
Semua orang yang ada di balairung istana terdiam tanpa suara saat Dhafin berbicara. Ketika mereka mendengar Dhafin berbicara layaknya seorang pendeta yang menjabarkan tentang falsafah kehidupan.
Bayangkan saja seorang Selir Heliana dibuat terkesima oleh pemuda itu yang seakan menceramahinya.
Umur Selir Heliana sudah berkepala enam. Tentu dia sudah banyak ilmu tentang falsafah kehidupan dan sangat paham tentang makna kebajikan.
Namun dia diceramahi oleh seorang pemuda yang baru berusia 20-an tahun, dia diam saja seakan mencermati semua apa yang dituturkan Dhafin.
Pangeran Nelson semakin tertarik akan kepribadian pemuda itu. Dan semakin merasa yakin kalau Dhafin adalah putra pertama Pangeran Ghazam, saudara tirinya.
Putri Clarabelle, Putri Richelle maupun istri Pangeran Nelson semakin kagum akan sosok seorang Dhafin. Sejak pertama kali melihat pemuda itu mereka sudah merasa kalau Dhafin ini adalah pemuda istimewa.
Pangeran Revan tidak usah dibilang lagi. Begitu pun juga 4 pengawal cantik, Putri Kayshila serta beberapa orang lainnya, termasuk Putri Eveline semakin dibuat kagum akan sosok seorang Dhafin.
Sementara Ariesha maupun Putri Kayshila makin bangga mempunyai kakak seperti Dhafin, yang dengan ucapannya dan sikapnya yang tenang itu mampu membuat Selir Heliana terdiam tanpa bisa membantah.
Sedangkan Ratu Aurellia semakin merasa sayang kalau tidak memiliki cinta seorang Dhafin. Pemuda yang masih berusia muda tapi sudah memiliki segudang ilmu.
Memang amat pantas kalau Dhafin dijuluki Pangeran Pusat.
"Jika Yang Mulia Selir tetap meneruskan menghukum mati 10 Guru Besar itu," kata Dhafin lagi setelah terdiam agak lama, "hamba tidak mengganggap Yang Mulia melakukan kesalahan...."
"Bahkan hamba rasa mendiang Yang Mulia Raja Neshfal juga sependapat dengan hamba...," lanjutnya.
"Akan tetapi jika Yang Mulia Selir memaafkan, itu artinya Yang Mulia menunaikan perbuatan mulia yang besar sesuai yang diinginkan mendiang Yang Mulia Raja Neshfal."
Setelah mendengar pencerahan dari Dhafin dan mempertimbangkan perbuatan baik yang dilakukan oleh 10 Guru Besar itu, akhirnya dengan ikhlas Selir Heliana memaafkan kesalahan mereka di masa lalu.
Di samping itu pula Istana Centauri masih memerlukan guru untuk mencetak pasukan yang tangguh.
Sementara 10 Guru Besar itu, mimpi pun tidak kalau mereka bakal diampuni oleh Selir Heliana. Tadinya mereka sudah pasrah kalau nyawa mereka sudah tercabut hari ini.
Akan tetapi ternyata takdir menyatakan lain. Selir Heliana mengampuni mereka. Tentu saja rasa terima kasih yang amat sangat dihanturkan oleh mereka kepada sang selir.
Sedangkan terhadap Dhafin, lebih sangat lagi rasa terima kasih mereka terhadapnya. Karena berkat dia dan melalui keberaniannya dalam menyadarkan Selir Heliana, mereka mendapat pengampunan.
★☆★☆
Setelah persidangan selesai, Selir Heliana memanggil Selir Ashana untuk datang berkunjung ke kediamannya. Ada perihal yang hendak dia bicarakan pada wanita yang sekarang tidak lagi memakai cadar.
Tanpa menunda Selir Ashana langsung mendatangi Selir Heliana di kadiaman pribadinya. Waktu itu sudah sore hari. Dia ke situ ditemani oleh pengawalnya dan putrinya, Putri Lavina.
Begitu sudah bertemu dengan Selir Heliana, Selir Ashana langsung memeluk wanita yang masih tampak cantik itu. Menyatakan rasa senangnya karena bisa bertemu lagi.
Perlu diketahui, sewaktu mendiang Raja Neshfal masih hidup Selir Ashana sudah akrab dengan Selir Heliana. Dan cuma wanita itu yang merestui hubungan Raja Ghanim dengannya.
