
"Aaa....!!!"
Putri Aurellia seketika menjerit keras saat menyaksikan bundanya ditikam oleh Putri Rayna Cathrine, kakak perempuan dari Yang Mulia Darian Cashel.
Itu bukan jeritan karena kesakitan namun jeritan itu sebagai luapan kemarahan sekaligus kesedihannya.
Sungguh dia tak menyangka kalau bibinya tega melakukan demikian. Bibinya yang dia kenal baik ternyata menyimpan kebusukan dan kejahatan di dalam hatinya.
Apa yang terjadi akibat dari jeritannya itu...?
Akibat dari kemarahan Aurellia yang tak terkendali itu menyebabkan beberapa energi saktinya terbuka segelnya. Energi itu seperti memberontak di dalam tubuhnya, sehingga keluar terlepas tanpa terkendali.
Maka beberapa energi sakti itu langsung masuk ke dalam tubuh Dhafin, Keenan, dan Brian. Akibatnya mereka terlempar deras lalu tergulung-gulung ke belakang.
Ketiga anak muda itu terlempar tidak tanggung-tanggung. Tubuh mereka langsung terhantam tembok dengan keras. Membuat mereka memekik tertahan. Mungkin kalau tidak ada tembok tubuh mereka masih terlempar.
Akibat dari terlemparnya Dhafin dan Keenan, maka ritual telah berhenti begitu saja. Mengakibatkan cermin cahaya bening tadi langsung pecah berantakan laksana kaca yang pecah. Kemudian lenyap bagai disedot setan.
Membuat Namira dan Naifa memekik terkejut berkali-kali. Terkejut karena mendengar jeritan Aurellia. Terkejut karena seketika tiga bocah sakti langsung terlempar ke belakang tanpa permisi. Terkejut karena cermin cahaya pecah.
"Tuan Putri! Apa yang kamu lakukan?" seru Namira agak keras seakan menyadarkan Aurellia.
Sementara Putri Aurellia sempat terbengong beberapa saat. Apa yang terjadi pada dirinya barusan sungguh dia tidak mengerti.
Namun begitu sepasang mata indahnya yang membulat melihat Dhafin terkapar di dekat tembok ruangan, keanggunannya sebagai tuan putri segera tanggal.
"Kak Dhafin!"
Dengan cepat dia berdiri dan langsung menghambur ke tempat Dhafin terkapar sambil terpekik kecil. Naifa yang juga melihat Keenan terkapar diam tidak jauh dari Dhafin, segera berdiri dan melangkah cepat menghampiri Keenan.
Sedangkan Namira sempat ragu hendak ke tempat Brian yang juga bernasib sama. Tapi dia tanggalkan dulu rasa takzimnya kepada sang pangeran. Lalu dengan langkah cepat dia menghampiri Brian.
Sementara Aurellia, begitu sampai di dekat Dhafin yang terkapar diam, dia langsung duduk berlutut di samping kanannya. Begitu matanya melihat ada lelehan merah di sudut bibir Dhafin, langsung dia terpekik ketakutan.
Mulutnya yang sudah terbekap oleh cadar dibekap lagi pakai telapak tangannya. Apa yang dia lakukan tadi? Kenapa dia bisa membuat Dhafin terkapar pingsan begini sampai mengeluarkan darah segala?
Baru saja dia berpikir yang tidak-tidak, tampak tubuh Dhafin sudah bergerak-gerak. Tak lama Dhafin bangkit duduk perlahan-lahan.
Tanpa menghiraukan kalau dia seorang putri, Aurellia langsung merangkul Dhafin membantunya bangun lalu menyandarkan ke tembok.
"Terima kasih," kata Dhafin seraya tersenyum kecil. Suaranya tampak lemah.
"Ka-kamu tidak apa-apa, Kak?" tanya Aurellia cemas dan ketakutan.
