
Pagi itu Kota Diandara terbilang cerah. Langit nyaris tanpa awan menggantung. Matahari masih bersinar lembut menebar kenyamanan ke seantero penduduk kota.
Namun siapa sangka kalau suasana yang begitu bersahabat ini akan dijadikan ajang pertempuran yang sepertinya sebentar lagi akan meletus.
Pejabat Kota Diandara tampak begitu berani berada di depan para jawara handal dan para murid perguruan. Sikapnya begitu jelas menantang Pangeran Revan dan pasukannya yang berada di depannya berjarak kira-kira 6-7 tombak.
"Apa kalian yang punya kerjaan membuat pasukan militer tidak bisa keluar dari markas militer hah?" kata Pejabat Kota Diandara bernada membentak.
Sebenarnya kalau mau tahu Pejabat Kota Diandara sengaja bersikap garang, menampakkan keberanian untuk menutupi hatinya yang sebenarnya sudah ketar-ketir.
Dia sudah cukup banyak mendengar kabar kehebatan pasukan Selir Heliana dalam beraksi. Bayangkan saja belum ada sebulan mereka sudah menguasai 3 wilayah ujung Kerajaan Bentala.
Dan target selanjutnya adalah kota yang dia pimpin ini.
Tapi sepertinya kota yang memanjakan hidupnya yang cuma mencari kesenangan sepertinya dengan mudah direbut. Karena belum apa-apa semua pasukan militer sudah dibuat seperti terpenjara dalam markas militer.
Dia tidak bisa melakukan apa-apa karena tidak punya apa-apa. Dia hanya bisa memasang nyali besar karena cuma itu yang dia punya. Padahal sebenarnya nyawanya sudah gemetar dalam raganya.
"Kami hanya melakukan pengamanan, Tuan Pejabat," kata Pangeran Revan kalem bernada dingin.
"Hah! Bilang saja kalian takut menghadapi pasukan militer yang begitu banyak," bentak Pejabat Kota masih dengan sikap garang, "sehingga kalian harus melakukan sihir!"
"Kami merasa mereka belum pantas mati," kata Pangeran Revan masih kalem dengan nada dinginnya. "Jadi untuk sementara kami amankan dulu."
"Kalau kamu juga ingin diamankan," kata Brian seakan menyambung ucapan Pangeran Revan, "kamu tinggal bilang saja, Tuan Pejabat. Kami pasti mengamankanmu."
Ucapan Brian yang bernada santai itu jelas dimengerti otak cerdas tapi licik Pejabat Kota.
Pangeran Revan menginginkan agar dia dan pasukannya yang ada di pelataran gedung jawatan ini untuk menyerah tanpa perlawanan. Tapi dengan jaminan keamanan.
Tapi para jawara maupun murid-murid perguruan rata-rata tidak ada yang paham betul ucapan itu. Sepertinya mereka memahami kalau Pangeran Revan hendak memulai melakukan penyerangan.
Maka salah seorang jawara berkata kepada Pejabat Kota dengan nada memerintah.
"Tuan Pejabat. Sebaiknya tuan mundur saja! Biar kami yang menghadapi mereka!"
Pejabat Kota langsung menoleh pada jawara itu dan menatapnya dengan tajam. Ucapan itu jelas menghina harga dirinya sebagai seorang pejabat.
"Kamu diam saja, Tolol!" bentaknya dengan mata melotot. "Kalau kamu tidak tahu apa-apa tidak usah ikut bicara!"
"Kami hanya mengkhawatirkan keselamatanmu, Tuan Pejabat," kata jawara itu seolah menerangkan. Tapi nada suaranya jelas tersinggung atas bentakan perendahan dari Pejabat Kota barusan.
Pejabat Kota hanya mendengus sinis, lalu kembali menoleh ke depan, ke arah Pangeran Revan.
"Apa kalian sudah merasa yakin akan mengalahkan Yang Mulia Bunda Suri," bentak Pejabat Kota yang sebenarnya juga melontarkan kalimat tersirat, "sehingga kalian sudah berani menjamin keamanan kami?"
Cerdas! Cuma beberapa orang yang ada di kubu Pangeran Revan yang bisa memahami kecerdasan otak sang pejabat. Sehingga dia melontarkan kalimat tersirat pula, seolah mengimbangi ucapan Brian.
