Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 90 PERTARUNGAN PENYAIR PEMETIK BUNGA DENGAN GIBSON KYLER


__ADS_3

Serangkum angin berhawa panas itu terus saja melesat tanpa ada yang menghalang. Dan serangan ganas itu baru berhenti ketika menghantam sebuah pohon cukup besar.


Sedangkan si pohon yang tidak punya salah apa-apa langsung patah dan rebah kebelakang, menimbulkan suara gemuruh yang cukup berisik.


Sebenarnya serangan jarak jauh itu sasaran utamanya adalah seseorang yang menegur Penyair Pemetik Bunga. Seharusnya orang yang dimaksud berada di belakangnya tadi. Namun serangan jarak jauhnya cuma menyasar pohon. Orang yang menegurnya tidak ada di situ.


"Keparat!" makinya dengan suara keras menghempaskan kedongkolan hatinya. "Keluar kamu! Jangan hanya bersembunyi seperti tikus parit!"


Matanya nyalang menatap liar keadaan sekelilingnya. Orang yang diduganya lelaki benar-benar sudah mempermainkannya dengan begitu rendah. Sampai saat ini manusianya belum juga ditemukan.


Selagi dia celingukan mencari di mana lelaki misterius yang cuma menampakan suaranya, seketika kembali terdengar suara lelaki yang dicarinya. Namun kali ini orang itu juga melantunkan syair.


"Purnama pucat menjatuhkan cahaya pudarnya menerpa mayapada...


Takdir langit jatuh kepada seorang insan hingga dirundung bencana...


"Lelaki laknat yang durjana membenamkan dosanya...


kepada manusia lemah hingga membuatnya terpedaya...


Hampir saja kebusukan menelanjangi kehormatannya...


Hampir saja kenistaan menggagahi kesuciannya...."


Terkejut bercampur dongkol berkecamuk di dalam kemarahan Penyair Pemetik Bunga. Dia amat mengerti makna syair itu. Syair itu telah menyinggung perbuatan kotornya.


Tapi bukan itu yang membuatnya makin terkejut. Irama syairnya itu bukan intonasi suara biasa. Ada gelombang aneh mengalun dari irama itu. Masuk ke dalam telinganya, lalu merasuk ke dalam darahnya hingga membuatnya kaku perlahan demi perlahan.


Namun dengan cepat dia segera mengerahkan energi batinnya serta tenaga dalamnya untuk menghalau gelombang ghaib yang aneh itu.


Selagi Penyair Pemetik Bunga tengah berjuang mempertahankan kesadarannya, seketika sesosok bayangan merah berkelebat amat cepat dan langsung menyambar gadis berbaju ungu. Lalu membawanya kesebuah tempat tak jauh dari situ.


Sosok bayangan itu ternyata adalah seorang pemuda tampan berpakaian rangkap dengan baju luar berupa pakaian panjang berwarna merah gelap.


Rambutnya panjang diikat di belakang tengkuknya. Sekelompok kecil anak rambut depannya menjuntai di depan wajah sebelah kirinya.


Penampilannya tidak seelegan Penyair Pemetik Bunga, tapi tampak rapi dan menarik. Dipadu dengan kulitnya yang berwarna coklat membuatnya makin tampan. Dia tidak lain Gibson Kyler.


Dia sebenarnya salah seorang Pasukan Rahasia juga yang ditugaskan Pangeran Revan untuk menginvestigasi satu wilayah atau lebih tepatnya kota di Kerajaan Bentala. Tapi entah kenapa dia bisa sampai nyasar ke kampung halamannya ini?


Penyair Pemetik Bunga sebenarnya menyadari perbuatan Gibson. Namun untuk beberapa saat lamanya dia belum bisa berbuat apa-apa.


Meski dia mulai berhasil menangkal pengaruh aneh dari gelombang suara syair tadi, tapi dia belum bisa menggagalkan perbuatan Gibson.


Sementara itu, Gibson sepertinya hendak menormalkan kondisi si gadis yang masih dalam pengaruh kekuatan ghaib milik penyair cabul.


Tapi dia berpikir prosesnya cukup lama, keburu Penyair Pemetik Bunga sudah sadar dari pengaruh kekuatan ghaibnya pula.


Maka dia cuma menotok kedua pendengaran si gadis. Lalu mendudukkan gadis itu dengan duduk bersila bagai orang bersemedi. Kemudian Gibson berdiri di samping kanan si gadis.