"Kamu tenang saja, aku tidak apa-apa," kata Dhafin lembut berusaha menenangkan Aurellia yang cemas dan takut.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Aku tidak mengerti," kata Aurellia masih cemas dan sedih sambil melap darah di sudut bibir Dhafin dengan sapu tangannya.
"Tenaga saktimu yang tidak terkendali terlepas dari dalam tubuhmu, lalu masuk ke dalam tubuh kami," kata Dhafin menjelaskan meski dengan suara lemah. "Itulah akibatnya kami sampai bisa terlempar."
"Aku masih belum paham," Aurellia malah bengong, makin tidak mengerti penjelasan Dhafin.
"Kamu tenang saja dulu. Nanti aku jelaskan."
Sementara itu juga, Keenan sudah siuman. Naifa langsung membantu Keenan bangun tanpa sungkan. Terus menyandarkannya ke tembok.
Dengan agak takut-takut sungkan, Naifa memberanikan diri bertanya karena khawatir.
"Maaf, apa kamu tidak apa-apa, Tuan Muda?"
"Tidak apa-apa," sahut Keenan berusaha tersenyum. Tapi suaranya terdengar lemah. "Kamu tenang saja."
__ADS_1
Sedangkan Namira, awalnya tidak melakukan apa-apa. Dia cuma melihat saja Brian yang sudah siuman. Begitu melihat Brian seperti kesusahan mau bangun, dengan terpaksa dia membantu bangun lalu menyandarkan ke tembok.
"Terima kasih," ucap Brian sambil tersenyum.
"Maafkan kelancangan saya, Pangeran. Saya terpaksa," kata Namira dengan sikap hormat. Kepalanya tertunduk tanpa berani memandang Brian.
"Berapa kali aku sudah bilang, Namira, tidak usah bersikap hormat seperti itu," kata Brian lembut tapi suaranya lemah.
Namira memandang sebentar wajah Brian. Setelah itu menunduk lagi.
"Apakah kamu tidak apa-apa, Pangeran?" tanya Namira khawatir, tapi tanpa memandang wajah Brian.
"Tidak apa-apa," sahut Brian menenangkan hati Namira. "Kamu tenang saja."
Sementara itu, Dhafin mengambil botol obat dari balik bajunya. Lalu mengambil tiga butir. Setelah memasukkan kembali botol obat ke balik bajunya, lalu dia melemparkan 2 obat pil pada Keenan dan Brian. Sedangkan yang satunya diminum.
"Pulihkan dulu tenaga dalam kalian!" kata Dhafin seolah menginstruksikan pada Brian dan Keenan. "Setelah itu pindahkan energi sakti yang tadi sempat masuk ke dalam tubuh kalian ke gadis kecil yang bersama kalian itu."
Brian maupun Keenan sempat tercengang sebentar saat mendengar ucapan Dhafin itu. Memang mereka merasa ada semacam energi sakti baru yang masuk ke dalam tubuh mereka. Tak tahunya itu tenaga sakti Aurellia yang terlepas tak terkontrol.
Dhafin menyuruh mereka memasukkan energi sakti itu ke dalam tubuh Namira dan Naifa. Berarti energi sakti Aurellia yang terlepas bisa dimasukkan ke dalam tubuh orang lain.
Nantinya energi sakti itu akan membentuk semacam kekuatan di dalam tubuh orang tersebut yang bisa membuatnya sakti. Sungguh menarik!
"Apa energi sakti itu membahayakan di dalam tubuh kalian sehingga harus dilepaskan?" tanya Aurellia khawatir tapi juga heran. "Tapi kenapa harus dilepaskan ke dalam tubuh Namira dan Naifa? Apa tidak berbahaya?"
"Penjelasannya panjang, Tuan Putri. Nanti aku jelaskan! Aku mau memulihkan tenagaku dulu."
★☆★☆
Sekitar 1 penanakan nasih lebih tiga bocah sakti itu memulihkan tenaga. Dan tiga gadis kecil yang duduk di depan mereka masih setia di tempat.