Termasuk Dhafin yang kalimat-kalimat seperti begini meski paham. Maka dia berkata dengan mengungkapkan kalimat pengibaratan.
"Bunda Suri-mu itu sekarang ini ibarat orang yang berada di bawah bukit yang mengelilinginya. Dia tidak bisa ke mana-mana lagi. Tinggal ditimpuki batu kecil dia akan binasa."
Lagi-lagi Pejabat Kota paham betul kalimat pengibaratan Dhafin tersebut. Posisi Bunda Suri sekarang sudah terjepit di tengah-tengah. Tidak bisa ke mana-mana lagi karena pasukan Selir Heliana sudah menguasai pinggiran wilayah Kerajaan Bentala.
Termasuk kota di wilayah timur ini, di mana pasukan militernya sudah mereka kuasai. Mereka mau bunuh atau membiarkan hidup tergantung mereka.
Sekarang Pangeran Revan menyuruh mereka menyerah tapi keselamatannya dijamin. Pejabat Kota mana tidak tergiur.
Dia sudah menghitung-hitung, kalau para jawara dan para murid perguruan tetap memaksa melawan, bisa jadi mereka akan kalah. Dikarenakan kehebatan pasukan Heliana yang sudah terkenal.
Meskipun mereka dibantu oleh 5000 Prajurit Keamanan yang kehebatannya cuma menakuti perampok biasa. Dan pastinya dia juga akan ikut mati.
Lebih baik menyerah saja asalkan nyawa selamat.
__ADS_1
★☆★☆
"Baiklah, kami akan menyerah asalkan kalian benar-benar menjamin keselamatan kami," kata Pejabat Kota akhirnya memutuskan.
Tapi belum juga Pangeran Revan menanggapi ucapan Pejabat Kota, jawara yang tadi menegurnya langsung berkata bernada dingin bercampur geram.
"Apa kamu hendak berkhianat, Pejabat Kota?"
"Apa kamu tidak bisa membuka matamu lebar-lebar dengan siapa kita berhadapan hah?" bentak Pejabat Kota setelah berbalik menghadap orang itu. "Kita akan tetap mati konyol kalau tetap melawan."
"Lebih baik kita menyerah tapi nyawa selamat ketimbang kita te.... Haghk!"
Ucapan Pejabat Kota tidak sampai selesai, karena tiba-tiba ujung pedang jawara itu langsung menusuk dada kirinya dengan cepat hingga tembus ke punggung belakang.
"Kami bukan pengecut sepertimu, Pejabat Sialan!" kata jawara itu mendengus geram. "Alangkah baiknya kamu mati duluan."
"Ka... kamu...."
Bughk!
Jawara itu langsung mendupak dada kanan Pejabat Kota dengan kaki kirinya. Hingga tusukan pedangnya tercabut dari dada pejabat itu. Hingga membuat sang pejabat terlempar ke belakang.
Tubuhnya jatuh di pertengahan pasukan istana dengan pasukan Pangeran Revan. Sebentar berkelejotan, setelah itu nyawanya raib. Darah segar langsung merembes dari bekas tusukan pedang di tubuhnya.
"Pejabat Kota, Pejabat Kota...," kata Kelvin seolah mengeluhkan nasib Pejabat Kota. "Capek-capek kamu bernegosiasi. Tapi akhirnya kamu mati juga di tangan orang bodoh.... Sungguh kasihan...."
"Jangan dikira kami akan takut kepada kalian!" kata jawara yang sepertinya pimpinan dari semua kawannya bernada dingin menggeram. "Kami lebih baik mati daripada menyerah kepada pemberontak hina seperti kalian!"
"Hebat!" kata Pangeran Revan seolah memuji. "Aku akui kesetiaan kalian terhadap junjungan kalian. Tapi sayang kalian akan mati sia-sia."
"Justru hidup kami akan sia-sia kalau menyerah kepada pemberontak busuk macam kalian!" dengus jawara itu makin berani.
"Kalau begitu kalian tunggu apa lagi?" kata Pangeran Revan menantang sambil setengah merentangkan tangan ke samping. "Kenapa tidak langsung menyerang?"
