Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAK 53 TURNAMEN BELADIRI ANAK BANGSAWAN Part.6: KETERLIBATAN PUTRI FANIZA


__ADS_3

Lima gadis kecil nan cantik yang ada di Tim Brian Darel menyambut kemenangan Dhafin dengan tepuk tangan yang meriah bersama pendukung dan penonton lainnya. Wajah mereka tampak berseri-seri karena senangnya.


Terutama yang lebih senang adalah Putri Aurellia. Dia senang karena Dhafin menang. Dia senang karena Dhafin tidak berbuat yang aneh-aneh selama bertarung. Dia senang karena Dhafin mau menuruti ucapannya.


Dia hanya ingin Dhafin agar menang, tidak perlu sampai menciderai seperti niat Nick pada Dhafin.


Sementara di panggung Yang Mulia, yang kebetulan waktu itu Yang Mulia tidak menonton bersama Pengawal Raja dan Pendeta Noman, Putri Faniza Elvira juga bertepuk tangan. Wajahnya tampak berseri-seri kegirangan atas kemenangan Dhafin.


Sejak pertandingan pertama hingga pertandingan ke 3 dia tidak pernah absen menonton pertandingan di turnamen bergengsi ini. Terutama menonton pertandingan tim favoritnya, Tim Brian Darel. Lebih khusus lagi menonton pertarungan Dhafin.


Entah kenapa Putri Faniza lebih memfavoritkan Tim Brian Darel daripada Tim Pangeran Adrian. Yang mana Pangeran Adrian Carel adalah kakak kandungnya sendiri.


Sementara itu, di atas arena 2 Dhafin memandang sebentar pada Nick yang digotong oleh dua petugas turun ke arena. Tampak anak muda itu masih lemas hingga harus digotong turun.


Kemudian dia menoleh sebentar pada panggung Yang Mulia. Tapi dia tidak melihat Yang Mulia ada di situ. Juga tidak melihat ibu angkatnya.


Sejak pertandingan ke 2 hingga ke 3 hari ini Yang Mulia dan Jenderal Myles serta Perdeta Noman, ayahnya, dan Jenderal Lyman tidak menonton pertandingan. Entah kenapa dia belum tahu.


Dia juga hingga sekarang belum memenuhi undangan Yang Mulia yang menyuruhnya datang ke Istana Kristal Ungu, kediaman Yang Mulia. Dikarenakan sibuk mengurus pekerjaan-pekerjaan besar.


Namun dia berencana kalau besok dia akan ke istana untuk memenuhi undangan Yang Mulia. Karena besok merupakan waktu jeda turnamen.


Sebelumnya Putri Aurellia sudah membolehkan padanya untuk menjelaskan mengenai penyakitnya yang dulu di hadapan Yang Mulia.


Saat ini dalam pikirannya dia hendak pulang ke rumahnya dulu. Karena semenjak turnamen berlangsung dia belum pulang. Sudah lama dia meninggalkan bunda angkatnya yang amat menyayanginya.


Dhafin terus beranjak hendak turun dari arena. Sementara Putri Faniza terus menatap kepergian Dhafin hingga hilang di bawah panggung.


Dia tadi sempat deg-degan juga saat Dhafin menoleh ke panggung Yang Mulia. Cepat-cepat dia melengos ke arah lain, takut kepergok kalau dia terus saja menatap Dhafin.


★☆★☆


Keesokan harinya Dhafin bersama Keenan berkunjung ke Istana Kristal Ungu yang didampingi oleh ayah angkatnya, Jenderal Felix.


Bukan bersama Brian. Karena Brian jelas tidak mau menemui ayahnya kalau tidak dipanggil. Dan Yang Mulia memang tidak menyuruhnya ikut serta.


Bukan tanpa alasan Dhafin mengajak Keenan ikut bersamanya ke istana menemui Yang Mulia. Mereka hendak mengerjakan misi besar di hadapan Yang Mulia.


Adapun Pertemuan di Istana Kristal Ungu tidak lain membicarakan masalah penyakit kulit yang pernah menimpa Putri Aurellia Claretta. Tapi sebelumnya Dhafin meminta untuk dihadirkan Putri Faniza Elvira.


Terang saja Yang Mulia, Pendeta Noman, Jenderal Myles, Jenderal Felix, dan Jenderal Lyman yang ada di ruang kerja Yang Mulia di Istana Kristal Ungu terkejut heran mendengar permintaan Dhafin itu.


