadi penguasa 3 negeri. Ramalan itu memang merupakan takdir yang sudah digariskan oleh langit. Yang artinya Dhafin tidak bisa menolaknya dan menghindarinya meski dia tidak menginginkannya.


Sedangkan semua penuturan pendeta tua itu sama persis yang sudah didengarnya dari Nenek Kaira. Dengan sedikit tambahan bahwa Dhafin belum bisa menikahi Putri Athalia maupun Putri Arcelia sebelum menikah dengan Yang Mulia Ratu Agung.


Artinya istri pertama Dhafin jatuh pada pilihan Ratu Aurellia. Dengan kata lain takdir memilih Ratu Aurellia adalah sebagai permaisuri.


Setelah itu istri ke 2 dan ke 3 jatuh pada pilihan Putri Athalia dan Putri Arcelia. Dengan kata lain takdir memilih mereka sebagai 2 selir.


★☆★☆


"Paman Pendeta, seorang penguasa tentu memiliki istana sebagai tempat dia bertahta," kata Dhafin. "Sementara saya tidak punya istana. Bagaimana dengan hal itu?"


"Ketahuilah, Yang Mulia," kata pendeta tua bernada lembut penuh kearifan dan bijaksana, "seorang penguasa besar seperti Yang Mulia tentulah mempunyai istana. Yakinlah akan hal itu."


"Apakah saya akan bertahta di Istana Kerajaan Bentala?" tebak Dhafin sekaligus menguji.


"Tidak. Yang Mulia tidak akan bertahtakan di kerajaan itu," sahut pendeta tua dengan sikap tenangnya. "Karena takdir sudah menentukan bahwa kerajaan itu adalah milik Pangeran Revan."


"Kalau begitu di mana saya akan bertahta, Paman Pendeta?" tanya Dhafin ingin tahu sekali.


"Istana di mana Yang Mulia bertahta berada di tengah di antara 3 kerajaan," sahut Pendeta masih lembut. "Lebih tepatnya berada di Negeri Tabir Ghaib."


"Apakah yang Paman Pendeta maksud adalah Istana Centauri?" tebak Dhafin.


"Benar, di situlah istana Yang Mulia."


"Istana itu sudah milik Yang Mulia Ratu Aurellia, Paman Pendeta," kata Dhafin seolah mengoreksi. "Tidak mungkin 1 istana dengan 2 penguasa."


"Yang Mulia Ratu adalah calon permaisuri Yang Mulia. Dengan Yang Mulia menikah dengan Ratu Aurellia, maka secara langsung Istana Centauri adalah milik Yang Mulia."


"Tapi sepertinya Yang Mulia Ratu tidak setuju kalau saya harus beristri 3," kata Dhafin mengungkapkan. "Dari pertemuan saya dengannya tempo hari, dia menunjukkan sikap seakan tidak setuju."


"Apakah Yang Mulia sudah bertemu dengan beliau sejak pertemuan terakhir hingga sekarang?"


"Belum, Paman Pendeta."


"Nanti temuilah beliau, Yang Mulia," saran pendeta tua. "Mana tahu beliau sudah berubah pikiran."


"Akan tetapi, Yang Mulia jangan menemuinya dulu dalam dekat ini. Beliau akan bertemu dulu dengan Putri Athalia dan Putri Arcelia."


Setelah itu pendeta tua menyampaikan bahwa Dhafin harus tetap terus bersabar dan bersikap tenang. Karena hari-hari mendatang Dhafin bakal menemui beberapa rintangan yang cukup berat.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2