Sedangkan Bunda Suri Hellen, bunda Raja Ghanim menentang keras hubungan mereka. Karena menganggap Selir Ashana cuma bangsawan biasa yang tidak pantas bersanding dengan putranya yang keturunan raja.
__ADS_1
Sementara Raja Neshfal waktu itu bukannya menentang. Tapi dia cuma mengikuti tradisi sehingga tidak merestui hubungan mereka berdua waktu itu.
Di awal pembicaraan Selir Heliana masih saling mengobrol biasa dengan Selir Ashana. Menanyakan tentang keadaannya selama mereka tidak bertemu. Dan tanpa sungkan Selir Ashana mengungkapkan tentang keadaan dirinya yang menderita.
Tak lupa Selir Heliana menanyakan kepada Selir Ashana tentang keberpihakannya. Dan Selir Ashana menjawab yang intinya dia tidak berpihak kepada Bunda Suri Hellen.
Begitu perbincangan mereka sudah cukup lama, Selir Heliana menanyakan perihal putra Selir Ashana yang dititipkan kepada pasangan suami istri di sebuah kampung.
Perlu diketahui, Seli Heliana tahu mengenai Selir Ashana melahirkan anak laki-laki, hasil hubungannya dengan Raja Ghanim di luar nikah pada waktu itu.
Sedangkan Bunda Suri Hellen Gretha juga mengetahui. Tapi, awalnya dia menyuruh anaknya untuk membunuh bayi itu. Jelas Raja Ghanim menolak keras. Hingga akhirnya Bunda Suri memutuskan tidak membunuh anak itu, tapi jangan berada di sekitar kotaraja.
Dengan terpaksa Raja Ghanim menyetujuinya. Maka sang raja yang malang itu bersama selirnya yang malang membawa anak pertama mereka di sebuah kampung terpencil yang amat jauh dari kotaraja. Dan menitipkannya kepada pasangan suami istri di sana.
Cuma sampai di situ Selir Heliana mengetahui nasib putra Selir Ashana. Setelah itu dia tidak tahu lagi.
Maka Selir Ashana menjawab bahwa setelah dia berhasil menikah dengan Raja Ghanim mereka mendatangi kampung tempat mereka menitipkan putra mereka itu.
Namun sampai di sana mereka tidak bertemu dengan putra mereka, juga tidak bertemu dengan pasangan suami istri yang mereka titipkan putranya itu. Dan penduduk situ juga tidak tahu kemana perginya pasangan suami istri itu.
Beberapa waktu lamanya mereka mencari pasangan suami istri itu, namun tetap tidak ketemu. Hingga akhirnya dengan tidak ketemunya pasangan suami istri itu, jejak putra mereka telah hilang.
Dengan begitu pencarian tidak bisa dilakukan karena telah hilangnya jejak. Lagipula mereka dibatasi oleh keadaan.
Raja Ghanim telah didominasi oleh bundanya sehingga tidak bisa melakukan banyak hal. Sedangkan Selir Ashana, semenjak menikah dengan Raja Ghanim, ruang geraknya juga amat dibatasi oleh Bunda Suri.
Menangisi penyesalannya karena menitipkan putranya kepada orang lain. Menangisi nasibnya dan nasib putranya apakah masih hidup sampai sekarang atau sudah mati sejak lama.
Seperti sekarang ini, sambil bercerita dia tentu sambil menangis pula. Hingga air matanya berderai cukup banyak membasahi pipi halusnya.
Tentu saja Jenderal Elaina juga tidak bisa menahan derai air matanya melihat nasib Selir Ashana. Dia juga tidak bisa banyak membantu masalah yang dihadapi junjungannya.
Dia baru menjadi pengawal Selir Ashana setelah 5 tahun junjungannya menikah dengan Raja Ghanim. Meskipun dia juga mencari di mana putra junjungannya yang hilang itu, tetap tidak ada hasilnya.
Ibaratnya seperti mencari sesuatu yang tidak ada.
★☆★☆
Sementara Putri Lavina yang melihat bundanya bersedih karena kembali mengingat kandanya yang nasibnya hingga sekarang belum diketahui, juga tidak kuasa menahan tangis.
Dia tahu selama ini bundanya amat menderita karena memikirkan kandanya.