Lalu menempelkan telapak tangan kirinya di atas kepala si gadis, terus mengalirkan energi saktinya melalui telapak tangannya itu. Sembari sepasang matanya tak pernah lekang memperhatikan gerak-gerik penyair cabul itu.

__ADS_1


★☆★☆


Sementara itu Penyair Pemetik Bunga sudah terlepas dari pengaruh ghaib yang dikirimkan Gibson. Sejenak dia menatap tajam ke arah Gibson yang juga menatapnya.


Wajahnya yang tadi masih menegang memendam amarah kini kembali biasa. Namun senyum sinis berbalut angkuh menghias wajah mesumnya.


"Aku mengira telah berada di atas puncak Kanaya...


Tak tahunya aku lupa menengadahkan muka...


Rupanya ada pendekar yang telah berdiri di atas sana...


Terhantur sejuta maaf atas khilaf yang terlaksana...


Kalaulah boleh sudilah kiranya menyebut nama...."


Kanaya atau lebih tepatnya Bukit Kanaya adalah sebuah tempat atau bukit yang paling tinggi di Kerajaan Amerta.


Makna dari syair itu adalah mengungkapkan rasa rendah diri sekaligus mengakui kehebatan lawan serta permintaan maaf.


Namun nada lantunan suaranya menyiratkan keangkuhan diri Penyair Pemetik Bunga. Dia juga menyelipkan tenaga sakti ke gelombang suaranya. Jelas dia menyerang Gibson dengan melalui syairnya.


Sedangkan Gibson sepertinya tidak terpengaruh akan tenaga dalam penyair cabul melalui syairnya. Yang tampak sedikit berpengaruh adalah si gadis baju ungu. Tubuhnya tampak bergetar halus.


Namun Gibson sudah menutup pendengaran si gadis. Juga telah menyalurkan tenaga sakti ke dalam kepalanya. Sehingga pengaruh tenaga sakti Penyair Pemetik Bunga cuma sedikit.


Melihat Penyair Pemetik Bunga sepertinya mengajak bertarung melalui syair, Gibson meladeninya dengan senang hati. Maka dilantunkan pula syair dengan memasukkan tenaga ghaibnya melalui irama lantunannya.


Apa artinya kaki berpijak di puncak Kanaya jika keangkuhan bertengger di atas kepalanya...


Pendekar sejati tidak akan menodai kesakralan pendekar dengan kenistaan...."


Dengan 3 bait syair Gibson sudah bisa membendung tenaga dalam Penyair Pemetik Bunga. Sehingga gelombang energi ghaib pada syair Gibson langsung menghempas gelombang energi ghaib pada syair penyair cabul.


Penyair Pemetik Bunga mengkeretakkan kedua rahangnya pertanda menggeram marah yang sangat. Dua kali pemuda berbaju merah gelap itu melecehkannya melalui syair. Dan 2x pula dia dipecundanginya tanpa bisa berbuat apa-apa.


Sepertinya dia terlalu meremehkan Gibson. Dan kini merasa yakin kalau Gibson memang tidak bisa dianggap remeh. Maka masih bertarung melalui syair, kembali dia melantunkan syairnya. Kali ini dia menambah kekuatan energi ghaibnya lebih tinggi.


Namun kali ini yang dia serang adalah gadis berbaju ungu. Maka lantunan-lantunan syair yang penuh kemesuman langsung muntah dari mulut kotornya.


Penyair Pemetik Bunga masih berusaha membuat gadis baju ungu itu benar-benar tunduk kepadanya. Kalau sudah begitu, gadis itu akan berlari kepadanya dengan suka rela.


Sebenarnya tindakan Penyair Pemetik Bunga itu sama saja mencelakakan dirinya. Dia menyerang gadis baju ungu yang dalam perlindungan Gibson. Sedangkan Gibson terus menyerangnya dengan melontarkan syair-syair yang mengandung ejekan terhadapnya.


Tak lama kemudian, penyair cabul menyadari kesalahannya. Apalagi dilihatnya gadis baju ungu tidak menunjukkan pengaruh yang berarti atas usaha kotornya. Malah dia yang hampir terkalahkan oleh gelombang energi ghaib Gibson.


Maka dia merubah strategi serangannya. Menyerang Gibson dengan kekuatan syairnya pula.


Tidak butuh waktu lama suasana di sekitar tempat itu seketika bergemuruh bagai diamuk badai. Angin cukup kencang menghempas sembarang arah.