Setelah memaki dengan geram, jawara itu berteriak keras memerintahkan semua pasukan untuk menyerang. Dan tanpa menunggu teriakan kedua, semua pasukan baik jawara istana, murid perguruan maupun Prajurit Keamanan Kota langsung serempak menyerang.
Tapi baru beberapa langkah pasukan istana dan para prajurit bergerak menyerang, seketika Kelvin menyentak kedua telapak tangannya yang terbuka lebar ke arah pasukan itu.
Maka muntahlah dari kedua telapak tangannya itu sekian banyak belati kecil warna putih berhawa dingin, dan melesat dengan cepat ke arah pasukan itu.
Tentu saja serangan 1000 belati es itu membuat terkejut pasukan itu. Tapi sebagian masih dapat menghalau serangan maut itu. Sedangkan sebagian yang tidak sedikit tidak bisa menghalau atau menghindari. Belati-belati es itu langsung menancap di tubuh mereka.
Sehingga sebentar saja sudah terdengar jeritan kematian saling sahut-sahutan. Tapi belum juga tubuh mereka tumbang ke tanah keburu sudah membeku bagai es. Begitu jatuh ke tanah langsung hancur berantakan.
Aksi memukau tapi mengerikan ternyata menyusul lagi. Belum lama Kelvin memainkan aksinya, seketika Kayshila dengan cepat menyentak kedua telapak tangannya ke depan. Maka muntahlah 1000 kelopak mawar warna merah bara dari kedua telapak tangannya.
Saking cepatnya lesatan kelopak mawar itu membuat cukup banyak pasukan itu tidak dapat menghindari. Maka kembali jeritan kematian terdengar saling susul. Ditingkahi tumbangnya sosok-sosok tanpa nyawa.
★☆★☆
Setelah merasa cukup mengurangi lawan dengan cara singkat, maka Pangeran Revan yang sudah menghunus pedang warna merah menyala beserta pasukannya langsung menyongsong serangan pasukan itu.
Pada waktu yang hampir bersamaan, dari atas gedung jawatan seketika meluncur turun hampir 100 pasukan gabungan. Di antara mereka ada Zelyne, Jessica serta Daniela dan Freya.
Begitu pasukan gabungan itu sudah sampai di tanah mereka langsung menyerang Prajurit Keamanan Kota.
Sehingga tidak butuh waktu lama, pertempuran sengit segera tercipta di pelataran depan gedung jawatan.
Denting suara senjata beradu yang menggiriskan hati sudah meributi suasana perang. Ditingkahi suara teriakan penyemangat perang. Masih ditingkahi oleh suara-suara jeritan kematian yang memilukan hati.
Suasana perang semakin memanas dan mengganas. Denting sudah senjata beradu terus terdengar seakan tidak mau berhenti. Teriakan penyemangat perang semakin menggila.
Sedangkan prajurit-prajurit keamanan terus saja bertumbangan seakan tidak mau berhenti. Sehingga pertempuran belum sampai 2 penanakan nasi, mereka tinggal segelintir saja yang masih hidup. Itupun cuma menunggu giliran mati.
__ADS_1
Sebenarnya Prajurit Keamanan bukanlah tergolong tidak hebat. Akan tetapi yang mereka hadapi adalah para jawara tangguh yang kehebatannya sukar ditandingi. Jadi kehebatan yang mereka miliki tidak ada apa-apanya di hadapan pasukan Pangeran Revan.
Dan begitu pertempuran sudah berlangsung 2 penanakan nasi lebih sedikit, Prajurit Keamanan Kota tidak ada lagi yang tersisa. Semua sudah tumbang dengan bersimbah darah mereka masing-masing.
Sementara pertempuran masih terus berlangsung semakin seru dan semakin sengit. Dan pertempuran sekarang merupakan pertempuran yang paling menarik.
Disebabkan karena masing-masing dari kedua kubu yang bertarung merupakan pendekar-pendekar hebat. Siapa saja yang menontonnya akan merasa terpukau, namun sekaligus merasa ngeri pula.
Terpukau akan jurus-jurus yang masing-masing mereka kerahkan, begitu lincah dan cepat. Merasa ngeri karena jurus yang mereka kerahkan begitu ganas.
