Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 63 PEDANG MAWAR MERAH DAN KITAB MAWAR SUTRA MERAH


__ADS_3

Waktu sudah menginjak sore hari. Mentari semakin merangkak turun. Sinarnya meski masih terang namun sudah tak menyengat kulit lagi. Sementara langit tampak cerah.


Saat itu Dhafin dan Kayshila tengah menyusuri jalan yang sedikit mendaki. Belum lama mereka selesai berjalan menyusuri pinggiran sungai.


"Kak Dhafin, kita nanti tidur di mana kalau sudah malam?" rengek Kayshila bernada sedikit manja. "Masa' kita tidur di alam bebas."


"Sabar dulu, Kayshila," bujuk Dhafin. "Mudah-mudahan kita cepat menemukan gua sebelum malam."


"Apa kamu yakin ada gua di dasar jurang seperti ini?" kata Kayshila meragu. "Biasanya gua 'kan di lereng gunung."


"Aku yakin. Tenang saja."


Begitu mereka sudah sampai di puncak pendakian, maka terpampanglah di depan mereka sebuah dataran yang cukup luas. Tampak di pinggir dataran itu dipagari oleh lamping batu cadas yang cukup tinggi yang membentuk hampir menyerupai leter U.


Di salah satu sisi lamping bagian bawah terdapat sebuah tanjakan setinggi 6 hasta. Di atas tanjakan itu terdapat pedataran kecil. Di sisi dalam pedataran itu terdapat sebuah rongga yang cukup besar menyerupai gua.


"Apakah yang sana itu gua, Kak?" tanya Kayshila seraya menunjuk tempat itu.


"Ya, benar," sahut Dhafin tanpa berpikir. "'Kan aku sudah bilang pasti ada gua."


"Ayo kita ke sana, Kak!" ajak Kayshila seakan tak sabar.


"Ayo."


Sambil bergandengan tangan mereka langsung ke tempat yang memang gua dengan berlari agak cepat. Dengan lincah mereka menaiki undakan tanjakan yang seperti terbentuk oleh alam itu.


Begitu sampai di depan mulut gua Dhafin seketika berhenti. Otomatis Kayshila mengikuti meski agak heran.


"Kok berhenti di sini, Kak?" tanya Kayshila heran. "Tidak langsung masuk saja?"


"Hati-hati dengan tempat yang baru kita kunjungi," kata Dhafin mengingatkan. "Mana tahu di dalam ada hewan buas."


"Oh iya ya. Terus sekarang bagaimana?"


"Biar aku yang jalan paling depan," kata Dhafin memberi arahan. "Kamu mengikuti di belakangku. Tapi kamu tetap waspada juga di belakangmu."


Kayshila langsung terkesan akan sikap melindungi dari Dhafin. Benar-benar pemuda idaman. Dia rela menjadi tameng demi keselamatannya. Akankah dia harus terburu-buru menyatakan suka pada pemuda yang baik hati ini?


"Ayo!" ajak Dhafin yang tanpa memperhatikan ekspresi wajah Kayshila yang tersenyum penuh arti.


Sejak pertama sampai di mulut gua dia tidak pernah lepas mengamati keadaan dalam gua yang temaram. Tidak gelap tapi tidak juga terang. Seperti ada cahaya redup dari dalam.


"Oh iya, ayo!" kata Kayshila sedikit kaget karena tadi sempat berkhayal.


Dhafin melangkah duluan perlahan-lahan penuh waspada. Sedangkan Kayshila berjalan di belakang sedikit merapat dengan badan Dhafin.


Begitu telah memasuki mulut gua Kayshila langsung merinding. Seperti ada aroma-aroma horor yang menguar dari dalam gua sehingga membuatnya sedikit takut. Tapi dia percaya dan harus percaya Dhafin bakal melindunginya kalau terjadi sesuatu yang tidak-tidak.


Tanpa terasa mereka sudah melewati lorong gua yang tak terlalu panjang. Kini mereka telah berada di ruangan gua yang cukup luas namun sedikit kotor.


Di lantai gua yang terbuat dari batu berserahkan ranting kering dan kerangka hewan berikut kotoran hewan yang sudah mengering. Dinding gua juga yang mengelilingi ruangan redup ini terbuat dari batu.