Sehingga membuat dedaunan kering beterbangan tak tentu arah. Pohon-pohon berguncang-guncang hingga sebagian daunnya berguguran. Hingga suatu ketika....

__ADS_1


Duaaarrr...!


Blaaarrr...!


"Aaa...!"


★☆★☆


Terdengar 2 ledakan yang dahsyat bagai 2 lidah petir yang saling bertemu.


Akibat dari peristiwa mengerikan itu Gibson terlempar cukup jauh ke belakang. Sedangkan Penyair Pemetik Bunga yang lebih jauh terlemparnya. Namun sama sekali tidak ada di antara mereka yang menjerit.


Rupanya yang menjerit keras adalah gadis baju ungu itu. Dia juga sempat terhempas ke belakang. Terguling beberapa kali di atas tanah berumput. Setelah itu gadis baju ungu itu pingsan.


Tapi ada perubahan pada wajah cantiknya. Yang tadi wajahnya masih bermode birahi, kini sudah kembali normal. Namun tak urung dia mengalami luka dalam. Ditandai dengan sudut bibir kirinya mengalirkan darah.


Rupanya akibat peristiwa barusan membuat pengaruh kekuatan ghaib Penyair Pemetik Bunga pada gadis itu seketika hilang.


Sementara itu, tampak Gibson dan penyair cabul segera beringsut bangkit dengan cepat. Masing-masing mereka telah mengalirkan darah di sudut bibir.


Setelah menormalkan keadaan masing-masing mereka, maka kembali mereka bersiap-siap untuk saling menyerang. Dan seperti telah bersepakat kini mereka bertarung dengan adu fisik dan tenaga dalam secara langsung.


Sambil berteriak dengan suara yang menggelegar kedua pemuda itu melesat dengan cepat. Begitu sudah dalam jangkauan serangan, mereka langsung saling serang dengan langsung mengerahkan jurus-jurus andalan.


Sementara itu, di atas sebuah pohon besar tampak Dhafin dan Kayshila tengah bertengger di sebuah dahan besar. Sepasang kekasih terlarang itu tengah menyaksikan pertarungan antara Gibson melawan penyair cabul yang cukup jauh di tempat mereka bersembunyi itu.


Sementara Kayshila, begitu melihat 2 petarung itu sudah cukup jauh dari tempat gadis baju ungu terkapar pingsan, dia langsung melesat cepat bagai kilat. Saking cepatnya tahu-tahu dia sudah berada di dekat si gadis.


Tanpa berlama-lama dia langsung membopong gadis itu di kedua tangannya, lalu membawanya ke bawah pohon di mana dia dan Dhafin bersembunyi.


Sementara itu pertarungan antara Gibson dengan Penyair Pemetik Bunga semakin sengit. Hingga suatu ketika kedua telapak tangan mereka saling bertemu pada satu titik tengah.


Maka tak butuh waktu lama kembali terdengar ledakan yang cukup dahsyat. Membuat mereka terjajar ke belakang beberapa langkah.


Sejenak penyair cabul menormalkan dirinya. Lalu menggenggam kipasnya yang sudah berpindah di tangam kanannya dengan erat. Tak lama kemudian, terjadi keajaiban.


Kipas itu langsung terbungkus sinar putih. Lalu sinar itu seketika memanjang. Terus sinar itu seketika berubah menjadi pedang panjang dan tajam warna putih perak.


Sementara Gibson berbuat hampir sama dengan Penyair Pemetik Bunga. Seketika tangan kanannya seperti menggengam sesuatu. Lalu tiba-tiba keluar sinar kuning memanjang dari genggamannya itu.


Kemudian sinar itu pula berubah menjadi sebuah pedang yang memancarkan sinar kuning.


Sungguh suatu pertunjukkan yang menakjubkan!


Tanpa menunggu lama-lama Penyair Pemetik Bunga langsung menyerang Gibson yang masih berdiri diam di tempatnya. Sepertinya dia menanti saja serangan dari penyair cabul tiba.


Tubuh Penyair Pemetik Bunga yang melenting di udara sudah berada dekat dengan Gibson. Pedang di tangan kanannya langsung diayunkan dari atas ke bawah hendak membelah dua Gibson.


Namun Gibson lebih cepat lagi mengangkat pedangnya ke atas, menangkis hantaman pedang milik Penyair Pemetik Bunga.


Demikian kuatnya tenaga hantaman pedang itu, menimbulkan ledakan yang amat dahsyat. Menghantarkan gelombang ledakan ke segala arah.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2