"Untuk apa?" Aurellia seperti enggan.
"Aku akan memasukkan kembali tenaga saktimu yang masuk ke dalam tubuhku."
"Aku takut nanti seperti tadi lagi," kata Aurellia khawatir.
"Tidak akan, tenang saja."
"Bagaimana kalau seperti tadi lagi?"
"Tidak bakalan, aku jamin."
Aurellia belum menuruti permintaan Dhafin. Dia memandang sebentar pada Keenan dan Naifa yang sudah saling berhadap-hadapan sambil saling menempelkan kedua telapak tangan.
Tidak lama kemudian, dia menuruti juga permintaan Dhafin meski masih dengan perasaan miris.
Tapi begitu kedua telapak tangannya sudah menempel dengan kedua telapak tangan Dhafin, perasaannya langsung tentram dan tenang. Tanpa sadar bibir merahnya tersenyum-senyum girang.
"Jangan berpikir macam-macam dulu, Tuan Putri," tegur Dhafin. "Bisa bahaya kalau pikiranmu tidak fokus."
"Tidak bisakah aku merasa senang sedikit?" kata Aurellia sudah berani merajuk manja di depan Dhafin.
"Kosongkan pikiranmu dari hal-hal keduniaan!" instruksi Dhafin seolah tidak menghiraukan rajuk manja Aurellia. "Aku akan memulai memasukkan kembali energi saktimu ke dalam tubuhmu."
"Baiklah, Tuan Pangeran," kata Aurellia sudah mulai berani bergurau dengan Dhafin.
Tapi dia turuti juga instruksi Dhafin. Karena dia sudah terbiasa bersemedi, tidak terlalu susah mengosongkan pikirannya dari hal-hal keduniaan. Lalu memfokuskan pikirannya terhadap apa yang dilakukan Dhafin.
Waktu terus mengalir walau perlahan tapi pasti. Tanpa terasa sudah lebih 2 penanakan nasi berlalu....
__ADS_1
Sementara itu, Namira dan Naifa masih dalam proses memasukkan tenaga sakti ke dalam tubuh mereka yang dilakukan oleh Brian dan Keenan.
Tampak sekujur tubuh Namira kini telah terbungkus sinar bening berwarna merah yang cukup terang. Sedangkan tubuh Naifa terbungkus sinar bening berwarna hijau.
Dengan munculnya sinar dari dalam tubuh mereka, menandakan proses pemindahan telah berhasil.
Sementara Dhafin, tenaga sakti Aurellia yang terlempar ke dalam tubuhnya ternyata ada 2. Namun 2 tenaga sakti itu tidak bisa lagi dimasukkan kembali ke dalam tubuh Aurellia, meski sudah berkali-kali dia lakukan.
Akhirnya Dhafin memutuskan untuk berfokus meretas segel tenaga sakti yang belum terbuka di dalam tubuh Aurellia. Dan begitu Dhafin telusuri, ternyata masih ada 3 tenaga sakti yang masih tersegel.
Kini sekujur tubuh Aurellia terbungkus 3 sinar bening yang saling bercampur; putih, kuning dan merah muda. Hal itu menandakan segel kekuatan yang tadi masih terkunci di dalam tubuh Aurellia telah berhasil dibuka.
Sekarang Dhafin tinggal menyalurkan energi ghaib ke dalam 3 energi sakti itu agar Aurellia bisa mengendalikan sekaligus bisa menggunakannya.
Sementara itu, sinar yang menyelimuti tubuh Namira dan Naifa perlahan-lahan mulai redup. Hingga akhirnya sinar itu lenyap seakan merasuk ke dalam tubuh mereka.
Kini di dalam tubuh mereka terdapat energi sakti yang berasal dari Aurellia. Namun energi itu belum bisa terkendalikan. Sewaktu-waktu bisa keluar tanpa kemauan si pemilik.