Melihat kerangka hewan yang berserahlan Kayshila sedikit kaget dan langsung merangkul lengan Dhafin. Tapi Dhafin dengan cepat menenangkannya.


Sedangkan Dhafin sama sekali tidak merasa takut atau ngeri dengan suasana gua yang horor ini. Dia sudah terbiasa dengan tempat seperti ini meski semuanya terasa asing.


★☆★☆


Di salah satu sudut di lantai gua terdapat tonjolan batu yang bagian atasnya datar. Tinggi batu itu kira-kira 2 hasta dari lantai gua. Bagian sisinya tidak beraturan. Namun bisa diperkirakan kalau lebar dan panjangnya sama, yaitu 2x rentangan tangan.


Di atasnya juga kotor, berserahkan batu-batu kecil dan kotoran hewan yang sudah mengering. Berikut pula debu yang cukup tebal.


Di sudut ruang gua yang lain cukup menjorok ke dalam juga terdapat tonjolan batu berbentuk persegi 4. Lebarnya sekitar 2 hasta, panjang 4 hasta.

__ADS_1


Di samping kanan batu persegi itu tergeletak peti batu yang terbuka berwarna hitam kecoklatan. Penutupnya tersandar di sisi kiri peti batu yang juga terbuat dari batu.


Nah, saat melihat sesuatu di atas batu persegi itu Kayshila seketika terkejut bukan main. Sampai-sampai menjerit agak keras saking takutnya.


Tanpa janjian dulu dia langsung memeluk Dhafin dengan erat sambil sembunyikan wajah di dada Dhafin dan matanya terpejam rapat.


Ternyata di atas batu itu terdapat sesosok manusia yang sudah tinggal kerangka. Mengenakan pakaian panjang yang sudah kumal berwarna merah pudar dan kotor.


Kedua tangannya yang sudah berupa tulang yang terbungkus kain lengan panjangnya terangsur ke depan sambil menggenggam batang pedang yang berposisi tegak lurus.


Gagang pedang yang berbentuk ukiran bunga mawar menghadap atas. Sedangkan ujungnya menempel di permukaan batu, tapi tak sampai menancap. Pedang berwarna merah itu memancarkan cahaya temaram berwarna merah.


Rupanya ruangan gua menjadi sedikit terang ternyata berasal dari cahaya pedang berkekuatan ghaib itu.


Di depan ujung pedang terdapat 3 benda yang berbeda. Benda pertama yaitu sarung pedang berukir yang terbuat dari logam berwarna biru kehitaman, sewarna dengan gagang pedangnya.


Benda ke 2 yaitu sebuah kitab tebal bersampul warna kuning keemasan. Sedangkan benda ke 3 yaitu secarik lembaran kulit hewan berwarna coklat pucat.


Dhafin melihat seperti ada tulisan tebal yang tertulis di sampul depan kitab itu. Hanya saja dari tempatnya dan Kayshila berdiri tulisan itu kurang jelas.


Sebelum ke tempat cukup mengerikan itu Dhafin terlebih dahulu membujuk Kayshila agar tetap tenang, tak usah takut. Manusia yang tampak amat mengerikan itu sudah menjadi kerangka alias sudah mati. Jadi, tak perlu takut.


Setelah Kayshila sudah agak tenang, dengan langkah perlahan Dhafin mendekati tempat sosok kerangka manusia itu. Kayshila tetap ikut tapi terus menempel pada Dhafin dan tidak berani melihat kerangka manusia itu.


Begitu 4 langkah lagi dari batu persegi, Dhafin berhenti yang diikuti oleh Kayshila. Dan dia tambah tidak berani memandang kerangka manusia itu. Wajah cantiknya sudah pucat, tubuhnya gemetaran pertanda ketakutan.


Melihat Kayshila yang menderita ketakutan begitu, Dhafin segera menempelkan telapak tangan kirinya di atas kepala Kayshila, menyalurkan kekuatan ghaibnya agar Kayshila tidak menderita seperti itu.


★☆★☆


Ketika kondisi Kayshila sudah kembali tenang, Dhafin melangkah lebih dekat lagi dengan batu persegi. Kayshila berjalan di sisinya dan tidak takut lagi. Bahkan sudah berani melihat sosok kerangka manusia.


"Kak Dhafin, apakah kamu bisa mengetahui kerangka manusia itu laki-laki atau perempuan?" tanya Kayshila setelah puas melihat sosok mengerikan itu.