Maka Dhafin menjelaskan kalau Putri Faniza Elvira ada hubungannya dengan penyakit yang menimpa Putri Aurellia.


Meski masih bertanya-tanya keheranan tentang hal itu Yang Mulia meluluskan juga untuk memanggil Putri Faniza untuk datang ke istananya ini.


Sambil menunggu kedatangan Putri Faniza, Dhafin menjelaskan secara mendetail penyakit kulit yang menimpa Putri Aurellia yang sudah disembuhkan.


Dhafin menyatakan secara tegas bahwa penyakit yang menimpa Putri Aurellia bukan karena kutukan, melainkan disebabkan oleh racun yang bernama 'Racun Bunga Duka'. Terbukti penyakit kulit itu bisa dia sembuhkan.


Lalu Dhafin menjelaskan semua yang berkenaan dengan racun tersebut secara gamblang dan rinci. Dan juga menjelaskan bagaiman proses penyembuhannya.


Setelah menggabungkan penjelasan Pendeta Noman sebelumnya dan keterangan Dhafin barusan, akhirnya Yang Mulia percaya kalau Putri Aurellia memang terkena Racun 'Bunga Duka'.


Namun asumsinya bahwa Putri Aurellia yang membunuh bundanya sendiri masing mengganggu pikirannya, meski pun mulai goyah setelah mendengar keterangan Dhafin mengenai penyakit Putri Aurellia.


Dan mengenai asumsi itu Dhafin dan Keenan meyakinkan kepada Yang Mulia bahwa Putri Aurellia bukan pembunuh Permaisuri Michella. Namun dalam penjelasan itu mereka belum memberi tahu siapa pembunuh sebenarnya.

__ADS_1


Ketika Yang Mulia kembali bertanya mengenai keterlibatan Putri Faniza dalam masalah ini, maka Dhafin menjelaskan bahwa dia dan Keenan akan melalukan ritual untuk mengungkap kejadian 3 tahun yang lalu melalui Putri Faniza.


Semua yang ada di ruangan itu paham apa dikatakan oleh Dhafin. Tapi mereka, selain Pendeta Noman, ragu apa 2 anak itu sudah bisa melakukannya? Dan kenapa mesti melalui Putri Faniza?


Sementara itu, Putri Faniza tidak merasa heran Yang Mulia memanggilnya meski hatinya bertanya-tanya. Tapi begitu mengetahui kalau di Istana Kristal Ungu ada Dhafin dan Keenan, jelas hal itu membuatnya terkejut bukan main.


Berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam hatinya ketika bertemu Dhafin lagi. Perasaan gembira yang tidak terlukiskan. Tapi juga dia jadi malu sampai dia agak grogi dan tidak berani duduk berdekatan.


Dia tidak heran kenapa Dhafin ada di istana, karena memang Dhafin sudah beberapa kali dipanggil Yang Mulia ke istana.


Yang dia herankan kalau kehadirannya di sini atas permintaan Dhafin. Tambah heran lagi kalau Dhafin dan Keenan hendak melakukan ritual untuk mengungkap masa lalu melalui dia. Terang saja dia tidak mengerti dan mulai merasa horor.


Namun Dhafin menjelaskan kalau ritual itu tidak apa-apa, tidak akan memudaratkan dirinya dan nanti Putri Faniza akan mengerti sendiri kenapa dia dijadikan media untuk mengetahui kejadian masa lalu.


Tidak lama kemudian, ritual sudah dimulai. Putri Faniza sudah duduk berhadapan dengan Dhafin dan Keenan. Berada begitu dekat dengan Dhafin membuat groginya makin bertambah.


Perlu diketahui, Putri Faniza ini memiliki hati yang lembut dan rasa malu yang tinggi kepala orang yang belum dia kenal, apalagi kepala lelaki.


Jika ada lelaki yang menarik hatinya, dia hanya memandangnya dari jarak jauh. Tidak berani untuk mendekat, apalagi berbicara dengannya.


Di belakang Putri Faniza duduk bersila Pendeta Noman sambil menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Putri Faniza.


Mulanya Putri Faniza enggan serta malu menempelkan kedua telapak tangannya pada Dhafin dan Keenan. Terutama pada Dhafin.


Namun setelah Dhafin menjelaskan agar sifat malunya ditanggalkan dulu, karena pekerjaan ini amat penting, akhirnya dia memberanikan diri juga menempelkan kedua telapak tangannya pada Dhafin dan Keenan.