Pedang, tombak, parang, golok dan senjata lainnya terus saja bergerak lincah dan sebat seakan tidak mau berhenti mengincar nyawa hingga dapat.
Memang patut diakui kehebatan para jawara handal itu. Tidak terkecuali murid-murid perguruan. Mereka juga tidak kalah hebatnya dengan jawara-jawara istana.
Akan tetapi pasukan yang mereka lawan adalah pasukan Istana Centauri yang sudah terkenal akan kehebatannya. Ditambah lagi pasukan gabungan yang benar-benar pilihan dari kesatuannya.
Sungguh kehebatan mereka benar-benar amat menakjubkan, namun sekaligus amat mengerikan.
Mau tidak mau para jawara istana dan murid-murid perguruan harus mengakui kehebatan pasukan yang ada bersama Pangeran Revan.
Pertempuran belum genap 4 penanakan nasi, baik jawara istana maupun murid perguruan satu demi satu sudah bertumbangan. Terkapar di tanah dengan bersimbah darah segar.
★☆★☆
Pedang bersinar merah bara Pangeran Revan terayun dengan cepat menebas leher lawannya. Lalu bergerak lagi tanpa henti menyabet dada berikut lambung lawan yang lain.
Di belakangnya, pedang Jessica menebas tangan lawan yang memegang pedang. Lalu pedang itu terus bergerak membabat pinggang lawan hingga badannya hampir terpisah dua.
Tidak jauh dari situ Aziel dan Jovita juga saling berpasangan dalam membasmi lawan-lawan mereka. Pedang mereka terus berseliweran menghilangkan nyawa, lalu mencari nyawa lagi.
Dan berperang saling berpasangan ternyata juga dilakukan oleh sekian banyak orang. Termasuk Brian yang berpasangan dengan Ariesha, Keenan berpasangan dengan Keysha, Gibson dengan Fariza.
Sedangkan Kelvin berpasangan dengan Abiela, Zafer dengan Zelyne, Hendry dengan Putri Raisha. Namun Putri Kayshila berpasangan dengan Putri Athalia.
Sementara Grania beberapa saat lamanya dia cuma bertempur sendiri.
Dia hampir saja tertebas oleh senjata lawan karena cemburu melihat Gibson malah berpasangan dengan Fariza.
Untung saja salah seorang sakti dari pasukan gabungan menggagalkan tebasan pedang itu. Setelah membunuh lawan yang hampir mencelakai Grania itu, pemuda tampan itu memperingatkan agar fokus dalam berperang.
"Kalau begitu kamu berpasangan denganku," tawar Grania tanpa pikir panjang. "Mau tidak?"
"Besiaplah, Nona!"
Tak lama kemudian Grania dan pemuda tampan itu saling berpasangan dalam menggempur lawan.
Sementara Dhafin cuma berpasangan dengan Pedang Akhirat-nya, terus bergerak lincah dan cepat menghalau gempuran beberapa jawara handal yang mengeroyoknya.
Lawan-lawannya tumbang, datang lagi beberapa jawara mengeroyoknya. Seolah-olah tidak kenal jera, mereka tetap saja menghadapi Dhafin meski harus menyetor nyawa.
Pertempuran masih saja terus berlangsung. Suara senjata beradu yang berduet dengan suara teriakan pertempuran masih menggiriskan, mengerikan.
Akan tetapi jeritan-jeritan kematian kini semakin sering. Yang kedengarannya amat memilukan hati.
Satu demi satu jawara istana maupun murid perguruan bertumbangan dengan nyawa melayang. Dara semakin banyak tertumpah di pelataran gedung Jawatan Pejabat Kota.
Hingga akhirnya, saat matahari sudah tergelincir sedikit ke barat semua jawara maupun murid perguruan sudah bertumbangan, berkaparan jadi mayat. Tidak ada satu pun yang berdiri tegak di atas tanah.
Sementara dari pasukan Pangeran Revan belum ada yang gugur. Tapi yang luka cukup para ada meski cuma 8 orang. Sedangkan yang luka ringan mencapai puluhan.
Dengan gugurnya semua pasukan yang dikirim dari istana itu, maka Kota Diandara secara resmi berhasil dikuasai oleh Pangeran Revan dan pasukannya.
★☆★☆★
__ADS_1