Mengingat hal itu lagi, kebenciannya terhadap Bunda Suri kembali tersulut sehingga dendamnya semakin membara.
Mengingat hal itu lagi, kebenciannya terhadap Raja Ghanim, ayahandanya makin menjadi. Karena semua penderitaan yang dialami oleh bundanya disebabkan oleh ayahandanya yang lemah itu.
Karena kelemahan ayahandanya yang mau saja menuruti perintah jahat Bunda Suri menyebabkan kandanya hilang.
__ADS_1
Karena kelemahan ayahandanya sehingga bundanya terusir dari keluarga istana.
Sejenak dia menyusut air matanya. Lalu mendekati bundanya, terus berkata sambil menyusut air mata bundanya.
"Tidak usah menangis lagi, Bunda. Sudah cukup kamu menderita selama ini."
"Mendingan bunda tanyakan kepada Nenenda Heliana," lanjutnya, "Siapa pemuda yang bernama Zafer itu? Bukankah dia mirip dengan bunda?"
Mendengar perkataan putrinya itu seketika Selir Ashana bagai tersentak seakan baru bangun dari lamunan. Sedangkan Selir Heliana juga terkejut seakan baru tersadar akan sesuatu.
"Oh iya, baru aku menyadari kalau Zafer itu ternyata mirip dengan wajahmu, Ashana," kata Selir Heliana.
Namun belum juga mereka membahas tentang Zafer, tahu-tahu orangnya datang pula ke kediaman Selir Heliana ini. Dan dia datang bersama Dhafin.
Kebetulan pula kedatangan dia dan Dhafin ke sini hendak menanyakan tentang kemiripan wajahnya dengan Selir Ashana kepada Selir Heliana. Kebetulan pula orang yang mirip dengan wajahnya juga ada di sini. Kebetulan....
Ini yang ke dua kalinya Selir Ashana bertemu dengan Zafer. Ini yang ke dua kalinya pula dia melihat wajah pemuda tampan itu.
Dadanya tentu saja berdebar kencang. Dia merasa seakan ada ikatan batin antara dirinya dengan pemuda itu.
Dan dugaannya semakin kuat kalau pemuda yang mirip dengan wajahnya itu adalah putranya yang hilang waktu masih kecil dulu.
Sedangkan Jenderal Elaina baru tersadar pula kalau wajah pemuda kekasih putri sulungnya itu ternyata memang mirip dengan wajah junjungannya.
Sementara Putri Lavina, bertemu kembali dengan Dhafin sebenarnya hatinya amat senang. Kiranya dia tidak bisa bertemu dengan pemuda pujaan hatinya itu.
Tapi dalam situasi seperti sekarang ini mana bisa dia bermanja-manja ria dengan Dhafin.
Begitu dia memperhatikan wajah Zafer, ternyata memang amat mirip dengan bundanya. Apalagi sekarang tudung yang menutupi kepalanya dibuka.
Kalau memang benar Zafer adalah kandanya, betapa senang hatinya. Dia mempunyai kakak seorang laki-laki sebenarnya keinginan hati kecilnya.
"Kalian datang ke tempatku tentu punya maksud?" tanya Selir Heliana sambil memandang kedua pemuda itu setelah menyuruh mereka duduk.
Setelah menyembah hormat, baik kepada Selir Heliana maupun kepada Selir Ashana, Zafer juga demikian, setelah pula memandang Selir Ashana sebentar, lalu Dhafin menjawab.
"Sebenarnya kedatangan kami ke sini hendak menanyakan...."
Ucapan Dhafin terputus tapi dia kembali memandang Selir Ashana. Sementara semua yang ada di situ paham apa kelanjutan ucapan Dhafin yang terputus.
"Kamu hendak menanyakan kenapa wajah Zafer mirip dengan wajah Selir Ashana?" tanya Selir Heliana menebak. "Begitu?"
"Benar, Yang Mulia," sahut Dhafin mengaku.
"Kebetulan sekali kami juga sedang membicarakan hal itu," kata Selir Heliana. "Dan kamu Zafer, coba kamu ceritakan dulu kepada kami tentang masa lalumu...."
Maka mulailah Zafer membuka jati dirinya di hadapan semua orang yang ada di situ, terkhusus kepada Selir Heliana.
__ADS_1
★☆★☆★