★☆★☆


Tak lama kemudian, Keenan sudah menciptakan cermin cahaya berbentuk segi empat. Dan di dalam cermin ajaib itu tampaklah adegan yang amat mengagetkan semua yang ada di situ, terutama Yang Mulia.


Dalam suatu adegan di dalam cermin ajaib tampak seorang wanita cantik yang sedang memegang botol pupur. Wanita itu tersenyum aneh sambil memandang botol pupur itu dan berkata.


"...Setelah rencanaku ini berhasil, aku akan menjalankan rencana berikutnya pada anak saktimu yang satu...."


"...Tidak boleh ada anak sakti dalam keturunanmu, Darian. Itu akan menghambat rencanaku merebut kekuasaanmu."


Adegan berikutnya wanita cantik itu menyerahkan botol pupur tadi pada seorang anak perempuan kecil. Lalu menyuruhnya untuk menyerahkan pada Putri Aurellia.


Gadis kecil itu tampak manut saja, tanpa berkata atau bertanya apa-apa. Sepertinya dia tersihir oleh wanita cantik namun berhati jahat itu.


Kemudian gadis kecil itu pergi ke kediaman Putri Aurellia dan menyerahkan botol pupur yang ternyata racun yang langsung diterima oleh Putri Aurellia.


Tak lama kemudian, ritual pengungkapan kejadian masa lalu telah usai. Kemudian Dhafin menjelaskan bahwa setelah memakai pupur yang diberikan tadi, Putri Aurellia terkena penyakit kulit.


Fakta ini Dhafin dengar langsung dari Putri Aurellia dan Namira serta Naifa.


Ternyata begitu kejadian sebenarnya, bukan karena kutukan. Yang Mulia membatin dalam hati. Dia seketika terhenyak diam setelah mengetahui fakta yang sebenarnya. Belum mampu berkata apa pun.


Dia tahu wanita cantik yang memberikan racun tadi adalah kakak tirinya, Putri Rayna Cathrine. Dan gadis kecil yang mengantar racun itu adalah putrinya, Putri Faniza Elvina.


Ternyata selama ini dia telah berbuat kesalahan yang amat besar. Membiarkan sekaligus membatu putrinya, Putri Aurellia terpuruk dalam penderitaan.


Sungguh dia tidak menyangka kalau Putri Rayna, kakak tirinya tega meracuni putrinya yang tidak berdosa itu. Bahkan dia berpikir mungkin kakaknya pula yang telah membunuh istrinya yang dulu.


Namun kenapa dia begitu bodohnya telah menuduh putrinya yang telah membunuh istrinya? Kenapa dia baru menyadari setelah putrinya melewati penderitaan yang amat menyedihkan sekaligus mengerikan itu?


Sementara Putri Faniza tidak mengerti kejadian yang berlangsung di cermin ajaib tadi. Namun begitu tahu kalau pupur yang dia serahkan pada Putri Aurellia itu teryata racun, dia langsung menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu ketakutan akan kemarahan Yang Mulia langsung menyelimutinya. Dia takut nasibnya akan seperti Putri Aurellia. Dikucilkan dari keluarga istana, bahkan diusir dari istana.


Karena Yang Mulia telah mengetahui kalau dia pernah menemui kandanya, Putri Aurellia.


Tapi, sungguh dia tidak mengerti dan tidak mengingat apa-apa tentang kejadian tersebut. Tidak mengingat kalau Putri Rayna, bibinya pernah memberikan botol pupur kepadanya.


Tidak mengingat kalau dia pernah menemui kakaknya waktu itu. Bahkan tidak ingat kalau pernah memberikan botol pupur kepada kakaknya. Sungguh dia tidak mengingat apa-apa.


"Kenapa kamu berani melanggar perintah ayahanda, Putri Faniza?" tanya Yang Mulia meski tenang namun bernada datar. "Kenapa kamu tidak bilang pada ayahanda kalau waktu itu kamu menemui kandamu?"


Kalimat itu diucapkan dengan tenang, namun amat menyeramkan terdengar di telinga Putri Faniza sehingga membuatnya horor.


Nyawanya seakan tercabut saat ini. Jantungnya serasa copot. Sekujur tubuhnya langsung menggigil ketakutan. Wajah cantiknya langsung pias. Lidahnya kelu, tidak bisa berkata apa pun.