Lalu mereka mengamati kitab tebal warna keemasan itu. Di sampul kitab itu memang ada sebaris tulisan tebal nama kitab itu, yaitu KITAB MAWAR SUTRA MERAH. Dan dibawah tulisan itu terdapat rajutan dari sutra berbentuk mawar warna merah.


"Apa itu Kitab Mawar Sutra Merah, Kak?" tanya Kayshila merasa asing dengan nama itu. "Apa kamu tahu?"


"Aku belum pernah melihat kitab ini sebelumnya," kata Dhafin mengaku. "Tapi guruku pernah bilang kalau kitab ini merupakan salah satu kitab terhebat di dunia."


"Di dalamnya berisikan ilmu beladiri yang hebat dan ilmu kesaktian yang dahsyat. Kalau seseorang sudah menguasai kitab ini, tidak sembarang pendekar dapat mengalahkannya."


"Tapi kata guruku," lanjutnya, "kitab itu cuma khusus untuk perempuan. Karena pemilik aslinya merancang kitab itu khusus untuk perempuan."


"Kalau laki-laki yang mempelajarinya bagaimana?"


"Kalau laki-laki ingin mempelajarinya, dia harus menjadi perempuan dulu. Kalau tidak dia tidak bisa mempelajari kitab ini."


"Eh," seketika Kayshila teringat ucapan Dhafin tadi. "Kamu bilang kerangka itu adalah laki-laki. Berarti...."


"Itu hanya dugaanku saja, Kayshila," kata Dhafin mencoba memperjelas ucapannya tadi. "Adapun kepastiannya aku masih belum yakin."


Kayshila tidak bertanya lagi. Dan tidak mau dulu bertanya banyak. Takutnya nanti dia akan berpikir ke mana-mana.


Kalau ternyata kerangka manusia itu adalah laki-laki seperti dugaan Dhafin, dia tidak sanggup membayangkan seorang laki-laki berubah menjadi perempuan demi mempelajari kitab aneh ini.


"Kamu tidak usah khawatir, Kayshila," kata Dhafin seolah tahu apa yang dipikirkan gadis manis itu. "Kamu adalah perempuan. Jadi sangat mudah mempelajari kitab ini."


Sewaktu berbicara Dhafin meraih lembaran kulit hewan yang ternyata ada tulisannya. Kemudian membersihkan debu yang menyamari tulisannya.


Kayshila belum menanggapi ucapan Dhafin karena matanya sibuk memperhatikan perbuatan Dhafin. Dan begitu Dhafin meletakkan kembali lembaran kulit hewan itu di atas batu, Kayshila membaca tulisan yang tertera di lembaran kulit itu dengan bergumam.


"Aku telah menyalurkan seluruh energi saktiku di dalam pedangku ini, PEDANG MAWAR MERAH, dan telah menyalin kembali seluruh isi kitab guruku tercinta, Dewi Mawar Sutra, yaitu KITAB MAWAR SUTRA MERAH."

__ADS_1


"Siapa pun kalian jika beruntung, maka dapat menerima energi saktiku ini. Jika berhasil menerima energi saktiku, maka berhak mendapat 2 warisan sakral dari guruku tercinta, yaitu Pedang Mawar Merah dan Kitab Mawar Sutra Merah."


"Aku ingatkan bagi kalian laki-laki, jangan mencoba-coba mempelajari kitab sakral ini kalau tidak mau bernasib sepertiku."


"Siapa pun kalian jika menemukanku sudah jadi mayat, tolong sempurnakan mayatku sebelum mengambil warisan guruku tercinta ini."


"Tertanda dariku yang telah menderita hingga di penghujung usia, SI PEDANG MAWAR."


Selesai membaca tulisan yang tertera di lembaran kulit itu Dhafin dan Kayshila langsung saling bertatapan. Di benak mereka segera merasa yakin kalau kerangka manusia yang menjuluki dirinya si Pedang Mawar adalah seorang laki-laki yang merubah diri menjadi wanita.


★☆★☆


Tak lama kemudian, Dhafin menyuruh Kayshila mundur 3 langkah dan dia menuruti. Tapi saat Dhafin menyuruhnya berlutut di depan mendiang Pedang Mawar, Kayshila langsung bertanya heran.


"Kenapa aku harus berbuat begitu?"