Keenan hanya mampu memasukkan energi itu ke dalam tubuh Naifa. Tingkat kekuatan ghaibnya belum mampu menggodok energi itu agar Naifa bisa menggunakannya.
Sedangkan Brian yang tidak punya energi ghaib lebih tidak bisa lagi menggodok energi sakti yang ada di dalam tubuh Namira.
Sepenanakan nasi berlalu setelah pekerjaan Brian dan Keenan selesai, tubuh Aurellia tampak bergetar. Mula-mula getarannya lemah. Lama kelamaan getarannya mulai kencang. Hingga akhirnya bergetar kencang.
Namun hal itu cuma berlangsung beberapa saat. Tak lama getarannya mulai melemah. Bersamaan 3 sinar yang membungkus sekujur tubuh Aurellia mulai meredup.
Hingga akhirnya getaran di tubuh Aurellia berhenti seketika. Bersamaan sinar bening yang menyelimuti tubuhnya lenyap bagai merasuk dalam tubuh.
Setelah itu Dhafin menarik telapak tangannya sehingga tidak lagi bertempelan dengan telapak tangan Aurellia. Lalu menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Sementara Aurellia juga melakukan hal yang sama setelah menarik tangannya. Lalu membuka matanya dan terus memandang kedua telapak tangannya dengan perasaan heran.
Dia merasakan di kedua telapak tangannya ada semacam tenaga dalam yang siap dia keluarkan kapan saja dia mau. Dan... eh. Kenapa tiba-tiba dia merasakan ada semacam energi sakti yang berputar-putar di dalam tubuhnya?
Tapi energi sakti itu tidak membahayakan dirinya. Malah dia merasa sekujur tubuhnya terasa enteng. Namun tak urung membuatnya heran dan bingung.
"Nanti lama kelamaan kamu akan terbiasa dengan energi saktimu itu," kata Dhafin tahu akan kebingungan Aurellia.
"Apakah aku bisa menggunakannya?" tanya Aurellia seketika terbetik akan sesuatu.
"Aku berharap kamu menggunakan kesaktianmu pada hal-hal yang baik," kata Dhafin seolah menasehati.
Aurellia langsung tersenyum saat mendengar ucapan Dhafin itu. Ucapan yang bernada nasihat itu mengandung arti kalau dia bisa menggunakan energi saktinya.
"Tapi aku minta maaf, Tuan Putri, energi saktimu yang masuk ke dalam tubuhku tidak bisa lagi aku kembalikan kepadamu," kata Dhafin selanjutnya memberi tahu. "Entah kenapa aku belum mengerti."
"Tidak mengapa," kata Aurellia enteng. "Untuk kamu saja. Bukankah lebih baik kamu punya banyak kesaktian?"
Baru saja Dhafin hendak berkata menanggapi ucapan Aurellia, Brian sudah menegur.
"Apakah kalian belum selesai bicara? Masih ada pekerjaan yang belum selesai, Dhafin."
Dhafin maupun Aurellia langsung menoleh pada Brian yang ternyata sudah kembali duduk di atas permadani. Keenan, Namira, dan Naifa juga sudah duduk di situ.
Dhafin segera memandang Namira dan Naifa, lebih tepatnya mengamati. Barulah dia tahu maksud ucapan Brian. Ternyata energi sakti yang ada di dalam tubuh kedua gadis kecil itu belum siap pakai.
Setelah menyuruh Aurellia bersemedi, tanpa menunda Dhafin melakukan pekerjaan yang kata Brian belum selesai. Yaitu membuat energi sakti Namira dan Naifa menjadi terkendali agar mereka bisa menggunakan.
Dia meminta bantuan kepada Keenan dan Brian agar membantunya menyuplai tenaga dalam. Karena dia hendak menggodok energi sakti Namira dan Naifa sekaligus.
★☆★☆
__ADS_1