Kalau tidak segera ditangkap oleh Dhafin dengan cepat, mungkin tubuhnya langsung tersungkur ke depan. Dia cuma menoleh sedikit pada Dhafin, setelah itu tertunduk lagi.


Kalau dalam keadaan normal, tentu saja dia langsung malu Dhafin menyentuh tubuhnya. Tapi perasaannya saat ini seakan mati. Pikirannya sudah kacau. Rasa takut masih mendominasi dirinya. Dia tengah depresi saat ini.


Saat ini dia tidak berani memandang siapa pun, tidak bisa berkata apa pun. Bahkan pertanyaan Yang Mulia belum berani dia menjawab. Sekujur tubuhnya terasa lemas dan masih dipegang oleh Dhafin.


"Ampun, Yang Mulia. Bolehkah hamba yang menanyai Tuan Putri?" pinta Dhafin penuh takzim.


Setelah mengamati keadaan Putri Faniza yang amat memprihatinkan dan mempertimbangkan permintaan Dhafin, akhirnya Yang Mulia mengijinkan.


★☆★☆


Perlahan Dhafin menghadapkan posisi duduk Putri Faniza ke hadapannya. Lalu menyalurkan tenaga dalam ke dalam tubuh Putri Faniza agar tubuhnya tidak lemah dan bisa duduk dengan tegak. Lalu memintanya agar tenang.


Setelah Putri Faniza tenang dan berani menatap mata Dhafin setelah Dhafin memintanya, lalu Dhafin bertanya dengan lembut, tenang dan sopan.


"Maaf, Tuan Putri. Apakah Tuan Putri ingat kalau pernah diberikan botol pupur oleh wanita yang ada di cermin ajaib tadi?"


"Aku tidak ingat kalau Bibi Rayna pernah memberiku botol pupur, Kak Dhafin," sahut Putri Faniza sungguh-sungguh meski dengan suara lemah.


"Tidak ingat kalau pernah menemui Kanda Aurellia, apalagi memberikan botol pupur kepadanya," lanjutnya tanpa ditanya.


Dhafin maupun Keenan percaya kalau Putri Faniza berkata jujur. Mereka bisa tahu dari pancaran matanya dan nada suaranya. Sedangkan Pendeta Noman juga percaya kalau Putri Faniza tidak berbohong.


Namun 3 jenderal apalagi Yang Mulia tidak percaya begitu saja pengakuan Putri Faniza.


Maka Dhafin dan Keenan meyakinkan mereka kalau Putri Faniza memang berkata jujur. Dan menjelaskan kalau waktu itu Putri Faniza disihir oleh Putri Rayna. Sehingga menuruti saja perintahnya tanpa mengerti apa-apa.


Setelah melaksanakan perintahnya, lalu Putri Rayna menghilangkan jejak dengan menghilangkan ingatan Putri Faniza akan kejadian tersebut.


Keenan menambahkan kalau Putri Rayna telah menguasai ilmu sihir.


Sedangkan Pendeta Noman ikut meyakinkan kepada Yang Mulia kalau keterangan Dhafin dan Keenan tersebut adalah benar. Dan memohon kepala Yang Mulia agar tidak menyalahkan Putri Faniza dalam peristiwa ini. Karena dia hanyalah sebagai alat yang tidak mengerti apa-apa.


Cukup lama Yang Mulia tercenung akan semua penjelasan Dhafin dan Keenan. Hingga akhirnya Yang Mulia percaya juga. Dan meluluskan permohonan Pendeta Noman setelah merenung beberapa saat.


Mendengar Yang Mulia mengampuninya, Putri Faniza mulai berangsur tenang. Tidak terlalu takut lagi. Tapi hatinya masih sedih mengingat kandanya menderita akibat perbuatannya meski tanpa sengaja.


Lalu atas persetujuan Yang Mulia Dhafin menghilangkan ingatan Putri Faniza akan kejadian yang didengar dan disaksikannya di ruang kerja Yang Mulia ini.


Tujuannya agar Putri Faniza tidak mengalami gangguan mental. Karena terbukti, ketika mengetahui kenyataan kalau dia terlibat atas terusirnya Putri Aurellia dari istana, dia langsung menderita tekanan batin.


Sementara itu, waktu terus bergulir meski lambat tapi tanpa henti. Sedangkan perbincangan di ruang kerja di Istana Kristal Ungu terus saja berlanjut.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2