"Aku akan menuntunmu menerima energi sakti yang ada di Pedang Mawar Merah itu."


"Apakah kamu yakin aku orang yang beruntung yang berhak menerima warisan sakral dari Dewi Mawar Sutra?" tanya Kayshila meragu.


"Takdir langit sudah menuntunmu ke tempat ini," kata Dhafin meyakinkan Kayshila. "Itu artinya takdir langit telah memilihmu sebagai orang yang beruntung yang berhak mewarisi warisan Dewi Mawar Sutra."


Kayshila sempat masih meragu. Namun Dhafin terus meyakinkannya. Hingga akhirnya Kayshila menuruti juga.


Kemudian perlahan dia duduk berlutut sambil merangkapkan kedua telapak tangan di depan dada dan kepala tertunduk serta mata terpejam rapat.


Meyakinkan dan membulatkan hati untuk menerima energi sakti. Mengosongkan pikiran dari hal-hal keduniaan. Perbuatan itu semua atas anjuran Dhafin. Lalu Dhafin berkata.


"Sekarang kamu dengarkan apa aku katakan, terus kamu mengikutinya. Kecuali setelah menyebut kata aku kamu teruskan dengan menyebut namamu. Paham?"


"Ya, aku paham, Kak."


"Kita mulai: aku...."


"Aku, Kayshila Dellia...."


Lalu Dhafin mengimlakan ucapan-ucapan semacam ritual untuk menerima energi sakti.


"Dengan segala kerendahan hati, dengan penuh keyakinan siap menerima anugerah dari Yang Mulia Dewi Mawar Sutra."


Belum lama Kayshila selesai mengucapkan ucapan itu, seketika sinar merah yang membungkus Pedang Mawar Merah seperti terlepas dari batang pedang. Terus melesat dengan amat cepat ke arah Kayshila dan terus menembus masuk ke dalam dadanya.


Hampir bersamaan kerangka Pedang Mawar langsung jatuh berserahkan dia atas batu persegi. Dan yang jatuh ke lantai gua. Sedangkan pedang merah yang tak bersinar merah lagi jatuh tergeletak di atas batu persegi itu.


Kayshila tidak mendengar keributan kecil itu. Karena jiwanya seakan telah terbang entah ke mana.


Tidak sampai 5 helaan napas sekujur tubuh Kayshila dari kepala hingga ujung kaki seketika terbungkus sinar berwarna merah.


Mulanya Kayshila merasakan hangat di sekujur tubuhnya. Lalu tubuhnya bergetar halus. Begitu telah lewat sepenanakan nasi sekujur tubuhnya berubah menjadi panas seperti terpanggang di atas api.


Keringat langsung membanjir di sekujur tubuhnya. Dan tubuhnya langsung gemetar hebat bagai terserang demam tinggi. Namun untung saja Dhafin telah siap menyuport tenaga dalam dengan menempelkan kedua telapak tangannya di belakang Kayshila.


Setelah sepenanakan nasi lagi berlalu Kayshila telah bebas dari penderitaan. Sekujur tubuhnya kini kembali menjadi hangat. Tubuhnya kembali bergetar halus.


Dan begitu sinar merah telah lenyap seperti meresap ke dalam tubuhnya, kondisinya kini kembali normal. Hanya saja dia merasakan tubuhnya terasa begitu enteng. Pendengaran dan penglihatannya pula semakin tajam. Di dalam dirinya seperti mengalir suatu energi panas tapi tidak membuatnya terganggu atau tersiksa.


Akhirnya energi sakti milik si Pedang Mawar telah berhasil diterima oleh Kayshila. Dhafin langsung megucapkan selamat dan disambut sukacita oleh Kayshila.


Setelah itu Dhafin dan Kayshila menyempurnakan mayat mendiang Pedang Mawar dengan memasukkan ke dalam peti batu.


Setelah itu, dengan tenaga ghaibnya Dhafin mengangkat peti itu ke atas batu persegi setelah Kayshila mengambil pedang yang sudah disarungkan dan kitab sakti milik Dewi Mawar Sutra.


Kemudian hari-hari berikutnya Kayshila mulai mempelajari Kitab Mawar Sutra Merah dengan dituntun oleh Dhafin. Di samping itu juga memperdalam semua ilmu yang telah dipelajari dari gurunya, Siluam Kalyan.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2